
"Uncle" suara anak kecil membuyarkan lamunan Aldy.
"Kamu lagi?" Aldy melihat El sedang disampingnya.
"we meet again uncle"
(kita bertemu kembali paman) ucap Zayn.
"Kamu sendirian?"
Zayn menggeleng
"No, aku tadi bersama uncle ku" jawaban El membuat Aldy mengangguk.
Bryan menatap keakraban Zayn dan juga Aldy dari kejauhan.
"Apakah aku terlalu kejam karna memisahkan mereka?" Batin Bryan.
Ia merasa tersentuh dengan pemandangan di depan nya.
Bryan mendekat ke arah Zayn dan Aldy. Ia memutuskan untuk membiarkan Aldy tau bahwa El adalah Zayn anak nya.
"Boy" panggil Bryan pada Zayn.
"Uncle?" Aldy menoleh ke arah suara yang memanggil El.
"is he your uncle you mean earlier?"
(Apakah dia paman mu yang kau maksud tadi?)
Zayn mengangguk
"Yes, he is my uncle"
(ya, dia pamanku)
"Ayo kita pulang boy" ajak Bryan pada Zayn.
Zayn pun mengangguki nya.
Saat hendak melangkah, tangan Bryan dicekal oleh Aldy.
__ADS_1
"Katakan padaku apakah dia Zayn anak ku?" Tanya Aldy serius.
"Saya rasa anda pandai untuk menilai segalanya" ucap Bryan lalu menggendong Zayn dan membawa nya menjauh dari Aldy.
Sesampainya dirumah, Zayn langsung mencari sang momy.
"Momy?? Where are you?"
(Mom, kamu dimana?)
Zayn berjalan kesana kemari mencari sang momy.
"I'm here Zayn"
(Aku disini Zayn)
Zayn pun menghampiri sang momy
"Mom, tadi i saw Dady again, bahkan tadi uncle talk to him" Zayn berbicara campur indo campur inggris.
"Oh really?"
(oh benarkah?)
"Zayn pergilah mandi dulu, momy mau bicara pada uncle" ucap Dilla yang diangguki Zayn.
"Apa benar kau tadi bertemu mas Aldy kak?"
"Ya, aku tadi melihatnya, bahkan dia menyapaku"
"Apakah dia melihat Zayn"
Bryan mengangguk
"Bahkan Zayn menghampiri Aldy dengan sendiri nya"
Dilla kaget
Bryan memegang pundak Dilla
"Aku melihat sorot yang berbeda dari mata Aldy Dil, aku tau dia sangat mencintai mu dan menyayangi Zayn"
__ADS_1
"Tapi kak, aku takut dia membawa Zayn pergi kak"
Bryan menggeleng
"Aku bisa melihat penderitaan dari matanya. Aku juga bisa melihat sebuah tatapan lain saat ia menatap Zayn. Cepat ataupun lambat Aldy pasti tau"
"Aku tau kak, ikatan batin ayah dan anak tak mungkin bisa dipisahkan"
"Berusahalah membuka hatimu untuknya kembali, aku bisa melihat ketulusan saat ia mengiba meminta informasi keberadaan mu"
"Dia mengiba padamu kak?" Tanya Dilla kaget.
Bryan mengangguk
"Aku sudah tak melihat lagi seorang Aldy yang arogan"
Bryan menepuk pundak adiknya
"Berusahalah demi Zayn mu" ucap Bryan lalu meninggalkan Dilla.
Handphone Dilla berdering.
Ia menatap nomor asing yang masuk ke ponsel nya.
Ia seperti mengenal nomor itu, tapi Dilla tak menghiraukan.
Ia mengangkat telephone itu
"Hallo"
"Hallo Dilla"
Degg
Dilla kenal betul dengan suara itu, suara yang begitu ia rindukan 5 tahun terakhir ini. suara orang yang sama yang membuatnya saat ini berada di amerika.
"Jangan dimatikan dulu, dengarkan aku" ucap Aldy mencegah Dilla karna ia tau betul Dilla pasti akan menutup panggilan itu.
"Cepat katakan, aku tak punya banyak waktu" Dilla berusaha tetap tenang.
"Biarkan aku menemui Zayn sekali saja Dil, tolong beri aku kesempatan"
__ADS_1
"Aku tidak bisa" ucap Dilla lalu menutup telephone itu.
Hati Dilla merasa teriris mendengar suara Aldy tadi.