
Seharian sudah Aku dan Naina menghabiskan waktu di Danau dekat Taman itu. Kami beranjak dari sana dan pulang kerumah.
Tak berapa lama kami sampai di rumah nan mewah. Naina bergerak cepat keluar dari mobil. Kemudian selang beberapa detik Aku menyusul Naina masuk kerumah. Aku segera membersihkan diriku.
Seharian bersamanya membuatku sedikit lega. Melihatnya tersenyum dan membahas banyak hal seketika hatiku luluh dengan gadis itu. Sampai saat ini Aku tak mengerti dengan perasaanku pada Naina. Rasa kasihan, ya rasa kasihan akan dirinya selalu ada untuknya.
Aku mengambil ponselku yang terletak dinakas dan menghubungi Sean dan Marco untuk bersenang-senang malam ini. Setelah mengakhiri panggilan, Aku bergegas menapaki anak tangga menuju garasi.
***
Di diskotik.
Aku mengedarkan pandanganku ke beberapa tempat. Aku melihat Marco melambaikan tangannya. Dengan langkah santai Aku mendekati mereka.
Sean terlihat sudah mabuk, Aku tersenyum simpul melihat Sean yang mulai berkata-kata tak jelas. Sedangkan Marco masih stabil, Aku memanggil pelayan dan memesan whiskey dan jajarannya untuk bersanding dimeja itu.
Perlahan Aku mulai meneguk minuman. Marco hanya asik dengan wanita disebelahnya. Sean terus saja mencerocos. Entah beban apa yang menimpa hidupnya sehingga dia sehancur ini.
***
"Kau!" Jerit Sean sembari menunjuk kearahku.
Awalnya Aku berusaha tenang, mungkin pengaruh dari mabuk pikirku. Tiba-tiba saja dia berdiri dan melemparkan minuman yang tersisa di gelasnya kewajahku. Aku tersulut emosi dan berdiri. Aku mencengkram dagunya cukup keras. Marco masih terdiam dan tercengang melihat kejadian itu.
"Apa yang kau lakukan Se...! Hardikku sembari tetap mencengkram kuat dagunya. Ia hanya menatapku dengan wajah kebencian.
" Kau! Manusia tak punya hati!! Teganya kau melakukan itu pada Cecil!!! Cuih...! Ucapnya lagi sembari meludahi wajahku.
Hilang sudah kesabaranku pada Sean. Aku melayangkan pukulan keras padanya. Marco sama sekali tak mengerti dan tak melerai pertikaian itu.
Sean tersungkur dan Aku melihat darah segar keluar dari sudut bibirnya. Ia berusaha berdiri dan mulai membalas seranganku, segera ku tangkis dan kembali membalas pukulan Sean.
Kali ini Sean tak berdaya akibat dari pukulanku. Marco melihat Sean yang tak berdaya ia segera meleraiku agar Aku menghentikan aksiku.
"Setelah dia sadar, bawa dia ke hadapanku untuk meminta maaf!!" Kataku geram sembari menunjuk Sean yang sudah tak berdaya.
Marco diam ditempat dan beberapa menit kemudian ia mulai membopong Sean dan mengantarkannya pulang.
Aku beranjak dari sana dengan keadaan baju yang setengah basah akibat minuman yang dilemparkan Sean kewajahku. Aku menuju garasi kemudian menyetir mobilku dengan kecepatan sedang.
Di dalam mobil Aku tak habis pikir dengan perbuatan Sean. Apa yang membuatnya begitu, sungguh membuatku penasaran. Sekian puluh tahun bersahabat karib belum pernah ia seberani ini denganku.
__ADS_1
***
Pagi hari.
Naina terlihat sibuk didapur saat Aku menyusul dimeja makan. Melihat keberadaanku ia segera mendekat dan mulai melakukan pekerjaannya seperti biasa.
"Duduklah... Aku ingin kau menemaniku untuk sarapan."
Ia pun duduk dan mengambil piring dan menaruh nasi putih dan ayam goreng di piringnya dan mulai melahap dengan santai. Usai sarapan Aku pamit padanya, sedangkan Mama sudah lebih dahulu pergi berbelanja kebutuhan rumah.
***
Dikantor.
Saat Aku berjalan ke ruanganku, beberapa karyawan berbisik-bisik sembari menoleh padaku. Aku tak menanggapi bisikan itu.
Sesampainya diruangan itu Aku melihat Sean sedang mengumpulkan barang-barangnya ke kardus dan ia hanya memakai baju rumahan. Ia menyadari kedatanganku dan berjalan mendekatiku.
"Aku ingin mengundurkan diri Pak Andre." Katanya sembari menyerahkan surat pengunduran diri.
Aku menatapnya dengan tenang sembari membuka surat pengunduran dirinya. Aku tak habis pikir entah apa yang merasukinya.
"Aku ingin bertanya jika kau berkenan menjawab Saudara Sean."
"Apa alasanmu melakukan hal gila malam itu?"
Kali ini Aku bertanya padanya dengan nada santai. Aku sangat mengerti sifat Sean. Dia tidak akan melakukan hal gila jika ia tidak terusik.
"A-Aku..." Dia mulai terbata-bata dalam menjawab pertanyaanku.
"Katakanlah.... Aku sangat mengerti sifatmu." Sergahku dengan nada pelan.
"Aku... Hanya sedikit... Maksudku Aku...."
"Jangan berbelit-belit Sean! Kau tau Aku tak suka dengan orang yang seperti itu. Ingat satu hal, Aku tak akan menerimamu kembali lagi di Perusahaan ini meski kau dan keluargamu berlutut dihadapanku."
Mendengar perkataanku seketika raut wajah Sean berubah. Ia sepertinya mulai ragu untuk melangkah keluar dari Perusahaan ini.
"Maafkan Aku...." Ia mulai menudukkan kepalanya.
"Jawab saja pertanyaanku!" Aku mulai berkata dengan nada marah.
__ADS_1
"Aku...."
Belum sempat ia melanjutkan penjelasan Aku melemparkan berkas pengunduran diri itu ke wajahnya. Dengan cepat ia menangkis berkas itu.
"Pergilah! Jangan pernah kembali! Satu hal lagi, mulai hari ini tidak akan ada lagi persahabatan diantara kita! Aku jijik dengan orang-orang seperti kalian! Aku menggertak Sean dengan suara lantang.
Sean masih saja berdiri ditempat tak berkutik, Aku memperhatikan setiap gerakannya. Sebenarnya tanpa disadari oleh Sean, Aku tadi sempat menggantikan surat itu dengan kertas kosong saat Sean berbicara. Aku sangat memahami wataknya. Ia takkan berani melangkah keluar dari Perusahaan ini. Bukan karena jabatan atau gaji. Tapi ia tak sudi meninggalkan persahabatan kami.
Aku sengaja menggertaknya agar ia jujur perihal perbuatannya malam itu. Sean adalah pribadi yang baik diantara kami dan memiliki jiwa yang lembut.
"Andre... Maksudku Pak Andre, maafkan Aku perihal semalam. Aku hanya terbawa suasana efek dari minuman itu." Ucapnya lirih.
"Wahhh hebat sekali kau, maksudnya saat kau mabuk Aku harus menjadi korbanmu? Apa aku perlu bernyanyi sekalian, seperti lagu si Tata Janeta 'Korbanmu' hah?" Tanyaku seraya mencodongkan wajahku ke wajahnya. Dengan gerakan cepat ia memalingkan wajahnya.
Dalam hati sungguh Aku sudah ingin tertawa sekeras-kerasnya melihat manusia lugu dihadapanku.
"Aku mencintai Cecil." Jawabnya cepat, sontak Aku membelalakkan mata memandang kearahnya.
"Lalu apa hubungannya denganku Sean jika kau mencintainya." Kataku datar. Kisah percintaan bucin tingkat berapa ini pikirku.
"Sejak Kau menelpon orang suruhanmu untuk menghabisinya, Aku tak pernah lagi melihatnya." Ucapnya sendu.
Entah dari kapan Sean mencintai Cecil jelas-jelas dia tahu sifat Cecil yang genit dan juga matre. Sean pun tahu bahwa Cecil sangat tergila-gila padaku.
Sebenarnya saat Aku mengatakan menghabisi Cecil hanyalah gertakan belaka. Satu jam usai perbincanganku dengan orang suruhanku, Aku kembali mengirim pesan supaya orang suruhanku menyuruh Cecil pergi dari kota ini. Sejak melihat Naina Aku tak tega berlaku kasar pada wanita.
Ditambah lagi dengan Mama yang diperlakukan kasar oleh si tua bangka yang tak tahu diri itu.
"Aku hanya menyuruhnya untuk pergi dari kota ini bego! Bukan membunuhnya! Kataku sembari memutar bola mata jengah.
Sean mengeryitkan dahinya seolah tak percaya. Ia langsung duduk dihadapanku dan kembali melontarkan beberapa pertanyaan perihal Cecil kala itu.
"Kalau begitu Aku minta maaf sebesar-besarnya Ndre, maafkan aku." ucapnya seraya berlutut dihadapanku.
Dengan cepat Aku membantunya berdiri dan menepuk bahunya pelan sembari tersenyum.
"Aku sangat memahami karaktermu Bro, kali ini kau kumaafkan. Tapi lain kali tidak. Ingat itu." jawabku sembari kembali menepuk bahunya.
"Silakan keluar, bukannya kau mau mengundurkan diri?"
"hehehheehhe... tidak jadi Pak." sanggahnya cepat sembari tertawa kecil sambil menggaruk tengkuk lehernya.
__ADS_1
Melihat aksinya Aku hanya geleng-geleng kepala seraya tersenyum simpul. Kemudian ia menyusun barang-barangnya kembali diatas meja kerjanya.
"Sean Sean..." pikirku dalam hati.