Cinta Tuan Arogan

Cinta Tuan Arogan
perjanjian (DillAldy)


__ADS_3

Dilla berangkat diantar supir ke bandara. Ia menaiki pesawat komersial agar ia tak merasa sendirian.


Beberapa jam kemudian Dilla sampai di bandara internasional singapura.


Dilla segera menuju ke mansion kakak nya.


Setelah sampai


Dilla dipersilahkan masuk oleh para maid rumah itu yang sama sekali belum tau bahwa Dilla adalah adik dari sang majikan.


Beberapa saat Dilla menunggu, Bryan dan gita (ibu Dilla) menemui Dilla.


"Loh nak, kamu dateng? Kok nggak ngabarin kakak" tanya Bryan, kakak Dilla.


Bryan memeluk adik nya sangat sangat ia rindukan.


"Kak jangan kenceng kenceng peluknya kasian bayi Dilla" rengek Dilla.


Bryan pun melepaskan pelukan itu. Ia mengusap perut buncit adik nya.


"Halo keponakan uncle" sapa Bryan.


"Udah berapa minggu nak?" Tanya mama Gita.


"32 minggu ma" jawab Dilla.


"Suamimu mana nak?" mama Gita pada anak nya.


"Hehehe, Dilla kesini karna ada sesuatu penting yang Dilla bicarakan ma, kak"


"Apa itu?" Tanya mama Gita dan Bryan bersamaan.


Dilla menceritakan semua permasalahan perusahaan Aldy.

__ADS_1


"Kakak mau kan bantu suami Dilla" tanya Dilla memelas.


Nampak Bryan berpikir sejenak


"Kakak mau, tapi ada syarat nya"


"Apa itu kak?" Tanya Dilla antusias.


"Bercerailah dengan suami brensekmu itu, kakak akan merawat anak mu"


Dilla ternganga dengan ucapan kakak nya.


"Kenapa begitu kak?"


"Kamu kira kakak tidak tau semua perlakuan buruk suami brensek mu itu" sungut Bryan.


Dilla terus saja memohon pada kakak nya, namun Bryan tetap pada pendirian nya.


Bryan pun menyetujui syarat dari Dilla.


Dilla memutuskan untuk pulang ke indonesia besok pagi bersama Bryan dan mama nya.


Malam hari,


Dilla mendapatkan telepone dari mama Mela yang mengatakan bahwa Aldy telah siuman.


Dilla sangat bahagia mendengar berita itu, namun ia seketika merasa sedih saat mengingat perjanjian nya dengan kakak nya.


"Baiklah, aku harus ikhlas" gumam Dilla sambil mengusap perut nya.


Pagi hari,


Dilla, Bryan dan mama Gita benar benar berangkat ke Indonesia.

__ADS_1


Dilla segera menuju ke rumah sakit sedangkan Bryan dan mama nya ke hotel dahulu untuk istirahat.


"Mas, kamu udah siuman" ucap Dilla saat melihat suami nya.


Dilla memeluk suaminya erat. Hatinya terasa nyeri saat mengingat statusnya sebagai istri akan berakhir besok.


Bryan segera mengurus segala keperluan untuk mengusut tuntas permasalahan perusahaan Aldy.


Sore itu juga, saham perusahaan kembali normal sperti sedia kala.


Papa Reza mengucapkan terimakasih pada Dilla.


"Makasih" ucap Aldy tulus pada Dilla yang dijawab anggukan kepala.


"Gimana kandunganmu apakah baik baik saja?"


"Kenapa kau dengan ceroboh ke singapura sendirian"


"Cepatlah istirahat aku takut jika kau kelelahan"


Dan masih banyak lagi ocehan Aldy mengenai keadaan nya.


Hati Dilla menghangat saat mendengar ocehan ocehan khawatir suami nya.


"Mas, bolehkah aku tidur disini bersamamu?" Tanya Dilla menunjuk brankar rumah sakit yang luas itu.


"Tidak, sebaiknya kau tidur di ranjang samping itu agar kau nyaman, kasihan baby nya jika tempat tidurnya terlalu sempit" omel Aldy.


"Tapi aku pengen mas" rengek Dilla.


Mau tak mau Aldy mengizinkan Dilla untuk tidur di brankar rumah sakit itu.


Dilla tidur telentang sedangkan Aldy miring menghadap Dilla sambil mengusap usap perut istrinya.

__ADS_1


__ADS_2