Cinta Tuan Arogan

Cinta Tuan Arogan
Merasa bersalah


__ADS_3

Pagi ini Aku terburu-buru menapaki anak tangga menuju ruang makan. Sekilas Aku melihat Naina yang sedang sibuk mengatur sarapan. Sedangkan Mama melirikku yang tergesa-gesa. Mama hanya menggeleng-gelengkan kepala melihatku yang sibuk memasang dasi.


Aku menarik kursi dan duduk sembari melihat makanan yang tersaji di hadapanku. Dengan cekatan Naina langsung menarik piring itu dari tanganku dan mulai mengisinya dengan makanan.


Sesekali Aku melirik wajah Naina, mata wanita itu masih terlihat sembab. Melihatnya Aku merasa bersalah atas semua perbuatanku. Aku menyadari diri ini lebih hina saat melakukan kekerasan itu padanya pada saat itu. Perkataan Sean malam itu menghujam seluruh pikiranku.


***


Jam istirahat tiba dan Aku memilih makan siang dirumah dan tak kembali lagi ke kantor. Saat dikantor tadi Aku berpikir keras untuk meminta maaf pada Naina atas perlakuanku padanya. Aku akan membawanya ke pantai sore ini.


Saat tiba di rumah Aku tak melihat Mama dan Naina. Rumah itu sepi bagai tak berpenghuni. Aku mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan itu. Aku berlalu ke bagian dapur dan mendapati bibi sedang menikmati makan siang bersama pekerja rumah yang lain.


"Bi... Mama dan Naina kemana?" Tanyaku santai.


"Mereka pergi belanja Den. Apa Aden butuh sesuatu?"


"Tidak bi. Lanjutkan saja makan siang kalian." Kataku sembari berlalu dari sana.


***


Suara ketukan pintu membangunkan Aku dari tidurku. Dengan mata yang masih mengerjap, Aku membuka pintu dan Naina berdiri berhadapan denganku.


"Tuan... Mencari saya?"


"Hmmm... Siap-siaplah Aku akan membawamu ke suatu tempat." Ujarku santai.


Usai berbicara dengan Naina Aku bergegas membersihkan diri dan turun dari kamarku menuju ruang tengah menunggu Naina. Aku berpapasan dengan Mama. Mama melirikku dengan tatapan santai.

__ADS_1


"Kamu mau kemana?"


"Bawa Naina jalan-jalan Ma." Kataku sembari melipat lengan bajuku.


Mama tersenyum saat Aku berkata demikian. Mama tampak bahagia sekali dengan kehamilan Naina tanpa memikirkan latar belakang wanita itu.


Kemudian Mama menarikku pelan dan kami duduk bersama di sofa. Mama mulai membuka percakapan. Mama mengusulkan agar Aku menikah dengan Naina. Aku mendengar celotehan Mama yang tak kunjung berhenti. Aku hanya menjawab bahwa Aku butuh waktu. Wajah Mama berubah murung saat mendengar keputusanku. Entah kapan Naina berada disekitar kami. Aku yakin dia mendengar semuanya. Mimik wajah teduh itu tunduk untuk sesaat.


***


Setelah berlalu dari rumah kami menuju pantai. Tak butuh berapa lama kami sampai di tujuan. Naina yang diam sejak tadi tiba-tiba membuka suara.


"Aku tidak mau kesini. Aku mau ke pasar malam yang kita lewati tadi." Katanya dengan nada sedikit pelan.


Mataku terbelalak mendengar permintaan Naina. Ia masih terlihat santai dan tak mau turun dari mobil. Aku masih terdiam mendengar permintaan Naina. Setelah berfikir sekian menit Aku membalas permintaan Naina. Baru kali ini Naina mau mengutarakan pendapatnya.


"Setelah dari sini kita akan kesana, turunlah." Kataku sembari menoleh ke arahnya.


Beberapa menit kami sudah sampai di pasar malam yang sudah dipenuhi lautan manusia. Naina terlihat sangat senang berada di tempat ini. Ia mulai menarikku berkeliling disekitar tempat itu. Wajah Naina terlihat ceria saat berkeliling di sana. Seumur hidup baru ini Aku datang ketempat ini.


Awalnya Aku gerah namun berlama-lama disini membuatku mulai terbiasa. Aku ditawari permainan oleh Naina dan kami memainkan beberapa permainan di pasar malam. Tak terasa berjam-jam sudah kami disini. Aku tak sadar jika ini sudah malam. Aku melirik ke wanita yang memakai dress peach itu dan mengajaknya pulang. Kami membeli banyak makanan dan minuman sesuai dengan permintaan Naina. Melihat makanan yang diborong oleh Naina membuatku mual. Aku saja tidak sanggup untuk menghabiskan makanan sebanyak itu pikirku. namun Aku tak ambil pusing.


***


Malam itu Mama sedang menunggu kami diruang tamu, ia menyambut Naina bak malaikat yang datang dari surga. Wanita paruh baya itu mengajak Naina duduk di sampingnya. Naina memberikan makanan dan minuman yang ia beli tadi pada Mama.


Mama sibuk mengeksekusi makanan dan minuman itu, ia mengatakan makanan dan minuman yang dibeli oleh Naina tadi tidak baik untuk pertumbuhan janin. Terlihat jelas wajah cemberut Naina. Aku hanya tersenyum tipis dan menggelengkan kepala melihat kedua wanita itu. Segitu repotnya kah?

__ADS_1


"Andre... Kamu tuh kalau pilih jajan yang sehat dong!" Hardik Mama yang membuatku sedikit terkejut.


"Kok jadi Aku yang salah... Kan Naina yang minta." Gerutuku pada Mama.


Naina hanya diam memandang perdebatan kami berdua. Namun sesekali ia melirik makanan yang sudah disisihkan Mama sembari menelan salivanya. wanita itu tak sepenuhnya fokus pada perdebatan Aku dan Mama mengenai makanan yang diborong olehnya sendiri.


Aku menyadari wanita ini tengah mengalami fase mengidam. Karena biasanya wanita itu tak pernah serakus ini. Bahkan perubahan sifatnya pun mulai terlihat. Ia lebih berani dibandingkan sebelumnya. Melihatnya yang terus menatap makanan itu, Aku mengumpulkan makanan itu dan membawa ke kamarku. Aku yakin Naina akan menyusul. Aku malas berdebat dengan Mama mengenai gizi gizian.


Benar saja, saat Aku berlalu Naina pun beranjak dan menyusulku dari belakang. Aku hanya tersenyum melihat wanita yang memiliki mata teduh itu. Saat berada di depan kamarku, ia terhenti dan menoleh pandangannya padaku.


Aku memberikan makanan dan minuman itu padanya. Ia terlihat seperti anak kecil yang kesenangan saat diberi jajan oleh orangtuanya. Melihat itu Aku terkekeh sendiri. Dengan cepat ia beralih ke kamarnya sebelum dilarang oleh Mama.


***


Aku memainkan ponselku sebelum terlelap, tiba-tiba saja Mama masuk dan duduk ditepi ranjangku.


Mama mulai membahas tentang hubunganku dengan Naina. Wanita paruh baya ini menginginkan Aku menikah dengan Naina meski latar belakangnya tidak baik. Mama bercerita panjang kali lebar dan membuat pikiranku terbuka. Aku menyadari Aku memang egois, Aku terlalu keras dengan prinsipku sendiri.


Aku mencerna setiap masukan dari Mama. Aku akan belajar perlahan menerima setiap kekurangan Naina. Aku tahu semua yang dijalani Naina dalam kehidupannya bukan atas kemauannya sendiri.


Setelah lama berbincang, Mama kembali ke kamarnya. Aku pun bergegas ke kamar Naina. Aku membuka kenop pintunya dan melihat ibu hamil itu tengah hikmat menikmati makanan yang ada dihadapannya. Aku terkekeh melihat pemandangan yang dihadapanku saat ini.


Naina menyadari keberadaanku, ia mengusap bekas makanan yang tercecer disekitar mulutnya dan membersihkannya dengan tisu. Dengan pipi yang menggembung wanita hamil itu masih sama cantiknya pada saat pertemuanku pertama kali dengannya.


Naina mempersilahkan Aku duduk ditepi ranjangnya dan mulai menyodorkan beberapa makanan yang tersisa padaku. Jelas saja Aku menolak, untuk dia saja sepertinya kurang.


Naina tampak bingung dengan kedatanganku. Ia mulai membereskan makanan yang terletak diatas ranjang dan menyimpannya diatas nakas.

__ADS_1


"Tuan... Apa perlu sesuatu?" Tanyanya ragu.


Aku tak menjawab pertanyaannya, Aku langsung membawanya kedalam pelukanku. Kukecup kening wanita itu lama. Wanita itu mendongak ke atas menatap wajahku lama. Aku tak mampu berkata-kata saat memeluk tubuh mungil itu, dan masih ingin memeluknya erat.


__ADS_2