Cinta Tuan Arogan

Cinta Tuan Arogan
Keisengan kurcaci.


__ADS_3

Pagi sekali Naina sudah sibuk merapikan semua perlengkapan kami berdua. Hari ini kami memutuskan untuk pulang. Aku yang baru saja keluar dari kamar mandi melihat Naina sibuk mondar-mandir membuatku tersenyum simpul.


Semakin hari Aku semakin jatuh cinta pada wanita yang tengah mengandung anakku. Pipinya yang mulai gembul membuatnya tampak ayu. Ia melirikku sesaat yang masih terdiam di depan pintu kamar mandi tersebut. Dengan cepat ia menyerahkan sepasang baju yang akan aku kenakan. Aku merapikan rambutku yang masih basah di depan cermin.


“Giliranmu untuk bersiap-siap Nyonya Andre.” Tukasku singkat.


“Aku sedari tadi sudah selesai suamiku,” ungkapnya.


Mendengar penuturannya lagi-lagi aku tersenyum sembari memasang jam di pergelangan tanganku. Aku mengambil ponselku yang terletak di atas ranjang kemudian menelepon Sean untuk memberi tahu bahwa kami akan pulang. Tak ketinggalan juga, Aku memberi tahu Mama.


Aku yakin wanita paruh baya itu sudah tidak sabar ingin bertemu menantunya. Aku sudah bisa membayangkan pertanyaan apa yang ia lontarkan saat kami tiba di sana. Tak berapa lama kami sudah chek out dari hotel ternama itu.


“Apa suatu saat kita bisa kembali kesini suamiku?” tanya Naina.


“Kau bisa kembali kapan pun sayang, apa aku perlu membeli hotel itu untukmu?”


Matanya terbelalak saat Aku mengatakan hal tersebut. Aku terkekeh melihat perubahan wajah itu seketika. Wajah jengkel terpampang jelas di wajah Naina. Aku malah bertanya dalam hati, apakah wanita ini menganggap aku membual? Tapi ya sudahlah, sulit baginya untuk mengerti yang kukatakan.


“Apa yang membuatmu betah berlama-lama di sini, sayang? Sedangkan Aku sudah sangat bosan dengan tempat ini," kataku sembari mencium punggung tangannya.


“Karena Aku....”


“Aku... Apa? Jangan singkat-singkat Naina. Aku tak menyukai hal demikian,"


“Aku selalu ingin bersamamu,” desisnya lirih.


“Kenapa kau menjadi bucin istriku? Baiklah... Aku akan membawamu ke mana pun." Jawabku sembari terkekeh.


Beberapa jam berlalu, Aku dan Naina sampai di bandara namun ada kejanggalan yang kutemui saat aku turun dari pesawat milik keluargaku tersebut. Bagaimana tidak, papan bunga serta segala jenis bunga bertebaran di bandara itu. Ditambah lagi dengan seluruh karyawan yang ikut ambil alih menyambut kami berdua.


Naina terkesima melihat pemandangan aneh di sekitar bandara tersebut.


Berbanding terbalik dengan istriku, Aku memutar bola mata jengah melihat keadaan sekitar itu. Ingin rasanya Aku menyeret dan menenggelamkan kedua manusia tersebut.

__ADS_1


“Selamat datang kembali, Tuan dan Nyonya,” sambut Sean dengan penuh semangat.


“Kau pikir kau sedang menyambut mayat, hah!” tampikku kesal.


Keduanya tertawa terbahak-bahak mendengar ocehanku. Sedangkan Naina matanya melebar melihatku mengoceh.


“Suamiku... Tidak boleh begitu. Tempat ini sungguh indah, aku menyukainya.”


Mendengar kata “suamiku” dari mulut Naina, kedua manusia itu saling beradu pandangan, dan sesekali tertawa.


“Waow... Dari kapan ganti sebutan?” Tanya Marco di samping Naina seraya menautkan alisnya.


Tak ingin berlama-lama aku menarik Naina dan berjalan menuju parkiran di mana mobil kami berada. Melihat aksiku tentunya Sean dan Marco kesal.


Saat berjalan ke parkiran semua karyawan pun ikut berlalu dari sana. Di dalam mobil, aku memijit keningku. Masih saja aku kesal dengan embel-embel sambutan kedua sahabatku.


“kenapa sih lu?” tanya Sean yang melirikku dari kaca mobil.


“Lu yang kenapa? Ngapain lu ngajak seluruh karyawan nyambut gue pulang? Gak sekalian aja lu ajak se Indonesia buat nyambut gue dan Naina?" ocehku kesal.


Naina hanya tersenyum menanggapi setiap ocehanku. Dia tidak protes sama sekali dengan aksi kedua sahabatku.


Tak berapa lama kami sampai di kediaman keluarga besarku. Mama dan Papa terlihat senang saat kami tiba. Mama mengiring Naina ke dalam. Sudah kuduga sebelumnya, Mama menghujani Naina dengan beragam pertanyaan.


Naina hanya menjawab sekedarnya, sembari menjawab istriku mengeluarkan seluruh bingkisan yang kami beli untuk seluruh penghuni rumah itu. Mama kegirangan mendapat syal dan perlengkapan lain yang dibelikan Naina untuknya.


“Apakah Mama menyukainya?” tanya Naina.


“Mama suka sayang, makasih ya. Oiya Andre gak jutek kan sama kamu waktu di Bali." Imbuh Mama sembari menoleh padaku.


Naina hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sesaat kemudian ia melanjutkan perkataannya.


“Hanya saja aku lelah, Ma....”

__ADS_1


Mendengar pengakuan Naina, mataku terbelalak. Marco, Sean dan Papa tertawa geli. Jangan tanyakan pandangan Mama. Sorot matanya berapi-api. Aku hanya menggaruk kepala yang tidak gatal sama sekali. Tak ingin melihat wajah Mama yang sedang murka, Aku mencoba mengalihkan perhatian dengan bertanya mengenai makan siang.


“Kamu gak usah berkilah, Ndre... Kamu kan tahu istri kamu lagi hamil muda. Kenapa mesti segitunya sih?”


Omelan Mama mampu membuatku bungkam seribu bahasa, sedangkan istriku tampak pasrah dan tak membelaku sedikit pun.


“Namanya juga bulan madu Tante. Selama ini Andre hanya mencuri-curi kesempatan, itu pun kadang dapat kadang tidak,” kata Sean terbahak sembari menutup mulutnya.


Dengan emosi yang hampir naik ke ubun-ubun, Aku melempar Sean dengan bantal sofa yang ada di sampingku. Tawa Sean mulai bergema di ruangan itu di susul dengan tawa Marco dan Papa.


“Giliran bahas beginian yang tua dan muda pada aktif banget." Sindir Mama jengkel.


Bak mendengar suara petir di siang bolong, semua kaum pria di ruangan terdiam tak berkutik mendengar ocehan bak petir tersebut.


Entah angin apa yang menerpa Naina. Di saat kami terdiam, Naina malah terbahak-bahak dan bertepuk tangan. Jelas saja pandangan kami terhenti pada wanita yang tengah mengandung itu.


"Kalian lucu. Beneran lucu banget, " Kata Naina sesaat kemudian ia melanjutkan kembali tawanya.


Dengan rasa heran dan penasaran, Aku mendekat dan mulai menaruh telapak tanganku pada kening istriku.


“Kau masih sehatkan?” tanyaku menyelidik.


Ia hanya mengangguk dan menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


“Lalu apa yang lucu?” tanya Sean.


“Kalian semua lucu, bagaimana tidak lucu. Saat Mama menyindir, kalian semua terdiam. Wajah kalian itu membuatku tertawa.”


Aku, Sean , Marco dan Papa memutar bola mata jengah saat mendengar pengakuan Naina. Mama masih saja terdiam dan tersenyum sinis memandang bergantian pada setiap pria yang ada di hadapannya.


Pernikahanku dengan Naina membawa warna tersendiri bagi keluargaku. Sejak kehadiran Naina, warna abu-abu itu memudar perlahan. Meski aku awalnya ragu karena masa lalu istriku. Mama yang biasanya hanya diam tak terlalu banyak bicara kini mulai tersenyum setiap hari sejak kehadiran Naina. Begitu juga dengan Papa, dari raut wajahnya ia tak sabar ingin menimang cucu.


"Baiklah... Kalian istirahat dulu," usul Mama.

__ADS_1


Istriku perlahan beranjak dan mulai menyusul ke kamar kami. Sedangkan Aku, Sean dan Marco pamit ke ruangan kerjaku untuk membahas laporan kerja dari Sean selama Aku berlibur ke Bali.


__ADS_2