
Di belakang stage Mahessa tengah dipanggil oleh ayahnya yaitu Adyatama.
"Mahessa...."
Mahessa berbalik badan, seraya menyeringai.
"Sayaaaaaang..."
"Mami bahagia sekali..."
"Akhirnya anak mami mau menikah juga..." Seru Sesillia menghambur memeluk anak kesayangan semata wayangnya.
"DASAR BOCAH NAKAL!"
"Kamu maen belakang sama mami..."
"Kenapa ga jujur dari awal mungkin kami ga perlu repot mikirin perjodohan kamu HAH?!"
Sesillia menepuk lengan Mahessa berulang kali.
"Stop MAM!!!" Mahessa tidak bisa berlaku kasar didepan maminya.
"Mahessa apa tujuanmu sebenarnya?"
Kemudian keduanya berhenti dan menatap tajam pada Adyatama.
"Kita bicarakan diruanganku...." Ujar Mahessa.
"Cih perusak suasana..."
"Kalau begitu mami mau ketemu menantu mami..."
"Dimana dia?" Ucap Sesillia semangat.
"Maaf mam..."
"Mungkin saat ini Luna sedikit syok..."
"Pasalnya dia tipe wanita yang tidak ingin terekspose."
"Aku belum memberitahunya tentang pengumuman pernikahanku barusan." Terang Mahessa tegas.
"APA?!"
Kedua orang tuanya saling tatap mencurigai sesuatu.
"Ayo keruanganku..."
Kemudian mereka bertiga berjalan menuju ruangan yang memang secara khusus diperuntukan sebagai ruang kerja pribadi Mahessa di gedung ini. Disisi lain gedung Farell sedang membawa Luna dan Sandra ke ruang entertaint yang biasa diperuntukan Mahessa untuk bersantai.
"Silahkan nona."
"Tuan berpesan agar nona semuanya menunggunya disini."
"Tuan ada keperluan sebentar."
Luna dan Sandra segera masuk tanpa sepatah kata terucap dari keduanya. Luna sedang mencoba mengatur emosinya dan Sandra mencoba menenangkannya.
"Apa ada yang nona inginkan?" Tanya Farell menawarkan.
"Iya... Aku ingin pulang sekarang!" Jawab Luna ketus.
"Mohon maaf nona saya tidak berani."Jawab Farell.
"Kalau begitu suruh Mahessa mendatangiku sekarang juga!"
"Kalau tidak aku akan pergi sendiri!!" Ujar Luna setengah berteriak.
"Lunaaa..." Lirih Sandra mengelus punggungnya.
"Baik nona."
"Kalau begitu saya undur diri." Pamit Farell seraya menutup pintu.
Luna menatap lurus kedepan tidak ada air mata yang keluar dia hanya sedang merasa sangat emosional.
"Apa maksud Mahessa sebenarnya?!" Batin Luna.
"Apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Sandra hati-hati.
Sandra tahu dalam situasi seperti ini jika dia menyalahkan Luna atas keputusannya mengambil peran ini justru akan menghancurkan mentalnya. Jika benar ini hanya pura-pura mungkin masih bisa teratasi namun jika ini penipuan Sandra yakin Luna akan merasa sangat depresi.
"Aku berharap Mahessa tidak mengecawakanku..." Lirihnya.
"Sabar sayang..." Sandra masih setia merangkul dan mengusap lembut rambut Luna yang masih menatap kosong kedepan.
Ruangan ini memiliki design yang memanjakan mata. Seluruh jendela kaca setengah bundar yang menghadap langsung dengan laut lepas. Namun bagi Luna ruangan ini seperti penjara saat ini.
* * * * *
Tanpa basa-basi Mahessa mengutarakan maksudnya kepada ayahnya setelah mereka duduk berhadapan.
"Pah, sesuai kesepakatan terakhir kita."
"Papa akan memberikanku 40% saham yang masih papa miliki di perusahaan.
"Jika aku menikah dalam waktu dekat ini."
Adyatama terdiam mengetahui kemana arah pembicaraan ini, dia menyimak dengan baik karena dia paham sekali cara kerja Mahessa yang sangat pandai dengan kata-kata.
"Lalu?" Jawab Adyatama.
"Aku sudah menikah dengan Luna."
"Papa sudah bisa melalukan proses pengalihan hak." Ujar Mahessa dingin.
"Apa aku harus percaya begitu saja?" Timpal Adyatama.
"Pah!!" Hardik Sesillia
Tut...
"Farell..."
"Bawakan semua berkas."
Tanpa menunggu lama Farell telah memasuki ruangan dengan menaruh map di hadapan Mahessa dan tuan Adyatama.
"Selamat malam tuan..."
"Ini yang anda inginkan."
"Apa ini?"
Tuan Adyatama menarik berkas dan membuka isinya.
"Buku nikah aku dengan Luna."
"Aku sudah menikah dengannya di catatan sipil minggu lalu."
"Papa bisa mengeceknya jika tidak percaya."
Mahessa berujar sangat tenang, seolah semua ini memang tidak ada kesepakatan di dalamnya. Adyatama memperhatikan semua berkas yang dia pegang sekarang. Benar adanya Akte Nikah mereka dengan tanda tangan asli. Adyatama menelan salivanya menatap putra semata wayangnya.
"WOW!!!"
"Bocah sialan kenapa aku baru mengetahuinya!!!"
"Setelah ini aku harus mempersiapkan hadian untuk Luna!"
"Kamu bikin malu aja aku sebagai mertua akan di cap tidak perhatian!!!"
Nyonya Sesillia menyambar akta nikah dari tangan suaminya dan memastikan kebenarannya. Adyatama menghembuskan nafas kasar. Secara pribadi tentu ini kebahagian besar untuk keluarga besarnya. Namun...
"Lalu bagaimana dengan Alister?" Sambung Adyatama.
"Pah!"
"Bukankah tadi Mahessa telah membatalkan semuanya."
"Harusnya sih sudah bukan jadi masalah."
Istrinya terus membela putra kesayangannya.
"Tidak semudah itu..."
"Dia akan melakukan sesuatu yang membahayakan."
"Baik untuk E.T atau bahkan mungkin Luna.'
"Kamu sudah perhitungkan?"
"Apa yang bisa mereka lakukan terhadap E.T?'
"Aku bahkan bisa saja menggulingkan Alphalister saat ini."
"Hanya demi menjaga air muka keluarga kita aku tidak melakukannya."
"Mengenai Luna..."
"Siapapun yang menyentuhnya bahkan satu helai rambutnya saja maka dia akan menghadapi kematian."
Sorot mata tajam Mahessa membuat kedua orang tuanya tertegun sejenak. Tatapan mata itu hanya akan putranya layangkan untuk urusan yang benar-benar serius. Mereka tahu bagaimana dingin dan angkuhnya Mahessa dalam mengakusisi setiap perusahaan yang dia inginkan. Namun saat menuturkan kematian itu dirasa terlalu berlebihan.
"Walau bagaimanapun hanya Akta saja tidak bisa membuat aku menyerahkan seluruh saham itu." Terang Adyatama pura-pura tenang.
Siapa yang tidak tahu apa yang selalu anaknya lakukan dalam mengakusisi. Dia selalu menghalalkan segala cara. Bisa jadi pernikahan ini juga tidak nyata adanya. Adyatama meyakini bahwa Luna hanya menjadi alat penukaran saham saja.
"Tentu saja, aku tau apa yang telah papa pikirkan." Jawab Mahessa menyeringai.
"Lusa aku akan mengadakan akad dan resepsi."
"Dari pihak Luna hanya ada ayah kandungnya saja sebagai wali nikah."
"Untuk menjaga privacy..."
"Luna pribadi yang meminta."
__ADS_1
"Selanjutnya aku akan kembali menjadwalkan penjamuan keluarga kita dan keluarganya."
"Aaaaa!!!"
"Cepat pah... kita pulang!!"
"Besok aku harus menyiapkan gaun dan kado!!!"
"Apa Royal Junction masih buka?" Pekik Sesillia.
"Aaaaaa..."
"Bocah sialan... Aku tidak sempat ke Paris saat ini!!!"
"Aku harus membeli gaun dan perhiasan dimanaaaa??!!!" Nyonya Sesillia terlalu bahagia. Sifatnya yang ceplas ceplos membuat Mahessa juga menginginkan istri seperti maminya. Semua itu ada pada Luna. Mahessa tersenyum melihat tingkah maminya.
"Haissh..."
"Baiklah papa dan mamamu pulang sekarang."
"Aku ingin mendapat undangan resmi dikediaman."
Titah Adyatama seraya berdiri bersiap meninggalkan ruangan.
"Farell..." Seru Mahessa.
"Baik tuan..."
"Tuan besar mari ikut saya..."
Sesillia ikut beranjak mendekati putranya dan memeluknya erat.
"Good job my boy.... I can't wait to hold my grand daughter.." Bisiknya di telinga Mahessa.
Kini wajah Mahessa memerah, sesungguhnya dia sendiri sudah sangat tidak sabar dengan keputusannya yang mendadak ini. Satu hal yang dia takutkan saat ini adalah reaksi Luna.
"Bagaimana memulainya?" Mahessa menutup matanya erat.
"Luna, maafkan aku..."
"Jika ada yang bisa disalahkan."
"Maka salahkan dirimu yang telah mengambil hatiku begitu saja." Lirih Mahessa seraya bangkit siap menemui Luna.
* * * * *
Mahessa bergegas menuju ruangan tempat Luna berada. "Bagaimana jika Luna menolak?"
Terdengar suara bunyi pintu terbuka, Farell mempersilahkan Mahessa memasuki ruangan diikuti Farell dibelakangnya. Luna yang menyadari keberadaan Mahessa bangkit dari rangkulan Sandra bergegas menghampiri Mahessa.
PLAAAAAK
Satu tamparan sadis Luna sematkan di pipi Mahessa.
"Itu balasan karena kamu seenaknya mengubah rencana awal di perjanjian kita." Ujar Luna penuh kekesalan.
"Aku harap kamu mempunyai alasan bagus menjelaskan semua ini!!" Lirih Luna.
Mahessa memegang pipi bekas tamparan Luna yang menyisakan perih.
"Cutiepie ku bisa berlaku sadis juga ternyata..." Mahessa menyeringai.
Luna membulatkan matanya saat dia menyebutkan cutiepie dan Sandra mendelik kearahnya.
"Luna..."
"Boleh kita bicara hanya berdua? Ini sangat pribadi bukan?" Pinta Mahessa lembut.
"Tapi Sandra adalah orangku."
"Aku tidak akan menyembunyikan apapun dari dia." Ketus Luna.
Sandra terdiam dengan penuturan Luna. Dalam situasi seperti ini lebih baik dia sendiri yang menyingkir. Namun dia khawatir terjadi sesuatu terhadap Luna mengingat Luna selalu berpikir sempit dan tergesa bahkan terkadang sangat bodoh.
"Tenang Mahessa aku tidak akan mengganggu kalian."
"Aku disini memang menemaninya."
"Jadi aku mohon ijinkan aku disini."
Sandra berucap sanagt hati-hati berharap Mahessa melunak.
Mahessa menghembuskan nafas kasar membiarkan Sandra ditengah mereka akan sedikit sulit untuk membuat kesepakatan dengan Luna.
"Sekarang tanpa perlu bertele-tele."
"Jelaskan apa maksud semuanya?"
"Kenapa kamu bilang aku istri kamu HAH?!"
Mahessa menatap lekat wajah sang pujaan hatinya. Sayang saat ini hatinya belum bisa ia miliki seutuhnya.
"Aku minta maaf sebelumnya."
"Aku bertindak sendiri."
"Kita duduk?"
Tubuh Luna tengah bergetar hebat, belum pernah dalam hidupnya rasa emosi seperti ini.
"Kemarin adalah hari dimana aku mengetahui bahwa ayahku akan mengalihkan semua sahamnya."
"Dengan syarat aku telah menikah."
"Sejujurnya, semua kecaman itu ia lakukan agar aku segera menikahi Alena."
"Namun sayangnya Alena melakukan perselingkuhan dibelakangku."
"Aku tidak ingin mempunyai istri seperti itu."
"Seminggu ini E.T sedang dalam masa krisis."
"Aku hanya memiliki 30% saham saja disini, sedangkan 40% terbesar masih ditangan ayahku."
"Sisanya 30% lagi adalah pihak luar yang ingin menguasai dan menggulingkan ku dari posisi presidir."
"Ayahku sudah menyatakan pensiun dia tidak mungkin kembali. Kemarin dia bilang jika aku tidak segera menikah maka suaranya akan dia berikan untuk orang lain sehingga aku tidak akan lagi menjabat sebagai CEO E.T" Mahessa menjelaskan dengan rinci kebohongannya pada Luna dengan sanagt mulus senatural mungkin berharap wanitanya percaya.
"Lalu apa hubungannya dengan ku!!" Maki Luna.
Mahessa menelan salivanya. "Aku butuh bantuanmu menjadi istriku agar ayahku mau memberikan 40% sahamnya untukku." Lirih Mahessa.
"HAHAHAHAHAHAHA!!!"
"KAMU MEMPERALAT AKU?"
"MENJADIKAN AKU ALAT PERTUKARAN DENGAN SAHAM YANG SAMA SEKALI TIDAK ADA HUBUNGANNYA DENGANKU???!!!"
"APA KAMU SUDAH TIDAK WARAS MAHESSA!!!"
"Aku berhenti!"
"Aku akan mengembalikan semua uangmu saat ini juga!"
"Carilah wanita lain yang mau bekerja sama denganmu. Tapi bukan aku!!"
Luna segera beranjak dari tempat duduknya bersiap meninggalkan ruangan itu dengan menggenggam tangan Sandra.
"TUNGGU LUNA!!" Hardik Mahessa bangkit seraya menarik tangan Luna.
"LEPAS!"
Mahessa melepaskannya "Aku minta maaf..."
"Tapi semua ini sudah terlambat."
"Kamu dan aku sudah resmi menjadi suami istri secara sah di negara S."
JEDEEER!!!!
Bagai disambar petir disiang bolong, saat Mehessa mengungkapkan semuanya mata Luna terbelalak, tubuhnya lemas, air matanya yang sedari tadi dia tahan keluar begitu saja.
"LUNA..." Sandra menopang tubuh Luna yang hampir ambruk.
"Apa kamu bilang Mahessa?" Lirih Luna.
Mahessa yang terkejut dan khawatir menatap wajah Luna lekat.
"Maaf Luna, saat ini kita telah resmi menjadi suami istri di negara S."
"Farell..." Titah Mahessa pada Asisten pribadinya.
"Nona..."
"Ini adalah akta pernikahan anda dan tuan Mahessa." Farell menunjukan buku nikah dan serangkaian dokumen lainnya.
Sandra menutup mulutnya tak percaya sedangkan Luna berteriak histeris dan ambruk dilantai.
"Aaaaaaaaaaa........." Pekik Luna menutup kedua telinganya.
"L-LUNA.." Mahessa menghampiri Luna.
"PERGI KAMU!!!!!"
"KAMU JAHAT MAHESSAAA!!'
"AKU MEMBENCIMU!!!"
"SEUMUR HIDUPKU AKU AKAN MEMBENCIMU!!!!"
Luna terus menjerit dengan memaki pria dia hadapannyadengan terisak pilu.
"Luna..." Sandra ikut menangis melihat sahabatnya dalam kondisi seperti ini.
"Farell bawa Sandra ke Beverly..."Titah Mahessa dingin.
"TIDAK!"
__ADS_1
"APA HAK MU MENGATUR SEMUANYA."
"DIA IKUT DENGANKU!"
"AKU DISINI DIA DISINI!"
"DIA PERGI MAKA AKU JUGA AKAN PERGI!"
Maki Luna lantang di hadapan Mahessa. Pria itu mulai tersulutkan emosinya.
"FAREELL!!!" Bentak Mahessa.
"B-baik tuan..."
"Maaf kan saya nona..." Farell memaksa Sandra untuk ikut.
"Tidaakk.. aku harus menemani Luna...." Pekik Sandra.
"Saya jamin tuan Mahessa tidak akan melakukan yang membahayakan nona Luna." Farell menyeret Sandra keluar ruangan dan menutup pintu ruangan.
"SANDRAAAAAAA...." Luna bangkit ingin mengejar namun tertahan oleh genggaman Mahessa.
"LUNA! DENGARKAN AKU DULU!!" Bentak Mahessa.
PLAAAAAAAAK
Luna kembali menampar Mahessa kali ini jauh lebih keras. Emosi Luna sungguh telah membludak.
"Aku membencimu Mahessa..."
"Jangan harap aku mau jadi istrimu..."
"Persetan dengan buku nikah tersebut."
"Aku yakin aku tidak pernah menandatangani itu..."
Dengan suara yang lirih dia tetap teguh pada pendiriannya. Dia terjatuh dalam dekapan Mahessa. Mahessa sendiri sanagt perih mendengar semua rutukan Luna akan dirinya.
"Maafkan aku Luna."
"Kamu boleh menamparku berkali-kali."
"Namun untuk keluar dari sini aku Mahessa Adyatama tidak akan pernah mengijinkannya"
"Apa yang kamu mau dariku?"
"Kamu tahu aku wanita yang sudah tidak suci lagi bahkan aku telah melakukan aborsi."
"Apa yang kamu harapkan dari aku?"
"Bulan depan aku menikah...."
"AKU AKAN MENIKAH DENGAN ADIRA BULAN DEPAN MAHESSA!!!" Luna kembali memaki Mahessa dan memukul tubuhnya dengan kekuatan yang masih tersisa ditubuhnya.
"Huhuhu..."
"Kamu jahat Mahessaa..."
"Aku sangat bodoh mempercayai bahwa kamu tidak akan mungkin memperalat aku!!" Luna terus meracau ditengah isaknya.
Mahessa mencoba merangkulnya namun segera di hardik kasar oleh wanitanya.
"LEPAAAAS!!!!"
"Aku ingat, aku bertemu seorang wanita yang tengah depresi dipinggir jalan yang tengah dicampakan oleh lelakinya."
"Akulah yang membawanya berobat..."
"Dari situ aku tahu bahwa dia adalah wanita yang mandiri dan tangguh dia bahkan tidak menyalahkan prianya atas apa yang terjadi dihidupnya."
"Aku juga ingat..."
"Bagaimana wanita itu juga bilang bahwa menikah bukan prioritas hidupnya."
"Dia ingin meniti karier dan menjajal batas kemampuannya."
"Maksudmu apa?" Tanya Luna kemudian.
"Aku bisa mewujudkan apa yang kamu inginkan Luna."
Bagi Mahessa yang memang pandai berkelit saat berbisnis tidak sulit untuk mencari alasan agar Luna luluh dan mau bekerja sama dengannya.
"Kalau begitu..."
"Aku ingin kita tidak punya hubungan apa-apa..."
"Aku hanya ingin saat ini menikah dengan Adira Renald!!"
"NALUNA!!"
"Aku mencoba sabar denganmu!!!"
Panas hati Mahessa Luna selalu memprioritaskan prianya. Dia benci mengetahui Luna begitu mencintai pria brengsek seperti Adira.
"Aku mohon Mahessa..."
"Aku mohon..."
"Kamu lepasin aku ya..."
Luna memohon di hadapan Mahessa kali ini menundukan tubuhnya berulang kali.
"MAAFKAN AKU LUNA."
"TIDAK ADA JALAN KEMBALI UNTUK KITA!!"
"KAMU AKAN TETAP MENJADI ISTRI MAHESSA SAAT INI!!"
Kali ini Mahessa berkata kasar, dia tidak menyukai pengorbanan Luna untuk kekasihnya.
Bug!
Bug!
Bug!
"BAJINGAN!!"
"BRENGSEK!!"
"AKU MEMBENCIMU MAHESSA!!!"
"Aku hanya akan menikah dengan Adira!!"
"Hanya dia yang aku inginkan!!!"
Luna memaki balik dengan memukul dada bidang Mahessa.
"Luna..."
Mahessa menggenggam tangan Luna dan berkata lembut kali ini.
"Aku pastikan kontrak pernikahan kita sangat menguntungkanmu."
"Asal kamu menyetujuinya maka syarat apapun akan aku kabulkan.'
"Satu saja yang aku minta..."
"CIH AKU TIDAK SUDI..."
"AKU TIDAK AKAN TERTIPU UNTUK KEDUA KALINYA MAHESSA!!"
"AKU LEBIH MEMILIH MATI DIBANDING MENIKAH DENGANMU!!!"
Darah Mahessa mendidih seketika emosinya meluap "Apa baiknya si ADIRA itu!! Luna sebegitunya kamu tidak menginginkan menikah denganku. Aku lebih dari segi apapun dibanding pria tak bertanggung jawab itu!!" Rutuk Mahessa dalam hati.
Mahessa sudah tidak bisa mengontrol emosinya dia mencengkram erat kedua pipi Luna dengan satu tangannya seraya mengancamnya.
"KESABARANKU SUDAH HABIS LUNA!!"
"KAMU INGIN MATI TIDAK SEMUDAH ITU."
"AKU PASTIKAN ADIRA LEBIH DULU MENYAPA MALAIKAT MAUT SAAT INI JUGA!"
"APA KAMU TIDAK TAU DIA DIMANA SEKARANG?"
"AYAHNYA SEDANG SEKARAT SAAT INI."
"ITU SEMUA ADALAH SALAH KAMU!!!"
Mahesa melepaskan cengkramannya, Luna terengah.
DEG!
Mata Luna terbelalak lengkap sudah penderitaannya kali ini. Bahkan di kehidupannya yang kedua dia justru lebih menyedihkan.
"Mas Dira...." Lirihnya
"Apa kamu tega membiarkan keluarga kekasihmu menerima konsekuensi atas tindakanmu."
"APA YANG TENGAH KAMU LAKUKAN!!" Pekik Luna.
Mahessa berdiri dari tempatnya mengambil gelas dan menuang wine kemudian menyalakan cerutunya.
"Apa kamu tau siapa sebenarnya ADIRA RENALD?" Mahessa menyeringai.
Kini sikapnya yang lembut hilang seketika, dia terbakar emosi saat Luna memprovokasinya dengan kata tidak sudi menikahinya. Mahessa mendekati Luna, membuang asap cerutunya diwajah Luna.
"Uhuk.. Uhuukk.." Luna terbatuk karena asap yang diberikan Mahessa.
Luna merasa terhina saat ini atas perlakuan Mahessa padanya. Luna sendiri telah mengetahui status Adira. Toh Adira sudah tidak menutupi semua fasilitas yang dia miliki. Hanya saja prianya sangat sulit mengungkapkan kebenaran dirinya. Dia memang tengah kecewa namun jika dibanding apa yang dia lakukan di belakang prianya tentu saja akan sangat menyakiti prianya.
"Apa maksud Mahessa?"
"Apa mungkin Adira reval bisnisnya?
* * * * * * * * * *
__ADS_1