Dua Cinta Satu Hati

Dua Cinta Satu Hati
Bab 25 : Terbuka


__ADS_3

Sepertinya memang yang sudah di mulai harus segera di akhiri yang sudah terjadi harus Luna hadapi. Dia sudah mempersiapkan mental saat ini dan segera menjawab panggilan dari sahabatnya.


"NALUNA MAHARANI!!" Suara pekikan di seberang sana membuatnya refleks menjauhkan ponsel dari telinga.


Luna terdiam sejenak "Haruskah aku berterus terang dengan Sandra? Sejauh ini aku berdiri sendiri, mas Dira pun


mencampakanku saat tau aku aborsi."


"Heh Luna, dengar ya! Kau boleh menipu Bu Lidya tapi tidak dengan aku! Kau pikir aku percaya dengan semua


alasan cutimu yang mendadak ini!"


"Kalaupun iya benar kamu pulang kampung! Kau tidak memberitahuku sebelumnya! Kau anggap aku ini apa HAH?!"


Rentetan kata yang pedas itu membuat Luna ingin merengek tidak terima namun dia urungkan.


"Aku minta maaf." Hanya itu yang bisa Luna ucapkan.


"Sebenarnya kamu masih di kota B kan?" Selidik Sandra.


"........." Mulut Luna masih terkunci rapat.


"Kamu di kosan? Sepulang kerja nanti aku akan menemuimu.. Aku yakin kamu sedang tidak baik-baik saja."


Mendengar ucapan Tidak baik-baik saja membuatnya menitikan air mata "Aku tidak dikosan San..." Akhirnya ada kata yang keluar dari Luna.


"Lalu dimana?"


"Dirumah sakit..."


"Tapi aku tidak tahu pastinya."


"Nanti kalo udah ada susternya aku tanya lokasinya." Luna mencoba menjelaskan keadaannya yang sebenarnya.


"Lunaa..."Lirihnya seolah tahu keadaan sahabatnya memang tidak baik.


"Kalo gitu aku tutup dulu kamu ngerjain aku dengan banyaknya deadline kamu ini!!!" Sandra kembali


merutukinya berharap membuat Luna sedikit melupakan kesedihannya.


Luna tertawa kecil. "Ternyata aku lebih memilih dia menceramahiku ketibang ikut sendu bersamaku...."


"Sepertinya kamu sudah lebih baik." Tiba-tiba Mahessa memasuki ruangan membuatnya terkejut.


Luna tersenyum kearahnya. "Aku sungguh tidak enak merepotkanmu loh."


"Padahal kita tidak saling mengenal sebelumnya..." Ujarnya kemudian merasa sungkan.


"Jangan terlalu sungkan..."


"Aku merasa senang bisa membantumu." Dia duduk di sebelah Luna.


"Kamu sibuk ya?"


"Kamu boleh ko tinggalin aku aja..."


"Sebentar lagi teman dekatku datang."


"Iya aku ada sedikit keperluan."


"Mm.. Jadi maaf aku tinggal sebentar ya..." Mahessa tersenyum menatap Luna lekat.


Luna yang di tatap seperti ini menjadi salah tingkah dengan sikapnya.


"Oh iya Mahessa maaf.."


"Aku tidak tahu ini rumah sakit apa ya? Di ruang apa dan nomor berapa?"


"Aku perlu memberitahu temanku."


"Rumah sakit Husada kamar VVIP nomor 1."


Wajah Luna berubah pucat setelah tahu dia berada di ruang VVIP. "Berapa duid ini ya lord....Huhuhu"


"Satu lagi, apa namaku terpampang jelas Naluna Maharani?" Luna mulai menyadari jika sampai identitasnya keluar maka tamatlah sudah reputasinya.


"Nama lengkapmu Naluna Maharani ya?" Mahessa tersenyum kembali.


"Dia senyum-senyum terus gula darah gue naek seketika!! Mengkesel...." Rutuk Luna dalam hati.


"Iya.. Jadi?" Luna kembali memastikan.


"Aku hanya menulis Luna."


"Aku tidak berani juga buka tas milikmu."


"Apa perlu aku ganti menjadi Nyonya Mahessa..." Guraunya dengan kekehan.


Mata Luna membulat sempurna. "Dia becandanya kelewatan ga sih!"


"Kalau begitu aku pamit dulu ya."


"Ada urusan sebentar, kalau ada apa-apa kamu bisa tekan tombol samping tempat tidurmu." Ujar Mahessa.


Luna mengerti, dia menghilang di balik pintu Luna kemudian memiliki waktu memikirkan tentang Mahessa.


"Jika diperhatikan sepertinya dia bukan kalangan biasa."


"Iya kali kalangan biasa pake BMW M4 sejenis dengan milik Diaz!"


"Gaya fashion yang bukan kaleng-kaleng sekilas aku melihat sepatunya aja Giorgio Armani bisa menghidupiku hingga beberapa bulan kedepan."


"Lebay sekali Lunaaa! Haha"


"Aku bahkan hafal dengan wangi aroma Zara Man yang menyeruak dihidungku sedari awal aku bertemu."


"Untuk apa dia menolongku sedemikian rupa ini?" Luna mengusap kasar wajahnya.


Tring!


[NALUNA MAHARANI!]


"AAAAAAAAAHHHHHH aku lupa Sandra!" Pekiknya


[Rumah sakit Husada. Kamar VVIP No.1]


Tidak ada jawaban lagi dari Sandra. "Kenapa ini sungguh menegangkan?"


"Aku aja ga bilang sama Mas Dira aku disini. Huft"


Suara pintu terbuka mengalihkan perhatiannya "Siapa itu?"


"Siang Nyonya, ini makan siang anda. Tuan Mahessa ingin asupan makanan anda yang terbaik. Dihabiskan ya!"


"Jangan lupa diminum obatnya."


"Terima kasih, letakankan saja disitu." Luna memberi isyarat kepada perawat untuk menaruh makan siangku di


atas nakas samping tempat tidur.


"Saya pamit dulu Nyonya, jika ada sesuatu atau keluhan jangan sungkan untuk tekan bel yang terletak dipinggir


tempat tidur ya."


"Terima kasih banyak sus."

__ADS_1


"Ramah sekali pelayanan disini."


"Aku sangat puas sekaligus was-was. Aku pikir ini akan memakan biaya yang banyak!"


"Habis lah aku! Huhuhu"


"Sepertinya Mahessa orangnya sangat royal."


"Sama yang baru dia kenal aja dia perlakukan sebegininya. Bahagia banget nih yang jadi pasangannya. Ga kebayang gimana dia manjain pacarnya!"


"Gue di taro di VVIP semalam berapa?"


Luna melupakan kesedhan pasal aborsinya saat ini justru tengah pusing dengan pembayaran rumah sakitnya.


* * * * *


Seharian Luna hanya terbaring di ranjang dia juga baru menyadari ponselnya mati kehabisan daya. Baru dia sadari hari telah senja.


"Luna?" Sandra menampakkan dirinya dibalik pintu dan kini menutupnya kembali.


"Sandra!" Luna mencoba tersadar dan terduduk.


"LUNA APA YANG SUDAH TERJADI?!" Kedua matanya membulat sepertinya tidak percaya melihat kondisi sahabatnya.


Sandra bergegas menghampiri Luna, dia mengetuk keningnya dengan jari telunjuknya.


"Kenapa Sandra selalu emosi kalau ketemu aku?" Protes Luna dalam dirinya.


"Ada apa denganmu?"


"Kamu sakit apa?"


"Kemarin kamu masih baik-baik saja sekarang terbaring di rumah sakit?!"


"Bisa-bisanya kamu bohong pulang kampung!!"


"Apa semua ini perbuatan ADIRA?!"


Rentetan pertanyaan itu membuat Luna seperti di cabik-cabik saat ini. "Sakiiit..." Rengeknya.


"Kenapa kamu bisa begini?"


"Kamu jujur denganku ada apa? Kenapa kamu sampai berbohong seperti itu" Raut wajah Sandra berubah menjadi sendu. Dia duduk disebelahnya dan menggenggam tangan Luna.


"Luna..." Panggilnya kembali.


"Sandraaaaaaa..." Luna tak sanggup berucap dia langsung memeluk Sandra erat begitupula sebaliknya.


Luna kembali berderai air mata.


"Menangislah.. It's okay to be not okay." Sandra mengelus punggungnya membiarkan Luna mengeluarkan semuanya.


Luna melonggarkan pelukannya, dia terharu sahabatnya ikut menangis bersamanya.


"Aku tidak pernah berpikir akan ada orang lain lagi yang berempati dengan keadaanku saat ini."


"San, aku aborsi." Dengan suara lirih dan menunduk akhirnya Luna putuskan untuk mengakui kebenarannya.


Sandra menggeleng kepalanya dengan menutup mulutnya tidak percaya.


"Kau tidak percaya?"


"Akupun tidak percaya aku setega dan sejahat ini!!"


Luna kembali menangis histeris. Sandra segera memeluknya erat.


"Sudah, yang sudah terjadi biarlah terjadi."


"Ini jadi pelajaran untukmu!!"


"Sudah sangat jelas terlihat perubahan fisik dan emosimu!"


"Terlebih gejala kehamilanmu sangat kentara terlihat olehku."


Luna terkejut dengan penuturan Sandra yang memang terlihat antara terkejut dan tidak. Yang Sandra tidak pernah pikirkan bahwa Luna sungguh berani menggugurkan kandungannya.


Luna kembali menutupi wajahnya dengan kedua tangannya merasa sungguh malu.


"Ini baru Sandra yang menyadari... Jika yang lainnya tahu?!"


"Ya tuhaaan... Ampuni segala dosaku."


"Apa Dira mengetahui kehamilanmu?" Sandra bertanya tanpa basa-basi seolah tahu ini semua perbuatan Adira.


Luna mengangguk perlahan masih menunduk.


"Dia tidak mau bertanggung jawab dan menyuruhmu menggugurkannya?" Tanyanya lagi kini dengan nada emosi.


"Tidak, Mas Dira ingin bertanggung jawab tapi aku tidak menginginkan kehamilan ini."


"Kita berdua belum menikah..."


"Terlebih keluarga besar mas Dira belum merestui hubungan kami."


Mendengar penjelasan Luna, Sandra membulatkan kembali kedua matanya "Apa yang sebaiknya aku katakan


padamu Luna!!"


"Aku tidak menyangka si kulkas berani meniduri sahabatku!" Akhirnya dia bisa mengungkapkan kekesalannya.


"Tapi dia ingin bertanggung jawab dan kamu menolaknya?"


"Apa kamu melakukannya dengan paksaan atau memang bersenang-senang?!" Sungut Sandra emosi.


"Aku tidak begitu ingat bagaimana mulanya."


"Seingatku kami melakukan karena tidak sengaja. Kemudian...."


Luna menggatung kalimatnya "Aku rasa kamu paham..."


Bagi Luna yang saat ini tengah mengalami perjalanan waktu sanagt tersiksa karena ingatan sebelumnya tidak di kembalikan. Dia hanya bisa mengingat sedikit itu juga dengan effort yang besar. Dia hanya ingat saat dia telah melewati pernikahan dan hidup berkeluarga dengan Adira. Walau tidak sepenuhnya dia ingat.


"Luna, apa kamu tau cinta ama bego itu bedanya tipis banget?!"


"Iya..." Luna terdiam kemudian mengalihkan pandangan ke luar jendela.


"Aku sudah cape San, mama selalu meminta menantunya."


"Mas Dira datang seperti sebuah keberkahan. Namun nyatanya dia tak sealim kelihatannya..." Luna menunduk.


"Aku berharap dia menjadi yang terakhir untukku."


"Aku tidak berharap banyak sih.. Dia mau sedingin kulkas dua pintu atau dia akan cuek dengan segalanya. Bahkan dia tidak pernah ingin tahu kepribadianku atau keluarga besarku. Aku tidak peduli..."


"Selama aku bisa mengantongi status memiliki pasangan!"


"Tetapi, semenjak dia menjamahku perlakuan dia berubah 180 derajat. Dia menjadi penuh kelembutan dia selalu  menyatakan cintanya."


"Aku berpikir dangkal kala itu dia tidak akan mencampakkan aku bukan?"


Luna tengah sedikit menceritakan tentang kehidupan cintanya pada sahabatnya.


"OK FIX KAMU BODOH!" Ujar Sandra mengejek dengan mimik muka jijiknya.


"HAHAHA" Luna ikut mentertawakan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Aku pikir kamu bisa menjaga dirimu sendiri non!" Rutuk Sandra.


"Aku butuh dia San..."


"BASI!!!"


"Dulu juga kamu bercerita pasal mantanmu dan bilang kamu butuh dia makanya mau terus di sakiti selama 5 tahun kalian berhubungan."


"And now? You still can't change your mind kah?" Sandra masih jengkel sepertinya.


"Hah?" Luna terpaku dengan perkataan pertama dari temannya.


"Seriously sudah berapa banyak rahasiaku yang diketahui Sandra aku tidak ingaaaaat oh my god!!" Batinnya berteriak frustasi.


"Apa Adira tahu kamu disini?" Tanya Sandra kemudian.


Luna menggeleng. "Aku hanya bilang padanya di rumah sakit kemarin malam, namun sampai detik ini dia belum


bisa menemukanku."


"Kau tau sejak hari minggu sore dia menghubungiku sepanjang waktu! Sampai dini hari dia masih terus menghubungiku."


"Dia mengoceh mengatakan..."


"Dimana Luna! Kembalikan Luna kepadaku..."


"Aku pikir Dia sudah tidak waras!"


Ucapan Sandra kembali membuat mata Luna membulat sempurna dengan mulut yang menganga. "Kamu salah kali, mana mungkin dia seperti itu." Jawab Luna mengelak.


"Kau pikir aku mengada-ada?"


"Terserah lah kamu mau percaya atau tidak!"


"Satu hal lagi..."


"Hari ini A dira tidak masuk kantor." Sandra berucap seraya bangkit dari tempat tidur dan membuka tas jinjingnya.


"Mas Dira absen?" Tanya Luna menatap wajah Sandra serius.


"Heem..."


"Daniel bertanya padaku apa benar kalau kamu pulkam bareng Adira?" Sandra merapihkan cemilan dan minuman yang dibawanya.


"HAH? HAHAHAHAHA..." Luna tidak sanggup lagi rasanya menghadapi rumor orang kantor yang sangat berniat menggorengnya sedemikian rupa.


"San, apa kamu memberitahu orang lain atau bahkan Adira aku disini?"


"Aku tidak sejahat itu Luna!"


"Adira tidak ada lagi menghubungiku..."


"Lagian kamu kasih tahu aku tengah hari kan?"


"Syukurlah..."


Luna memang sedang tidak ingin bertemu dengannya, sakit hatinya masih belum sepenuhnya termaafkan. Dia bersusah payah berdoa delapan tahun kemarin agar mengubah nasibnya saat ini. Tetapi Adira kembali menghancurkannya. "Pada dasarnya mungkin aku memang tidak begitu memperhatikan bahwa Adira tidak mungkin berubah banyak!"


Sandra kembali duduk di samping Luna dengan keripik kentang kesukaannya.


"Oh iya, bagaimana ceritanya kamu disini?"


"Kamu aborsi di rumah sakit ini?" Selidik Sandra kemudian.


"Tidak mungkin aku sengaja aborsi disini." Hardik Luna.


"Aku mengkonsumsi obat mempercepat kontraksi."


"Kemarin sore aku pendarahan. Aku bahkan sempat bersama mas Dira sebelumnya."


"Sejujurnya aku berniat menutupi semua darinya. Namun ternyata dia sudah menyadari kehamilanku. Dia berencana menikahiku segera menemui keluarga besarnya yang ternyata sedang disini saat ini."


Sandra menghentikan aktifitasnya, dia menatapku serius. "Dia beneran cinta sama kamu non?" Selidik


Sandra.


"Entahlah..."


"Aku memberitahunya aku aborsi, dia sangat emosi."


"Menurunkan paksa aku dan meninggalkanku. Aku yang masih dalam kondisi pendarahan menjadi semakin depresi dan pingsan.."


"SETAN ADIRA!!" Sungut Sandra emosi.


"Aku bertemu dengan seseorang yang baik menghantarkan aku kesini."


"Aku sangat sedih San..." Sandra kembali menghambur memeluk Luna.


"Sudahlah... Kamu harus segera bertaubat!"


"Tuhan masih menyayangimu, dia tidak serta merta mengambil nyawamu saat ini."


"Padahal kamu telah menghilangkan nyawa yang lain."


"KAMU BODOH SUMPAH!" Sandra kembali merutuki sahabatnya penuh emosi.


Luna seolah kehilangan semangat hidupnya saat ini. "Beruntung tuhan masih menghidupkanku..."


"Masih juga memberiku waktu memperbaiki dan memohon ampun."


"San.."


"Apa?" Sandra melonggarkan pelukan.


"Boleh ga aku minta tolong lagi?"


"Tolong apa?"


"Aku ingin keluar dari sini, aku mau pinjam uang sebentar. Sebelum aku meminta ibuku."


"Pinter lu ya!"


"Udah tau ga ada uang kamu dengan soknya tinggal di VVIP Room!"


"Hebat sekali kamu NALUNA!" Sandra akan mencekik temannya.


"Aaaaaaaaaaaa... Manalah aku tahu aku buka mata sudah ada disini."


"Ya kali langsung nanya terus minta down class!"


"Bantu aku ya Sandraaa pleaseeeeeeee..." Luna merangkulnya dan merengek seperti anak kecil yang meminta Kinderjoy di kasir Alpamaret.


"SETAN KAU!"


"Untung gue sayang!"


"Baiklah aku urus semua kebawah."


"Tapi uangku juga belum tentu cukup."


"Iya maksudku pake 2 ATM milik aku sama kamu gitu." Luna menjawabnya malu.


"Hais, ya udah sini mana milikmu."


"Apa PIN nya?"

__ADS_1


* * * * * * * * * *


__ADS_2