Dua Cinta Satu Hati

Dua Cinta Satu Hati
Bab 16 : Benarkah ini Kamu?


__ADS_3

Empat puluh menit sudah berlalu akhirnya mereka telah berada di Negara S. Untuk sampai ke tempat tujuan mereka dianjurkan menggunakan taksi agar memperlancar perjalanan. Dengan menggunakan anggaran kantor masing-masing maka harusnya mereka berada dengan satu teamnya masing-masing. Namun lagi-lagi Adira menyela dan pada akhirnya Luna satu taksi dengannya, dan Sandra kembali bersama Daniel.


"Aku harap Sandra tidak akan murka setelah hari ini." Keluh Luna.


“Mas ko usil banget sih!” Luna menepuk bahu mas Dira.


“Dah kesel banget pasti dia.” Rengeknya manja.


“Jadi kamu lebih memilih dengan Sandra bukan denganku?” Luna melihat tatapan dingin Adira dengan mengangkat dagunya, Luna menjadi salah tingkah.


“Siapa yang ga mau sama mas.” Lirihnya ketakutan.


Adira tersenyum dan kembali menggenggam erat tangan kekasihnya dan mengecupnya.


“Apa mungkin saat perjalanan waktu aku kembali lagi, mas Dira kepalanya kepentok benda keras? Bisa sebeda ini! Padahal dimasa yang sama?” Gumam Luna merasa heran dengan perubahan sikap manis Adira selama dia di hidupkan kembali.


Sesampainya ditempat tujuan, Luna belum melihat Sandra. Luna dan Sandra harus mengikuti meeting dengan supplier terlebih dahulu sebelum mengikuti pelatihan.


“Kami ada meeting tambahan di lantai 2. Mas langsung ke tempat training di lantai 5 ya?” Tanya Luna.


“Oh, kamu masih ada jadwal meeting segala?” Jawab Adira dengan kerutan heran.


“Heem, salah satu supplier sedang mengalami problem delivery karena kantornya di negara ini jadi sekalian deh. Biasanya mereka ketempat kita sekarang gantian. Lumayan kan?” Luna melebarkan senyuman.


Selang beberapa saat telah terlihat Sandra dan Daniel berjalan kearah mereka.


“Gila kau ya, gimana kalau aku sebarin kalian pake perjalanan bisnis ini dengan pacaran!” Sungut Sandra menggebu.


Kulihat Daniel mengangkat kedua bahunya.


“Sebarin aja, lebih banyak orang yang tau lebih bagus.” Adira menjawab datar.


“Jagain Luna pas meeting ya jangan sampe laki-laki lain terpesona dengannya! Bye...” Sambung Adira kemudian menuju lift beserta Daniel yang tengah mengekor di belakangnya.


Terpangpang jelas mulut Sandra menganga atas jawaban dingin Adira barusan.


“Kau apakan dia Luna?” Tanya Sandra penasaran dengan sikap Adira saat ini.


Luna mengangkat kedua bahunya sambil tersenyum dan bergegas menyelusuri lorong tempat mereka akan melaksanakan meeting dengan klien. Karena terburu-buru Luna menabrak seseorang yang berada di lorong yang sama.


"Oh sorry.." Luna menundukan badannya meminta maaf.


"It's okay.." Jawab lelaki paruh baya yang Luna taksir adalah seorang tionghoa.


* * * * *


Karena perbedaan waktu dengan negara tetangga. Disini satu jam lebih cepat di banding di kota B. Sekarang menunjukan pukul 5 sore waktu setempat namun di kota B baru pukul 4 sore.


"Gimana pelatihannya non? Sepertinya kamu frustasi.." Ejek Sandra mendekat ke kursi yang Luna duduki.


“Ya lumayan bikin puyeng juga sih buat gue! Sepanjang jalan kenangan pake bahasa asing mabok juga!” Jawab Luna ngenes.


"Ah elu malu-maluin." Timpal Sandra.


"Kalau ga salah pelatihan ini ada season selanjutnya deh." Tanya Luna penasaran.


"Ya kali jalan terus di negeri orang siapa yang ga seneng?"

__ADS_1


“Ehm mungkin.. Tau dari mane lo? berarti ada kemungkinan kita kesini lagi ya?” Sandra jadi penasaran.


"Nih!” Luna menunjukan module yang barusan mereka dapatkan.


Tak lama kemudian Adira dan Daniel menghampiri meja para wanita. Sebenarnya yang sedang Luna pikirkan sekarang adalah Adira, dia selalu menatapnya dan tersenyum selama pelatihan. Mejanya berada persis disamping Luna.


"Meleleh aku dibuatnya hari ini!"


“Kuy masih ada waktu loh ini masih jam empat di kota B... Kita bisa pakai jalan-jalan dan lihat sunset gitu. Gimana?” Seru Daniel tiba-tiba memberi ide yang cukup brilliant!


“Yang ada mata kita makin ternoda dengan pasangan satu ini!” Seru Sandra tidak terima.


"Ah elu tuh ga asik!" Rutuk Daniel.


Tiba-tiba perut Luna perih "Sepertinya bayiku kelelahan diajak berfikir terus sama mamanya. Dia protes minta diberi asupan...Hihi!"


Luna membayangkan dulu sewaktu Nena meminta makan dia akan menghentak-hentakan sendok di atas meja.


“Makan... Makan... Makan!” Tanpa tersadar Luna tersenyum mengingat moment itu dan mengelus perutnya perlahan.


“Ko kamu senyum-senyum sendiri?” Tanya Adira membuyarkan lamunannya.


“Aku lapar, gimana kalau kita cari makan dulu yuk?” Luna mengajak semuanya untuk pergi mencari makan terlebih dahulu dan semua mengangguk bergegas meninggalkan tempat ini segera.


* * * * *


Saat pulang Luna memilih menggunakan kereta cepat monorail untuk sampai ditujuan yaitu Royal Junction. Pusat perbelanjaan dan kuliner semuanya ada disini. Luna sudah tidak sabar mungkin waktunya cukup juga buat menjelajahi semua tempat disana.


“Mau makan apa?” tanya Adira.


“Lagi kepengen Hotpot yuk?” Pintanya manja.


“Uhuk..”


“Luna, kamu ni kayak ga dikasih makan aja tadi siang! Pelan-pelan aja kelees." Sungut Sandra mengingatkan.


Adira bergegas mengambilkan tissue dan menyodorkan air mineral. Saking buru-burunya juga Luna tak sengaja menumpahkan air.


Adira menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. “Tingkahmu kayak gini kayak anak kecil aja.” Sambil mengusapkan tissue di area mulut Adira merapihkan kekacauan yang Luna buat.


“Kenapa ini sangat menyiksa kami kaum jomblo ya tuhan! Mataku ternodaaa..” Pekik Daniel membuat Luna terkekeh.


Tapi kemudian Luna merasa sangat mual, bergegas ijin ke kamar kecil. Tak menghiraukan lagi temannya Luna bergegas keluar mencari toilet di dalam area resto.


“Akhir-akhir ini dia sering banget mengeluh asam lambungnya kambuh terus ya. Tiap abis makan siang di kantor juga dia muntah.” Seru Sandra tanpa disadari membuat dua pria yang bersamanya saling tatap.


“Apa? Luna di kantor juga muntah-muntah?” Tanya Adira khawatir.


“Heem. Gue tanya udah berobat belum dia bilang udah beli obat di apotik. Tapi ini udah hampir seminggu dia gitu.” Sandra tidak menyadari yang dia ucapkan membuat kedua pria bersamanya berasumsi yang bukan-bukan.


“Tiap disuruh ke klinik juga suka bilang entar juga sembuh.” Terang Sandra polos.


Penjelasan Sandra membuat Adira bergegas beranjak dan menghampiri Luna ke toilet.


“San, lu ngerasa curiga ga sih?” Tanya Daniel penasaran.


“Hush! Bukan ranah lo buat berspekulasi! Gue tau betul Luna seperti apa!” Hardik Sandra.

__ADS_1


"Astaga sepertinya gue udah ngomong keceplosan..." Batin Sandra.


Walau sebenarnya Sandra sudah sangat curiga, dengan perubahan sikap Luna yang selalu menyendiri dan hilang fokus. Bahkan terakhir kali dia menangis di café, hal apa yang membuat Luna menangis sepilu itu.


Belum lagi Sandra menyadari Luna sekarang menganti gaya berpakaiannya lebih sering memakai pakaian yang longgar. Sesekali Sandra melihat perut buncitnya yang tak biasa bagi seorang Luna yang selalu menjaga penampilannya.


Tapi, demi sahabat yang sudah dia anggap saudara sendiri tidak mungkin membuat orang berpikir jelek tentang Luna dia lebih memilih diam. Namun kali ini dia terlalu banyak keceplosan.


“Mas? Ke toilet juga?” Tanya Luna terkejut saat tiba-tiba Adira di depan toilet wanita.


“L-una..”


Raut wajah Adira berubah sendu. Dia memegang tangan Luna yang membuat wanita itu salah tingkah.


"Apa mas Dira mulai curiga?" Segera Luna mengalihkan perhatiannya.


“Ayok mas kasian Sandra ama Daniel ditinggal berdua.” Bujuk Luna seraya mengapit lengannya.


Terlihat Adira menatap perut Luna lekat sulit di artikan apa yang dia pikirkan sekarang.


“Muncul juga kalian, ayok lah dah mo hampir waktu sunset loh! Dari sini ke Central Island butuh waktu dua puluh menitan. Belum lagi nyari lokasi yang pas disana. Penuh mesti!" Seru Daniel sudah tak sabar.


"Kau suruh kami mengikuti kemauanmu ini free ga nih?" Rutuk Sandra.


"Aih kesitu doang emang pake uang tiket masuk segala? Bukan ke studio besarnya juga!" Pembelaan Daniel.


"Lucu juga mereka kalau jadi pasangan apa berantem terus-terusan?" Luna terkekeh dengan tingkah kedua temannya.


Sepanjang perjalanan dari resto Adira tidak pernah sedetikpun melepaskan genggamannya malah Luna merasa semakin erat pegangannya. Rasanya senang bercampur khawatir, khawatir kalau dia mulai mencurigai kehamilanku.


"Dira! Luna tuh udah gede bisa jalan sendiri tidak perlu kamu pegang gitu ga akan ilang juga!" Sindir Sandra merasa panas.


Adira berbalik menatap Sandra dibelakangnya.


"Kamu boleh tuh pegangin tangan Daniel, kayaknya dia bentar lagi jadi anak ilang." Jawab Adira datar.


"HAHAHAAHA"


Luna terbahak mendengar jawaban yang dingin dan menusuk.


"ADIRA RENALD!" Hampir saja Sandra melempar botol mineralnya ke arah Adira, tapi diurungkannya.


"Ogah gua sama Daniel! Udah dia yang ngajak tapi dia yang lambat!" Ketus Sandra.


"Sama elu? Gue juga ogah!" Daniel menimpali tak mau kalah.


"Biasanya sekarang saling benci esok lusa saling suka." Adira kembali berucap mengejek menatap keduanya bergantian.


Ucapan Adira barusan sontak membuat mereka menganga saling pandang dan memekik tanda tak suka. Sungguh pemandangan yang jarang Luna lihat selama ini. Seolah mereka benar-benar menikmati waktu sekarang ini. Apalagi perlakuan Adira pada Luna membuat Luna benar-benar jatuh hati kepadanya lagi.


* * * * *


Tiba kami di Central Island, tempatnya sungguh indah, hamparan laut luas disampingnya bangunan pencakar langit yang menjadi icon dari negara ini, bahkan bertengger Cruise Ship yang megah membuat Luna takjub saat pertama kali melihatnya.


Luna berdiri dan berhenti sejenak menghirup udara dan membuangnya perlahan. Tiba-tiba Luna merasakan rangkulan seseorang dari belakang.


"M-as, apa yang mas lakuin didepan masih ada Sandra dan Daniel loh!" Pekik Luna terkejut.

__ADS_1


"Ssssttt... Mereka di depan kita makanya jangan berisik." Sambil mengecup tengkuk leher kekasihnya membuat tubuh Luna meremang dengan perlakuan Adira yang sudah out of the box!


* * * * * * * * * *


__ADS_2