
Mentari menyapa dengan sinar yang cerah, kicauan burung-burung menambah kehangatan dipagi hari. Aku bergegas menapaki anak tangga dan berjalan menuju meja makan.
Aku melihat Naina berjalan mendekatiku sembari membawa sarapanku dan jus jeruk kesukaanku. Aku melihat kakinya yang berjalan sedikit pincang. Ia hanya terdiam tak berkutik.
"Kaki kamu kenapa?" Tanyaku penasaran sembari menerima piring yang berisi nasi goreng.
Naina menunduk dan melihat kakinya sendiri dan menjelaskan penyebab kakinya yang sakit.
"Aku terpleset Tuan,"
Aku hanya mengangguk dan mulai menikmati sarapanku. Tak lama kemudian Aku bergegas menuju garasi dan mulai mengendarai mobil sportku.
Jalanan begitu ramai, membuatku terjebak kemacetan yang padat. Aku mengutak-atik ponselku menghilangkan jenuh. Tiba-tiba saja ponsel itu bergetar dan melihat nama Sean tertera di layar. Aku menjawab dan mulai berbincang pada Sean.
"Usir dia dari sana! Aku tak ingin melihatnya saat Aku tiba disana!" Kataku dengan nada tinggi dan mematikan panggilan itu.
"Berani sekali dia!" Aku bergumam geram.
Tak butuh waktu lama Aku tiba di Perusahaan dan buru-buru memasuki ruanganku. Aku melihat kegaduhan di ruanganku. Situa bangka yang tak tahu diri itu berani datang kekantor sejak kejadian itu.
"Apa yang kau cari disini, hah! Apa kau ingin cari mati dan menyerahkan dirimu dengan ikhlas disini!" Jeritku dengan suara tinggi yang menggema diruanganku.
Situa bangka itu mulai kelabakan dengan kemarahanku. Ia menatapku dengan tatapan tak suka. Ia mulai berjalan mendekatiku dan bersimpuh dikakiku sembari menangis.
"Dasar bajingan! Aku tak sudi menerima tangisan penipu sepertimu!" Kataku sembari menepiskan tangannya dari kakiku.
"Sean... Panggil security untuk mengusir si bajingan ini!"
"An-dre... Ak-u ingin kau mengembalikan Asetku kembali, Aku sudah tidak punya uang lagi." ujarnya lirih sembari berlutut kembali dihadapanku.
"Aku tak mau tau! Secepatnya kau kembalikan dana perusahaan jika kau ingin hidup!"
Security datang dan menyeret situa bangka itu dari ruanganku. Sedangkan Sean hanya diam tak berkutik. Setelah kepergian situa bangka, Aku dan Sean kembali berkutat dengan file-file yang sudah tersedia di meja kerja.
***
Sore hari usai bekerja Aku dan Sean memutuskan ke suatu tempat. Tempat itu adalah Taman kota yang masih dalam masa pembuatan. Taman itu adalah proyek dari perusahaanku.
Aku dan Sean menelusuri jalan Taman kota itu. Kami beralih ke suatu Danau dan Sean mulai menjelaskan panjang lebar program untuk Danau ini. Aku hanya mengangguk sembari mengisap sebatang rokok dan memandang luas ke Danau.
Satu jam berlalu kami beralih dari lokasi dan menuju arah jalan pulang. Didalam Mobil Sean masih saja bercerita mengenai proyek Danau itu.
__ADS_1
***
Malam semakin larut, mataku masih enggan terpejam. Aku keluar dari kamar dan berjalan ke taman yang berada di belakang rumah. Disana Aku melihat Naina sedang duduk dikursi besi itu sembari menekuk kakinya.
Aku memperhatikannya dari jauh. Naina menatap langit malam dan beberapa kali menghembuskan nafas kasar. Aku perlahan-lahan mendekat dan duduk di sampingnya. Ia terlonjak kaget dan menatapku.
"Tu-an...." Katanya sembari mengusap airmata di pelupuk mata indahnya.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanyaku heran dan melihatnya.
"A-k-u... Hanya mencari angin saja Tuan."
Naina masih saja berbohong, jelas saja dia baru selesai menangis. Ia kembali menatap langit malam itu. Tiba-tiba ia melontarkan suatu kalimat yang membuatku pilu.
"A-ku merindukan orang tuaku, dimana mereka sekarang. Aku sudah lelah, aku rindu...." Katanya sembari menangis.
Aku tak dapat berkutik dengan pertanyaan Naina. Kemudian ia bertanya kembali padaku.
"Kenapa akhir-akhir ini Tuan menjaga jarak denganku? Apa yang Cecil katakan tentangku? Apa Tuan hanya menilai sepihak dari Cecil saja?"Katanya lagi dengan terisak.
" Jangan jauhi Aku Tuan, Aku akan patuh padamu dan melakukan apa pun yang Tuan mau. Jangan benci saya, jangan berikan saya pada Justin." Kali ini dia berkata sembari berlutut dihadapanku.
Aku membantunya berdiri dan membawanya duduk disampingku. Aku melihat wajah mengiba itu untuk kesekian kalinya. Ia meremas tangannya dan menangis.
Tanpa berkata-kata Aku pergi begitu saja meninggalkannya yang masih sesenggukan. Entah kenapa tangisannya membuat hatiku pilu. Mungkin dia benar Aku tak boleh menilai secara sepihak. Malam itu Aku membaringkan diri diranjang big size itu dan mulai terlelap dalam tidurku.
Malam semakin larut namun Aku masih saja kepikiran tentang Naina. Aku berusaha untuk memejamkan mata. Entah kenapa tangisan Naina malam ini membuatku terenyuh.
***
Pukul 07.00 pagi hari Aku memutuskan untuk tidak bekerja. Aku ingin membawa Naina untuk mencari angin segar.
Naina datang menghampiriku dimeja makan dengan hidangannya yang dimasak olehnya. Aku mencicipi makanan yang disajikan Naina.
"Naina... Segeralah bersiap-siap. Aku akan membawamu,"
"Kemana Tuan?" Tanyanya dengan wajah kebingungan.
Aku menjelaskan pada Naina tujuanku membawanya pergi. Ia hanya mengangguk.
***
__ADS_1
Aku membawa Naina kesuatu Taman, dimana diujung Taman itu terdapat Danau. Danau itu tempat yang asri dan sejuk. Kami perlahan-lahan menyusuri Taman itu hingga sampai di danau itu.
Aku dan Naina memilih duduk dipinggiran Danau itu. Aku melihat Naina yang menerbitkan senyum dibibirnya yang mungil. Perlahan ia menghembuskan nafas dengan teratur seperti tak mau melewatkan angin segar ini.
Melihat senyumannya, Aku pun ikut tersenyum. Gadis itu mulai melemparkan batu-batu kecil ke Danau.
"Apakah kau senang Naina?" Tanyaku dengan santai sembari menekukkan kakiku.
Ia menoleh kearahku sembari kembali tersenyum. Dari senyumannya Aku tau gadis itu senang.
"Naina... Bolekah Aku bertanya sesuatu?" Tanyaku dengan nada lembut.
"Bagaimana kau bisa bertahan sampai sejauh ini, Naina?"
Ia menunduk dan tiba-tiba saja airmatanya menetes di pipinya yang mulus. Aku memandangnya dan menghapus air matanya dan membawanya ke pelukanku.
"Jangan tinggalkan Aku Tuan...." Desisnya lirih.
"Aku memang bukan gadis yang baik. Aku gadis yang membawa sial. Tapi ijinkan Aku berharap padamu Tuan... Aku lelah." Katanya lagi sembari terisak.
Aku merasa bersalah dengan pertanyaanku tadi. Naina sepertinya tertekan dengan pertanyaanku. Namun sejauh ini Aku penasaran dengan latar belakang gadis yang kupeluk saat ini.
Beberapa menit kemudian gadis itu berhenti menangis. Aku mengalihkan pembicaraan. Aku menceritakan tentang Danau ini pada Naina.
Ia berusaha mencerna apa yang kukatakan padanya. Aku tau, ia tak akan mengerti. Namun ia berusaha untuk mendengarkan setiap pembicaraanku. Melihatnya hanya terdiam, Aku mengalihkan pembicaraan.
"Apakah kakimu sudah membaik?" Tanyaku sembari memandang kearah kakinya. Ia pun ikut menoleh ke kakinya.
"Sudah lumayan Tuan." Jawabnya singkat sembari menggerak-gerakkan kakinya.
"Bagaimana kau bisa terpleset?" Tanyaku lagi.
"Sebenarnya... Aku tidak terpleset Tuan." Katanya dengan nada ragu-ragu.
"Lalu?" Kataku sembari mengernyitkan kening.
"Semalam Tuan bermain sangat kasar membuat Kakiku gemetaran, dan aku menjadi susah untuk berjalan." Katanya dengan hati-hati.
"Hah." Kataku heran sembari menelan saliva perlahan dan menggaruk tengkuk yang tidak gatal.
"Sekasar itu kah Aku, sehingga kakinya menjadi pincang?" ucapku dalam hati sembari membayangkan kejadian malam itu.
__ADS_1