Cinta Tuan Arogan

Cinta Tuan Arogan
Mulai melakukan Misi


__ADS_3

Sekian lama sibuk dengan urusan pernikahan dan bulan madu, tibalah saatnya aku kembali fokus dengan Perusahaan. Sean bekerja cukup baik dan bisa di andalkan saat aku tidak berada di Perusahaan. Pria bertubuh atletis itu tak pernah mengecewakan dan hasil pekerjaannya juga terbilang sangat baik.


Aku dan Sean sudah jauh-jauh hari merancang kerja sama dengan perusahaan milik keluarga Justin. Justin dan keluarganya juga harus merasakan sakit yang di rasakan oleh Naina selama ini. Naina sama sekali tidak tahu menahu dengan hal ini, jika dia tahu mungkin ia tak akan mengizinkan aku melakukan rencana sebusuk ini. Lagi pula ia memang tidak mengerti tentang perusahaan. Aku, Sean dan Marco sama-sama merahasiakan ini dari istri dan keluargaku. Aku sudah tak sabar ingin melihat keluarga itu bertekuk lutut di hadapan Naina.


Pagi ini Aku dan Sean merancang beberapa rencana untuk menjatuhkan perusahaan x milik Justin. Kami mencari tahu tentang segala kekurangan dan kecurangan yang pernah di lakukan oleh perusahaan x itu. Keluarga ini sangat terkenal dengan kelicikannya dalam menjalankan perusahaan. Mencari tahu kelemahannya itu merupakan jurus ampuh untuknya.


Sekian lama berbincang dengan Sean, kami menemukan titik kelemahan perusahaan tersebut. Tak butuh waktu lama Aku dan Sean menghubungi beberapa kolega ternama yang bekerja sama dengan mereka dan kebetulan juga kolega itu menjadi salah satu perusahaan yang menjalin kerja sama yang baik dengan perusahaan yang kupimpin. Tanpa banyak berbicara, beberapa kolega tersebut langsung mengiyakan apa yang kukatakan. Bagaimana tidak, mereka lebih beruntung bekerja sama denganku dibanding dengan perusahaan x milik Justin tersebut.


“Baik Pak Andre... Kami akan mengikuti saran Anda,”ujar seseorang di seberang sana melalui telepon.


Aku tersenyum licik mendengar jawaban dari mereka. Rasanya tak sabar ingin melihat keluarga tersebut jatuh miskin dan meminta-minta di jalanan sana. Sebenarnya bukan hal yang sulit untuk melumpuhkan perusahaan tersebut, namun bagiku pekerjaan yang licik harus di hadapi dengan cara yang licik juga. Sean hanya menggeleng saat dia melihatku terseyum licik.


Dengan sigap Sean juga sudah mengatur jadwal pertemuan antara Aku dengan orang kepercayaan Justin di perusahaannya. Aku manggut-manggut mendengar rencana yang akan di jalankan Sean. Lama berbincang Aku dan Sean berlalu menuju lokasi tempat pertemuan kami. Aku menyerahkan hal ini pada Sean.


Tak butuh waktu lama Aku dan Sean sampai di tempat tujuan. Di sudut ruangan resto itu sudah menunggu beberapa orang dari perusahan Justin. Dengan langkah santai kami berjalan menghampiri mereka. Sembari berbincang seadanya dan menikmati makanan dan minuman yang ada di hadapan kami, akhirnya kerja sama itu pun dimulai. Kami saling berjabat tangan setelah menandatangani berkas kerjasama tersebut.


Aku dan Sean saling melirik dan tersenyum penuh kemenangan. Sekian lama berbincang Aku dan Sean pamit undur dari sana dan pulang ke rumah kebesaranku.


***


Sean hanya mengantarku pulang dan ia kembali ke Kantor. Saat sampai di depan gerbang Aku sudah melihat istriku sedang duduk di dekat pondok taman. Seolah menyadari keberadaanku ia pun menghampiriku dengan senyuman manis yang melengkung di bibirnya.


"Kenapa pulang cepat?" Tanyanya sembari mengambil tas dari genggamanku.

__ADS_1


"Karena Aku merindukanmu, sayang...." Jawabku sembari menggodanya.


Entah sejak kapan Mama muncul di hadapan kami. Mendengarku menggoda menantunya, tentu saja wanita paruh baya itu tak mau kalah.


"Hmmm... Sayang sayang... Kalau dulu aja di suruh cepet nikahin Naina tuh mulut sombongnya minta ampun. Giliran sekarang, pake acara sayang-sayangan. Jangankan semut, kecoa aja jadi kejang-kejang denger omongan kamu tuh Ndre!" cerca Mama bertubi-tubi.


Cercaan Mama membuatku mendelik kesal. Wanita itu memang ahlinya soal cecar mencecar anaknya. Naina tertawa mendengar omelan Mama.


"Mama kayak gak pernah pengantin baru aja deh, bikin jengkel aja." gerutuku kesal.


"Setidaknya Papa kamu itu tidak jual mahal kayak kamu!"


Melihat Aku dan Mama mulai saling berdebat, akhrinya Naina lebih dulu mengakhiri perdebatan tersebut.


"Sudah sudah... Jangan di bahas lagi. Ayok masuk Ma." Sahut Naina sembari berjalan menggandeng tangan Mama. Sedangkan Aku menyusul dari belakang sembari merungut kesal.


"Ngomel terosss...." Sindir Mama sembari berjalan.


Ternyata wanita paruh baya itu mendengar omelanku. Naina hanya tersenyum menanggapi Mama dan Anak saling menyindir.


***


Naina menyusul ke kamar setelah Aku lebih dulu berada di kamar. Aku masih berbaring di ranjang tanpa melepaskan pakaian dan sepatu kerjaku. Naina menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia pun mulai melepaskan sepatuku dan menaruhnya pada tempatnya. Aku beranjak dan berdiri tepat di hadapannya. Ia mulai melonggarkan dasiku dan perlahan membuka kancing bajuku kemudian dia menyerahkan pakaian ganti untuk kukenakan.

__ADS_1


"Terima kasih istriku yang cantik." puji ku sembari mencium keningnya. Dia membalas dengan senyuman manis. Manik matanya sangat membuatku tergila-gila saat menatapnya.


Istriku turun dari kamar atas dan sudah bisa kupastikan dia akan mengambil makanan dan menyuruhku untuk menghabiskannya tanpa bersisa. Akhir-akhir ini Naina sering sekali memaksaku menghabiskan makanan. Itu membuatku mual. Selang beberapa menit Naina kembali dengan nampan yang berisi makanan di kedua tangannya.


Makanan itu seperti gunung yang tinggi di dalam piring saji. Aku menelan saliva melihat jejeran makanan tersebut.


"A-ku... tadi udah makan sayang." ujarku pelan agar ia tidak tersinggung. jika dia tersinggung sama saja aku baku hantam dengan satu keluarga.


Mendengar pengakuanku sorot mata bulat itu berapi-api. Tidak Terima dengan penjelasanku dia tetap saja menaruh nampan itu diranjang dan mulai melipat tangannya di dada.


"Sayang kita makan bertiga ya sama debaynya," rayuku sembari mengelus kandungan Naina.


"Gak... Tadi kita udah makan banyak. Ingat ya! Jangan ada sisa. Di luar sana banyak orang kelaparan dan gak makan. Jadi usahakan apa yang disediakan dihabisin!" Tuntut Naina sembari menyuapku dengan tangannya.


Aku menggaruk tengkuk leherku yang tidak gatal sama sekali. Istriku merupakan generasi penerus dari Mamaku. Omelannya bisa menghabiskan paket data unlimited hanya dengan beberapa menit.


Aku mengerti kenapa istriku mengatakan demikian. Semenjak istriku tinggal disini, seringkali Aku tidak menemukan sisa makanan di rumah. Pernah sekali aku melihatnya memberikan makanan kepada tukang rongsokan setiap kali mereka melewati rumah. Pernah juga ia memberikan pakaian bekas yang sudah menumpuk di gudang. Bahkan dia juga pernah mengaku memberikan baju kesukaanku pada tukang sayur keliling. Aku hanya memijit keningku mendengar pengakuannya.


Namun lama kelamaan Aku mulai terbiasa dengan sikap berbagi karena ulah Naina. Sejak saat itu setiap pakaian kesukaanku kutaruh di ruang kerjaku yang berada di sebelah kamar kami. Naina tahu bahwa sekecil apa pun barang-barang di ruangan itu tidak boleh berpindah dan berkurang tanpa seizin ku.


Anehnya istriku tidak akan beranjak dari kamar ini sebelum makanan itu semua habis. Sekalipun ia melihatku sudah mulai susah menelan karena kekenyangan dia tidak mau tahu. Dengan berat hati dan penuh pertimbangan makanan di piring itu habis tak bersisa. Raut wajahnya terlihat semringah, sedangkan aku dari tadi menahan agar tidak muntah. Melihat piring yang sudah kosong, istriku tersenyum penuh kemenangan.


Jangan lupa dukung Author ya 🥰

__ADS_1


Andree



__ADS_2