Dua Cinta Satu Hati

Dua Cinta Satu Hati
Bab 67 : Kegelisahan Hati


__ADS_3

"Mas..."


"Hmm.."


Adira masih juga berkutat dengan laptopnya. Setelah selesai dengan makan malamnya, dia langsung menyambar kembali laptopnya.


Luna mendekatinya dan menggelayut manja. Entah mengapa malam ini Luna tidak ingin berjauhan dari kekasihnya. Walau tadi siang dia telah memperlakukan Luna dengan kasar namun Luna yakin ada sesuatu yang disembunyikan Adira darinya.


"Sayaaangku, aku kerja dulu boleh..." Ucap Adira berbisik di telinganya.


Luna mengangguk pelan, namun masih tidak beranjak dari tubuh kekasihnya. Parfumenya membuat Luna mabuk kepayang semakin ingin menciumnya lagi dan lagi.


"Kamu kayak gini aku ga fokus...." Wajah prianya sudah menunjukan frustasi. Luna terkekeh dengan respon berlebihannya.


"Ya udah aku tidur duluan deh. Mas ga asik sekarang..." Goda Luna seraya beranjak menuju kamar.


Dia pikir Adira akan mengejarnya nyatanya tidak! Luba membereskan barang bawaan yang akan dia bawa besok.


"Aduh... Aku bawa apa aja ya?"


"Seingetku Mahessa tidak menyuruhku macam-macam" Gumamnya.


[Malem Mahessa. Apa kamu udh tidur ? Besok aku berangkat dengan Sandra jam 7 pagi sampai sana jam 8 ya. Aku harus bawa apa aja sama nanti kemana? Cepat bls sblm adira kembali!]


"Pesanku agak barbar ga sih ini?" Rutuk Luna.


Ting


[I'm happy you text me!]


"Jjaah malah ngebacot!" Rutuk Luna gemas.


Ting


[Kamu tinggal datang saja cutie.. Semua telah dipersiapkan khusus untukmu..]


Sebelum Luna membalasnya balasan lainnya telah terkirim kemudian.


[Okay..]


Ddddrrrrtttt


"Astaga pake nelpon segala!!"


Luna segera menjawab panggilan dan merutukinya! "Are you kidding me! Aku tengah berada di mansion Adira!!"


"I miss you cutie.." Lirihnya berat.


"Besok kita bertemu.. Bye!" Luna segera menutup telponnya dan menghapus history call.


"Astaga Luna kamu mencari mati!!" Luna sungguh gemetar saat ini.


Ting


[Selamat malam Luna... Sleep tight n sweet dream dear. Aku berharap kamu tidak melakukan hal apapun dengan Adira saat ini!!]


Mata Luna membulat sempurna dengan pesannya, segera ia hapus sebelum membalasnya. Detak jantungnya tidak beraturan. Dia takut ketahuan kekasihnya. Luna kembali mengirimkan pesan singkat kali ini ku tujukan untuk Sandra.


[San, besok jam 7 udah di pelabuhan ya jangan telat cuy Ferrynya kan ada lagi stgh jam lagi.]


Ting


[Iye.. Nyonya...]


Luna kembali memeriksa kembali barang bawaannya kemudian dia kembali ke ruang kerja Adira.


"Sudah hampir tengah malam. Apa dia masih belum selesai?" Luna beranjak membuka pintu ruang kerja. Bau asap rokok menyeruak dari ruangan.


Melihatnya sangat kusut dengan rokok ditangannya dan raut wajah yang terkejut setelah melihatnya membuat Luna justru khawatir.


"Sayaaang... Aku pikir kamu sudah tidur..." Buru-buru Adira mematikan rokok ditangannya.


Jendela disamping tempat dia bekerja dia biarkan terbuka jadi tidak begitu kentara bau asap rokoknya.


"Sejak kapan mas merokok lagi? Aku pikir mas sudah berenti. Ya minimal tidak didepanku." Ketus Luna dengan bersila tangan di ambang pintu.


Adira menghampiri dan memeluknya. "Maafkan aku sayang... Aku gosok gigi dulu ya... Kamu duluan ke kamar nanti aku segera menyusul." Ujarnya seraya mengecup pipi Luna.


Selang dua menit Adira menepati janjinya menemui Luna dikamar. Dia merangkul Luna dari belakang.


"Maafkan aku sayang, kedepannya aku akan banyak pekerjaan seperti ini. Aku beneran tadi ngerokok karena udah stress banget..." Dia menghisap punggung Luna.


"Aaaarghhh... Mas..." Luna berbalik badan agar Adira melepaskan hisapan kissmarknya.


"Mas istirahat ya... Besok kan bisa dilanjut lagi..." Luna menangkupkan kedua tangan di wajahnya.


"Aku berangkat jam 7 pagi biar ga panas. Ga papa kan yang? Aku nanti bikinin makan dulu buat mas. Mas mau mam apa?" Ujar Luna.


"Pagi benerr!!!" Adira merengek.


"Kalo siang panas yang aku tambah mabuk perjalanan nanti." Jawab Luna asal.


"Beneran kamu ga papa aku ga temenin?" Adira kini merasa khawatir.


"Tenang mas, ada Sandra." Jawab Luna lirih.


Adira menatap Luna lekat kemudian menyesap bibirnya. Tangannya menarik kimono Luna, dia menyapu seluruh permukaan kulit wanitanya lembut. Luna tak kuasa menerima sentuhan sensualitasnya.


Keduanya kembali memadu kasih entah untuk yang keberapa kalinya. Rasanya Luna juga seperti sangat kecanduan!


"Ada apa ini? Aku merasa tiba-tiba sangat sedih?" Batinnya.


Semalam mereka melakukannya hingga menjelang subuh. Luna yang biasanya selalu meminta menyudahi dengan cepat malam tadi dia lah yang memintanya terus melanjutkan. Tapi yang membuat aneh ditengah pergumulan panas keduanya, Luna sempat menangis entah kenapa dia harus menangis. Sampai Adiraira menghentikannya.


"Sayang, kenapa kamu menangis? Masih sakit ya... Aku keluarin ya" Bujuk Adira seraya akan melepaskan diri dari pusat tubuh Luna.


"Jangaaaaan!!"


"Aku gapapa yang... aku masih mau...." Walau memalukana merengek meminta meneruskan permainan tapi Luna tidak ingin menyudahinya.


Tubuh Adira sungguh membuatnya candu luar biasa. Miliknya yang besar dan cukup panjang dia rasa membuatnya terus merasa puas berapa kali pun prianya menjejal batas nol keduanya. Terlebih kulit prianya putih bersih dan mulus seperti seorang wanita saja.


"Pemandangan yang sungguh indah. Pria perkasaku tertidur dengan anggunnya hanya berbalutkan selimut tanpa satu helai benang dibadannya. Sungguh sangat menggoda." Ucap Luna seraya mendatanginya.

__ADS_1


"Sayaaang... Bangun udah siang... Aku udah siapin makanan kesukaanmu loh..." Luna mengecup tengkuk lehernya.


Ada pergerakan dari tubuh prianya Walaupun seorang pria tapi dia terlalu sensitif dengan sentuhan. Adira merentangkan kedua tangannya. kemudian menarik tubuh Luna dalam pelukannya.


"Pagi rubahku sayaaang... Gimana serviceku semalam... Memuaskan tidak? Aku sudah bisa meminta bayarannya?" Godanya di telinga Luna.


"Aaaaaahh... Pagi-pagi dah mesum gitu... Dasar beruang liar.." Lu a memukul dada bidang kekasihnya.


Adira terkekeh. "Aku baru tau kamu juga sangat kuat semalam biasanya kalo ga tidur duluan ya pingsan!" Ujarnya sambil mengecup pipi Luna mesra.


"Mandi gih, Mas lengket dan bau..." Goda Luna lagi.


"Harus pergi hari ini ya?" Dia merangkul Luna kembali dari belakang.


"I-iyaa sayang... Mas udah janji kan ijinin aku pergi? Sandra udah otw ke pelabuhan."


Adira menghembuskan nafas kasar, kemudian beranjak pergi ke kamar mandi. Luna tersenyum kemudian merapihkan kamar mereka yang super duper berantakan seperti kapal titanic yang karam. Setelah sarapan yang kilat. Adira mengantar Luna ke pelabuhan yang menghabiskan waktu 10 menit dari PA. Di parkiran Adira mencumbu Luna lagi, Luna sendiri tidak menolaknya.


"Sayang..."


"Ga boleh macem-macem ya!!"


"Kartu atmku kamu bawakan?"


"Kamu pake aja buat beli keperluan kamu ya. Profit jualan kamu disimpen aja buat modal yang lainnya." Ucap Adira mengingatkan.


Luna terpaku dengan ucapan serius kekasihnya. Luba kembali memeluknya membisikan sesuatu di telinganya.


"Makasi sayang..."


I love you to the moon and back Adira Renald!!"


"Love you too my wife..."


Bereka bertautan mesra bertukar saliva sebelum keduanya berpisah.


Luna menemukan Sandra tengah menunggu didepan gerbang imigrasi kemudian dia melambai.


"Jagain Luna ya San... Jangan sampai banyak mata lelaki lain meliriknya." Pesan Adira pada Sandra.


"Lu bayar gue berapa nyuruh jagain binik lo yang pecicilan ini." Jawab Sandra kesal.


"Sandraaaaa...." Luna memukul tubuhnya dengan slim bag miliknya.


"Ayok lima menit lagi loh udah dipanggilin dari tadi!" Sewot Sandra kemudian.


"Kamu duluan aku pamit dulu bentaran." Jawab Luna yang langsung menghambur dipelukan Adira.


Dia sudah tidak perduli dengan tatapan orang-orang disekitar. Luna mencium pipi Adira dan mencium punggung tangannya.


"Aku berangkat dulu ya sayaang..." Lirih Luna menatap wajahnya.


"Kenapa perasaanku ga enak yang..." Bisik kekasihnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Mas tenang aja ya... Aku besok udah pulang lagi.. Udah ya tuh dah dipanggilin suruh cepet masuk..." Luna melepaskan genggaman tangannya seraya melambai dengan penuh senyuman.


"I love you..." Ucap Luna tanpa suara ke arah kekasihnya.


Dia hanya terdiam melihat Luna masuk dalam barisan pemeriksaan.


* * * * *


"Dia akan baik-baik saja. Saat ini dia disampingku juga malah aku ga fokus kerja. Aku takut kejadian itu terulang lagi.. Aku takut menyakitinya!" Gumam Dira seraya kemudian berbalik meninggalkan pelabuhan.


Setelah mobil melaju meninggalkan area parkir ponsel Adira berbunyi.


"Iya kak." Jawab Adira.


"Dira, Bagas telah mempersiapkan tiket kepulanganmu hari ini. Berkemas lah. Ada hal penting yang harus kamu lakukan disini." Ujar Arnetha disebrang sana.


Deg!


Perasaan tidak enak Adira sedari tadi apakah ini? Kepulangannya yang tiba-tiba disaat Luna baru saja bertolak dari pelabuhan.


"Kenapa mendadak aku harus pulang? Ada masalah apa?" Lirih Adira bergetar.


"Pa-pa..."


"Papa masuk rumah sakit Dira..." Lirih Arnetha.


Ckiiiiiit...


Adira menghentikan mobilnya mendadak. Beruntung arus lalu lintas sedang sepi. Dia terdiam beberapa saat. Menelan salivanya sejurus kemudian ada perasaan sakit menyelusup dalam dada.


"Baik kak... Aku akan segera kembali... Kakak tenangkan mama..."


Dia segera menutup sambungan telpon. Melajukan kembali mobilnya dengan kecepatan diatas seratus. Kini dia tengah berada di pelataran parkir PA. Hanya butuh 5 menit untuk sampai. Kepalanya menunduk, tangannya menggenggam erat kemudi. Kemudian tak terasa buliran air matanya mengalir begitu saja.


"Maafin Dira pah... Aku begitu tidak berguna..."


Segera dia menghapus air matanya. Ini bukan saatnya larut dalam kesedihan. Sebenarnya dia ingin menanyakan lebih lanjut perihal papanya yang tiba-tiba masuk rumah sakit namun dia lebih memilih bertanya saat telah disana. Adira bangkit dan membuka pintu mobil, dan telah disambut oleh Bagas.


"Semua berkas dan dokumen ada disini tuan." Ujar Bagas dengan menyerahkan amplop coklat.


"Terima kasih, oh iya tolong pasang frame foto di tengah rumah sebelum kita pergi." Titah Adira memberikan kunci mobilnya sebelum dia beranjak memasuki mansion.


"Baik tuan."


Adira mengemas pakaian dan barang lainnya. Beruntung jadwal take off setelah makan siang, maka dia bisa menghabiskan masakan yang tengah Luna siapkan.


"Apa yang harus aku katakan padamu Luna..." Gumamnya menatap kosong kedepan.


"Maaf tuan, apa frame ini dipajang di area dinding ini?"


Pertanyaan Bagas membuyarkan lamunan Adira. Kemudian dia hanya menjawab dengan anggukan.


"Apa kamu tau sesuatu tentang kejadian papa?" Selidik Adira.


"Maaf tuan saya hanya memiliki sedikit informasi dari kediaman besar. Hari ini saham kita anjlok hingga minus dua persen. Terendah selama satu dekade." Ujar Bagas hati-hati.


"Apa ini ulahku?"


"Belum tentu tuan. Sepertinya dari yang sering saya pantau, bisa jadi ini ulah seseorang yang sengaja membuat kita panik saat ini. Namun motifnya apa saya kurang tahu. Hanya saja bertepatan dengan pergantian CEO." Terang Bagas mencoba menenangkan tuannya.

__ADS_1


"Tuan tidak perlu berkecil hati. Saya yakin semua masih bisa dikendalikan. Tuan besar juga sepertinya hanya kelelahan jadi pagi tadi dia dilarikan kerumah sakit karena lemas. Menurut informasi yang saya dengar seperti itu." Imbuhnya kemudian.


Adira hanya menanggapi dengan senyuman. Untuk berpikir apa motif dari orang yang sengaja membuat RG pontang panting saat ini dia tidak bisa pecahkan.


"Oh iya Bagas, duplikat akses masuk mansion PA. Taruh satu dirumah Luna aku akan menyuruhnya tinggal disini. Aku bisa memantau lewat CCTV."


"Baik tuan."


Kemudian Bagas segera berlalu dari hadapan tuannya. Adira menatap haru dengan frame mereka.


"Luna, aku sudah sangat merindukanmu. Aku membutuhkanmu sekarang. Dengan mendekapmu semua kegelisahanku akan sirna. Namun sekarang kamu sedang tidak ada...."


"Baik-baik dirumah ya sayaang.. Aku segera kembali, dan saat itu tiba aku akan memberitahukanmu perihal statusku... Maafkan aku..."


Disaat yang sama Luna menatap kosong mengarah ke jendela.


"Lu kenapa? Ko bengong gitu..." Tanya Sandra.


"Entahlah, aku tidak enak perasaan.... Semoga bukan hal yang buruk. Tapi aku memang sedang mabuk perjalanan...huhuhu" Ujar Luna kemudian dia menutup mulutnya dan meminum air mineral yang dia siapkan dari rumah.


"Malu-maluin banget sih lu!!" Dengus Sandra.


"Butuh kresek ga?" Goda Sandra cengengesan.


"Bacod!" Rutuk Luna.


Sejurus kemudian dia kembali memikirkan kejadian sebelum dia berangkat ke pelabuhan.


"Sayaaang... Kenapa pake baju itu? Gantiii!!!" Titah Adira geram.


"Ini kan cuma terusan aja sih yang.." Luna ngeles.


Padahal Luna hanya memakai terusan biasa diatas lutut. Namun bagi Adira dia terlalu memikat jika saja dia berpapasan dengan lelaki lain bisa jadi lelaki itu akan terpesona olehnya.


"Pake kaos dan celana panjang aja!" Adira masih ngotot.


"Iyaa.. Iya..."


Akhirnya Luna mengganti pakaiannya lagi. Sekarang dia memakai kaos kebesaran kemudian lengannya sedikit dia gulung dengan celana kulot 3/4 kemudian dia memakai sneaker satu-satunya.


"Kenapa pake sepatu itu lagi? Nanti kaki kamu lecet lagi yang! Cepet ganti.." Oceh Dira


"Aku pake kaos kaki yang... Tadaaaa... Dijamin ga lecet." Rayu Luna.


"Tapi nanti kalo ga nyaman kamu ganti aja."


"Iya..." Lirih Luna.


"Aku sudah isikan paket data internetmu ya yang..." Ujar Adira melunak.


"Benarkah? Terima kasih sayang..." Luna mengecup pipi Adira.


"Setelah sampe sana langsung telpon!" Titah Adira.


"Oke..."


"Kalo cape berenti duduk dulu!"


"Iya..."


"Kalo laper makaan!"


"Oke..."


"Ga boleh jelalatan!"


"Iya..."


"Ga boleh angkat banyak beban... Beli lagi aja koper besar..."


"Iya paaak iyaa... Anda bawel sekali..."


Luna menekan kedua pipi Adira dengan kedua tangannya kemudian menatapnya lekat dan menciumnya. Adira merangkul pinggangnya.


"Sayaang aku cuma sehari disana..." Bisik Luna di telinga Adira.


Adira hanya memeluknya erat sekali.


"Maaas.... Aku ga nafas kalo gini!!" Rutuk Luna berusaha melepaskan diri.


"Kamu pake baju ini aja aku masih tergoda yang...." Lirihnya.


Luna tersenyum mengingatnya kemudian dia terlelap. Solusi agar dia tidak terlalu cemas dan dia juga kelelahan setelah semalaman mengisi daya kasihnya.


"Luna bangun kita dah sampe..." Seru Sandra menggoyang bahu Luna.


"Hmmm...." Luna membuka matanya perlahan merentangkan satu tangannya kedepan dan menutup mulutnya saat menguap.


"Yok..."


Luna dan Sandra bergegas keluar ferry, kemudian bergegas memasuki pos imigrasi.


"Aku telpon Adira dulu ya..." Luna segera menjauh sedikit dari posisi Sandra.


"Halo sayang..."


"Aku dah sampe ya..." Ujar Luna sumringah.


"Kamu mabuk ga? " Jawab Adira


"Ya gitu..." Luna terkekeh.


"Ya udah sayang ati-ati ya. Beli makan dulu ya biar mabuknya ilang."


"Iya mas... Mas baik-baik dirumah ya... Love you..."


"Love you too Luna... Nanti malam aku telpon lagi ya sayang..."


"Iya mas..." Luna menutup sambungan telpon.


"Kenapa aku sangat merindukannya. Nada suara mas Dira agak sedikit aneh. Ah sudahlah... Mungkin cuma perasaanku saja."


Luna segera menghampiri Sandra, mereka kini menuju keluar Bay Front.

__ADS_1


* * * * * * * * * *


__ADS_2