
Gilang lalu mencabut belati itu lalu melemparkannya kesembarang arah.
Para pengawal yang mendengar keributan itupun segera masuk dan meringkus Gilang.
Gilang sama sekali tidak memberontak saat diringkus.
ia menyeringai melihat Aldy sudah bersimbah darah.
"selamat menjemput ajal mu" ucap Gilang sebelum keluar dari ruangan Bryan.
Dilla mendekat ke arah suami nya yang masih berdiri tegak disana.
"Mas, ayo kita kerumah sakit sekarang" ajak Dilla.
"Aku tidak apa apa Dil"
"Apa katamu tidak apa apa? Ini luka tusuk, lihatlah darahmu terus saja mengalir, bisa bisa kau kehabisan darah"
" Lalu apa yang akan terjadi jika aku kehabisan darah?" Aldy masih saja bisa terkekeh dalam situasi seperti ini.
"Diamlah atau lukamu akan semakin lebar" bentak Dilla pada Aldy karna geram dengan suaminya yang masih bisa terkekeh.
"Ayo cepat kerumah sakit!!! Angga bantu suamiku kerumah sakit" bentak Dilla pada asisten setia sang suami.
Angga berjalan mendekati Aldy dan akan membantu sang bos berjalan.
" Tidak usah, aku masih bisa berjalan. Lagi pula yang tertusuk perutku bukan kakiku" kilah Aldy padahal ia merasakan sakit di perutnya.
"Jangan dengarkan bos gilamu ini!! Cepat papah dia menuju mobil" bantak Dilla lagi pada Angga.
__ADS_1
Angga pun menuruti perintah Dilla
"Bu bos lebih mengerikan dibanding pak bos" batin nya.
Di mobil, kesadaran Aldy mulai menurun. Ia kehilangan banyak sekali darah.
Ia berusaha melawan sakitnya agar ia tetap terjaga.
Dilla nampak sudah menitihkan air matanya.
"Kenapa kau menangis" tanya Aldy dengan suara berat menahan sakit nya.
"Kau diamlah!! Berdoa saja agar kau baik baik saja" bentak Dilla pada Aldy.
Ia begitu geram pada suaminya yang masih menanyakan kenapa ia menangis.
"Tutup mulutmu, kau tak akan mati sampai aku mengijinkanmu mati" bentak Dilla lagi.
"Kalau begitu cepat ijinkan aku mati hari ini agar aku tak merasakan sakit lagi" seloroh Aldy lagi.
Dilla tak menggubris kata kata Aldy.
" Jika hari ini aku pergi, aku akan menghadap tuhan dan mempertanggung jawab kan semua kesalahanku, dengan begitu aku tak akan lagi merasakan beratnya menunggu maaf darimu"
"Angga cepatlah sedikit" bentak Dilla pada Angga yang sedang mengendarai mobil.
"Bolehkah aku meminta untuk terakhir kali?" Kini Aldy kembali bersuara setelah merasakan sepertinya ia sudah tak sanggup menahan rasa sakitnya.
"Jangan katakan terakhir kali"bentak Dilla.
__ADS_1
Aldy tersenyum melihat ke khawatiran istrinya pada nya.
Ia menyenderkan kepala nya di pundak Dilla.
"Biarkan aku menutup mataku tenang dengan menyender di bahumu" ucap Aldy mulai menutup matanya.
Dilla mulai panik kala melihat suaminya menutup mata.
Ia menepuk nepuk pipi Aldy namun tak ada sahutan dari suami nya.
Dilla mengetes nadi suami nya.
"Kenapa tidak ada?" Batin nya gundah.
Mobil sampai dirumah sakit
Aldy segera dibawa keruang ugd,
Baru beberapa menit dokter kembali keluar.
"Detak jantungnya mulai melemah, dia juga kehilangan darah cukup banyak dan kami butuh donor darah" ucap dokter itu.
Degg
Dilla kaget mendengar penuturan dokter itu.
"Detak jantung mulai melemah? Apa ini akhir dari kisah cintaku?" Batin Dilla tersayat.
"Saya saja dok" Angga menawarkan donor darah. Dokter pun mengangguk.
__ADS_1