
"Tapi bukan nya kamu masih sering mual. Mama takut kalo nanti kamu tiba tiba pingsan disana"
"Semoga aja enggak ma, soalnya Dilla kepengen banget ikut mas Aldy kerja" rengek Dilla.
"Ya udah ma, biarin Dilla ikut suaminya. Siapa tau kan emang Dilla lagi ngidam" papa Reza menengahi.
"Ya udah gapapa, tapi harus bareng sama suami mu ya nak"
"Tapi maa.."
"Udah, Dilla ikut aja kemauan mama mu, itu juga demi kebaikanmu" papa Reza kembali menengahi.
Dilla mengangguk setuju.
Ia langsung pamitan kepada mertuanya lalu berjalan ke depan rumah dan masuk ke mobil Aldy.
"Maaf mas, aku ngrepotin kamu lagi" ucap Dilla membuka suara. Namun yang diajak bicara hanya diam saja.
Dilla menatap jalanan yang dilewati nya.
Ini adalah pertama kalinya Dilla ke kantor Aldy setelah ia dinyatakan hamil 2 bulan lalu.
Dilla mengusap perutnya yang sudah agak membuncit karna memang kandungan nya memasuki usia 4 bulan.
__ADS_1
Aldy maupun Dilla tak sadar bahwa mobil mereka telah diikuti seseorang.
Beberapa menit kemudian, mobil yang dikendarai Aldy telah sampai di parkiran perusahaan. Aldy lebih dulu keluar mobil sesuai permintaan Dilla agar orang orang tidak tau bahwa mereka satu mobil.
10 menit kemudian, Dilla keluar dari mobil Aldy.
Tiba tiba tangan Dilla ditarik seseorang.
Orang itu tiba tiba saja memeluk Dilla. Dilla berusaha memberontak.
"Siapa kau? Lepaskan aku" teriak Dilla.
Orang itupun melepaskan pelukan nya.
"Dil, aku kangen sama kamu" ucap orang itu.
Ternyata dia adalah Rendy pemilik rens grup.
"Re rendy??" Dilla menyebut nama orang itu.
"Dil, ayo pergi bersamaku. Aku sangat mencintai mu Dil" ucap Rendy tulus.
Tanpa menjawab, Dilla langsung berlari dari tempat itu. Ia segera menuju ke lobi dan berlari menuju lift. Setelah sampai lantai atas, Dilla segera berlari dan membuka kasar pintu ruangan Aldy.
__ADS_1
Aldy nampak mengernyit melihat Dilla dengan wajah pucat dan keringat membanjiri wajah nya. Nampak nafasnya tersenggal senggal karna berlari.
Aldy berjalan mendekat ke arah Dilla.
"Ada apa denganmu?" Tanya Aldy.
Belum sempat Dilla menjawab tiba tiba tubuh nya limbung. Untung saja ada Aldy yang segera menangkap tubuh Dilla sehingga tidak membentur tanah. Aldy membopong tubuh istrinya ke dalam kamar pribadi nya.
Aldy langsung menelpon dokter yang biasa menangani Dilla.
Aldy mengusap keringat yang menetes di dahi Dilla menggunakan tisu.
"Kenapa selalu seperti ini?" Gumam Aldy yang merasa iba semenjak kehamilan nya Dilla mengalami muntah parah bahkan seringkali pingsan.
Tak lama kemudian dokter datang dan memeriksa keadaan Dilla. Dokter itupun juga memasang infus kepada Dilla.
"Bagaimana keadaannya dok?"
"Janin nya tidak apa apa. Seperti yang sering saya sampaikan, nyonya Dilla tidak boleh terlalu kelelahan karna bisa berakibat fatal untuk dirinya sendiri maupun janin yang dikandung. Ini bukan hanya terjadi sekali atau dua kali tuan, jika seperti ini terus bisa dipastikan nyonya Dilla tidak akan baik baik saja nantinya" ucap Dokter itu memperingatkan.
"Baik dok"
Dokter itupun pamit.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Dilla sadar dari pingsan nya. Ia menatap tangan nya yang sudah terpasang infus.
Ia memandangi wajah suami nya yang sedang duduk di sisi ranjang sambil menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.