Dua Cinta Satu Hati

Dua Cinta Satu Hati
Bab 71 : Hukum Alam


__ADS_3

Luna terkejut dengan penuturan Mahessa barusan, betapa konyolnya dia. Dia mengira dia yang paling berdosa atas hubungan gelapnya dengan Mahessa. Nyatanya lelaki itu tengah menipunya pasal status pertunangannya! Luna kembali merasa sangat kecewa. Sekilas Luna melihat yang disebut tunangannya. Sebenarnya bagi Luna tunangannya juga sangat cantik. "Apa aku penyebab keretakan hubungan mereka?" Rintih hati Luna.


"Selanjutnya..." Mahessa kembali melanjutkan kalimatnya yang sempat terputus karena hardikan dari Alister.


"Selain kabar pemutusan pertunangan saya dengan keluarga Alister."


"Saya juga memiliki kabar baik lainnya bagi keluarga Adyatama."


"Saya telah mendaftarkan pernikahan di catatan sipil seminggu yang lalu dan seperti yang telah kalian lihat pasangan saya malam ini."


"Dia adalah..."


Luna menatap serius kedepan sepertinya dia sudah tahu kemana arah pembicaraan Mahessa. Satu bulir bening lolos mengalir begitu saja.


"ISTRI saya..." Ucap Mahessa tegas membuat seluruh yang hadir terpaku beberapa saat dan kemudian riuh membicarakannya.


DEG!


* * * * *


Braaaaaak


"Astaga Dira!"


:Apa yang tengah kamu lakukan?" Pekik Arneth saat melihat ponsel Adira terjatuh dan membuat sebagian layar ponsel retak dan berhamburan.


Adira terdiam dia merasakan perasaan nyeri didadanya.


"Aku hanya ingin mengisi daya." Ujarnya masih dengan tangan yang tiba-tiba bergetar.


"Apa tanganmu licin?"


"Lain kali hati-hati..."


"Suruh si mbok merapihkan dan beli ponsel baru." Titah Arneth.


"Hari ini biar aku yang menjaga papa dan mama di rumah sakit.'


"Kamu istirahatlah dulu." Imbuhnya kemudian.


Adira telah berada di kota K tiga jam yang lalu. Dia belum memberitahukan Luna perihal kepulangannya. Dia takut membuat pujaan hatinya bersedih. Saat Luna menghubungi dia telah sampai saat itu Adira tengah menuju Bandara. Setibanya di kota K Adira tidak langsung menghidupkan ponselnya. Dia segera bertolak dari bandara menuju rumah sakit tempat papanya tengah dirawat.


Sebelum mereka sampai Adira dikejutkan dengan kabar buruk dimana papanya tiba-tiba dilarikan ke ruang ICU. Jantungnya melemah. Mamanya pingsan sesaat setelah papanya dipindahkan ke ruang ICU. Kini pikirannya sedang semerawut. Belum lagi Arnetha dan mas Damar tengah berusaha menstabilkan harga saham yang kian merosot tanpa sebab. Bahkan bagian buruknya team Accounting RG mengkonfirmasi adanya perubahan angka pada laporan keuangan mereka mengindentifikasikan adanya masalah internal.


Sudah pukul delapan malam, Adira dan Arneth pulang lebih dulu ke kediaman besar. Sedangkan Bagas dan mas Damar berjaga menunggu di rumah sakit. Adira segera membersihkan diri kemudian dia teringat ponselnya belum dia hidupkan. Setelah keluar dari kamar mandi dia beranjak keluar dan mencari ponselnya yang dia taruh dimeja makan. Berencana mengisi daya sekalian namun naasnya ponsel tiba-tiba terjatuh hingga menimbulkan retak parah. Yang membuat hatinya sedikit nyeri setelah terjatuh memunculkan wallpaper Luna dan retak di area fotonya.


"Apakah terjadi sesuatu dengan Luna?" Batinnya langsung memikirkan pujaan hatinya.


Ponselnya masih bisa digunakan. Dia membuka kunci dengan hati-hati. Dia mendapati Luna menelponnya berkali-kali.


"Astaga, kenapa aku sampai tak ingat menghidupkan ponsel."


Dia menelpon Luna namun sayangnya tidak ada jawaban. Kemudian dia mengulanginya hingga tiga kali masih belum ada jawaban.


"Apa Luna tengah marah?"


"Atau dia tengah have fun dengan Sandra?"


Perasaannya mengatakan akan firasat buruk. Dia menghubungi asistennya.


"Bagas, kamu lacak keberadaan Luna dimana dia sekarang?"


"Baik tuan."


"Oh iya carikan aku ponsel baru."


"Sebentar lagi aku menuju rumah sakit."


"Baik tuan."


Adira kembali mencoba menghubungi ponsel Luna namun tetap tidak ada jawaban.


"Apa kamu marah sayang?"


"Balas dendam karna aku tidak mengangkat telponmu?"


"Semoga saja hanya marah."


"Kamu harus baik-baik saja..."


Adira terduduk di kursi tengah dia mengusap wajahnya kasar.


"Untuk kesekian kalinya aku harus mengundur pernikahanku."

__ADS_1


"Betapa sulitnya aku menikahimu sayang."


"Apakah ini salah satu balasan tuhan dengan dosa-dosaku yang aku perbuat dengan Luna?"


Entah mengapa bulir air mata menerobos keluar dari pelupuk matanya kemudian dia terpejam saking lelahnya.


* * * * *


"Pasangan saya malam ini dia adalah ISTRI saya!"


Dengan tegas Mahessa memberitahukan status dia dan Luna di depan seluruh karyawan E.T dan dewan  direksi serta jajaran pemegang saham.


TRAK!


Tiba-tiba lampu utama dimatikan dan berganti dengan lampu sorot yang hanya menyoroti Luna dan Mahessa saja.


DEG!


Jantung Luna seolah berhenti beberapa saat, kali ini justru tengah berpacu dengan cepatnya. Dia tidak percaya Mahessa menipunya sejauh ini. Tubuhnya bergetar hebat, dia lemas seketika.


"Bukan seperti ini!!"


"Bukan seperti ini isi perjanjian kami!"


Luna terus menyesali keadaannya saat ini. Sandra menutup mulutnya tanda tak percaya apa yang telah terjadi.


"Apakah ini bagian dari perannya?"


"Semua ini palsu bukan?"


"Harusnya palsu bukan?"


Luna terus bermonolog dalam pikirannya yang semerawut, tanpa dia bisa tahan bulir bening itu mengalir begitu saja dari sarangnya.


"Hadirin semua saya perkenalkan.'


"NALUNA MAHARANI istri dari Mahessa Adyatama."


Seketika riuh dan pekikan tidak percaya kembali menggema diruangan ini. Dada Luna semakin sesak, dia tidak tahu harus seperti apa. Jika ini bagian dari kebohongan yang Mahessa inginkan namun mengatas namakan istri terlalu memaksakan.


"Luna...." Lirih Sandra menggenggam tangannya yang sedari tadi menggenggam erat gaunnya.


"Untuk resepsi pernikahan akan diadakan dua hari mendatang."


Jatung Luna di remas kencang atas penuturan lanjutan Mahessa bahwa akan mengadakan resepsi pernikahan. Baginya hal itu bukan main-main atau candaan walau semua ini kebohongan tetap saja Luna akan menolaknya. Luna bangkit dari tempatnya, dia mengumpulkan kekuatan untuk melangkah mendekati Mahessa.


"Apa yang akan dilakukan Luna?"


"Aku berharap dia tidak melakukan perlawanan saat ini."


Wajah Mahessa tengah gusar, tidak ada dalam rencana Luna menghampirinya. Melihat raut wajah Luna yang dingin dan menunjukan kekecewaan sudah di pastikan Luna akan menolaknya. Alena menatap nyalang pada Luna yang kini melewatinya dingin.


"DASAR WANITA J*LANG!"


"KAMU DENGAN SENGAJA MEREBUT MAHESSA DARIKU."


"LIHAT SAJA NANTI!"


"Saat ini kamu memang mendapat perhatian dari Mahessa. Jika aku tidak bisa mendapatkan Mahessa maka kamu jangan harap bisa hidup berbahagia dengannya. NALUNA MAHARANI kamu akan menyesal berurusan denganku!!!" Rutuk Alena dalam hati.


Luna menuju panggung tempat Mahessa berada dengan wajah penuh amarah dia berencana menghancurkan rencananya.


"Apa yang dilakukan istrinya?"


"Apakah adegan kissing saking bahagianya?"


Seseorang tengah berbisik-bisik diikuti audiens lainnya yang menerka tindakan Luna kali ini.


"Sayaaang..."


Mahessa mendekati Luna menonaktifkan microfon miliknya, menyadari wanitanya dalam aura kemarahan. Semua orang ingin mengetahui apa yang akan terjadi dengan mereka. Luna mengankat satu tangannya bersiap menamparnya dengan berlinang air mata.


Mahessa menangkap tangan Luna, menarik tubuhnya dalam dekapan. Kedua netra mereka bertemu, ada rasa bersalah di hati Mahessa melihat wanitanya menangis. Tapi dia tidak bisa mundur lagi.


"Bersikap baiklah..."


"Bukankah kita telah sepakat."


"Semua mata melihat kita termasuk kedua orang tuaku."


"Kamu membohongiku Mahessa!!"


"Aku membencimu!!"

__ADS_1


"Aku minta maaf aku terpaksa aku akan menjelaskannya tapi tidak sekarang dan tidak disini."


"Karna kamu sudah melakukan hal ini maka sekarang kamu harus bekerja sama denganku...."


Mahessa tidak ingin membuat orang-orang semakin mencurigainya, Mahessa mencium bibir Luna lembut, mata Luna terbelalak dengan spontanitas Mahessa yang semakin di luar batasan. Lebih terkejut lagi bagi orang-orang yang melihat mereka. Siapa yang tidak tahu rumor negatif Mahessa yang tidak bisa mendekati wanita.


"OMG!"


"Pah anak kita sungguh sangat berani!!!"


Bukannya malu Sesillia malah tampak senang. Akhirnya setelah sekian lama anak lelakinya menunjukan sikap normal seorang lelaki dewasa.


"Apa yang harus aku katakan dengan Alister." Ujar Adyatama memijit keningnya.


"Bilang aja belum jodoh masa harus dipaksa?" Jawab Sesillia tenang.


"Dengar ya pah. Aku sudah cape meyakinkan anak kita dengan sebuah pernikahan!"


"Saat ini dia telah memiliki pilihannya sendiri."


"Bukankah itu hal yang baik?"


"Aku sudah sangat kesepian dirumah jika mereka cepat memiliki momongan maka rumah kita akan ramaaai..."


Adyatama hanya mampu menghembuskan nafas kasar bersiap mengikuti kemauan istri tercintanya.


"NALUNA!"


"DASAR ****** TIDAK TAHU MALU!"


"Aku catat rasa sakitku hari ini akan aku kembalikan semua supaya kamu merasakan juga apa yang aku rasakan kali ini!!!" Rutuk Alena seraya pergi dari ruangan dengan berderai air mata.


"Alena..." Pekik Alister.


"Mahessa..."


"Kamu telah mempermalukan keluargaku cepat atau lambat aku akan membalas semua ini!"


Tetua Alister mengejar putri semata wayangnya keluar dari ruangan.


Luna segera mendorong Mahessa. "KAU!"


"Belum puas? Farell bawa Luna ke ruang istirahat." Ucap Mahessa lirih kepada Farell yang ada di balik stage.


"Baik Tuan."


"Bersikap baiklah Luna. Aku akan menjelaskannya." Ujar Mahessa lembut seraya membelai lembut pipinya. membuat semakin riuh ruangan dengan pekikan kebahagiaan.


"Bawa Sandra dengan Angela." Titahnya lagi.


"Baik tuan."


Mau tak mau Luna mengikuti perintah Mahessa. Bagaimanapun dia perlu penjelasan logis atas apa yang terjadi malam ini. Luna berlalu kebelakang stage tanpa memperdulikan siapapun. Toh disini tidak ada yang dia kenal. Dia tidak peduli dengan omongan dibelakangnya disusul Sandra dan Angela menemani Luna.


"Mohon maaf semuanya..."


"Istri saya memang tidak suka terekspos baik media atau perorangan dia merasa kurang nyaman."


"Maka saya tegaskan saat ini."


"Bagi siapapun yang memberikan berita ini keluar maka akan berurusan langsung dengan Mahessa Adyatama.


"Saya tidak akan mengampuni siapapun itu!"


"Dengan ini saya tutup pidato yang panjang ini.'


"Nikmati setiap jamuan dan waktunya saat ini.'


"Saya undur diri!"


Mahessa berlalu menuju belakang stage.


"WOW..WOW..WOW...!"


"Sungguh mengejutkan Presidir yang kita cintai dan kita idolakan ternyata sudah memiliki istri."


"Ladies... bagi yang patah hati rapatkan barisan kita menangis bersama."


"Di iringi musik dari band ternama kita......." Suara pembawa acara yang memecahkan kesunyian menggema membuyarkan segala perasaan mencekam barusan.


Adyatama dan Sesillia mengikuti Mahessa ke belakang stage.


* * * * * * * * * * * *

__ADS_1


__ADS_2