
Luna telah menyelesaikan semua laporan dan simulasi daily arrangement part. Dia juga telah mengerjakan semua titah dari atasannya.
"Kuy maksi!" Ajak Sandra.
Luna tersenyum dan beranjak dari kursinya. Di lorong yang bersebrangan dengan departemen kekasihnya Luna tengah memeriksa apakah Adira masih disana?
Bruk!
"Ups.. Sorry!" Pekik Luna.
"Makanya liat-liat non..." Ujar Bram tersenyum.
"Eh Bram, mana mas Dira?" Entah mengapa pertanyaan ini yang terlontar dari mulut Luna.
"Nanya dia mulu..."
"Nanyain kabar gue kek... Mengsedih aing" Jawab Bram lemah.
"Hahaha.. Are you okay Braaam?" Tanya Luna menggoda.
"Dih bacot Luna semua di embat!" Rutuk Sandra.
"Hahaha..." Kami bertiga menuju kantin EPS yang disediakan khusus didalam gedung.
Sandra memang berjalan di depan dan Luna bersebelahan dengan Bram.
"Kamu kok ga semangat gitu.."
"Kenapa?"
Luna mencoba perhatian dengan salah satu teman Adira.
"Sedih banget lu ga akan ke kosan lagi!"
"Bang Dira udah pindah rumah!"
Pernyataan Bram terdengar rengekan di telinga Luna. Dia terkekeh mendengarnya.
"Kapan-kapan kita let's go deh karaoke!"
"Luna...Kamu kenapa selalu bikin orang betah lama-lama bareng kamu!" Bram membatin dia berwajah sendu.
"Janji loh!" Ujar Bram memelas
Luna mengangguk mantap dengan mengacungkan kedua jempolnya pada Bram.
Luna telah berada dengan ketiga rekannya dalam satu meja panjang.
"Lu deket juga ama Bram?" Selidik Hapsari mendelik kearah Luna.
"Baru masuk udah di todong pertanyaan aneh!" Protes Luna.
"Gila sih lu, abis Rio, trus Adira, eh sekarang ama si Bram!!"
"Ini maksudnya gimana?" Tanya Luna bingung.
Sandra dan Hapsari saling adu pandang kemudian keduanya menatap tajam kearah Luna.
"Rumor di kantor mengatakan Lu tuh playgirl."
"Korban Lu tuh anak IT semua!!"
Luna membulatkan matanya, mendadak dia tidak berselera makan.
"Gue ama Rio ga ada apa-apa samsek!"
"Terlebih Bram!"
"Gue deket ama mereka karena Adira satu tempat tinggal ama mereka." Luna membela diri saat ini.
"Cih, kalian tau ga gosip terbaru Bram ama Andin putus?" Jelas Hapsari.
"Mereka putus apa perlu kita semua tahu?"
"Emang penting ya buat kita?"
Sandra terlihat pendiam kali ini tidak seheboh biasanya. Rumor Luna memang sudah di goreng sedemikian rupa oleh publik yang tidak menyukainya.
"Jujurly kalo ga ada hubungannya ama elu gue males jir ngurusin!"
Hapsari benar-benar tengah menceramahi Luna. Disaat Sandra tahu apa yang terjadi dengan temannya. Hapsari memang tidak tahu menahu pasal kejadian aslinya. Hanya saja rumor yang dia dengar tentu saja membuatnya kesal dan marah. Sahabatnya di gosipkan yang bukan-bukan.
"Rumornya putusnya mereka karena Bram suka ama NALUNA MAHARANI!"
"Lu tau seisi ruangan Finance and Accounting ngehina lo."
"Mereka bilang lo ja*lang sok alim!"
"Setelah lu ngerebut Adira dari Sherly sekarang lu juga godain Bram!"
"SETAN!!!" Sungut Luna emosi.
"Rumornya Bram kedapetan nyimpen foto elu berdua sama chat mesra."
"Btw ko gue bisa-bisanya dapet info sedetail ini. Ketauan banget gue lambe turah!!" Hapsari tengah mengejek dirinya sendiri.
Luna terdiam dia tengah berpikir namun pikirannya mentok. Dia tidak di anugrahi dengan ingatan yang bagus saat terlahir kembali!
"Lu baik-baik aja lun?" Tanya Hapsari kini dengan suara lirih.
Luna tersenyum pahit "I'm okay!"
"Rumor semakin dijelaskan semakin rumit." Ujar Luna menghibur diri.
"Sejujurnya aku ga ingat sama sekali, mungkin nanti aku bisa tanya Bram cerita aslinya." Luna menambahkan opininya.
"Oh iya rumor lainnya datang dari kandamu!"
"Who?" Luna mendadak bego.
"Adira lah siapa lagi!"
"Apa lagi memangnya?"
Luna semakin melemahkan intonasi suaranya.
"Anak IT bilang lu pulkam tunangan bareng si kulkas!"
"WTF!" Umpat Luna.
"Jadi lu beneran ga mau cerita ke kita?!"
"Jir tega sih Lu ajg!!"
"Eh tunggu!!"
Hapsari menarik tangan kiri Luna, dia juga menunjuk jari manis temannya yang tersemat cincin yang sudah pasti dari kekasihnya.
Kedua temannya tengah menelanjangi Luna, mereka menatap seolah akan menyantapnya.
"Huh!"
"Dia memang melamarku tapi tidak di depan keluargaku!"
__ADS_1
"WHAT?!" Sandra menganga dengan jawaban Luna begitu pula Hapsari.
"Next time aku ajak ngopi ya."
Keduanya mendengus kesal dengan jawaban biasa Luna.
"Belum selesai gue bahas RUMOR!" Tukas Hapsari semangat.
"Astaga dia kalo ngegosip semakin terdepan!" Rutuk Luna dalam hati.
"Dah mau masuk juga!!" Protes Luna enggan mendengarkan.
"Denger dulu nyet!"
"Adira bawa Audi?"
"Iya.." Luna menjawab datar membuat dua sahabatnya kembali beradu pandang. Mereka pikir Luna akan antusias menceritakan pasal ternyata kekasihku kaya dan tampan!
"Berarti bener dia lagi ngeprank!"
"Crazy Rich nyamar jadi gembel!"
Ketiganya tidak tahan untuk terbahak. Namun segera di tutup demi keamanan bersama.
* * * * *
"Jadi lu bareng Dira tinggal dimana?" Sandra memulai pembahasan saat kamar mandi telah kosong.
"Park Avenue..." Jawab Luna singkat.
"Eh buseeet... Really rich man?!"
Luna mengangguk. "Tapi dia belum mengakuinya padaku San."
"Ya apa bedanya sih, lu juga kan yang nikmatin semua fasilitasnya sekarang?" Dia menautkan tangannya di depan dada menyender di area wastafel.
"Jadi kapan married?" Tanya Sandra lagi.
"Aku belum mau married..." Lirih Luna.
"Haha.. Naluna Maharani yang cantik namun bodohnya sudah seperti pipa rucika."
"Apa lu mo kumpul kebo ama Adira?!" Ejek Sandra
"Absolutely NO!"
"Setelah ini aku akan mencari tempat baru."
Luna kembali dirundung pilu dan Sandra kembali merangkulnya.
"Sabar sayaaang..."
"Aku cuma titip kembalilah kejalan yang benar"
Luna mengangguk berterima kasih kemudian keduanya kembali keruangan.
"Luna, lu udah periksa e-mail balasan Mr. Ong?" Tanya Sandra ditengah kepulan asap otaknya.
"Belum. Kenapa?"
"Aku sedang sibuk dengan vendor lainnya." Luna menjawab tanpa melihat.
"Dinner banquet invitation dong!"
"Di e-mail itu cuma ada aku, kamu dan bu Lidya." Jelas Sandra menggebu.
"Seriously?!" Luna penasaran segera mengecek e-mailnya
"Berarti sebelumnya dia udah ngundang?" Tanya Sandra kemudian.
Luna menjawab dengan anggukkan.
"Gue beneran heran ama lu!"
"Kok bisa ya yang kenalan ama elu itu auto tergila-gila gitu sih?!" Rutuk Sandra merasa iri.
Luna sedang malas berdebat dia membiarkan temannya menerka sendiri.
"Luna, kita datang yuk.. Terus taruhan!" Sandra memiliki ide gila dia mendekat dengan ekspresi menjijikan.
"Ogah... Buang waktu!" Jawab Luna mantaf.
"Lu ga asik banget sekarang!!" Dengus Sandra kesal.
"Taruhan apa sih?"
"Taruhannya gampang banget!"
"Berapa umur Mr. Ong?" Sandra menyeringai.
"Serius? Manalah gue tau..." Luna mendumel.
"Makanya taruhan!"
"Lu minta apa?"
Luna sudah curiga, sepertinya ada udang di balik bakwan.
"Hehehe..."
"Gue cuma minta eypun 4 pleesss..." Dia mengerlingkan kedua matanya.
"Najis!"
"Lu pikir gue mesin pencetak uang!!" Rutuk Luna kesal.
"Lu kan punya sugar daddy minta dia dong!!"
"Gue yakin bagi dia eypun pless adalah gorengan bakwan dua rebuan." Goda Sandra.
Luna terbahak dengan penuturan dan mimik Sandra saat mengatakannya.
"Trus gue dapet apa?"
"Ya lu minta apa?"
"Ga usah yang impossible yes!" Jawabnya mantaf.
Sandra mendekat ke arah Luna dan berbisik lirih "Rahasiamu aman bersamaku bukankah ini suatu keberkahan buatmu. Lu ga perlu minta yang enggak-enggak!" Nadanya terdengar seperti ancaman.
Luna merengut mengetahui Sandra menggunakan kkelemahannya
Tiba waktu pulang, ternyata yang bisa hadir cuma dia dan Sandra saja.
"Jadi cuma kami berdua aja nih bu?"
"Emang gapapa ya bu?" Tanya Luna gelisah.
"Ya gapapa sih."
"Asal ga bilang-bilang ke yang lain."
"Takutnya disangka gratifikasi." Bu Lidya menjelaskan seraya pamit duluan.
__ADS_1
Luna tersenyum dan merogoh ponsel dalam tasnya.
[Mas, aku tidak bisa pulang bareng ada urusan bisnis sebentar dengan Sandra]
"Ga dibalas? Ya sudah lah aku udah bilang."
Sebelum benar-benar keluar kantor Luna mencari kekeasihnya di ruangannya namun dia tidak bisa melihat batang hidung kekasihnya.
"Lu touch up?" Ejek Luna pada Sandra tidak biasanya.
"Aku berani taruhan Mr. Ong berusia 35 tahun." Sandra kembali mengingatkan pasal taruhan.
"Aku yang sering telponan dia aja merasa dia sudah agak berumur 40an kali ya." Luna berlagak berfikir keras.
"Orang tiongkok kan gitu Luna."
"Lu maennya kurang jauh!" Ejek Sandra.
"Trus ko lu bisa tau dia 35 tahun dari mana? Katanya telpon aja ga ada jawaban." Tanya Luna heran.
Sandra hanya tersenyum mencurigakan "Gue makin curiga dia ada apa-apa ama lu! Masa dah tau lu cuti dia ngilang juga." Dia malah mengalihkan pembicaraan.
"Eh sumpeh gue ga pernah loh ketemu dia."
"Dia kan kantornya di Negara S. Sekarang ada disini karena suatu urusan katanya."
"Ya tau! gue sih nerima invitation dia cuma penasaran doang. Dia tuh sebenernya pengen ketemu lu doang. Selebihnya aku pasti menang taruhan Hahaha."
"BACOT!!!"
* * * * *
"Dengan Nona Luna dan Sandra ya?" Seorang pegawai resto menghampiri kami.
"Betul." Kami menjawab serempak.
"Silahkan ikuti saya Mr. Ong sudah hadir ditempat penjamuan."
"Terima kasih."
Luna dan Sandra telah berada di Harbour tepatnya di Sea Resort. Ada perasaan gelisah hinggap di hati Luna. Dia masih ingat terakhit kali kesini dia tengah keguguran.
"Are you okay?" Tanya Sandra merasa iba.
Luna mengangguk seraya tersenyum.
"Hallo It's you Luna?" Sapa seorang pria dengan taksiran usia tiga puluhan menghampiri kami.
"Ah sial Sandra menang!"
"Kau kalah Luna!" Terlihat mimik wajahnya mengejek.
Namun dalam hitungan detik kedua wanita ini tengah terpana oleh tampilan pria di depan mereka yang tengah melemparkan senyuman manis dan tampannya.
"Tao ming tse!" Lirih Sandra.
"Bukan lah, Lee min ho!" Seru Luna.
"Sumpeh ganteng banget!!"
"Gue bego banget sok nolak dia di awal!!"
"Dasar play girl!" Dengus Sandra.
"Come in please don't be hesitate."
(Masuklah, jangan ragu-ragu.)
Mr. Ong kembali berujar mempersilahkan keduanya masuk ke dalam ruang VVIP yang tidak bisa mereka sewa selama ini mereka ke Sea Resort.
"With pleasure Mr. Ong.." Luna menjawab dengan senyuman kemudian menundukkan pandangan.
"Play girl in action..." Sandra berucap lirih seperti nyanyian.
"Lo ngomongin gue... Gue bodo amat... Lo ngehina gue... Gue bodo amaat..." Luna balas dengan nyanyian yang viral di 2020 dia yakin Sandra tidak mmmengetahuinya
Meraka semua telah duduk di meja bundar yang besar mirip pperayaan gong xi fa cai. Mr. Ong berada di sebrang mereka. Setelah duduk Luna dan Sandra masih sangat canggung.
"I'm impressed with you."
(Aku terkesan denganmu.)
"This is our first time we met..."
"But I think you already know me?"
(Ini pertama kalinya kita bertemu...)
(Tapi kurasa kau sudah mengenalku?)
Sejujurnya Luna sangat malas berbincang, otaknya sudah log off setelah keluar dari tempat kerja. Namun saat ini di paksa untuk berpikir kembali.
"Yaa this time I think the third time we met..."
"I disappointed you forget me."
(Yaa kali ini kurasa ketiga kalinya kita bertemu...)
(Aku kecewa kau melupakanku.)
Raut wakah Mr. Ong yang tampan namun kelakuannya pemalu sungguh menggemaskan bagi kedua wanita bar-bar di depannya.
"Aku sungguh tidak ingat kapan aku bertemu dengannya?" Luna kembali sibuk dengan pikirannya.
"Third? I think this the second one?" Timpal Sandra membuat Luna mengalihkan pandangan menatap Sandra serius.
"PANTES DIA MINTA TARUHAN!! KAMFEET!!" Luna merutuki kebodohannya kalah taruhan.
"First in Iftar that I present to EPS in here."
"The second one at Millennia Tower I saw you two last week."
(Pertama di Iftar yang saya persembahkan untuk EPS di sini.?)
(Yang kedua di Millennia Tower aku melihat kalian berdua minggu lalu.)
Mr. Ong super humble bagi Luna dan Sandra, mereka menjadi tidak canggung dengan keramahan yang pria itu suguhkan.
"Ok Luna.. Sandra.."
"We'll doing our dinner and then we can talk more again."
(Oke Luna.. Sandra..)
(Kita akan melakukan makan malam kita dan kemudian kita bisa berbicara lebih banyak lagi.)
Mr. Ong mempersilahkan kami menyantap hidangan penjamuan.
"Of course with pleasure.." Jawab Sandra tidak tahu malu.
Luna hanya menyerinhai menunduk malu. Namun Luna merasa dirinya di perhatikan lebih oleh pria di depannya. Luna kembali di dera perasaan kurang nyaman.
* * * * * * * * * *
__ADS_1