Cinta Tuan Arogan

Cinta Tuan Arogan
Ingin menimang cucu


__ADS_3

Setelah pertengkaran hebat dengan Naina perihal kehamilannya. Aku menutup diri di kamar. Tak ingin siapapun mengusikku ditambah lagi ucapan Sean dan Marco membuatku terpukul. Apakah diri ini terlalu kejam?


Namun satu sisi Aku ragu dengan Naina, entah kenapa diri ini mampu melakukan itu berulang kali padanya. Ya... Dari segi postur tubuh, dirinya memang bisa dikatakan sesuai dengan kriteria ku, meski tidak memiliki tinggi bak model. Kulitnya yang mulus ditambah cara berbicaranya sangat anggun dimataku.


Kehamilannya membuatku terusik. Bagaimana tidak, apa yang dikatakan oleh orang-orang mengenai diriku jika Aku memiliki istri bekas wanita malam dan tak berpendidikan.


Awal pertemuanku saat menatap wajah sendu itu aku tertarik ditambah lagi dengan keluh kesahnya Aku merasa kasihan. Aku frustasi dengan pikiran dan egoku sendiri. Melihat Naina yang ketakutan dengan Justin Aku semakin penasaran dibuatnya. Apa sebenarnya titik permasalahan antara Naina dengan Justin.


Aku mencoba untuk tidak ambil pusing dan memilih untuk tidur. Tiba-tiba saja Aku mendengar suara ketukan pintu dari luar. Aku beranjak dari ranjangku dan membuka pintu. Aku melihat Naina berdiri disana sembari meremas tangannya. Matanya yang masih sembab sangat terlihat jelas di pandanganku.


"Tuan... Justin sudah tiba. Apakah Aku harus tetap pergi?" Katanya seraya terisak.


Aku masih mematung memandang wajah sendu yang sudah dibanjiri air mata. Sesekali ia mengusapnya dengan tangannya.


Aku berlalu dari hadapan Naina tanpa membalas setiap ucapannya sedangkan Naina masih mematung ditempatnya. Aku menoleh kebelakang dan memberi intruksi agar Naina mengikutiku. Ia berjalan menyusulku dengan perlahan.


Di ruang tamu Aku melihat Justin dengan santai duduk di sofa sembari memainkan ponselnya. Ia menyadari keberadaanku dan Naina. Naina berdiri tepat dibelakangku.


"Bagaimana... Kau sudah bosan dengan wanita ini kan? Dia itu penipu dan pembawa sial!" Cerca Justin sembari menunjuk ke arah Naina yang menunduk.


Aku menoleh ke arah Naina dan melihat wanita itu terdiam karena perkataan Justin. Ia terus saja meremas tangannya.


"Baiklah tidak perlu berlama-lama lagi, aku akan membawanya." Kata Justin singkat.


"Silakan. Satu lagi Justin... Jangan usik kehidupanku dengan membawa wanita ini lagi di hadapanku."


"Untuk urusan uang, Aku sudah mentransfer ke rekeningmu." Imbuhku lagi.


Naina menangis sembari meremas tangannya. Ia tak berkutik sama sekali dengan perbincangan Aku dan Justin.


"Ayo...." Ajak Justin sembari menatap Naina.

__ADS_1


Naina berjalan mengikuti jejak Justin. Meski ia membelakangiku masih terlihat jelas wanita itu masih terisak. Saat kami berjalan ke arah pintu keluar tiba-tiba Mama memanggil nama Naina.


"Naina... Kamu mau kemana? Kamu kan masih sakit?" Apa laki-laki ini yang menghamilimu?" Ucap Mama dengan pertanyaan tanpa jeda.


Justin dan Aku saling menoleh mendengar perkataan Mama. Mama mendekati Naina sembari menatap ke arah Aku dan Justin secara bergantian kemudian Mama mendekati Justin dan menamparnya tiba-tiba.


Mataku Terbelalak melihat aksi Mama sedangkan Justin mengelus bekas tamparan itu.


"Apa yang Mama lakukan?" Kataku sembari melerai Mama.


Justin masih diam tak berkutik dengan aksi Mama namun ia memandang tajam ke arahku.


"Apa maksud dari semua ini Andre!! Kau memulangkan Naina dalam kondisi hamil!" Sergah Justin sembari menunjuk Naina.


"Ya dia hamil, bukankah biasanya kau memberinya obat untuk dia tidak hamil saat bersama pria lain?" Kataku santai sembari melipat tanganku didada.


"Seharusnya Aku yang bertanya apa tujuanmu padaku? Apa kau sengaja memberi Naina padaku untuk menghancurkan hidupku dan karierku... hah!"


Dengan langkah cepat ia berjalan ke arah Naina, ia menarik rambut Naina dengan keras dan melakukan tamparan berulang-ulang sembari bertanya kenapa wanita itu tidak memakai obat Pil KB.


Sean dan Marco melihat dari tingkat atas perdebatan itu dan turun menyusul kami dibawah. Saat mereka melihat Justin ingin menampar Naina, tiba-tiba tangan Justin terhalangi oleh tangan Sea. Kemudian Sean menyerang Justin berkali-kali dengan pukulan membuat Justin tepar.


Melihat aksi konyol itu Aku kembali ke kamarku diikuti oleh Marco dari belakang. Saat hendak menutup pintu kamar tiba-tiba saja pintu itu terhalang oleh tangan Marco. Marco mendekatiku dan tiba-tiba melakukan pukulan dibagian perutku.


"Kau pengecut! Kau tak punya hati!!" Teriak Marco lantang.


"Itu tak menjadi urusanmu Mar!" Jawabku tak kalah menantang meski dalam keadaan sakit.


"Aku tak menyangka kau seegois itu, kau menidurinya dan membuangnya begitu saja! Emang kau pikir kau siapa!!"


"Kau lebih dari papa mu!"

__ADS_1


Cercaan demi Cercaan Marco bertubi-tubi menghantamku. Setiap perkataannya selalu membandingkanku dengan papa. Aku terdiam sesaat. Saat hendak membalas perkataan Marco, Mama dan Sean sudah berada di kamarku.


"Apa kau yang menghamili Naina, nak?" Kata Mama sembari berjalan mendekatiku.


"Berarti aku akan menimang cucu?" Tanya Mama dengan raut yang sulit diartikan.


Tiba-tiba saja senyum terbit di wajah Mama dan wanita tua itu memelukku erat. Membuatku terhenyak. Marco dan Sean pun heran dengan perkataan Mama.


"Aku tak mau menikah dengannya! Aku hanya menjadikannya pelampiasan!!"


"Kau jangan seperti anak- anak Andre! Kau sudah dewasa, ini harus perlu dipertanggung jawabkan!" Hardik Mama sembari menatapku dengan serius.


"Sudah-sudah... Masalah ini clear Andre akan menikahi Naina apa pun alasannya."


Pernyataan Mama sungguh diluar dugaanku. Aku tak bisa membantah setiap ucapannya. Sean dan Marco terkekeh melihatku. Aku memandang jengah ke arah mereka.


Setelah perdebatan panjang dengan Mama Aku langsung masuk ke kamar sedangkan Sean dan Marco pamit pulang.


***


Pagi hari.


Aku menapaki setiap anak tangga dan berjalan menuju garasi dimana tempat mobilku terparkir.


Pagi hari ini agak berbeda dari sebelumnya. Biasanya Naina sudah berada di ruangan ini. Namun kali ini Mama yang sibuk mondar-mandir mengambil segala keperluan untuk sarapan.


Mama menaruh roti yang sudah ditaruh selai didalam piring dan segelas susu kemudian ia beranjak ke kamar Naina. Mama seperti sudah menganggapku tak ada. Ia tak menggubrisku sama sekali. Aku mengambil sarapanku sendiri dan kemudian berlalu dari tempat itu.


***


Pagi itu Aku melihat Sean lebih dulu tiba di kantor dan fokus dengan lembaran-lembaran kertasnya. Sesekali ia melirikku dengan santai tanpa berbicara.

__ADS_1


Tak terasa waktu istirahat pun tiba. Aku berlalu dari gedung bertingkat itu menuju suatu tempat tanpa ditemani oleh Sean. Aku menuju ke salah satu Restoran keluarga, Restoran itu mempunyai aturan tersendiri dimana setiap yang berkunjung ke sana harus wajib membawa keluarga kecuali yang belum menikah.


Restoran ini adalah pelabuhan terakhirku jika aku dalam keadaan kalut. Hati ini seolah-oleh seperti terhipnotis saat melihat kehangatan setiap keluarga demi keluarga yang bercengkerama dan menikmati hidangan mereka. Aku sangat merindukan keadaan ini sejak kecil. Namun itu hanya impian semata, keadaan ini tak akan pernah ada di dalam kehidupanku.


__ADS_2