Cinta Tuan Arogan

Cinta Tuan Arogan
Aksi Naina


__ADS_3

Malam itu Aku sedang menikmati makan malam bersama istriku. Senyum semringah terpancar dari wajahnya. Mungkin indra perasaku bisa bebas menikmati segala rasa dari hidangan malam ini. Namun berbeda dengannya, ia terlihat tanpa ekspresi saat mengunyah makanan ke dalam mulutnya. Iba menyeruak dihatiku paling dalam menyaksikan kunyahan demi kunyahan tanpa rasa itu.


Aku meletakkan sendok ke piring saji, kemudian memegang tangan Naina lembut sembari tersenyum dan menatap wajahnya.


"Setelah pulang dari tempat ini aku akan membawamu kembali untuk mengecek kesehatanmu terkait indra perasamu sayang,” kataku pelan.


Naina menatapku dengan tatapan sendu, tak terasa air matanya menetes membanjiri wajahnya. Aku mengusapnya perlahan. Aku beranjak dari tempat dudukku dan mendekatinya. Dengan gerakan refleks tangannya melingkar di bagian pinggangku.


“Sudahi kesedihanmu, ini saatnya kau bangkit Naina, Aku ada bersamamu." ucapku sembari menenangkannya.


Tak ingin berlama-lama melihatnya menangis, Aku memaksanya untuk menghabiskan makanannya. Ia pun menuruti perkataanku seraya menghabiskan sisa makanan dari piringnya.


Usai makan malam Aku membawa Naina mengunjungi suatu tempat yang tak seberapa jauh dari tempat penginapan kami. Kami singgah di suatu kafe. Naina termangu saat sudah berada di sana. Matanya menjelajah di sekitar area kafe tersebut. Bagaimana tidak, mungkin ini kali pertama Naina berada di tempat seperti ini.


“Kenapa? Ada yang salah dengan tempat ini?” tanyaku menyelidik sembari menoleh padanya.


Wanita yang memiliki bola mata berwarna coklat itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Lantunan lagu mulai berkumandang di kafe tersebut. Istriku tampaknya senang dengan kafe ini. Senyuman terukir di wajahnya saat satu tembang lagu itu selesai dinyanyikan. Melihatnya yang merasa terhibur, hatiku merasa tenang.


Saat meneguk minuman yang baru saja di berikan oleh pelayan kafe tersebut, istriku berdiri dan menghampiri panggung. Aku kelabakan dan mulai mengikutinya. Aku melihatnya sedang berbicara dengan pemain musik itu. Tak ingin membuat panggung itu ricuh aku menunggu istriku di bawah dan kembali duduk dibangku yang sudah kupesan sembari memijit keningku.


“Ulah apalagi ini, Naina?" batinku.


Tak berapa lama terdengar suara lembut di atas panggung.


“selamat malam semua, aku ingin mempersembahkan sebuah lagu untuk suamiku yang sedang duduk di sebelah sana." ujarnya sembari menunjuk tepat ke arahku.


Mendengar pernyataan Naina, tepuk tangan dari pengunjung kafe itu pun mulai terdengar. Mataku terbelalak dan aku terdiam terpaku melihat aksi Naina di atas panggung. Ini bukan Naina yang seperti biasanya kulihat, wanita yang pendiam dan menunduk saat melihat keramaian.


“Terserahmu Naina," ucapku dalam hati Sembari mengelus dada, takut sesuatu hal yang memalukan terjadi.


Meski begitu perlahan senyuman melengkung di bibirku saat Naina mengucapkan sepatah kata dari sana.

__ADS_1


“Dia adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan padaku, dia menerima segala kekuranganku untuk menjadi istrinya." Lirihnya pelan namun masih terdengar.


Sesekali ia mengusap cairan bening yang melintas di pipinya sembari tersenyum padaku. Aku membalas senyumannya dari tempat dudukku. Meski ketakutan melanda hatiku karena aksi Naina.


Sayup-sayup lantunan lagu itu mulai terdengar. Aku terpaku dari tempat dudukku saat mendengar suara Naina yang lembut dan merdu. Sepertinya bukan aku saja yang terpesona dengan suara itu, pengunjung kafe itu mulai bertepuk tangan mendengar suara Naina.


“From this moment life has begun...


From this moment you are the one


Right beside you is where I belong


From this moment on


From this moment, I have been blessed


I live only, for your happiness


From this moment on


I give my hand to you with all my heart


I can’t wait to live my life with you I can't wait to start


You and I will never be apart


My dreams came true because of you


From this moment, as long as I live


I will love you, I promise you this

__ADS_1


There is nothing, I wouldn’t give


From this moment on


You’re the reason I believe in love


And you’re the answer to my…”


Lagi dan lagi tepuk tangan itu semakin riuh terdengar saat lagu itu usai dilantunkan oleh istriku. Aku pun berdiri dan memberikan tepuk tangan untuknya sembari menjemputnya dari atas panggung. Saat berada di atas panggung Aku memeluknya lama dan mencium keningnya.


"Kau bukan yang dulu lagi sayang, Aku bangga padamu. Terima kasih untuk lagu itu, Aku mencintaimu," bisikku lembut di telinganya.


Naina memelukku sembari terisak. Aku dan Naina berlalu dari atas panggung tersebut diiringi tepuk tangan meriah itu.


Malam ini adalah malam yang terindah untukku disaat aku menjabat sebagai suami sah dari Naina. Untuk pertama kalinya ia memberanikan diri menghadapi khalayak ramai seperti saat ini. Entah pengaruh kehamilannya atau tidak Aku tak peduli. Yang jelas saat ini Aku terpesona padanya.


Malam pun semakin larut, kami memutuskan untuk kembali ke hotel penginapan kami. Entah apa dan bagaimana Aku masih saja terbawa suasana saat di kafe tadi. Aku senyum-senyum sendiri saat mengingat Naina melantunkan sebuah lagu untukku. Aku menggengam erat tangan Naina dan mencium telapak tangannya. Istriku tersenyum sembari mengusap wajahku dengan tangannya yang mungil. Tak berapa lama kami sampai di Hotel penginapan kami.


"Naina... Eh istriku... Aku tak menyangka kau memliki suara yang bagus dan merdu Naina eh istriku." ucapku sembari tersenyum.


Aku sangat terbiasa menyebut nama Naina, hingga melupakan julukan-julukan indah untuknya. jujur saja, Aku memang tidak romantis sama sekali.


Rona wajah Naina seketika berubah saat Aku mengatakan dia istriku. Ia tersipu malu. Ini kali pertama aku menyebutnya dengan sebutan istriku.


Aku menepuk ranjangku agar Naina mendekat dan duduk disampingku.


"Semoga anak kita kelak memiliki suara indah sepertimu, sayang." Tukasku sembari mengusap lembut kandungan Naina.


Senyum merekah terpancar dari wajah Naina. Aku memeluknya dan mencium pipinya berkali-kali. Tak sampai disitu, bak seperti candu Aku melanjutkan aksi mencumbui setiap area di wajah Naina. Karena adegan itu sesuatu dibawah sana mulai aktif mencari landasan.


Malam itu keringat berhamburan diatas ranjang big size milik hotel tersebut. Wajah lelah terpancar dari Naina. Bagaimana tidak selama di Bali, sudah tak tahu berapa kali aku meluncurkan senjataku padanya. Meski demikian ia tidak mengeluh sama sekali. Entah pasrah atau tidak, Aku tak bisa mengungkapkannya.

__ADS_1


Perlahan Kututupi tubuh Naina dengan selimut tak berapa lama desahan nafas itu mulai teratur. Ia mulai masuk dalam mimpinya. Sedangkan Aku masih menyempatkan diri untuk membersihkan diri.


__ADS_2