Cinta Tuan Arogan

Cinta Tuan Arogan
Mencari Informasi


__ADS_3

Menata hati untuk bangkit dari kegagalan sungguh sulit, hati enggan untuk menerima kembali rasa yang seharusnya ada dihati.


Malam ini aku memutuskan untuk berkumpul ria bersama Sean dan Marco. Sejenak untuk menghilangkan beban dihati.


Dengan kecepatan sedang mobilku membelah jalanan yang ramai dipadati kendaraan lain. Sesampainya di diskotik aku mengedarkan pandanganku mencari keberadaan Sean dan Marco.


"Hai bro ... Lama amat nyampenya, lu naik ontel-ontel atau mobil?" ucap Marco sembari tertawa.


"Hmmm ... Ketawa aja lu, jalanan macet." imbuhku pada mereka.


Kami pun mulai dengan aktifitas yang biasa kami lakukan, dengan ditemani wanita penghibur membuat suasana semakin riuh.


Dengan keadan setengah mabuk aku pun memutuskan untuk pulang lebih awal. Sean dan Marco memilih tinggal di diskotik itu.


Usai berpamitan aku pun berlalu dari tempat tersebut. Entah angin apa yang membuatku ingin bertemu dengan gadis yang tempo hari kulihat di halte. Aku mengedarkan pandanganku di sekeliling halte tersebut dan benar saja gadis itu sedang duduk di halte itu sendiri.


Aku menepikan mobil kemudian turun dan menghampiri gadis itu. Aku melihatnya memandang ke arahku dan berdiri.


"Apa Tuan mencari saya?" katanya.


"Iya, aku ingin berbincang bersamamu, tenang saja aku akan membayar waktumu saat berbicara denganku. Jadi kau tak usah di sini menunggu orang yang tak pasti. Itu pun jika kau bersedia Nona." jawabku serius.


"Boleh saja Tuan, namun apakah Tuan tidak malu membawa aku?"


"Tidak, ayo masuklah ke mobil. Kita akan memilih tempat yang bagus untuk kita berbincang bersama."


"Baik Tuan."


Di dalam mobil tak henti-hentinya aku memandangi gadis di sebelahku. Wajah teduhnya itu membuatku tidak bosan-bosan memandanginya.


"Tu ... an apa aku boleh meminta sesuatu?" tanyanya terbata-bata sembari meremas tangannya sendiri.


"Kau ingin apa?" tanyaku penasaran.


"Aku belum makan dari pagi, jika Tuan bersedia bolehkah membelikanku makanan Tuan?" ucapnya mengiba.


Aku tersentak mendengar pengakuan gadis ini, apakah sesulit itu baginya untuk makan sehari-hari? pikirku.


"Baiklah Nona, kau ingin makan apa?"


"Terserah Tuan saja, sebelumnya terima kasih Tuan." ujarnya sembari menoleh ke arahku.


Aku pun mengedarkan pandangan di pinggir jalan mencari restauran yang ada di sekitar. Dan aku pun menemaninya untuk menikmati makan malamnya.

__ADS_1


Setelah acara makan itu selesai aku memutuskan membawa gadis itu ke pantai. Deburan ombak kian tenang, angin malam itu turut menambah suasana kian tenang.


Kami memilih duduk dipinggiran pantai itu. Aku pun mulai membuka pembicaraan. Meski keadaan setengah mabuk aku tetap menetralkan diri agar gadis ini tidak merasa takut untuk berbicara. Banyak hal yang ingin kutanyakan padanya.


Tanpa basa-basi aku bertanya perihal keluarganya. Rasa penasaranku tak dapat kubendung saat ini, aku mengingat pengakuan Sean yang waktu itu.


"Dimanakah orangtua mu tinggal Nona?"


"A-ku tidak tahu Tuan, sejak kecil aku sudah tinggal di kediaman Justin. Dan mereka bilang orangtuaku menitipkan aku bersama mereka."


Aku melihat gurat kesedihan di wajahnya, disana juga aku melihat ketegaran pada dirinya.


"Apakah kau tidak merindukan mereka? Atau kau tidak ingin mencari keberadaan mereka?" tanyaku penasaran.


"Aku tidak tahu harus di mana aku menemukan mereka Tuan, dan jika Tuan bertanya tentang rindu, itu sudah pasti Tuan." ucapnya lirih.


Aku semakin merasa kasihan dengan gadis ini. Aku merasa masih beruntung meski memiliki keluarga yang tidak harmonis tapi setidaknya aku masih memiliki orangtua.


"Lalu apakah kau memiliki seorang kekasih?"


"Tidak Tuan, aku gadis yang kurang baik. Tidak ada laki-laki yang ingin menjalin hubungan dengan ku Tuan," katanya sembari tersenyum.


Aku pun ikut tersenyum mendengar penuturan gadis cantik ini.


"Oh ya, bolehkah Aku tahu siapa namamu Nona?"


"Aku Andre," imbuhku.


Banyak hal yang kubahas dengan Naina malam ini. Sampai sejauh ini aku merasakan kedamaian berbicara dengan gadis ini. Sifatnya yang ayu, tutur katanya yang lembut membuatku semakin ingin berada didekatnya.


Malam pun semakin larut, kami pun berlalu dari pantai tersebut. Dan seperti biasanya aku mengantar gadis ini pulang. Awalnya gadis ini meminta ke halte, aku bersikeras mengantarnya ke kediaman Justin.


***


Kami pun sampai di kediaman Justin. Dengan sigap gadis ini keluar dari mobil. Dan dia pun berlalu begitu saja tanpa pamit padaku aku pun memanggilnya.


"Naina kemarilah!" kataku setengah berteriak.


Naina pun menoleh dan berjalan menghampiriku.


"Ada apa Tuan?"


Aku membuka dompetku dan memberikan sedikit uang cash pada Naina.

__ADS_1


"Ambillah untuk keperluanmu" kataku


"Ti-dak Tuan, seharusnya aku yang berterima kasih. Karena Tuan sudah memberiku makan malam dan membawaku ke pantai. Lagi pula Tuan tidak tidur denganku untuk apa membayarku Tuan." ujarnya sembari menunduk.


"Apakah harus tidur denganmu baru aku membayar mu Naina?" tanyaku heran.


"Satu hal Naina, aku tidak membayar mu, aku hanya memberimu uang untuk keperluanmu." kataku lagi.


Tanpa menjawab, tanpa menerima sejumlah uang yang kutawarkan padanya Naina pun berlalu dari hadapan ku. Aku melihatnya sampai masuk ke rumah.


Aku semakin penasaran dengan Naina, sebenarnya apa motifnya melakukan ini? Apakah hanya sebagai sandiwara? aku pun tak mengerti. Aku mengambil kesimpulan bahwa Naina hanya terpaksa melakukan pekerjaan ini lantaran takut pada Justin seperti yang dijelaskan Sean pada saat itu.


Aku pun berlalu dari kediaman Justin dan menuju ke rumahku. Di tengah perjalanan aku terus mengingat gadis ini. Banyak kesedihan namun Dia dapat bertahan sejauh ini. Gadis ini luar biasa. Aku banyak belajar dari Naina.


***


"Pagi Pak." ucap salah satu karyawanku ketika aku melewati meja kerja mereka.


"Selamat Pagi," kataku seraya tersenyum ke arah mereka.


Aku memasuki ruanganku dan berkutat dengan laptop dan berkas-berkas lainnya yang sudah menumpuk.


"Pak hari ini kita tidak ada jadwal." ucap Sean yang datang dari luar.


"Baiklah. oh ya Se, saya minta tolong lagi. kamu cari informasi mengenai Naina dengan jelas dan juga satu hal lagi, tolong kamu cari tahu alasan kenapa Naina takut pada Justin."


"Pekerjaan apaan tuh? Ribet amat." kata Sean serius.


"Kemarin kan sudah Pak, apa masih kurang? Begini saja Pak, jika Bapak penasaran dengan Gadis itu mending temuin langsung dan ajak bicara dan tanya sepuasnya Pak." imbuh Sean jengah.


Aku pun melempar pena ke arah Sean dengan aura kesal.


"Kamu tuh ya!" jawabku geram.


"Baiklah Pak Sultan." katanya dengan nada serius.


"Bagus, memang harus tunduk sama anak sultan," ujarku sembari tertawa.


"Terserah mu Pak, saya ikut perintah saja" jawab Sean jengkel. Aku hanya melihatnya dari meja kerjaku sambil tersenyum simpul.


"Entar sekalian aja aku interogasi tuh cewek, biar puas lu!" desisnya pelan meski terdengar olehku.


Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kejutekan Sean yang merasa jengkel dengan tugas yang kuberikan. Ya, Sean memang tidak hobi mencari informasi tentang orang lain, baginya itu hal yang memuakkan dan tidak ada faedahnya.

__ADS_1


"Muka lu kayak ibu-ibu yang tak dapat jatah dari suami Se." ucapku sembari menertawakannya.


"Emangnya lu ibu-ibu ya Ndre, paham banget muka ibu-ibu yang gak dapat jatah," tanya Sean yang membuatku kembali tertawa.


__ADS_2