Dua Cinta Satu Hati

Dua Cinta Satu Hati
Bab 14 : Kenyataan Pahit


__ADS_3

Tiga jam lebih Luna beredar dengan Hapsari. Biasanya mereka akan menghabiskan waktu bertiga tetapi saat ini Sandra tengah menghabiskan waktu dengan keluarganya. Dia adalah anak tunggal, terkadang Luna sangat iri dengan Sandra yang memiliki keluarga utuh dan harmonis. Luna selalu merasa homesick namun ini keputusannya memilih bekerja di luar kota kelahirannya.


Hapsari mengantar Luna sampai gerbang kosan saja. Dia tiba-tiba merubah rencananya. Tidak jadi ikut tidur di tempatnya.


"Ga jadi lah gua tidur tempat lo. Ntar gue di labrak Dira ogah gua!" Terangnya.


"Dia ga nyari gua pun. Lagian kan aku udah bilang aku udah putus sama dia." Jawab Luna datar.


"Apanya yang ga nyari lu! hape lu bunyi teruskan dari tadi selama di bioskop gua ngerasa keganggu dan elu dengan cueknya biasa aja!" Rutuknya dengan menunjuk telunjuknya di jidat lebar Luna.


"Aaww... Ya udah makasi banyak ya mba sudah mentraktirku." Luna memberinya senyuman tulus.


Luna sangat bersyukur dia kembali bisa berkomunikasi dan berhubungan dengan teman dekatnya. Jika harus kembali flash back di kehidupan yang sudah dia lalui dia begitu menyesal.


"Biasa aja keleees ga usah formal gitu. Byeee!" Dengan melambaikan tangan Hapsari langsung melaju dengan motor metiknya.


Saat akan melangkah menuju gerbang tangan Luna ditarik seseorang. Kemudian kejadiannya seperti yang kalian bayangkan. Sebuah ciuman kecil mendarat sempurna dibibir Luna. Dengan mata yang membulat sempurna pasalnya ini masih di luar kawasan rumah. Terlebih sejak kapan kekasihnya senang menunjukan kemesraan di depan umum seperti ini.


"Sejak kapan mas Dira datang? Kenapa aku tidak menyadarinya?"


"Mungkin tadi Hapsari sudah menyadari kedatangannya makanya ga jadi nginep?"


"Aku benar kan dia nih datang tak di undang pulang harus dipaksa!"


"Udah makan belum?" Tanyanya lembut.


"Udah ko..." Jawab Luna datar dengan masih berdebar setelah Adira melepaskan bibirnya.


"Mau kan temenin aku makan?" Kali ini dia memelas.


"Boleh deh..."


* * * * *


Seperti biasa mereka hanya bisa menuju pujasera depan. Sejujurnya Luna sudah sangat bosan apalagi makhluk didepannya jauh lebih membosankan!


"Tidak ada inisiatif lain mengajakku kemana gitu?"


"Katanya udah makan tapi mie gorengnya seporsi abis sendiri. Ckckck" Ledeknya.


Luna menjulurkan lidahnya, Luna juga merasa dia sering merasa lapar terus menerus.


"Hehehe laper lagi soalnya... Mumpung ada yang traktir juga. Ga baik nolak rezeki!" Jawab Luna sekenanya.


Adira terkekeh dengan jawabannya "Aku lihat naf** makanmu meningkat ya? Ga seperti biasa yang selalu sibuk diet?" Selidiknya.


Deg!


"Bukannya, mas harusnya ga usah ketemu aku lagi ya." Luna mengalihkan pertanyaannya.

__ADS_1


"Ditanya balik nanya! Kata siapa kita tidak boleh bertemu?" Adira menatap Luna dingin dia sedikit gelisah.


"Kita kan udah putus kemarin?" Jawab Luna tak kalah dingin.


Adira mengentikan suapan makanannya, netranya menatap Luna lekat.


"Luna, aku tidak pernah ingin putus hubungan dengan kamu!" Jawabnya datar.


"Kemarin aku hanya mengungkapkan aku belum bisa memberimu status ke tahap serius. Aku sedang usahakan!"


Sendoknya dia tunjukan di hadapan Luna kemudian dia kembali melanjutkan sesi makan malamnya.


"........." Luna hanya terdiam dengan penuturannya. Dia sedang tidak ingin beradu mulut di tempat umum seperti ini.


* * * * *


Mereka sudah berada di depan gerbang tempat tinggal Luna. Setelah menyelesaikan makan malam sekitar dua puluh menit. Dan setelah pembahasan dingin mengenai putus hubungan yang membagongkan ini tidak ada hal lain yang mereka bahas!


"Terima kasih traktirannya ya mas. Aku masuk dulu." Luna berucap dingin dan beranjak pergi.


Adira menarik sebelah tangan kekasihnya, dia merasakan pelukan singkat dan kecupan hangat dikening.


"Semakin kamu bersikap dingin aku semakin ingin...." Adira sengaja mengatakannya perlahan ditelinga Luna. Hembusan nafasnya dia buat menggoda membuat tubuh luna merinding seketika.


"Lepas mas..." Luna mendorong tubuh Adira perlahan.


"Bolehkah aku ke atas?" Pinta Adira.


"Baru kali ini kamu selalu menolakku..." Batin Adira.


Pria itu sengaja mencium Luna diluar. Semakin Luna berontak semakin menjadi gerakannya. Akhirnya Luna pasrah dan membiarkannya bahkan meresponnya. Luna sudah tidak perduli jika ada orang yang lewat dan melihat keduanya tengah bertautan mesra.


"Aah..." Adira melepaskannya dengan tatapan taj seolah menginginkan.


Mereka berdua sama-sama terengah dan mengatur nafas serta debaran jantung yang tak menentu.


Adira kembali mengecup kening kekasihnya "Good night Lunaku sayang..." Bisiknya di belakang telinga.


"Malam mas..." Kali ini Luna menjawab dengan sedikit rasa sesak menyelimuti dadanya.


Luna segera berlalu, sesampainya dikamar dia menjatuhkan dirinya terisak pilu dibelakang pintu.


"Aku sangat lelah berpura-pura seperti ini... Sudah 8 tahun aku bersamanya kini aku harus terbiasa tanpa dia kedepannya." Luna kembali terisak dengan merangkul kedua kakinya.


* * * * *


Sepulang dari kantor Luna melesat ke atm terdekat. Dia memeriksa saldo di reenignya. Ibunya telah memebrikan sejumlah uang yang besar baginya saat ini.


"Enaknya pelupa itu password bakalan tetap sama tidak begitu menyusahkan saat kejadian kayak aku sekarang."

__ADS_1


"Mama baik banget sama aku. Tapi tetep aja diitung utang hahaha."


Luna bergegas mentransfer sejumlah uang untuk menebus obat sisanya akan dia gunakan untuk membeli telepon genggam baru.


"Nanti sepulang dari sini aku akan menghubungi mama, mengucapkan terima kasih atas bantuannya. Dia memang 911 aku..."


Saat itu ibunya menanyakan kegunaan uang ini. Di tengah kebingungannya Luna akhirnya memiliki jawaban yang cocok bahwa dirinya merlukan modal untuk membuka usaha online shopnya.


"Maafkan aku ma... selalu menyusahkan dan melakukan hal hina dibelakangmu." Tak terasa Luna menitikan air mata.


Akhir-akhir ini juga Luna lebih sensitif dari biasanya. Sejenak terdengar bunyi ponselnya berdering.


"Halo San, dimana?" Tanya nya kemudian keluar dari mesin ATM.


Sore ini kami membuat janji makan bersama sepulang kantor.


"Di kaefci, kau ambil uang apa semedi! Buruan lambreta sekali andaaa!" Ancamnya disebrang sana.


Tut!


"Gua heran kesambet apa Sandra ni, akhir-akhir ini dia bawaannya marah melulu! Padahal gue kan yang lagi hamil. Ups..... "


Ddddrrrttt... Ddddrrrttt... Ddddrrrttt...


Tanpa melihat lagi layar di ponsel Luna segera bicara. "Iya San, ini lagi otw kesitu sabar napa!" Rutuk Luna kesal.


"Hmm sama temennya teros sama aku kapan?" Terdengar suara lelaki yang tengah kesal disebrang sana.


"Jelas suaranya bukan Sandra, tapi...."


"Eh mas Dira." Segera dilihat layar ponselnya dan benar saja ini panggilan dari Adira.


"Maaf mas tadi abis ditelfon Sandra tapi terputus." Luna memberikan pembelaan.


"Kamu ko hobi banget ngelembur! Mau aku jemput ga?" Tanyanya.


"Ga usah mas ini mau pulang ko tapi mampir makan dulu diluar. Ada yang mau mas titip?" Tanya Luna basa-basi.


"Ga usah. Ya udah ati-ati!" Jawabnya singkat kemudian menutup sambungannya.


Tuuuuuut


"Ingin ku banting ponselku yang sudah lapuk ini. Tapi aku belum ada gantinya."


"Adira Renald aku menyesal memberikan tubuhku padamu!" Luna merutuki dirinya berkali-kali.


Luna tidak memperdulikan lagi segera kembali bergegas menuju resto yang telah Sandra ucapkan di telfon. Sesampainya di resto ia mengedarkan pandangan ke sekeliling san akhirnya dia temukan seseorang dengan rambut ombre yang bergelombang khas seorang Sandra.


"Nyampe juga kau! Mampir ke afrika dulu ya tsaay?" Sungutnya anarkis.

__ADS_1


* * * * * * * * * *


__ADS_2