Dua Cinta Satu Hati

Dua Cinta Satu Hati
Bab 40 : Takut kehilangan


__ADS_3

Luna telah berada di apartemen miliknya, dia sudah membersihkan diri dan berencana beristirahat. Namun sebuah ketukan pintu membuatnya menajamkan pendengaran dan menuju pintu depan.


"Mas?" Luna terkejut dengan kedatangan prianya yang tidak memberitahunya lebih dulu.


"Lama banget!" Dengus Adira terlihat kesal.


Tanpa dipersilahkan masuk lebih dulu Adira sudah duduk di sofa. Ternyata dia membawa bungkusan plastik yang Luna perkirakan berisi makanan.


"Wow martabaaak!" Pekik Luna bahagia.


"Kalau saja aku tidak inisiatif datang kemari apa kamu akan makan malam?" Kekasihnya kembali menunjukan sikap


kesal. Luna hanya cengengesan sambil melahap martabak keju kesukaannya tanpa disuruh lagi.


"Sejak kapan dia tahu makanan kesukaanku? Ah yang penting sekarang makaaaan." Batin Luna.


 Adira terkekeh melihat tingkah laku Luna yang masih seperti anak kecil. Dia mendekat dan mengecup kening kekasihnya lembut.


"Maafkan aku sayang."


Luna terdiam, keduanya mendadak dalam keadaan sendu kali ini.


"Maaf untuk apa?"


"Untuk segalanya yang telah aku perbuat."


Adira mengusap lembut perut rata Luna dan menciumnya. Luna bisa menebak apa maksud kekasihnya. Dia yang justru tengah melakukan dosa besar saat ini.


"Boleh kita tidak membahasnya lagi mas?" Luna menyenderkan kepalanya dibahu kekasihnya.


* * * * *


Seminggu kemudian.


Apartemen milik Luna sekarang berubah seperti gudang, dia sudah seminggu ini berjualan Online.


"Senangnya dalam waktu satu minggu, online shopku banyak diminati." Sorak Lun senang.


"Makasiii sayaaang sudah membantu." Luna tersenyum pada kekasihnya.


Adira tengah membantu pacarnya, dia sangat mendukung usaha kecil-kecilan Luna. Dia bahkan membantu Luna mengantarnya ke pihak ekspedisi bahkan saat ini Adia adalah donatur terbesar usahanya.


"Mas..."


"Hmmm..." Adira menjawab dengan masih fokus pada game onlinenya.


"Aku dengar dari Bram lusa mas ke ibu kota ya?"


"Kamu masih berhubungan sama dia ya?" Adira kembali dalam mode posesifnya.


"Mas... Aku sudah bilang aku tidak ada hubungan apapun!"


"Kamu sangat tahu aku bukan?" Jawab Luna jujur.


Luna memang tidak ingat saat ini perihal apa yang membuat nama Bram saat ini tercatut dalam hidupnya. Hal yang bisa Luna ingat tentang Bram adalah saat dia mudik Bram satu tujuan dengannya. Setelah beredarnya rumor buruk Luna dan Bram dia bergegas meminta Bram mengklarifikasinya.


"Bram... Kamu tau aku akan membahas apa?" Tanya Luna serius setelah keduanya berada di Sea Resort.


Bram menatap Luna dengan tatapan tak biasanya. "Iya... Aku minta maaf Luna..."


"Apa mas Dira pernah membahas ini denganmu? Karena sampai saat ini dia tidak membahas apapun dengan ku pasal rumor ini."


"Luna..." Bram menggantung kalimatnya.


"Bagaimana jika seandainya bukan Adira lah yang kamu cintai?" Ujarnya menatap Luna sendu.


"Maksudmu?!" Luna mulai kesal.


"Aku minta maaf atas rumor itu."


"Semua murni salah Andin yang tidak bisa menjaga mulutnya."


"Aku membohongi dia terlebih diriku sendiri."


"Dia hanya pelampiasanku!"


"Apa kamu benar memiliki perasaan terhadapku?" Tanya Luna serius.


".........." Bram terdiam.


"Why? Kita tidak pernah memiliki waktu bersama bukan?"


"Kau melupakannya Luna..."


"Suatu saat nanti saat kamu ingat semua, aku pastikan aku pernah ada dalam kehidupanmu."


"Aku bahkan telah bertemu dengan Lula dan Alffy keponakan tersayangmu beserta kakakmu Renata bahkan mamamu aku sudah pernah bertemu yang aku yakin Adira belum pernah bertemu dengan mereka kecuali mamamu saat dia kemari sebulan yang lalu."


Penjelasan Bram membuat Luna menutup mulutnya tidak percaya apa yang sudah pria itu ucapkan.


"Bagaimana bisa dia mengetahui keluarga ku?" Batin Luna membuat dirinya semakin di landa kebingungan luar biasa.


"Ada apa denganku??!" Lirihny kemudian.


"Luna..." Bram mencoba menggenggam jemari Luna.


"Jika orang lain melihat kalian berdua seperti ini mereka akan menganggap rumor itu benar!!" Suara dingin Adira membuat keduanya menatap bersamaan.


Luna hampir merasakan jantungnya lepas dari tempat seharusnya.


"Bram.."


"Aku tidak mempermasalahkan bagaimana kamu menyukai Luna."


"Tapi kamu harus ingat apa yang kamu perbuat ini pada akhirnya yang menjadi korban adalah dia."


"Bersikaplah sewajarnya..." Adira melayangkan tatapan dingin pada Bram sebelum dia menarik lengan Luna secara paksa.


"Kamu juga tahu pasti kejadian itu."


"Seharusnya kamu juga menepati janjimu pada mama Luna."


"Kali ini aku minta maaf ini salahku. Aku hanya berpesan jangan pernah menyakiti Luna. Sebelum kamu


menyesal kehilangannya dalam waktu singkat!!" Bram meninggalkan mereka berdua yang mematung bersamaan.


"A-apa mas mau menjelaskan sesuatu padaku?" Tanya Luna sudah tidak bisa lagi mnelaskan bagaimana kalutnya dia saat ini.


"Aku minta maaf sayang...


"Mungkin Bram merasa aku telah menyakitimu..."


"Sebaliknya, mengapa kamu menemui Bram tanpa sepengetahuanku?"


"Apa rumor itu benar?"


Luna terpaku dengan kalimat dingin Adira yang sukses dua kalimmuat dirinya ingin menguburkan diri saat ini juga.

__ADS_1


"Tentu saja hanya rumor!"


"Kamu tahu sendiri aku sangat mencintaimu.. Aku bahkan pernah mengandung anakmu! Apa kamu meragukan cintaku?" Luna merangkul tubuh Adira dengan erat.


"Aku sangat mencintaimu Luna... Aku tidak bisa kehilanganmu!"


"Aku juga mas..."


Setelah kejadian itu Luna semakin bertanya-tanya apa yang terjadi sebenarnya di tahun ini sebelumnya. Dia benar-benar mengingat kuat hanya pada pernikahan yang di sebabkan kecerobohannya. Luna mencoba mencari ahu pada ibunya namun bukannya jawaban yang dia dapat ibunya justru semakin gencar menyuruhnya pulang.


"Sayaaang..."


Panggilan Adira membuyarkan kembali lamunan Luna hanya karena mereka membawa nama Bram kembali.


"Maafkan aku... Aku percaya padamu.." Lirihnya merangkul Luna.


Kegelisahan Luna kembali memudar oleh sentuhan prianya.


"Jadi mas pergi pelatihan kapan?"


"Minggu depan..."


"Aku pergi seminggu ya sayang, kamu baik-baik saja?" Tanya Adira khawatir menekan pipi Luna dengan kedua tangannya.


"Tenang aja yang aku baik-baik saja." Rayu Luna melingkarkan tangannya di bahu prianya.


"Aku kurang yakin. Kamu makan aja kalau ga aku yang marahi suka lupa!" Adira mencium bibir Luna yang sudah mengerucut karena ulahnya.


* * * * *


"Mas mau di bekelin sesuatu ga?"


Luna bertanya setelah Adira keluar dari kamar mandinya dengan hanya berbalutkan handuk di bagian bawah tubuhnya. Mengekspose dada bidang yang menggoda Luna.


Adira mendekati Luna dan menggendongnya ke kamar.


"Iya, aku ingin membawamu dalam kantung plastik menaruhnya di saku kemejaku dan membawanya kemanapun aku pergi!"


Adira membenamkan wajahnya di dada kekasihnya yang tidak tertutupi sehelai benang pakaian tidur kekasihnya.


"Sayang, boleh ya aku mengisi daya kehidupan ku sekarang?"


Adira meminta ijin pada Luna untuk kembali menjamahnya, Luna yang sudah sama-sama tersulutkan hasratnya tersenyum berinisiatif menyesap bibir kekasihnya lebih dulu.


* * * * *


Pov Adira.


Setelah Adira menemukan Luna kembali, dia sangat beruntung Luna masih mau memaafkan dan menerimanya kembali. Adira sungguh sangat takut kehilangan kekasihnya kembali. Tanpa pikir panjang dia mencoba mengikat Luna dengan menyematkan cincin yang akan dia gunakan saat pertunangannya kelak.


Cincin itu didapat dari ibunya, dalam map coklat yang di berikan ibunya berisi satu kotak cincin, sertifikat kepemilikan apartemen, kunci mobil dan juga black card yang dulu sempat di bekukan oleh ayahnya.


Adira semakin bersemangat mengejar cinta Luna kembali setelah semuanya dia dapatkan akan memudahkan dia memanjakan calon istrinya kelak. Namun dia kecewa Luna tidak ingin terburu-buru menikah saat ini. Karena kecerobohanku aku benar-benar membuat Luna trauma dan memberinya jarak saat ini.


"Aku akan terus bersabar dan membuatmu kembali jatuh cinta padaku sayang!"


Setelah mereka serumah, Adira terkejut dengan keahlian Luna yang baru dia rasakan saat ini. Dia tidak tahu bahwa Luna sangat pandai memasak. Adira semakin beruntung memiliki Luna. Hari ini dia mendapat kabar bahwa Luna pulang terlambat karena meeting dengan vendor. Adira mempercayainya dia justru berkesempatan membelikan calon istrinya kebutuhan selama dia di Park Avenue.


"Luna tidak pernah meminta apapun dariku."


"Aku sungguh bodoh jika melepaskannya!"


Hal yang masih mengganjalnya saat ini adalah perkataan ibu Luna saat mereka bertemu satu bulan yang lalu. Ibunya meminta dia memutuskan Luna.


"Aku tidak mungkin melepaskannya, dia sudah pernah mengandung putraku."


"Kami memang akan terlihat seperti kumpul kebo, tapi mengapa aku merasa aku telah menjalani kehidupan bersama Luna dalam waktu yang lama?"


Agar Luna dalam pengawasannya Adira memberikan satu unit apartement di salah satu bisnis milik keluarganya.


"Halo kak.."


"Ada apa lagi?"


"Kalau ga salah kakak pemilik Aston Mansion bukan?"


"Untuk apa? Kamu bukannya sudah diberi satu unit di Park Avenue."


"Kenapa sekarang mengincar Aston juga?"


"Bukan untukku."


"Lantas?"


"Luna."


"Jadi sekarang dia sudah menampakan wajah aslinya."


"Dia sama seperti wanita lain yang hanya mengincar hartamu."


"Dia tidak seperti itu! Aku yang memberikannya."


"Kakak harus berjanji untuk tidak menyentuh Luna bahkan memberitahunya tentang identitasku!"


"Apa baiknya gadis itu?"


"Segalanya, dia segalanya untuk ku."


Adira memang tidak pernah berbohong pada kakaknya, bahkan kali ini dia mengakui perasaannya di depan keluarganya.


"Ah sudahlah.. Ingat janjimu, mulai besok kamu ikut andil mengurusi beberapa perusahaan papa. Kalau perlu kamu keluarlah dari kantormu itu. Disana kamu jadi staff biasa padahal kamu itu calon CEO Renald Group!"


"Kakak ini makin lama makin mirip dengan papa!" Rutuk Adira.


"Aku akan memberikan kontak Bagas kedepannya dia adalah asistenmu."


"Dia akan menyerahkan kunci Aston kamu pilihlah sendiri. Tiap minggu dia akan memberikan berkas yang akan kamu kerjakan!"


"Baiklah aku terima semuanya walau aku tidak ingin..."


"Kau pikir harga apartemenku sanggup kamu bayar dengan gaji dari EPS?"


"Yaa... Aku akan menghubungi Bagas sekarang."


"Okay!"


Pov Adira End.


* * * * *


Tiga hari kemudian.


"Baru juga tiga hari ditinggal masnya... Apa lu udah ga bisa hidup tanpanya ya?" Ejek Sandra pada Luna.


Wajahku memang kusut saat ini, terlebih setelah kepergian Adira. Dia harus kembali memakai transportasi umum.


Dering ponsel Luna berbunyi, dia menatap layar ponsel dengan jantung berdegup kencang!

__ADS_1


"Angkat jangan ya?!" Gumam Luna takut dia mengatupkan bibirnya erat.


"Halo..."


"Hai cutiepie..."


"I miss you so badly dear..." Suara berat di sebrang sana membuat Luna menelan salivanya.


"Ini jam kerja kenapa kamu menghubungiku?!"


"Benarkah? Bukankah ini telah menunjukan pukul 5 sore?"


"APA?!"


Refleks Luna menatap jam di tangannya.


"Aku berada didepan kantormu."


Hampir saja Luna menjatuhkan ponselnya saat mengetahui Mahessa berada di depan kantornya.


"A-apa? Ngapain disini?!"


"Menemuimu cutiepie..."


Tut!


Sambungan terputus sepihak, wajah Luna yang kusut bertambah pucat saat ini.


"Siapa? Sepertinya bukan Adiramu?!" Selidik Sandra curiga.


"KEPO!"


"Gue balik duluan ya... Bye!"


Tanpa basa-basi dan melihat ekspresi kesal Sandra dia melesat keluar kantornya.


Setelah keluar gate sebuah mobil porsche merah menghampirinya.


"Apa kamu sengaja memamerkan mobil mewah ini?" Luna langsung memaki pria yang tidak mengerti apa-apa itu.


"M-maksudnya?" Mahessa terlihat kebingungan.


"Kamu tidak suka aku jemput dengan mobil ini?" Selidik Mahessa segera melajukan mobilnya keluar kawasan.


"Bukan tidak suka hanya terlalu mencolok. Aku tidak suka jadi pusat perhatian." Luna menjelaskan.


"Maafkan aku, lain kali aku akan menjemputmu dengan mobil kemarin." Mahessa tersenyum senang akhirnya bisa menemui seseorang yang mengganggu pikirannya selama ini.


"Apa bedanya!" Rutuk Luna dengan cemberut.


Mahessa menarik tangan Luna dan menciumnya.


"Adira sedang tidak ada?" Tanyanya kemudian.


"Aku pikir kamu pasti sudah menyelidikinya makanya berani menjemputku sekarang!!" Luna menjawab dengan kesal.


Mahessa menggigit ujung jemari Luna, membuat tubuh Luna meremang seketika.


"Kamu membawaku kemana?" Tanya Luna kemudian.


"Dinner..." Jawabnya lembut.


"Ya dimana pak?!"


"Marina View..."


Luna terpaku sejenak, selama dia berhubungan dengan Adira dia tidak ingat selalu melakukan Dinner di luar. Jika bukan dia yang memaksanya. Adira lebih menyukai masakan Luna.


"Ko bengong?" Mahessa membuyarkan lamunannya


Luna memejamkan matanya selama perjalanan, dia tengah lelah saat ini. Dia terbiasa tidur dalam mobil Adira, terbangun oleh kecupan kekasihnya itu.


"Aku merindukanmu sayang..."


Mahessa mengecup bibir Luna lembut.


"Kau sungguh sangat berani!!" Luna mendorong tubuh Mahessa.


Keduanya telah keluar mobil, Luna menggandeng tangan Mahessa. Dia sungguh pandai bermain trik. Membuat Mahessa di landa kecemasan luar biasa.


"WOW! Tempat apa ini aku belum pernah kesini rasanya..."


Hamparan laut lepas dan di tengahnya berada satu pulau kecil. Berbeda dengan Laguna yang memiliki konsep seperti Maldives. Marina View aku rasa seperti pulau di peta one piece. Mahessa mengajak Luna memasuki kawasan Resort.


"Kamu menyukainya?" Tanyanya tersenyum.


Luna mengangguk semangat. "Aku sangat mencintai pemandangan laut.. Begitu tenang namun menghanyutkan."


"Ini kawasan yang aku kembangkan."


Luna tersenyum takjub, beberapa pelayan telah menyambut kedatangan mereka. Keduanya di arahkan menuju sebuah Gazebo yang sepertinya telah di persiapkan khusus untuknya. Luna takjub dengan yang di persiapkan Mahessa untuknya.


"Aku yakin mas Dira tidak akan melakukan hal ini." batinnya merasa sesak jika mengingat kehidupan pernikahannya dengan Adira.


"Kamu kenapa?" Mahessa membuyarkan lamunannya.


"Aku sungguh terharu dengan semua ini." Ujar Luna berbohong.


"Jadi apa aku bisa menyingkirkan posisi Adira di hatimu?" Mahessa terlihat serius.


Luna hanya terkekeh, senyuman Luna sungguh menjadi panah asmara bagi Mahessa yang tepat menusuk jantungnya.


"Aku sangat menginginkanmu Luna." Batin Mahessa menatap Luna lekat.


Mereka memulai makan malam, kemudian Mahessa membuka obrolan yang membuat Luna tidak begitu berselera makan saat ini.


"Jadi bagaimana hubunganmu dengannya?"


"Baik-baik saja." Luna menjawab apa adanya.


"Aku pikir kamu tidak akan kembali menghantuiku!"


"Haha, bagaimana mungkin sayang..."


"Aku sudah terpaut oleh mu!"


Luna menatap lekat Mahessa yang mendekatinya, "Bagaimana jika aku benar-benar bisa berpaling dari Adira dan terjerat dalam pesona Mahessa?" Batin Luna berkecamuk hebat.


"Bagaimana jika kita berdansa?" Ajaknya.


"Aku tidak suka berdansa dengan pakaian formal begini!"


Mahessa tertawa lirih dan menjentikkan jarinya beberapa pelayan menghampirinya. "Pergilah bersiap... Aku menunggu disini." Dia berbisik di telinga Luna dengan tatapan penuh hasrat.


Luna terpaku, jarak mereka sangat dekat sejenak Luna ingin menutup matanya namun tersadar. Mahessa menggenggam erat kepalan tangannya.


"Aku sungguh menginginkannya!" Nafas Mahessa telah menggebu dia menatap bayangan wanitanya.

__ADS_1


* * * * * * * * * *


__ADS_2