Dua Cinta Satu Hati

Dua Cinta Satu Hati
Bab 19 : Babak Awal


__ADS_3

"Halo mas?" Sapa Luna lemah.


"Kamu dimana aku udah ngetuk pintu kamar kamu dari tadi." Dengus Adira kesal.


"Aku lagi di luar mas..."


"Ko ga bilang!"


"Dimana?"


"Harbour Bay..."


"Lagi ngapain? Aku kesana sekarang!!" Pekiknya tergesa namun segera terputus.


Luna tahu prianya akan datang menyusulnya. Luna akhirnya bisa tersenyum puas tanpa menunggu lama dua puluh menit kemudian prianya sudah menemukan posisinya. Dengan senyuman manisnya dia menghampiri Luna.


"Nena, ini lah pria yang di depan pandangan ibu yang sudah membuat ibu berbuat senekat ini."


"Dia ayahmu..."


Luna segera menghapus bulir air matanya, dan tersenyum pahit kearah prianya yang tidak tahu apa-apa.


Baru Adira duduk di hadapan Luna dia kemudian terkejut dengan tampilan Luna "S-ayaang, kenapa kamu sepucat ini? Kamu sakit yang?" Dia langsung bertanya mengkhawatirkan kondisi kekasihnya.


Luna menggeleng cepat tanpa sepatah kata kemudian dia menunduk berpikir cepat "Sekarang apa? Dia sudah didepanku aku harus bilang apa? Bilang aku menggugurkan kandungan?" Luna berpikir keras.


"S-ayang astaga! kamu dingin banget sudah berapa lama kamu disini?!" Bergegas Adira memakaikan jaketnya pada kekasihnya yang bagai patung tidak bergeming sama sekali. Dia ikut berpindah posisi duduk menjadi di samping kekasihnya.


"Semua ini belum ada yang kamu makan?"


"Kamu kenapa sayang, jangan bikin aku takut yang."


Luna bisa melihat jelas raut muka Adira yang sangat kesal bercampur khawatir karena ia masih terdiam.


"Mas mau pesen apa aku panggil waitresnya ya?" Luna mengalihkan pembicaraan yang membuat prianya semakin kesal.


"S-ayang... Jujur sama aku!!" Adira menatap dingin Luna.


"Mas, dimana saat aku sedang butuh kamu sekarang? Kamu hanya datang saat ingin menuntaskan hasratmu saja. Selebihnya kamu selalu menghilang." Luna mengawali kekecewaannya terhadap prianya.


Di dalam benak Luna saat ini kasarnya Adira memang memacarinya mungkin untuk berhubungan badan dan mesum semata. Tidak perlu saling mengenal satu sama lain, mengetahui apa kesukaan masing-masing. Atau bahkan mereka tidak pernah membahas tentang keluarga masing-masing.


Pokoknya yang Luna ingat hanya Mesum dan Mesum saja hubungan keduanya di bangun karena aktifitas ranjang yang hangat!


Adira menatap kekasihnya lekat. "Aku minta maaf sayang, dua hari kemarin orang tua dan kakakku berkunjung kesini. Aku menemani mereka sebentar. Hari ini kebetulan ponselku lowbet..." Tukasnya lirih.


"Kalau begitu aku minta maaf mengganggu waktumu mas..."

__ADS_1


"LUNA!" Pekik Adira di tekan lirih agar tidak mengundang banyak pasang mata memperhatikan mereka.


"Aku ingin bercerita sedikit..." Kini Luna mengambil alih untuk memperpanjang pembicaraan mereka.


"Kemarin aku bermimpi, dalam mimpiku kita menikah. Kita dikaruniai sepasang anak yang lucu dan menggemaskan. Mereka bernama Nena Putri Renald dan Rashaad Putra Renald."


"Lunaa... Maksudmu apa?" Adira tidak sabar dengan menghardik sesuatu yang mengalihkan perbincangan mereka.


Luna tidak peduli dia terus melanjutkan bercerita "Sebenarnya kita hidup bahagia, sampai aku lelah. Aku lelah dengan sikapmu yang sudah tidak mau lagi memberiku kebebasan. Kebebasan memilih, kebebasan waktu sendiri, dan kepedulianmu yang berkurang."


"Seseorang pernah berkata..."


"Ada empat jenis lelaki di dunia ini. Pertama, dia cocok menjadi seorang suami tapi tidak cocok menjadi seorang ayah."


"Kedua, dia cocok menjadi seorang ayah tapi tidak cocok menjadi seorang suami."


"Ketiga yang sedikitnya ada dibelahan dunia ini yaitu tidak cocok keduanya, suami maupun ayah."


"Dan yang terakhir keempat juga sangat jarang terjadi tapi ada! Dia cocok keduanya. Menjadi ayah dan menjadi suami yang baik yang bisa diandalkan."


"Apa yang mau kamu ceritakan Luna!" Adira yang memang memiliki sifat terburu-buru sangat tidak senang dengan apa yang Luna sampaikan. Tapi lagi-lagi Luna tidak peduli.


"Dan kamu mau tau mas? Kamu diposisi mana?"


"Ke empat. Aku cocok keduanya tentunya!"


"Haha, kamu salah mas!"


"Itu kan hanya mimpi!" Sungut Adira tidak terima.


"Bagaimana mungkin, jika aku tidak cocok menjadi suami, bagaimana aku memiliki anak? Jika aku tidak cocok dengan istriku bagaimana mungkin aku mau menidurinya dan memiliki anak dengannya!"


Luna terdiam dengan penuturan kekasih sekaligus mantan suaminya 8 tahun yang sudah dia lewati di masa yang pernah dia lewati dahulu.


"Aku kehabisan kata-kata... Si raja mesum ini memiliki jawabannya!!"


Mereka tiba-tiba mengheningkan cipta dengan penuturan yang masuk akal dari prianya Luna sudah tidak tahu lagi harus menjelaskan apa. Adira tersenyum dan menggenggam tangan kekasihnya.


"Aku suapin ya... Sayang loh makanannya jadi dingin nanti ga enak." Adira memaksa Luna untuk memakannya.


Wanita itu terpaksa menurutinya. Setelah beberapa suapan, Adira menghentikan aktifitasnya menatap Luna serius.


"Sayang, aku ingin kamu jujur. Kamu sebenarnya hamil kan?" Ujarnya menatap perut Luna yang saat ini sudah tidak lagi memiliki nyawa di dalamnya.


Luna terkejut dengan pernyataannya. Dia tidak menyangka dia akan menyadari kehamilannya secepat ini.


"Apa aku harus mengatakannya? Apa yang akan dia lakukan seandainya tahu kalau aku telah aborsi?" Luna terdiam dia bimbang dan tidak konsisten dengan rencana awalnya.

__ADS_1


Namun tiba-tiba Adira mengepal tangannya dan refleks memukul meja.


"Sepertinya dia mengira aku akan menjawab iya!" Luna semakin gelisah.


"Kenapa Luna?! Kenapa kamu berbohong kemarin!" Adira berusaha menahan emosinya.


Luna masih terdiam, seperti yang sudah terjadi sebelumnya kekasihnya akan menikahinya saat dia tahu Luna mengandung anaknya. Kemudian seperti yang sudah dia lalui sebelumnya, Luna akan kehilangan mimpi-mimpinya, Adira akan mengekang hidupnya dan lagipula Adira jauh mencintai buah hatinya dibanding istrinya sendiri yang selalu mendapat pengecualian dan penangguhan.


"Sebaiknya kita tidak bahas disini. Ayo kita pulang!" Tanpa persetujuan Luna Adira menarik tangan kekasihnya keluar resto.


Dia terburu-buru membayar semua pesanan kemudian menarik paksa tangan Luna kembali.


"Mas sakiit..." Luna memekik perlahan agar dia melepaskannya namun dia tidak memperdulikan sama sekali.


Mereka telah berada di pelataran area parkir Sea Resort. Dia menuju sebuah mobil mewah dua pintu jebolan Audi dengan warna hitam pekat mengkilat.


Luna takjub melihatnya, walau sejujurnya ini bukan kali pertama melihat mobil itu. Kakak iparnya juga memiliki mobil sejenis itu dan dia pernah menggunakannya.


"Mobil siapa mas?" Tanya Luna penasaran.


Adira membukakan pintu untuk Luna. Dia menyuruhnya segera masuk dengan raut muka yang penuh kekesalan. Luna sungguh takut dibuatnya mereka sudah berada di dalam mobil kemudian dia menjawab apa yang Luna tanyakan sebelumnya.


"Ini mobil aku di tempat asalku."


"Papa membawakannya kemari. Hari senin ini papa ada jadwal bertemu dokter specialis di negara S, jadi dia bilang sekalian mengantarkan mobil ini." Setelah menjelaskan dia menghidupkan mobilnya melaju keluar kawasan.


Sepenggal ingatannya kembali muncul di benaknya. "Aku tahu mobil ini dia pergunakan saat mengenalkanku pada keluarga besarnya di kota T."


Segaris senyumnya mengembang saat dia ingat bagaimana Adira mencumbunya di dalam mobil.


"Hmmmm mas, sudah nanti orang tua mu lihat."


Luna tengah flash back di masa itu.


"Sebentar lagi kamu jadi istriku, hal seperti ini bukannya wajar?"


Mesumnya Adira selalu tak kenal waktu dan tempat. Di dalam mobilpun dia sering berbuat mesum bahkan di area parkir sekalipun. Namun justru masa itu yang Luna rindukan, setelah memiliki anak dia tidak pernah melakukan hal itu lagi.


"Luna, ayok kita ke klinik periksain kandunganmu dulu sayang!"


Adira kembali bertanya dengan intonasi biasa tak sekesal sebelumnya. Dia menggenggam tangan kekasihnya dan mengecupnya dengan senyumn yang sulit di artikan.


"Dia benar-benar menginginkan anak ini?"


"Mengapa dia tidak berpikir bahwa ini sebuah aib besar?"


"Ah cowo mesum macam dia sepertinya tidak akan pernah mengerti... Otaknya benar-benar telah di kendalikan oleh bagian bawahnya!"

__ADS_1


Luna mengalihkan pandangannya ke luar jendela, dia sungguh kecewa dengan prianya yang lebih mementingkan kandungannya bukan mental Luna yang sudah hancur karena mengecewakan keluarga besarnya.


* * * * * * * * * *


__ADS_2