
Beberapa saat kemudian, Dilla sampai di depan kantor Argadinata. Sebelum keluar mobil, Dilla memasang maskernya terlebih dahulu agar teman teman nya tak mengenalinya.
"Pak sopir pulang aja abis ini, Dilla nanti pulang sama mas Aldy aja" ucap Dilla sebelum keluar dari mobil.
Dilla berjalan melewati lobi kantor. Semua karyawan menatap heran dengan sosok wanita cantik yang sedang hamil berjalan melewati lobi kantor.
"Kok mirip Dilla ya?"
"Eh itu bukan nya Dilla ya?"
"Itu bukannya mantan asisten nya pak Aldy?"
"Itu kan mantan asisten nya pak Aldy dulu, tapi kok hamil"
Bisik bisik para karyawan yang masih tetap mengenali Dilla walaupun ia mengenakan masker.
"Dilla" panggil salah satu teman sekantornya dulu. Dilla sama sekali tak menoleh ke belakang.
Dilla segera menuju lift yang biasa digunakan karyawan agar mereka tak curiga kalau Dilla menuju ruangan Aldy.
Dilla menghembuskan napas nya lega saat sudah Sampai di depan ruangan Aldy.
Dilla bertanya dahulu pada asisten Aldy yang letak meja nya tepat di depan pintu ruangan Aldy.
"Pak Aldy nya ada?" Tanya Dilla.
"Ada buk, maaf ada keperluan apa? Perlu saya panggilkan?"
"Oh tidak usah, makasih"jawab Dilla.
__ADS_1
Ia mengetuk pintu ruangan suami nya.
Tok
Tok
Tok
"Masuk" sahutan dari dalam ruangan.
Dilla membuka ruangan itu. Ia melihat suami nya yang masih fokus dengan laptop di depan nya.
Dilla meletakkan paperbag yang berisi kotak makanan di meja tamu.
Ia segera mendekat ke arah suaminya lalu duduk di pangkuan Aldy.
"Mas kayaknya anakmu minta dielus elus" ucap Dilla sambil meletakan tangan suaminya ke perutnya.
Aldy pun menuruti apa yang dikatakan istrinya. Ia mengusap perut istrinya yang akhirnya mendapat balasan berupa tendangan tendangan dari si buah hati yang masih dalam kandungan.
"Ehem, maaf pak Aldy" suara berasal dari laptop nya.
Dilla menoleh ke arah laptop Aldy dan kaget saat melihat layar nya yang menunjukan sambungan videocall dari beberapa rekan bisnis Aldy.
Dilla tersenyum kikuk pada sambungan videocall tersebut.
"Maaf, saya tidak tau kalau sedang ada meeting online, sekali lagi saya minta maaf" ucap Dilla lalu turun dari pangkuan Aldy.
"Maaf atas ketidaknyamanan nya tadi" ucap Aldy pada beberapa rekan bisnis nya.
__ADS_1
"Maaf pak Aldy, apakah wanita tadi istri anda" tanya salah satu rekan bisnis nya.
"Iya, itu tadi istri saya"
Ada binar bahagia di hati Dilla saat suaminya mengakui nya sebagai istri.
"Kelihatan nya istri anda sedang hamil"
"Iya benar pak, istri saya sedang hamil"
"Istri anda sangat cantik tuan Aldy" puji salah satu rekan bisnis Aldy.
"Mari lanjutkan meetingnya" ucap Aldy mengalihkan pembicaraan.
1 jam kemudian, meeting telah selesai.
Aldy melihat Dilla yang sedang tertidur di sofa ruangan nya.
Aldy mendekat ke sofa itu. Ia membelai wajah istrinya dengan lembut. Tangan nya beralih ke perut buncit istri nya.
Dilla mengerjapkan mata nya bangun saat merasakan tendangan tendangan dari si buah hati nya.
Dilla tersenyum saat mendapati suaminya yang sedang mengusap perut buncitnya.
Aldy membantu istrinya yang kesusahan untuk bangun dari tidurnya.
"Kenapa kau kesini? Bukankah kau ingat kandunganmu sudah besar?" Tanya Aldy.
"A aku hanya ingin mengantarkan makan siang mas"
__ADS_1