Dua Cinta Satu Hati

Dua Cinta Satu Hati
Bab 98 : Komitmen


__ADS_3

Mahessa telah selesai dengan membersihkan dirinya. Dia tengah memakai bajunya di kamar Luna. Dia terus tersenyum melihat betapa kacaunya kamar Luna.


"Aku heran dengan dia, katanya cinta dengan Adira tapi satu frame foto mereka berdua saja tidak ada."


"Kamu sudah mau berangkat?" Tanya Luna mencoba bangun dan duduk.


"Iya sayaaang."


"Ada beberapa pekerjaan final yang harus aku lakukan siang ini."


"Apa yang akan kamu lakukan cutie?"


"Hmm..." Luna seperti tengah berpikir.


"Aku ingin pergi ke salon tubuhku remuk seperti tengah di gilas mobil truk besar!!" Rutuk Luna mengisyaratkan bahwa lelakinya pelakunya.


"Hahahaha..."


"I'm sorry cutie..."


"Salahkan tubuh mu yang mempunyai daya magnetis!"


"Kalo gitu aku akan suruh Farell mengantarmu."


"Aku akan mencoba kembali menyetir mobil."


"Oh ya?"


"Bagus lah."


"Farell akan siapkan pelatih untukmu.."


"Terima kasih..."


"Kamu ingin aku belikan mobil apa?"


"Hmm..."


"Mazda apa Ford Fiesta aku ingin merk ini..."


"Kenapa harus merk biasa ini?!"


"Aku tidak ingin mencolok!"


"Kamu tinggal ucapkan pada Farell atau kamu bisa sekalian membelinya siang ini kamu yang pilih."


"BENARKAAAH??!" Mata Luna berbinar namun kemudian dia mengingat bagaimana dirinya di beri kejutan di hari ulang tahunnya sebuah Mazda RX8 oleh mantannya.


"Kamu kenapa?" Mahessa mendekati wanitanya mengecup bibirnya.


"Nothing..." Luna melingkarkan kedua tangannya di bahu prianya.


"Kamu sungguh membuat aku ketagihan sayang!!!" Mahessa terus menyesap bibir manis Luna.


"Aku kerja dulu ya."


"Farell akan mengomel jika aku terlambat..."


"Hahahaha takut juga dengan dia?!"


"Dia teman ku sejak lama."


"Aku mempercayakan pekerjaan asisten pribadiku dengannya. Dia sudah aku anggap saudara sejujurnya."


Luna tersentuh dengan ucapan Mahessa. Dia tidak menyangka semenjak status pernikahannya dengan Mahessa. Lelaki itu berubah 180 derajat. Biasanya akan berkata angkuh dan msnyebalkan. Saat ini justru penuh kelembutan.


"Oh seperti uncle Bobby dan papa!"


Luna memakai kimononya beranjak membantu mengenakan dasi untuk suaminya.


"Oh ya?!"


"Biasa memang seperti itu."


"Sulit menemukan orang yang bisa di percaya jika bukan teman terdekat."


"Baik-baik ya..."


"Nanti aku hubungi jika pekerjaanku sudah selesai..." Ujar Mahessa mengusap lembut pipi istrinya.


"Jangan jelalatan!!" Goda Luna.

__ADS_1


"Kamu tenang saja cutie..."


"Di mataku hanya ada satu sosok wanita penggoda yang berhasil menundukkan ku saat ini!!"


Luna bergegas membersihkan diri dan bersiap pergi ke salon langganannya. Sesuai perkataan suaminya Farell tengah menyambut Luna dan bersiap mengantarkan tuannya pergi ke salon.


"Oh iya Farell aku ingin membeli sebuah mobil bagus Mazda 2 apa Ford Fiesta ya?!" Tanya Luna bingung.


"Kenapa tidak BMW apa Audi saja nona?"


"Atau Merci dan Ferrari!"


"Atau Lamborghini!"


"Porsche juga?"


Luna terbahak dengan spontanitas Farell.


"Terlalu mencolok..."


"Aku tidak suka..."


"Semua kembali lagi ke selera sih nona."


"Bagaimana jika keduanya?"


"Saya yakin tuan tidak akan keberatan.." Saran Farell.


"Aku yang keberatan..."


"Baiklah belikan aku Mazda 2 saja..."


"Selera automotif anda sangat berbeda..."


"Biasa wanita muda mencari Honda Jazz.. Ini pilihan favorite biasanya..."


"Aku sudah pernah memakainya dan merusaknya dengan menghantamkannya di tembok garasi."


"Wow...." Farell terkejut dengan jawaban datar Luna.


"Jemput aku dengan membawakan langsung mobil itu kesini okay." Titah Luna.


"Biasanya aku akan selesai 3 jam kemudian."


Farell membuka matanya lebar "Baik nona."


Luna segera bergegas memasuki salon kecantikan. Seperti biasa dia akan melakukan perawatan dari atas hingga bawah bahkan bagian intim miliknya semua dia akan rawat dengan sebaik-baiknya.


"Huh pantas saja tuan tergila-gila dengan nona. Di salon saja harus menghabiskan waktu 3 jam lamanya!!"


"Aku potong rambut tidak sampai satu jam. Paling cepat 30 menit itupun di cari tuan." Rutuk Farell.


* * * * *


Kota K, Kediaman Surya D. Renald.


Adira telah dinyatakan sehat dan telah di ijinkan pulang oleh pihak dokter. Selama di RS dia tidak henti memikirkan kekasihnya.


"Semakin hari aku merasa semakin jauh dengannya..." Gumam Adira.


Terlihat Arnetha menghampiri ke arahnya dengan wajah di tekuknya.


"Kau sudah bisa pulang?!" Tanya Arneth ketus.


"Hmm...."


Namun Arneth merasa iba melihat perubahan sikap adiknya yang biasa acuh dan menyebalkan kini berubah sendu dan tidak bersemangat.


"Aku tidak suka penampilanmu saat ini!!!"


Rasa ingin menghukum adiknya sirna seketika, melihat perubahan di diri adiknya ini semacam hukum alam baginya.


"Kalau begitu kamu suruh papa mengusirku saja aku sudah lelah juga dengan semua ini."


"ADIRAAA!!"


"Apa kamu pikir dengan status biasa akan menaklukan wanitamu itu?!"


"Dia bahkan berasal dari keluarga bangsawan lebih tinggi dari kita. Apa mungkin keluarganya mau menerima mu yang berstatus rakyat biasa?"


"Aku memang rakyat biasa."

__ADS_1


"Jika memang mereka tidak bisa menerimaku aku tidak akan memaksa. Asalkan Luna bahagia aku juga akan bahagia."


"Kamu!!" Maki Arneth.


"Aku lelah kak..."


"Aku ingin beristirahat sebentar..."


"Papa sudah pulang kemarin!"


"Dia tidak tahu kamu juga di rawat disini.."


"Oh ya?!"


"Baguslah..."


"Bagaimana kabar mama?" Senyum Adira mengembang walau masih terlihat lemah. Arnetha sungguh tidak tahan melihat kondisi adik kesayangannya berubah drastis seperti ini.


"Ini semua karena Luna..." Batin Arneth.


"Mama sudah lebih baik.. Ayok kita pulang sekarang..."


Adira mengangguk kemudian keduanya berlalu menuju keluar RS dan kembali ke kediaman besar.


Sesampainya di rumah mereka Adira meminta Arnetha untuk tidak memberi tahu orang lain di rumah ini perihal kepulangannya. Dia ingin beristirahat sebentar ujarnya.


Di kamar Adira dia menatap wallpaper calon istrinya dengan balutan gaun pernikahan mereka.


"Aku merindukanmu sayang...."


Adira segera menghubungi Luna namun perasaannya sangat tidak nyaman. Dia semakin merasa hubungan keduanya tengah renggang. Padahal seminggu sebelumnya mereka tengah di mabuk asmara. Sampai-sampai buru-buru mempersiapkan pernikahan.


"Apa kali ini aku akan melepaskanmu lagi Luna?!"


"Jika kamu jujur tidak menginginkanku aku tidak akan memaksa..."


Semenjak berhubungan dengan Luna Adira menyadari dirinya menjadi pria lemah yang cengeng rasanya.


"Sampai kapan kamu akan berlaku menyedihkan seperti ini?!" Arnetha tidak tahan untuk tidak mengomentari hidup Adira yang tengah terjatuh.


"Aku harus apa?!" Lirih Adira lemah.


"Buktikan pada wanitamu kamu memang pantas bersanding dengannya..."


"Berikan perhatian selalu untuk wanitamu."


"Aku juga wanita."


"Aku tahu apa yang 70% wanita inginkan..."


"Luna sepertinya tipe wanita yang mandiri dan tangguh. Dengan kekayaannya dia bisa melakukan dan mendapatkan apapun yang diinginkannya."


"Tapi wanita juga sosok yang lemah!"


"Di balik kata tangguh dan mandirinya seorang wanita. Dia tetap akan membutuhan sentuhan seorang pria. Dia ingin merasa aman, dia ingin di manjakan, terutama dia ingin di hargai."


"Jangan pernah memaksakan kehendakmu terhadapnya. Apalagi mencoba lari dari masalah bahkan sembunyi. Menyembunyikan masalah, tidak jujur dengan pasangan maka tamatlah sudah hubungan kalian."


"Jika sudah tidak bisa terbuka satu dengan yang lain lebih baik kamu menyerah saja mungkin dia bukan benar-benar wanita yang kamu inginkan."


"Menikahlah dengan sesorang yang kamu tidak mampu hidup tanpa dia. Dengan begitu kamu akan bekerja keras untuk selalu menjaga hubungan kalian tetap pada jalurnya."


"Jatuhkan hatimu pada seseorang yang bisa membuatmu jatuh cinta berkali-kali dengannya walau dia banyak kekurangannya dia tahu bagaimana caranya membuat kamu kembali padanya."


Adira tersenyum mendengar ceramah kakaknya.


"Terima kasih kak..." Adira merangkul kakak kesayangannya.


"Aku memang kecewa padamu. Tapi aku akan jauh lebih bersalah jika aku tidak membantumu keluar dari masalahmu..."


"Kamu adikku satu-satunya... Aku sangat mengenalmu... Walau kamu degil dan pembangkang tapi kamu tau caranya menikmati hidupmu dengan caramu tentu saja."


"Jangan pernah jauh dari tuhanmu Adira... Hanya dia penolongmu saat ini dan seterusnya..."


Adira mengangguk kemudian kembali mengucapkan rasa terima kasihnya. Arnetha menyuruh Adira keluar untuk makan malam dan kumpul keluarga. Adira meminta ijin untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu.


"Besok pergilah merapihkan tampilanmu. Agar semakin menarik dan buatlah Luna bertekuk lutut terhadapmu."


Adira terkekeh kemudian bergegas memasuki kamar mandinya.


* * * * * * * * * *

__ADS_1


__ADS_2