Dua Cinta Satu Hati

Dua Cinta Satu Hati
Bab 01 : Terlahir Kembali


__ADS_3

“Lama banget angkat telponnya!!”


“Buruan aku udah nungguin kamu lama!! Sms ga dibales-bales dari tadi!!”


“Hah?” Luna membuka mata dan mulutnya dengan sempurna.


Setelah menekan tombol jawab di ponselnya dia tidak percaya dengan ucapan suaminya saat ini yang tengah memakinya di saluran telpon sepagi buta ini.


“Mas kenapa?” Tanya Luna masih belum menyadari keadaannya.


“Kenapa?! AKU NUNGGU KAMU LAMA BANGET NALUNA MAHARANI!!”


“BURUAN KEBAWAH INI UDAH HAMPIR SETENGAH DELAPAN KITA BISA TELAT MASUK KANTOR!!”


“APAAAA??!”


Luna bangkit dari tempat tidurnya kemudian dia ingin berteriak namun ditahannya.


“W h a t t h e fu*ck!!” Lirihnya.


* * * * *


#Flashback ingatan Luna


Ibu kota, Oktober 2021.


“Mama udah bilang sebelumnya Luna!!”


“Kenapa kamu ga bisa jaga dirimu baik-baik hah?!!”


“Kami memberikanmu kebebasan bukan dipake seenaknya!!”


“Lihat kalau sudah seperti ini siapa yang rugi?!”


“Kamu benar-benar lagi NGELEMPAR KOTORAN DI WAJAH KAMI NALUNA MAHARANNI!!


“Kamu bersikeras untuk menjalin hubungan dengan Adira dan sekarang apa yang kamu dapatkan?”


“Kamu menyesal HAH?!!”


Sederetan kalimat sarkas ibunya terngiang kembali di kepala Luna sesaat setelah keluarga besarnya mengetahui bahwa Luna hamil di luar nikah di karenakan gaya pacarannya yang sangat kelewat batas. Luna menyapu bulir bening air matanya, dia kembali berdoa memohon ampunan pada sang maha pencipta. Hatinya hancur, semua yang dia perjuangkan menguap begitu saja saat ini.


Hari ini Luna bertengkar hebat dengan suaminya karena masalah sepele baginya. Luna menuntut kebebasan dirinya pada suami yang menemaninya selama 8 tahun lamanya. Masalah ini sejujurnya sudah berulang kali terjadi, Luna akan memaksa suaminya untuk mengijinkannya bekerja dan memiliki waktu untuk dirinya sendiri. Tetapi selama ini pria itu tidak pernah mengijinkannya. Dia mengekang dan melarang wanitanya untuk melakukan apapun yang  disukainya.


Sepulang dari bekerja mereka kembali bertengkar diambang pintu dan di saksikan putri sulung mereka Adira menampar dan mendorong tubuh Luna hingga tersungkur.


“PERSETAN DENGANMU LUNA!!!”


“SUAMIMU BARU SAJA PULANG KERUMAH BARU SAMPAI PINTU, DAN KAMU MASIH MEMPERPANJANG MASALAH KITA?!”


PLAAAAK!


“TERSERAH LAKUKAN SEMAUMU SANA!!”


BRAAAAAAK!

__ADS_1


Brugg!


“Aaww…” Luna meringis memegang pipinya yang mendapat tamparan keras dan kini tubuhnya terjatuh mengenai lantai. Rasa sakit fisiknya tidak seberapa, tapi rasa sakit hatinya sukses membuat dia yakin dengan keputusannya yang sudah sejak lama dia pikirkan.


“Sepertinya kita tidak di takdirkan bersama lagi mas…” Lirihnya mendekap putra bungsunya.


Luna menepis rasa sakit fisik dan hatinya, dia bergegas menghampiri Rashaad yang terbangun dan menangis kencang setelah mendengar suara bantingan keras yang dilakukan Adira barusan.


Luna mencoba menenangkan putranya dan beruntungnya dia kembali tertidur. Di luar masih jelas terdengar suaminya tengah membanting sesuatu yang membuat dia semakin teguh untuk berpisah. Luna perlahan membuka pintu kamar utama. Betapa berantakan ruang tengah miliknya dengan pecahan beberapa vas bunga dan beberapa frame foto mereka terjatuh. Luna memungutinya kembali dan bersiap merapikannya. Namun lirih dia mendengar tangis putri sulung di kamarnya.


“Ternyata mas Dira di kamar Nena…” Lirih Luna kembali di hantam bertubi-tubi rasa sakit hatinya oleh perlakuan suaminya.


“Ne Na ga ma u denger papa sama ibu bertengkar!” Dengan terbata karena isak tangisnya Nena mendekap ayah tercintanya. Berharap ayahnya tidak lagi bersikap kasar pada ibunya.


“Papa lelah Nena, ibu mu tidak pernah mengerti keadaan papa!!”


Luna menangis menggenggam erat tangan di dadanya. Untuk kesekian kalinya anak-anaklah yang menjadi penghalang dia untuk meminta berpisah. Kedua anaknya sangat manja di depan ayahnya. Tentu saja karena ayahnya sangat memanjakan kedua buah hati mereka. Bahkan dengan sangat yakin Luna akan menjawab siapa yang lebih di cintai oleh suaminya atau jika ada pilihan siapa yang akan di dahulukan dirinya atau putra putrinya tentu saja dengan yakin Luna mewakili Adira mengatakan dia pasti akan memilih buah hatinya di banding Luna.


Perlahan Luna membuka lebar pintu kamar putri sulungnya yang telah terbuka sedikit. Dirinya memberanikan diri mendekati keduanya dan kembali membuang egonya dengan meminta maaf lebih dulu.


“Maafkan aku mas…”


“MENJAUHLAH DARIKU!!”


Luna menyadari ternyata suaminya tengah menangis dalam dekapan Nena.


“Aku sangat bosan Luna, masalah kita selalu sama dan kamu selalu tidak bisa menepati komitmenmu sendiri.”


“Mulai hari ini kamu boleh mengemas barang-barangmu dan kembali ke keluarga besarmu. Tapi tidak dengan anak-anak!!”


DEG!!


Adira bangkit dari tempatnya dan berlalu meninggalkan Luna yang kini tengah merosot di lantai. Nena menghambur memeluk ibunya.


“Ibuuuuu…”


“Maafkan ibu sayaaang…”


“Papa hanya sedang emosi… Maaf…”


Suaranya semakin lirih dia sudah tidak bisa berkata, hatinya sungguh sakit. Selama delapan tahun dia bertahan membina rumah tangga karena aib ini, akhirnya dia mendengar bahwa pria yang ia cintai mengusirnya dari kediaman Renald.


Setelah meyakinkan dan menemani putri sulungnya untuk tidur lebih awal Luna kembali ke kamar utama. Kepalanya terasa sangat sakit, seperti tengah di tusuk ribuan jarum dalam waktu bersamaan. Dia kembali memanjatkan doa sebelum dia terlelap.


“Seandainya aku di beri kesempatan kedua… Aku mohon hidupkan aku kembali di masa lalu dan memperbaiki segalanya!” Luna meneteskan air mata terakhirnya dia mencoba terpejam atau lebih tepatnya mulai tidak sadarkan diri.


Kreeeek!


Adira memasuki kamar, menatap nanar wanita yang sangat di cintainya. “Maafkan aku Luna, aku sempat menyerah…” Lirihnya.


Mata Luna kembali terbuka, dia seperti tengah diberi kejutan aliran listrik jutaan volt yang membuatnya kembali tersadar. Tangan kekar prianya tengah melingkar di pinggang rampingnya.


“Apa-apaan ini?!!” Rutuk Luna dalam hati tak bisa bersuara.


“Aaahh…” Namun lenguhan yang dia tidak inginkan justru nyaring terdengar.

__ADS_1


“Sssttt… Jangan berisik sayang nanti Rashaad bangun!!” Ujar prianya dengan suara berat menahan hasratnya.


“DASAAR LAKI-LAKI MESUM!!!” Maki Luna dalam hati.


Dia harusnya sudah sangat tahu, satu-satunya yang bisa meredakan amarahnya hanya tubuhnya.


“Percayalah, aktifitas di ranjang adalah penyelesaian paling ampuh ngatasin masalah rumah tangga!!” Rutuk Luna sangat kesal namun tidak menampik menikmatinya juga.


#Flashback off


* * * * *


Central Park Kota B, Oktober 2013.


“NALUNAAAA!!”


Adira masih tersambung dengan ponsel Luna. Luna sempat terdiam beberapa saat mengingat sebenarnya apa yang telah terjadi sebelumnya dan belum menjawab semua omelan prianya.


“Oh iya mas maaf, aku kesiangan.”


“Aku baru saja bangun… Aku sepertinya cuti hari ini.”


“Jadi mas pergi duluan aja sekarang.”


“Aku benar-benar minta maaf mas…”


Dengan suara yang sopan Luna meminta maaf dan mengatakan bahwa saat ini dia tidak mungkin pergi bekerja. Dia perlu waktu mencerna apa yang sedang dia alami dalam waktu semalam hidupnya berubah kembali ke masa lalu.


“Apa? Apa kamu sakit sayang?”


“Aku keatas ya…”


Terdengar nada suara Adira mengkhawatirkan wanitanya.


“GA PERLU MAS!!”


“Sungguh aku baik-baik saja hanya kesiangan. Hehe.” Luna terus meyakinkan kekasihnya.


“Benarkah?” Adira menyangsikan perkataan Luna.


“Sungguh… Kalo gitu aku tutup ya… Hati-hati sayang..”


Tuuuutt!


“LUNAAA!”


“Ada apa dengannya? Dia tidak biasanya bangun terlambat.”


“Si ratu gila kerja ini minta cuti? Apa besok bakalan kembali lebaran?” Adira menatap ponselnya dan menaruhnya kembali di saku celananya.


“Masih sempet ga ya beliin dia sarapan? Mungkin sampe sore dia ga bakalan keluar rumah!”


“Selain gila kerja nyonya juga kadang ga tau apa itu namanya makan tepat waktu!”


Adira terkekeh mengejek wanita yang sudah menyita perhatiannya selama ini. Walau baru menjalani selama 8 bulan hubungan dengan wanitanya tetapi dia sudah sangat tergila-gila dengan Naluna Maharani. Dia baru menyadari bahwa Luna telah membuatnya jatuh cinta seperti ini. Bahkan Adira tidak menyangka dia dengan berani memakainya sebelum waktunya. Dia bergegas menuju pujasera di depan tempat tinggal Luna membelikannya

__ADS_1


sarapan.


* * * * * * * * * *


__ADS_2