
Honey moon
Keesokan hari Aku dan Naina mengunjungi wisata yang ada disekitar Hotel penginapan kami. Naina tampak antusias menikmati pemandangan di sekitar kami. Tak ketinggalan untuk membeli pernak pernik khas dari Bali tersebut.
Naina bukanlah tipe wanita yang banyak menuntut sama halnya saat kami membeli oleh-oleh, ia tidak terlalu banyak membeli. Ia hanya membeli seadanya hanya untuk Mama dan pelayan yang bekerja di rumah.
Aku semakin terpikat dengan ibu yang tengah hamil muda itu. Dari sekian yang ia beli tidak ada satupun untuk kepentingannya sendiri. Aku mengusulkan agar ia membeli satu untuknya dengan cepat ia menolak.
Setelah berjam-jam menikmati wisata itu Aku dan Naina kembali ke penginapan. Naina duduk di tepi ranjang dan mulai memijit betisnya. Aku mendekatinya dan mulai berjongkok di hadapannya dan memijit betisnya. Naina tersenyum, senyuman khas dari bibirnya membuatku ingin mencumbunya.
"Apa kau lelah Nyonya?" Tanyaku padanya seraya memandang wajahnya.
"Meski lelah, Aku sangat senang Tuan. Bali adalah impianku. Saat mendengar cerita dari teman-temanku dulu, Aku mulai bermimpi suatu saat akan kesini. Namun aku menyadari, aku tak memiliki kemampuan untuk menapaki tempat ini karena ketidakmampuanku."
Mendengar setiap perkataannya mengenai beberapa impiannya, hatiku terenyuh. Aku sendiri sampai bosan berada ditempat ini. Ternyata masih ada dari berpuluh-puluh juta orang di dunia ini yang memiliki mimpi yang tidak tahu pasti kapan itu akan terwujud.
Dari kehidupan Naina, Aku banyak belajar kesabaran. Sifat itu sangat bertolak belakang dengan gaya hidupku. Ia bak malaikat yang perlahan merubah pandanganku. Dia pernah mengatakan bahwa dia tidak fokus akan masa depan. Ia hanya fokus untuk menyelesaikan hari ini dengan baik. Saat dia mengatakan itu seketika degup jantungku seolah berhenti sesaat. Seketika perkataan wanita itu merujam jantungku dengan puluhan anak panah.
Dia juga mengatakan bahwa ia takut untuk bermimpi untuk hidup bahagia. Dia hanya pasrah ketika ia menjalani hari-harinya. Aku menyakinkan Naina agar dia tidak perlu takut lagi. Dia hanya mengangguk sembari tersenyum padaku.
***
Malam ini Aku membawa Naina makan malam di restoran bintang lima di Bali. Pakaian seadanya yang menempel di tubuhnya membuatku tersenyum. Meski dia tahu bahwa dia adalah seorang istri dari pemilik perusahaan tidak sekalipun dia menonjolkan diri bak istri pengusaha lainnya.
Setelah sampai di tujuan Aku mempersilakan wanita sederhana itu duduk. Manik matanya menjelajah di sekitar restoran yang hanya ada kami berdua dan para pelayan restoran di sana. Aku menyewa tempat ini khusus untuk kami berdua.
"Kenapa restoran ini sepi Tuan?" Tanyanya heran.
Aku mengedarkan pandangan dan mangatakan pada Naina bahwa ini spesial makan malam untuknya tidak boleh diganggu oleh siapa pun. Mendengar penjelasanku ia tertunduk dan seketika mimik wajah itu berubah.
"Apa ada kesalahan atau kekurangan Naina? Kau tidak suka? Atau kau...."
Belum selesai mendesaknya dengan pertanyaan dia terlebih dahulu menyangkal pembicaraanku.
__ADS_1
"Terima kasih sudah menerimaku dan menjadikanku berharga Tuan. Aku sangat terharu. Ini kali pertama orang yang dekat denganku melakukan hal sebesar ini." Ucapnya lirih sembari menangis.
Aku beranjak dari tempatku dan menghampiri Naina dan memeluk wanita itu. Tangisan itu semakin terdengar. Aku mengusap cairan bening dari pipinya dengan tanganku.
"Aku ada bersamamu Naina. Tenanglah."
Tak berapa lama tangisan itu mereda dan kami melanjutkan makan malam berdua. Aku terus memperhatikan Naina saat menikmati hidangan yang ada di hadapannya. Aku tahu semewah dan semahal apa pun makanan itu, Naina belum bisa merasakan bahwa itu enak atau tidak.
Dengan sabar ia menghabiskan makanan di piringnya kemudian mengambil tisu dan membersihkan mulutnya dengan tisu.
Tak berapa lama pelayan yang lain datang membawakan satu kotak kecil. Naina memperhatikan kotak itu kemudian menatapku dengan wajah heran.
Perlahan Aku membuka kotak itu dan memperlihatkan isinya pada Naina. Naina diam tak berkomentar sama sekali. Kotak kecil itu berisikan sebuah cincin dan kalung dan gelang berlian. Perhiasan itu di desain khusus untuk Naina. Tidak ada kesamaan dengan perhiasan lain.
Aku memakaikannya untuk Naina. Ekpresinya tidak berlebihan bak kebanyakan wanita. Wajah itu tersenyum simpul seadanya.
"Terima kasih Tuan." Ujarnya sembari menunduk.
"Apakah Aku boleh bertanya?"
"Apakah Tuan benar-benar mencintaiku? Aku takut saat aku sudah percaya dan menaruh harapan malah akan ditinggalkan. Aku lelah...."
"Aku mencintaimu Naina. Percayalah padaku." ucapku meyakinkan Naina.
Setelah berbincang lama kami memutuskan untuk kembali ke Hotel. Setibanya di ruangan VIP itu Aku membersihkan diri sedangkan Naina langsung menuju tempat tidur dan berbaring di sana.
***
Pagi itu matahari bersinar sangat cerah saat Aku mulai membuka mata. Aku memandangi wajah cantik yang tengah tertidur pulas itu. Tangannya berada di atas dada bidangku. Aku mencium keningnya lama. Naina perlahan membuka mata dan tersenyum.
Suasana dingin dan asri hotel itu membuatku malas bergerak dari ranjang tersebut. Sama halnya dengan Naina ia tak mau beringsut.
Tak ingin melewatkan kesempatan berhubung dengan cuaca yang mendukung. Tanganku mulai meraba bukit kembar itu dan memainkanya perlahan. Akhirnya pertarungan sengit itu pun terjadi saat itu juga. Wajah lelah dan berkeringat terlihat jelas pada Naina. Sesekali ia melempar senyumnya padaku.
__ADS_1
Seharian itu kami hanya berada di kamar. Naina tidak ingin pergi ke mana-mana. Aku menuruti perintah nyonya muda itu. Menonton dan menjahili Naina itulah yang kulakukan. Seharian berada di ruangan ini membuatku bosan.
Dengan rasa bosan yang luar biasa, Aku terfikir untuk memberi kabar pada Sean dan Marco melalui grup whatssap yang berisikan tiga anggota. Siapa lagi kalau bukan Aku, Sean dan Marco.
["Woiii... Pada ngapain lu?"]
Lima menit berlalu, salah satu penghuni grup itu membalas.
["Lagi gabut."] pesan dari Sean.
["Sama."] pesanku diringi dengan emoticon jutek.
["Lah... Kok bisa njirr. Dodot lu mane? Gak nyusu?"] pesan Sean diikuti emoticon tertawa.
["Dodotnya belum di cuci semalem kan baru dipake. Kepala dotnya lagi meler di pake terus"] imbuh Marco dengan beberapa emoticon tertawa.
Aku terkekeh geli melihat pesan dari Marco. Jika mereka berada di dekatku mungkin Aku sudah mengganti posisi kepala mereka berdua menjadi di bawah.
Chat itu berlangsung lama dengan sindiran-sindiran vulgar dari kedua kurcaci tersebut. Aku sampai kalang kabut membalas setiap chat yang menjurus perihal suami istri itu.
Kedua manusia itu saling sibuk berargumen, sedangkan Aku hanya tertawa geli melihat perdebatan mereka di grup tersebut.
["Gue udahan dulu, mau nge dodot dulu. Udah haus nih"] isi pesanku.
["Pergi sono. Jangan lupa ngunjungin anak cebong lu ya. Kasih jajan."] pesan Sean diikuti bermacam emoticon.
Melihat pesan dari Sean, Marco tak ketinggalan untuk menimpali. Aku menggeleng-gelengkan kepala melihat pesan Marco. Tak berapa lama grup itu pun kembali sepi bak kehilangan penghuni.
**Jangan lupa dukung Author berkarya terus ya...
__ADS_1
Like dan Koment**.