Cinta Tuan Arogan

Cinta Tuan Arogan
Terbongkarnya Rahasia lama 2


__ADS_3

Setelah berbincang dengan Mama, Aku mengajak Mama keluar dari kamarnya untuk berbincang ria bersama Aku dan juga Sean. Ketika kami sampai diruangan itu kami tak melihat Sean berada di sana.


Aku mengedarkan pandanganku di sekitar ruangan itu mencari keberadaan Sean. Sedangkan Mama duduk manis sambil membaca majalah KARTINI kesukaannya.


"Kamu cari siapa Ndre?" Tanya Mama heran karena melihatku yang mondar-mandir mencari keberadaan Sean.


"Sean Ma... Dia tadi ada disini. Tapi tiba-tiba aja ngilang kayak setan aja." Balasku seraya duduk di samping Mama.


"Oooh... Sean disini?"


"Iya... Tadi Andre ajak dia nginap disini Ma."


"Cari aja di ruang makan, dia kan kebiasaan makan kalau udah disini. Kayak orang gak makan setahun." Canda Mama sembari tertawa.


Aku pun tersenyum mendengarkan perkataan Mama yang sangat benar adanya. Tak mau ambil pusing lagi, Aku pun bergegas menuju ruang makan tempat Sean berada. Jelas saja, Sean sangat antusias menikmati hidangan yang disediakan oleh Naina.


Aku duduk tepat di hadapan Sean. Aku melipat tanganku di dadaku sembari tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat manusia yang kelaparan di hadapanku.


"Ekhemmmm."


"Ehh... Elu udah datang," Sergah Sean sembari tersenyum dengan makanan yang masih penuh di mulutnya.


"Masakan Naina enak banget, Aku gak bisa berhenti mengunyah. Beruntung banget lu, bisa makan ala-ala homemade beginian. Jadiin istri aja dah tuh." Kata Sean berturut-turut.


"Bacot lu... Gampang banget lu bilang dia jadi istri gue." ujarku jengah sembari mengambil piring dan mulai menyendokkan nasi goreng itu ke piringku.


"Lah... Apalagi coba, lu kan udah seranjang tuh ama dia."


"Ingat ya! Sebatas ranjang. Tak lebih tak kurang. Aku juga gak tau seluk beluk keluarga dia gimana. Lebih dari dia juga banyak."


Saat Aku berkata demikian tiba-tiba saja Naina sudah berdiri tepat disampingku. Entah kapan wanita ini muncul. Aku yakin dia mendengar semua perkataanku yang baru saja ku ucapkan.

__ADS_1


Ada gurat kesedihan yang jelas sekali terlihat di wajah Naina. Namun Aku tak terlalu memusingkan hal itu. Sedangkan Sean melanjutkan kembali mengunyah makanannya.


"Ada yang masih dibutuhkan Tuan?" Tanyanya dengan nada lemah.


Aku hanya menggelengkan kepala membalas pertanyaan Naina. Setelah itu Naina berlalu dari hadapan kami.


"Tega amat lu ngomong begituan, gak punya hati banget." Tutur Sean sembari mengelap mulutnya dengan tisu.


"Tega gimana? Aku kan bicara seadanya."


"Lah lu udah nidurin dia, tapi lu gak jaga perasaan dia. Egois banget lu."


"Bukan cuma dia yang udah gue tidurin, tapi semua itu kan hanya pelampiasan. Gak usah pake hati."


Lagi-lagi Sean hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan raut wajah jutek.


***


Malam itu Aku dan Sean memutuskan untuk ke Diskotik langganan kami. Sean sudah terlebih dahulu memberi tahu Marco untuk kami bertemu di sana.


Wanita itu berlomba-lomba menuang minuman disetiap gelas kami. Ada beberapa diantaranya bergelayut manja dilengan Sean dan Marco.


"Se... Gelut bareng yukk, aku udah gak nahan nih. Aku ingin bermain dengan anu mu." Ucap Lia sang wanita bar-bar sembari memainkan jari telunjuknya disekitar dada bidang Sean.


"Sama Aku aja yuk, anu Sean sementara waktu masih diungsikan terkait sengketa." Sergah Marco membalas ucapan Lia sembari mengkerlingkan matanya, sedangkan Lia tak menghiraukan ucapan Marco.


"Sana sama Marco gih, dia itu handal dalam permainan gelut. Anunya dijamin udah gak original makanya dia handal dalam berbagai gaya. Setidaknya lu mendesah satu kali satu detik." Balas Sean menyindir Marco sembari tertawa.


Melihat perdebatan itu Aku dan Lia dan beberapa wanita diruangan itu hanya terdiam tak berkutik. Sedangkan kedua manusia itu masih tetap saling menyindir dan sesekali tertawa.


"Kalian kenapa? Pada sawan lu ya." Ucapku menghentikan kekonyolan mereka.

__ADS_1


"Kasian tu si Lia, Anunya jadi dingin. Gara-gara lu kelamaan debat. Emang lu pikir ini debat paripurna." Kataku sembari tertawa kencang.


Mereka tiba-tiba memandang ke arahku yang masih tertawa dengan tatapan jengah. Sean dan Marco melemparkan masing-masing pemantik mereka ke arahku.


Lia Setiawan merupakan anak konglomerat juga di kota ini. Namun Aku dan dia sama halnya tidak memiliki keluarga yang harmonis. Ia mulai bekerja di diskotik ini semenjak ia memutuskan berhenti kuliah. Lia memutuskan kuliah bukan alasan ekonomi, Lia merasa semua sia-sia. Lia memiliki paras yang cantik dan tinggi bak model.


Lia Setiawan anak kedua dari dua bersaudara. Sedangkan abangnya sudah lama menghilang semenjak ia melarikan uang perusahaan keluarganya. Lia juga seumuran dengan Aku, Sean dan Marco. Banyak lelaki yang ingin mengajak tidur bersamanya, dari yang muda dan tua. Tetapi ia memilih dalam mencari lelaki yang benar-benar ia cintai. Itu yang pernah ia katakan saat kamu pertama-tama datang di diskotik ini.


Lama-lama berbincang ria dan minum minuman beralkohol itu, kami pun memutuskan untuk pulang dari tempat itu. Sedangkan Lia masih saja duduk ditempat itu. Saat kami beranjak dari sana tiba-tiba Lia yang dalam keadaan setengah mabuk mulai bersuara.


"Sean, Aku cinta padamu!!" Teriak wanita itu lantang sembari mulai berdiri dengan sempoyongan.


Mendengar pengakuan gadis itu mata kami tertuju padanya. Sean membalikkan badan sembari membalas ucapan Lia.


"Kau mabuk... Pulanglah. Atau kami akan mengantarmu pulang." Titah Sean.


Lia tak menolak tawaran Sean dan kami pun mulai menuju parkiran tempat mobil sport kuning milikku terparkir.


Beberapa menit kemudian Kami sampai di kediaman Setiawan. Lia perlahan keluar dari mobil. Tiba-tiba saja sebelum ia beranjak dari dalam mobil, Lia mencium bibir Sean sesaat. Sean pun terpaku karena aksi Lia.


Aku dan Marco tertawa melihat Sean yang terdiam seribu bahasa. Sedangkan Lia sudah lebih dulu masuk ke rumah besar miliknya.


"Woii... Kenapa lu? Lu jangan kumat disini." Timpal Marco terkekeh.


Sean pun terjaga dari aksinya yang sempat terpaku.


"Emang lu kira gue penyakit sawan apa!" Sergahnya cepat.


Kami melanjutkan perjalanan kami pulang ke rumah. Marco juga memutuskan menginap di rumah.


Setelah perbincangan singkat itu kami hening tak bersuara, hanya suara musik yang sayup-sayup terdengar. Aku berada di samping kemudi, sedangkan Marco berada di belakang.

__ADS_1


Sekilas Aku memperhatikan Sean yang tersenyum tipis. Entah apa yang ia rasakan. Bisa jadi dia terlena dengan ciuman singkat yang diberikan Lia. Sesekali Sean juga mengusap bibirnya dengan jarinya. Aku terus saja memperhatikan Sean yang senyum-senyum seperti orang kasmaran.


Dari awal kedatangan kami di diskotik milik kawan lama itu, Lia memang sudah jatuh hati pada Sean. Seringkali ia mengutarakan perasaannya pada Sean, hanya saja saat wanita itu menyatakan isi hatinya dia selalu dalam kondisi mabuk. Jadi, Sean berpikir itu hanya bualan semata dari gadis yang memiliki bola mata coklat itu. Namun, bisa dilihat bahwa Lia tulus mencintai Sean.


__ADS_2