
Luna bergegas beranjak menjauh dari mobil Mahessa, saat akan membuka pintu gerbang rumah Luna merasakan lengannya di tarik seseorang dan
Brug!!
Inginnya meronta namun, wangi yang sangat familiar menguar di indra penciumannya. Wangi Giorgio Armani yang membuatnya sangat tergila-gila berlama-lama dengan pria ini.
"Mas..." Lirih Luna tidak bisa menolak hadirnya.
"LUNAA!!"
"Aku sangat takut sayaaang..."
"Akhirnya aku menemukanmu!!"
Adira melonggarkan pelukannya menatap Luna nanar tersenyum pilu dan kembali mengeratkan pelukannya.
"Bukankah seharusnya dia membenciku?"
"Dengan lantangnya dia berujar kebencian dan menarik aku keluar..."
Luna kembali merasa sakit hatinya mengingat bagaimana Adira memperlakukan dirinya sebelum akhirnya dia pingsan.
"Mas... Ini di luar dan aku masih tidak bisa berdiri berlama-lama..."
Luna mencoba mendorong dan melepaskan pelukannya. Luna menyelidik tampilan Adira saat ini, begitu kusut bahkan wajahnya yang sayu dengan meinggalkan lingkaran hitam di bawah matanya yang selalu puth bersih bersinar.
"Mas tidak bekerja?"
"Aku minta maaf Luna... Aku sungguh minta maaf atak kelakuan bejadku kemarin!!" Adira bersimpuh menggenggam kedua tangan wanitanya.
"Mm aas..." Luna terkejut dia segera menyuruh prianya bangkit.
"Kita bisa membahasnya di dalam..."
Adira menggelengkan kepalannya putus asa "Kau boleh menghukumku apa saja!!"
"Asal jangan pernah tinggalkan aku!!"
DEG!
Luna tidak menyangka kekasihnya akan melakukan semacam ini. Luna tersenyum lemah "Aku selalu memaafkanmu mas..."
"Terima kasih sayang..." Adira bangkit dan kembali merangkul mesra dan sanagt erat wanitanya.
"Aarghh.."
"Sayang kenapa?" Adira terlihat panik.
"Perutku masih kram..."
"Okay aku gendong ya..."
"Tidak perlu..."
Mereka memasuki lorong dan menaiki anak tangga perlahan. Adira terus menggenggam tangan Luna dan memapahnya dengan hati-hati. Tibalah didepan pintu kamar sewa Luna mereka berhenti, Luna tidak segera membuka pintunya. Dia masih ragu apakah mungkin dia berani melihat tempat dimana dia dengan sadar dan kejam membunuh benih cintanya yang baru berumur beberapa minggu itu.
"Kamu baik-baik saja sayang?" Tanya Adira hati-hati.
"Ehmm...." Luna tertegun kemudian merogoh kunci di dalam sling bagnya.
Sebelum membukanya Luna menarik dan menghembuskan nafas perlahan, Adira menggenggamnya erat. Memberikan energi agar wanitanya kuat membuka dunia dimana sarang dosa berada. Luna perlahan memutar kunci dan mendorong knop pintu. Baru sampai depan pintu Luna kembali mengingat bagaimana dia mengkonsumsi pil itu, bagaimana dia mengeluarkan darah segar dari area kepunyaannya. Bagaimana dia histeris saat darah itu terus mengalir tanpa bisa dia hentikan kembali.
Brukk!
Luna terjatuh dengan memegang kepalanya.
"LUNAA!!" Adira segera merangkul tubuh ringkih kekasihnya.
"Maafkan aku sayang..."
"Aku tidak punya kata lagi untuk mendeskripsikan permintaan maaf dan kebodohanku!"
Adira terus memeluk wanitanya yang kini sudah terisak pilu.
"Aku membunuhnya mas..."
"Sudah.. Sudah... Kita keluar dari sini ya..."
"Apa yang kamu butuhkan aku kemas sekarang."
__ADS_1
"Sementara kamu tinggal di tempatku."
Luna tidak bisa berpikir panjang, dia masih sanagt trauma dengan kejadian naas yang menimpanya saat ini. Adira memasukan beberapa potong baju beserta kabel charger dan yang lainnya.
"Ayok sayang..."
Adira memapah Luna berdiri dan meninggalkan tempat itu.
Di dalam mobil Luna masih terisak pilu, Sama halnya dengan Adira. Saat ini dia sudah tidak bisa lagi menahanya.
"Aku sungguh pria brengsek, membuat wanitaku mengalami kesakitan seperti ini... Diaakan semakin depresi dan mengalami trauma."
"Adira kau bodoh!!"
"Luna, jika bisa aku gadaikan hidupku untuk menukar dengan kebahagianmu kembali aku bersedia."
Adira terus menerus merutuki kejahatannya, dia sejenak membiarkan wanitanya terisak dalam dekapannya. Dengan mengusap lembut kepala. rambut bahkan punggungnya.
"Sayang... Maafkan aku..."
"Aku memang tidak termaafkan, tapi ijinkan aku memperbaiki semuanya ya..."
"Aku berjanji akan selalu berusaha membahagiakanmu..."
"Apa yang kamu inginkan aku akan berusaha kabulkan..."
Adira melonggarkan pelukan memegang wajah Luna dengan kedua tangannya dan berbicara serius dengan sisa air matanya yang masih menetes hingga sekarang. Luna mengangguk lemah dengan senyuman pilunya.
"Terima kasih sayang..."
Adira kembali merangkul kekasihnya dan mencium keningnya erat.
"Kita pulang ke tempatku ya..."
"Kelak disana akan jadi rumah kita..."
"Apa?"
Luna mengernyitkan keningnya.
"Bukannya mas juga tinggal di blok belakang kan?"
"Nanti teman-teman mas tahu aku bohong!"
Adira mengecup jemari Luna dan tersenyum tampan sekali kearah Luna. Luna tersipu malu di buatnya.
"Sejak kapan kulkas dua pintu ini pintar menggombal begini!!"
"Ah Naluna bodoh..."
Luna tengah berperang dalam batinnya, dia yang awalnya ingin memutuskan hubungannya dengan Adira saat ini justru tengah merasa lain dengan perasaannya.
"Mengapa dia selalu bisa membuat aku terus jatuh hati berulang kali dengannya!!" Luna menatap wajah Adira yang tampan otak nistanya mengatakan untuk menciumnya sekarang.
"Loh mas kemana ini?"
"Kerumah kita sayang..."
"Aku akan tinggal disana bersama istriku mulai sekarang."
"Hah? Istri yang mana?!"
"Jangan mulai deh Luna!" Dia berekspresi kesal.
Luna tertawa lirih kemudian mengalihkan pandangannya keluar jendela.
"Tuhan yang maha membolak balikan isi hati, kemarin aku membencinya saat ini aku justru tengah jatuh cinta kembali pada orang yang sama. Orang yang 8 tahun kemarin sudah mempersuntingku dan memberikanku dua anak yang sangat menggemaskan."
"Mungkinkan aku bisa kembali dengan kedua anak ku lagi kelak?"
Luna menyenderkan tubuh dan kepalanya di kursi kemudian terpejam. Adira memperhatikan wanitanya tersenyum dan melajukan dengan cepat ke tempat mereka saat ini.
* * * * *
Mereka telah sampai di pelataran basemant salah satu mansion terkenal di kota B.
"Park Avenue?" Batin Luna mengetahui nama apartement ini.
Dulu dia mengincar kawasan ini, namun karena sangat jauh dari lokasi kantornya dia urungkan.
__ADS_1
"Sejak kapan mas pindah kesini?" Tanya Luna setelah mereka turun dan menuju area dalam apartement.
"Baru hari ini... Hehe"
Luna menatap dengan berbagai pertanyaan yang sulit dia ucapkan. Adira mengacak rambutnya perlahan dan mencium keningnya. Sepanjang jalan Adira menggenggam erat tangannya sesekali menciumnya.
"Tuhan, tolong cek otaknya... Mungkin saat aku terlahir kembali otak dia juga konslet!" Batin Luna merasa terkejut dengan perubahan yang tergolong drastis bagi kulkas hidup bernama Adira.
Adira telah membuka pintu rumahnya, Luna menyapu pandangan kesekitarnya.
"Mas membelinya?" Tanya Luna dengan senyuman manisnya.
Adira hanya mengangguk membalas senyuman Luna dan segera mencium bibirnya. Adira memegang leher Luna dia terus menciumi Luna dengan rakusnya.
"Kamu istirahat di kamar dulu ya..." Adira melepaskan tautannya.
Luna sangat senang saat ini, dia membuka pintu kamar utama.
"Wow..."
Luna menyibak tirai panjang membuka pintu menuju balkon kamarnya. Dia berdiri memegang erat di ujung pagar pembatas. Menutup matanya membiarkan angin menerpa tubuhnya. Rambutnya telah berterbangan kesana-sini. Sebuah rangkulan hangat melingkar di pinggangnya. Bahunya juga telah di ciumi si pria.
"Aku sangat merindukanmu..."
"Baru dua hari aku tidak bersamamu berasa sewindu!!"
Ucap si pria gombal, Luna menggenggam erat rangkulan tangan si pria.
Adira membalikan tubuh wanitanya di memberi sedikit jarang dirinya dan wanitanya yang tengah berdiri di batas pagar balkonnya. Adira kembali bersimpuh menatap lekat wanitanya, dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan kotak kecil segera dia tunjukan di hadapan wanitanya.
Luna terkejut dengan aksi prianya, dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Matanya tengah berkaca, berulang kali dia menggelengkan kepalanya tidak percaya.
"Sayangku Naluna Maharanni..."
"Maukah kamu menjadi istriku, ibu dari anak-anakku dan menghabiskan waktu menua bersama..."
Tubuh Luna bergetar mendengar penuturan tulus prianya yang sama tengah berkaca. Debar jantungnya berpacu lebih cepat, bahkan sekejab tubuhnya merasa meremang. Air matanya telah turun Luna belum bisa mengeluarkan kata.
Adira masih menunggu Luna menjawab ajakannya.
"Kumohon sayang, terimalah segenap jiwa dan ragaku yang aku serahkan untukmu seutuhnya."
"Lihatlah aku tanpa dirimu sayang..."
"Jantungku tidak akan mungkin bisa berdetak tanpa cintamu yang begitu tulus menerimaku yang begini adanya!"
Luna membuka mulutnya lebar "Tuhan aku yakin kamu salah mengambil jiwa seseorang... Ini bukan Adira!!"
"Ini pasti aktor drama korea!!"
"Tuhan tolong periksa lagi, sebelum aku semakin terjerumus semakin mencintainya!!!"
Luna tidak percaya apa yang dia dengar dari mulut Adira. Begitu manis dan memabukkan.
Jantung Luna seolah lupa caranya berdetak, dan dia juga lupa bagaimana caranya bernafas. Dia tidak pernah tahu Adira bisa melakukan hal semacam ini. Jika ingin diingat kembali dahulu Luna tidak mengalami proses lamaran yang romantis sedemikian rupa. Bahkan pernikahannya hanya pernikahan sederhana demi menutupi aib mereka yang saat itu perut Luna sudah membuncit.
Luna bahkan benar-benar tidak ingin mengingat kejadian yang mencoreng wajahnya dan keluarga besarnya.
Luna semakin terisak dia menggerak-gerakkan kakinya menandakan dia tengah gelisah.
"Sayaaaang..." Pinta Adira masih bersimpuh dan membuka kotak kecil berwarna biru dengan aksen pita di tengah. Memperliahtkan cincin emas putih dengan berlian ditengahnya. Simple namun itu yang di sukai Luna selama ini dalam benaknya.
"Apa mas serius?" Ujar Luna lirih.
Adira bangkit dan mendekat "Aku sangat serius sayang..."
Tangannya menyapu bulir bening dan pipi Luna yang sudah basah.
"Sayangku Naluna Maranni, ini sumpahku untukmu.."
"Aku berjanji akan membahgiakanmu disisa umurku di dunia ini."
"Hanya kamu wanitaku satu-satunya pemilik hatiku dan seluruh ragaku!"
Luna sudah tidak tahan dengan ucapan manis prianya, dia menghambur memeluk erat prianya.
"Aku mencintaimu mas... Aku selalu mencintaimu sampai kapanpun!!"
"Seandainya aku bisa membencimu atas apa yang telah kamu lakukan padaku!"
__ADS_1
Adira merangkul erat wanitanya "Terima kasih sayaang... Terima kasih!"
* * * * * * * * * *