Dua Cinta Satu Hati

Dua Cinta Satu Hati
Bab 33 : Cinta yang Salah


__ADS_3

Keduanya telah duduk di salah satu meja pojok restauran. Mahessa tengah mempersilahkan wanitanya duduk lebih dulu.


"Thank you..."


Mahessa tersipu dengan suara lirih Luna yang terasa menggoda baginya


Mahessa menjentikkan jarinya memanggil pelayan dan keduanya telah memesan beberapa menu untuk makan siang mereka.


Luna memperhatikan sekitar, dia terasa familiar. Dia mencoba mengingat jika tidak salah dia juga pernah kemari seperti yang di katakan kekasihnya tempo hari mereka memadu kasih tanpa batasan disini.


"Bolehkah aku bertanya?" Tanya Mahessa memecah lamunan Luna.


"Sure..."


"Jika bukan aku yang menyelamatkanmu apa kamu juga akan memberikan ciuman itu pada penyelamatan mu?!"


Entah apa yang ada di pikiran Mahessa saat ini, dia begitu emosional sudah 2 kali dia mendapatkan bibir Luna. Hal yang membuatnya kesal wanita itu tidak mempermasalahkannya.


"Aku akan kembalikan. Seandainya bukan kamu mungkin aku sudah mati menyusul putriku."


"Mengapa kamu menolongku?"


DEG!


Pertanyaan Luna sangat mencekat tenggorokan Mahessa.


"Maaf aku tidak bermaksud..."


Luna hanya melengkungkan senyum manisnya di bibirnya. Melihat bibit itu tubuh Mahessa kembali meremang. Segera dia mengalihkan pandangannya.


Makanan telah di hidangkan, Mahessa menaruh beberapa olahan seafood di piring dan menyerahkannya pada Luna. Luna tak mau kalah, dia melakukan hal serupa.


"Thank you.." Mahessa tersipu.


"So..."


"Bukankah kamu ingin berpisah dengan pacarmu?!"


"Mengapa kamu kembaki dan bahkan tinggal bersamanya."


"Memang sedari dulu sudah satu atap?!"


Luna menghentikan aktifitas menyuapnya, dia menatap Mahessa lekat.


"Mengapa kamu sangat ingin tahu?!"


"Ini urusanku... Ini dosaku!"


"Aku mencintainya, dia pun demikian..."


"Luna..."


"Kamu masih sangat muda."


"Tapi kamu sudah senekat ini..."


"Tetiba nafsu makanku hilang!"


"Maafkan aku Luna..."


"Jika tau kamu ngajak aku keluar untuk baku hantam aku bakalan nolak!"


"Maafkan aku..."


Mahessa menggenggam tangan Luna yang di tepis langsung oleh Luna.


"Aku hanya heran dengan gaya pacaran anak muda zaman sekarang."


"Tanpa ikatan pernikahan si wanita dengan sukarela melayani si pria, apakah si pria juga sudah mulai menafkahi si wanita?" Pernyataan Mahessa merupakan cara halus dari menjatuhkan harga diri Luna.


"Life always has choices..."


"Aku hanya ikut merasa terluka saat aku melihat seorang wanita muda di turunkan paksa dari mobil si pria."


"Jika saat itu aku mengetahui kamu tengah keguguran aku pastikan aku akan menghajar kekasihmu yang brengsek itu!!"


"Jangan pernah merendahkan dirimu lagi."


"Kamu akan sangat berharga di mata pria baik."


"Apa kamu sedang mencomblangkan dirimu sendiri?!"


"Aku tahu tindakan yang aku lakukan, semua tidak perlu kamu ikut campur!"


Mahessa mengepalkan tangannya menahan emosinya sekuat tenang.


"I'm done!!"


Luna beranjak meninggalkan Mahessa menuju bagian kasir. Mahessa dengan cepat menukar kartu debit Luna dengan black card miliknya.


Di dalam mobil Luna mengutarakan terima kasihnya.


"Sekali lagi terima kasih Mahessa atas pertolonganmu... Mulai saat ini kita tidak perlu lagi untuk saling bertemu."


"Anggaplah kamu tidak pernah bertemu denganku."


"Setelah apa yang kamu lakukan padaku?" Dia kembali menumpahkan kekesalannya.


"Apa yang aku lakukan padamu?!"


"Aku akan membayar semua tagihan rumah sakit saat ini juga!!"


Mahessa menarik wajah Luna dan kembali mencium bibir Luna dengan liar.


PLAAAAK!


"Jangan kurang ajar Mahessa!"


"Kamu sudah membuat aku jatuh cinta Luna!!"


"Kamu harus bertanggung jawab!"


"W h a t the f u * c k?!!" Luna mengumpat lirih.

__ADS_1


"Mahessa aku sudah bertunangan..." Luna menunjukan jemari manis yang di sematkan cincin disana.


"HAHA!"


"Bukankah bagimu menikah bukan prioritas di hidupmu?!"


"Selama kemarin kamu membual padaku hah?!"


"Mengapa dia sangat emosi?!" Batin Luna bingung atas sikap Mahessa saat ini.


"Aku memang belum mau menikah, namun cincin ini menunjukan hatiku untuk siapa!"


"Benarkah demikian?!"


"Cinta itu tidak bisa di tebak Luna...."


"Kamu tidak sedang mencintaiku Mahessa... Kamu hanya sedang penasaran denganku!!"


"Aku menyukaimu Luna..."


"Aku yang tahu pasti perasaanku."


"Maafkan aku, aku tidak bisa membalasnya!"


Mahessa mengeratkan pegangan kemudinya dia melajukan mobilnya keluar kawasan resort. Sepanjang jalan hanya ada keheningan. Luna merasa tercekik erat oleh keadaannya saat ini.


"Bolehkah kita mampir ke kosanku..."


"Okay cutie..."


"Bagaimana dengan menyalakan musik?!" Luna benar-benar tertekan saat ini.


Mahessa tersenyum menekan tombol musik player di mobilnya. Luna mengambil ipod mininya dan menyambungkannya.


Sepanjang jalan Luna bersenandung, dia melupakan ketegangan sebelumnya bahkan saat ini justru tengah mengajak Mahessa karaoke on the road. Mahessa terkekeh sepanjang jalan. Ini pertama kalinya dia melakukan kegilaan ini.


"Ku menunggu... Ku menunggu kau putus dengan kekasihmu..."


Bukan Naluna Maharani jika dia tidak membuat ulah.


"Lunaaa..." Pekik Mahessa malu.


Tidak lama kemudian mereka telah sampai di kosan Luna.


"Mau aku temani?" Mahessa menawarkan diri.


"Baiklah..."


Luna dan Mahessa segera beranjak, di depan pintu kamar Luna dia masih seperti awal saat kesininbersama Adira kemarin.


"Are you okay cutie?"


Mahessa memberanikan diri menggenggam tangan Luna. Luna mengangguk dan kembali membuka pintu itu.


Luna sudah membiasakan dirinya, dia segera mengambil koper miliknya memasukan barang yang hendak dia bawa. Sejenak Mahessa merasa tubuhnya meremang. Dia menyangka bahwa wanitanya melakukan aborsi di kamar ini. Bau amis dasar menyeruak di indra penciumannya.


"Pantas saja Luna gelisan di depan pintu masuk itu." Batin Mahessa. Dia menyinak tirai jendela dan membukanya. Memungut beberapa tissue yang berserak sekilas juga terlihat bungkus obat yang diperkirakan obat-obatan yang di gunakan Luna untuk menggugurkan kandungannya sendiri.


"Entah mengapa melihatmu seperti ini hatiku sangat sakit Luna. Aku tidak mengijinkanmu kembali bersama dengan kekasihmu yang brengsek itu."


Keduanya tengah beradu pandang, Luna tengah terduduk di lantai merapihkan pakaiannya. Mahessa bersimpuh menghampirinya.


"Dia tidak pantas menerima maafmu Luna..."


Sekelebat kejadian menyakitkan itu kembali menari-nari bagai slide show di luar kepalanya. Luna kembali menangis. Dia menutup wajah dengan kedua tangannya meraung pilu.


Mahessa meraih tubuh ringkihnya dan memeluknya erat.


"Aku minta maaf padamu menyeret mu dalam kehidupanku sekarang."


"Tapi sungguh aku baik-baik saja." Luna menghapus bulir beningnya tersenyum pada Mahessa.


Wajah keduanya masih berdekatan, Mahessa yang sudah kecanduan dengan bibir dan wangi tubuh Luna selalu mendapatkan kesempatan dia atas kepedihan Luna. Wajahnya dia miringkan, Luna menelan salivanya.


"Setiap kali dia mesum setiap kali aku ga bisa nolak!!"


"Wanginya mengingatkanku pada Diaz!!"


Luna menutup matanya tangannya membelai pipi Mahessa keduanya kini tengah kembali bertautan mesra.


"Ya tuhan... Kamar ini memang memiliki daya magnetis dosa yang besar!!" Rutuk Luna dalam hati.


Mahessa menarik tubuh Luna, keduanya terjatuh di lantai yang beralaskan karpet bulu. Luna berada di atas tubuh atletis Mahessa yang mesih berbalutkan pakaian jas formal miliknya. Dengan lihai dan terampil dia melepas kancing-kancing kemeja Mahessa. Mahessa yang menyadarinya menghentikan gerakan tangan Luna.


Keduanya melepaskan tautan, nafas mereka masih memburu.


"Jangan sayang..." Lirih Mahessa dengan sekuat tenaga menahan hasratnya yang telah mencuat.


"Kau menolakku..." Lirih Luna yang sama tengah sangat berhasrat.


Mahessa kembali menarik wajah Luna dan menyesap bibir kesukaannya saat ini. Luna tengah menggerakan tubuhnya di atas tubuh pria yang baru dia kenal beberapa hari itu.


"Oh sh*it!" Mahessa mendorong Luna.


Bruuk!


"Arrh.." Rintih Luna.


"Luna, aku tidak seperti kekasih bejadmu!"


"Maafkan aku tidak seharusnya kita seperti barusan!!"


Luna merasa malu dengan tingkahnya, dia menunduk kemudian dering ponselnya membuyarkan segalanya.


"Halo..." Sapa Luna


Luna memakai bahasa tubuh berkomunikasi dengan Mahessa, pria itu mengerti dan dia duduk di tepi ranjang menyalakan tv.


"Gimana kabarmu?!"


"Masih di rumah sakit?"


"Maaf kemarin aku sungguh sibuk tidak sempat menanyakan kabarmu!!"

__ADS_1


"It's okay..."


"Aku sudah pulang..."


"Benarkah? Kalau begitu pulang kantor aku ke kosan ya."


"Ehmm... Aku tinggal di apartemen mas Dira."


"Si Anying!!"


"Lu ga pernah tobat nyet!!" Sungut Sandra emosi.


"Sudahlah dosamu bukan urusanku. Aku sudah mengingatkanmu." Ujarnya masih menyisakan geram.


Luna tidak bisa berkata apapun. Biarlah temannya tahu betapa menjijikkan nya dia.


"Kamu cepatlah masuk!!"


"Aku sudah tidak sanggup menghadapi semua ini!!" Kini nada suaranya menjadi memelas.


"Ada masalah ya san?" Tanya Luna polos.


"Absolutely!!"


"HiTech kembali berulah!!"


"Barangmu Shortage!"


"Stopline 2 hour you now!!"


Luna membuka mulutnya lebar. Jantungnya seolah berhenyi berdetak.


"Maaf aku menyusahkanmu..."


"Besok aku masuk..."


"Benarkah?!"


"Apa sudah tidak masalah dengan perutmu?!"


"Sepertinya begitu... Aku hanya sedang mengumpulkan ninjutsu saja!"


"B*ngke anjir!!"


"Gue tuh kesel ga ada yang berani ganggu lo!!"


"Enak bener hidup lo jadi kesayangan sana sini!!"


"Kesayangan mu juga kan?!" Goda Luna tak tahu diri membuat Mahessa mendelik dan menatap cemburu.


"Gue janji bakalan traktir ngopi."


"Ngopi tidak cukup menutup mulutku!"


"Kamu mencoba memerasku Sandra?" Sungutku mulai kesal.


"Tentu saja!"


Tut


Sambungan terputus begitu saja menyisakan kekesalan.


"Any problem?" Tanya Mahessa dia semakin berani merangkul pinggang Luna dari belakang.


"Bagaimana jika aku benar-benar menginginkanmu Luna?" Tanyanya dengan mencium leher Luna.


Luna berbalik dan mendorongnya. "Jangan pernah mencoba menyukai atau menginginkan ku Mahessa." Jawab Luna tepat di depan bibirnya.


"Kenapa?" Tanyanya heran kembali mengecup singkat bibir Luna.


"Karna kamu yang akan repot."


"Aku sudah mencintai orang lain."


"Akan sangat melelahkan mengharapkan cinta dari seseorang yang sudah mencintai orang lain. Kamu hanya akan menjadi pelampiasan."


"Aku sudah mencintai Adira aku memaafkannya dan kami akan memulai hubungan kami dari awal lagi."


"Jangan terlalu yakin Luna..."


"Bukankah tuhan maha membolak-balikan hati manusia?"


"Sudah selesai?!"


"Aku menunggumu di bawah."


Mahessa meninggalkan Luna lebih dulu dia mendorong koper milik Luna. Luna mengusap kasar wajahnya. Dia kembali mengunci kamar terkutuknya.


* * * * *


"See you next time my cutiepie..." Mahessa kembali mengucap salam perpisahan dengan menciumi bibir Luna.


"Mengapa bibir ini begitu membuatku candu..." Ujarnya seraya mengusap lembut dengan ibu jarinya. Semua gerakan itu membuat tubuh Luna meremang.


"Tidak ada lain kali Mahessa."


"Aku tidak pantas untukmu!"


"Kita lihat saja nanti."


"Esok lusa masih menjadi misteri..." Tidak ada keraguan dalam perkataan Mahessa membuat Luna sedikit waspada.


"Sekali lagi terima kasih Mahessa."


"Aku menyukaimu cutiepie..."


"Sangat meyukaimu..."


Mahessa berkata dengan nada serius. Luna terpaku memandang wajahnya lekat.


"But, I love him not you..." Bergegas pergi sebelum Mahessa mengungkungnya kembali.


* * * * * * * * * *

__ADS_1


__ADS_2