Dua Cinta Satu Hati

Dua Cinta Satu Hati
Bab 20 : Pedih!


__ADS_3

"Sayaang...."


Adira membuyarkan lamunan Luna, Luna menatapnya sendu.


"Mengapa mas seolah menanggapi ini masalah enteng?"


Adira menghentikan mobilnya dan menepi sebelum benar-benar kelaur dari kawasan Harbour.


"Maksud kamu apa yang?" Tanya Adira berbalik badan menatap Luna serius.


"Lalu kenapa kalau aku hamil mas? Toh kamu juga tidak bisa menikahiku kan?! Kamu bilang sampai saat ini aku


belum mendapatkan restu orang tuamu!"


"Apa kamu mau bilang kalau aku sudah hamil? Apa kamu berani mengambil resiko mempermalukan keluarga


besarmu?"


Luna begitu saja refleks mengatakan semua kekesalannya pada pria yang telah membuat hidupnya berantakan saat ini.


"Aku akan mengambil resiko itu, yang penting kamu dan bayi kita sehat." Jawab Adira lirih mengusap lembut anak rambut Luna serta menarik kepalanya mengecup kening kekasihnya lembut.


Luna menepis semuanya dia kembali pada posisinya.


"Lalu masa depanku gimana mas?! Setelah ini aku akan memutuskan hubungan dengan dunia luar, aku harus menutupi aib ini seumur hidupku! Apa kamu berpikir keluargaku akan menerimaku?!"


"Belum lagi, dalam agama kita menikahi wanita yang tengah hamil tidak diperbolehkan!"


"Belum sampai disitu, yang aku tau, anak kita tidak berhak atas ahli waris ayahnya, dia hanya memiliki nasab dengan ibunya, kelak jika anak kita perempuan ayahnya tidak bisa menjadi wali nikahnya!"


"Kelak anak kita akan memiliki dampak psikologis yang besar mas karna kelakuan orang tuanya!"


"Apa kamu setega itu mas!!"


Luna meluapkan semua amarahnya dengan berkata lantang di depan Adira. Ini pertama kalinya mereka berdiskusi berat. Adira membalikan wajahnya menatap lurus kedepan mengepalkan tangannya pada kemudinya dia sama frustasinya dengan Luna. Dia juga tidak menginginkan semua terjadi. Baginya yang terpenting adalah keadaan Luna dan bayinya aman. Kelanjutannya seperti apa dia akan mengusahakan yang terbaik untuk keluarga kecilnya kelak.


"Aku ingin menggugurkannya mas!" Luna memancingnya.


"APA?"Adira tersentak dengan perkataan Luna yang lirih namun masih jelas terdengar di indra pendengarannya.


"Aku menggugurkannya mas." Kali ini Luna tidak punya pilihan. Biarlah dia akan kehilangan Adira, dia sudah tidak peduli lagi.


Luna terisak menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Tubuhnya bergetar hebat dadanya sangat sesak, dia kembali ingat bagaimana darah itu mengalir dari miliknya hingga pangkal pahanya.


"NALUNA! APA KAMU BERCANDA?"


"AKU AKAN MEMBENCIMU SEUMUR HIDUPKU JIKA BERANI MELAKUKAN HAL KEJI ITU!"


Untuk kedua kalinya Luna kembali mendengar makian Adira pada dirinya. Luna tertawa mengejek dalam hatinya. Namun kemudian Adira merubah sikapnya, dia mendekati Luna mengusap kembali kepalanya lembut.


"Sayang, maafkan aku telah berkata kasar. Aku akan bertanggung jawab. Aku akan menikahimu segera bahkan saat ini juga!"


"Ini anak kita... Kita akan membesarkannya bersama." Adira melukiskan senyum getir di wajahnya, Luna menatapnya sayu. Pria itu mengusap perut Luna yang sejujurnya sudah tidak memiliki nyawa lagi disana.

__ADS_1


Tubuh Luna kembali bergetar hebat membuat Adira semakin khawatir.


"Sayaang..." Adira menarik tubuh Luna dalam dekapannya.


"Aku sudah menggugurkannya mas..."


"Mas tidak perlu bertanggung jawab atas apa yang terjadi padaku saat ini."


Dengan lugas dan penuh resiko Luna mengatakan yang sejujurnya pada Adira. Dia tahu Adira sanagt menginginkan bayinya, dia akan membenci Luna. Luna memakluminya, dia juga bukan ibu yang baik justru dia seperti iblis dengan sengaja menggugurkan benih hasil perzinahan mereka.


"BAJINGAN KAMU LUNA! KELUAR DARI MOBILKU!!"


"JANGAN LAGI MENAMPAKAN WAJAHMU DIHADAPANKU! KAMU BENAR-BENAR TIDAK PUNYA HATI NALUNA MAHARANI!!!"


Luna tidak menyangka respon Adira di luar ekspektasinya. Tidak hanya memaki berteriak kencang di hadapan Luna. Laki-laki itu kini keluar dan membuka pintu menarik paksalengan Luna hingga tersungkur di trotoar. Kemudian membantingnya dengan keras. Dia meninggalkan Luna sendirian memacu kendaraannya dengan sangat kencang.


"HAHAHA ADIRA RENALD BAJINGAN!"


"AKU SANGAT MEMBENCIMU!!"


"Aku tidak menyangka dia akan setega ini!"


Luna kembali menangis pilu, dengan mengubah posisinya dia kini mencoba berdiri dengan tertatih dalam kondisi masih mengeluarkan darah karena proses aborsi masih berlangsung. Sama halnya seperti saat dia mendapatkan menstruasinya.


Luna bangkit dia mengusap air matanya.


"Jangan menangisi pria lucknut itu LUNA!!"


"Apa kamu butuh bantuan nona?" Seorang pria dengan perawakan campuran menurunkan kaca jendelanya


dan menawari Luna bantuan.


"Oh, tidak terima kasih, saya sedang menunggu taksi." Jawab Luna datar kemudian berpaling.


"Hmmm aku rasa disini kamu akan kesulitan mendapatkannya mengingat ini adalah kawasan pribadi tidak sembarang angkutan umum melintas disini." Setengah berteriak dia kembali bernegosiasi dengan Luna.


"Bagaimana jika aku menawarimu tumpangan? Aku merasa kamu sangat membutuhkannya." Ajaknya kembali dengan senyuman manisnya.


Luna terdiam sejenak, dia masih belum menghubungi pak Amir, belum lagi dia tidak tahu posisi pak Amir apakah berada di sekitar atau jauh. Luna melirik mencuri pandang pada pria yang tidak di kenalnya.


"Apa iya masih ada orang yang peduli? Apalagi di kota besar seperti ini. Bukankah mereka harusnya lebih individualis ga sih? Apalagi dari tampang dan kendaraannya tidak sederhana iya kali orang kaya mana yang


terpesona sama zombie macam aku? Kalau tidak ada udang dibalik bakwan apa mereka sedang gabut?"


Kemudian Luna memutuskan untuk menerima kebaikan pria itu. Dia juga tidak sanggup menunggu pak Amir di jalan sepi ini.


"Hmmm baiklah, maaf saya menumpang sampai jalan besar di depan sana saja, sebelah resto cepat saji."


"Ok, masuklah." Pria itu tersenyum tampan dan membukakan pintu dari dalam Luna sedikit menelan salivanya.


Setelah memastikan Luna duduk dengan nyaman pria itu melajukan mobilnya perlahan. Namun netra Luna menangkap sebuah mobil Audi hitam yang masih dia ingat.


"Mas Dira?" Netranya mengikuti kemana laju mobil itu.

__ADS_1


Namun kemudian dia kembali menatap lurus kedepan mengusap sudut matanya.


"Apa kamu menyesal dan mencoba menjemputku kembali?"


"Haha... Kau terlambat mas... Kita sudah usai!!"


Luna mengusap kasar wajahnya, dia melupakan pria di sampingnya yang tengah memperhatikannya penuh tanda tanya.


"Maaf apa kamu sedang ada masalah?" Tanya pria asing itu dengan menyodorkan beberapa helai tissue.


"Terima kasih."


Hanya kata itu yang mampu Luna ucapkan, dia tidak perlu menceritakan apa yang terjadi padanya kepada orang asing seperti pria itu. Luna menatap ke luar jendela.


"Di depan sana aku turun ya tuan." Akhirnya Luna bisa lega setelah melihat persimpangan resto dia akan segera turun dari mobil yang mencurigakan baginya.


"Jangan panggil aku tuan, panggil saja Mahessa. Kalau boleh tau siapa namamu?" Dia menjawab dengan


kekehan.


"Oh iya Mahessa.."


"Sepertinya kamu lebih tua dariku? Apa tidak sopan hanya memanggil nama?" Luna malah mengajak berdiskusi.


"Namaku Luna.." Tukasnya kemudian.


"Tidak masalah kamu menyebut namaku langsung biar terasa akrab saja." Mahessa kembali melemparkan senyuman tampannya.


Luna menanggapi dengan senyuman ramahnya. Setelah mobil berhenti sempurna Luna segera pamit tidak lupa mengucapkan terima kasih atas kebaikan pria itu memberinya tumpangan. Pria yang di ketahui bernama Mahessa membalas dengan anggukan dan senyuman juga. Saat akan menanyakan lebih lanjut Luna sudah bergegas membuka pintu dan berlari kecil menuju tempat teduh di depan jajaran ruko.


Luna bergegas merogoh tasnya dan mencoba menghubungi pak Amir yang sudah dia anggap seperti pamannya. bagi perantauan yang tidak memiliki saudara di tempat ini mendapat orang lain yang sangat baik padanya sudah bisa di anggap memiliki saudara.


Saat membuka kunci ponsel Luna menatap wallpaper miliknya. Terpampang jelas potret kebahagiaannya bersama prianya saat berada di Negara S tepatnya di Pulau Central. Luna kembali terisak dengan menutup wajahnya, dia juga ternyata mendapat puluhan notifikasi panggilan tidak terjawab dari Adira. Beserta beberapa pesan singkat darinya. Luna mengabaikannya dia masih merasa sakit hatinya.


Luna merasa sangat pusing, perut bagian bawahnya kini mendadak kram sakit sekali!


Dia mulai terduduk berencana mengistirahatkan dirinya namun Luna terkejut saat melihan area pahanya telah mengalir darah segar.


"Bagaimana bisa? Ak masih mengenakan pembalutku!"


"Aaargh!" Luna memegang kepalanya yang dirasa berputar-putar.


Luna sempat berpikir mungkin ini akhir hidupnya, saat akan terpejam dan terjatuh sebuah lengan telah menahan badannya agar tidak tersungkur dan terjatuh.


"Mahessa?" Luna mencoba untuk terus terjaga.


"Aku pikir kamu akan memesan taksi, ternyata aku malah melihat pemandangan menyedihkan ini."


Pria itu berujar di depan wajah Luna, kemudian Luna mulai kembali kehilangan kesadarannya. Mahessa membulatkan matanya terlebih dia melihat bahwa area kaki Luna telah mengalir darah segar.


"Kamu terluka!" Tanpa pikir panjang Mahessa membopong Luna kebali menuju mobilnya.


* * * * * * * * * *

__ADS_1


__ADS_2