
"Jika bukan hal penting aku kirim kamu ke afrika!!"
Mahessa menjawab panggilan asistennya. Pria itu berdiri dari ranjang dengan senyuman tak sengaja terpancar mengingat kembali apa yang terjadi satu jam sebelumnya.
"Apa bersama Adira dia juga seperti ini?"
"Laki-laki sialan ini lagi!!"
"Aku tidak bisa membayangkan jika Adira kembali lagi kesini dan mereka melakukan hal ini lagi ingin rasanya aku membunuh laki-laki itu!!" Umpat Mahessa emosi.
Dia tidak bisa melepaskan pikirannya dari sosok Adira yang tengah membuat istrinya merelakan harga dirinya dia renggut begitu saja. Bahkan hingga wanitanya hamil padahal dia tidak ingin.
"Aku bahkan melakukannya setelah aku sah menjadi suaminya!!"
"Bukti laki-laki itu tidak menghargainya!!"
"Kenapa Luna bisa sampai mencintai lelaki seperti Adira. Apa dia pandai memuaskan wanitaku sampai hamil!!"
"AH SH*IT!!!"
Mahessa terus berpikiran negatif perihal hubungan istrinya dengan lelaki yang dia benci saat ini. Sampai dia kembali tersadar.
Di agenda Mahessa saat ini akan dilakukan rapat koordinasi final mengenai permasalahan di Harbour. Wajar saja jika Farell memburu bos angkuhnya ini.
Pasalnya seharusnya rapat di laksanakan pukul 8 pagi dan saat ini telah molor selama 2 jam. Tidak pernah dalam hidup Farell bosnya mengingkari pekerjaannya.
"Maaf tuan saya hanya ingin memastikan."
"Rapat koordinasi kita dalam mengatasi masalah penurunan saham Seacorp di lanjut atau di tunda tuan?" Ujar Farell membuyarkan lamunan Mahessa.
"Aku sampai lupa dengan jadwal kerjaan ku karena kamu cutie!!" Batin Mahessa.
"Undur hingga selepas makan siang. Aku akan memulai rapat pukul 2 siang ini."
"Farell siapkan makan siang ke mansion Luna. Jangan lupa kudapan cheesecake kesukaannya.."
"Baik tuan."
"Tapi cheesecake itu di Negara S tuan..."
"Aku tidak mau tahu siang ini sudah ada di tempat Luna."
"Kalau perlu kamu pekerjakan koki pembuat pastry itu di Paragon!"
"Baik tuan."
"Apa ada lagi yang anda butuhkan?"
"Satu set pakaianku..."
"Jangan sampai telat!!"
"Baik tuan saya mohon ijin mempersiapkan semuanya."
"Hmmm.."
Sambungan terputus namun senyum Mahessa mengembang saat ini tangan wanitanya tengah melingkar di pinggangnya.
"Kamu sudah selesai cutie?" Ujar Mahessa lembut mengusap jemari tangan Luna.
"Kamu mau pergi ya?" Tanya Luna manja.
"Sebentar menghadiri rapat." Mahessa menyesap leher Luna.
Mahessa kembali menggendong istrinya dan menaruhnya di atas ranjang dan menyelidik tubuh Luna yang berbalutkan dress tipisnya kembali.
"Cutie kamu sungguh menggoda."
"Aku ingin lagi dan lagi!!"
"Apa aku tidak memuaskan mu ya barusan?!" Goda Luna saat ini.
"Sayaaaang...." Panggil Mahessa berat, karena miliknya telah sepenuhnya kembali berdiri tegak di balik handuknya.
"Aku menyukai punyamu sayang!!" Goda Luna tak tahu malu kini menyentuh adik junior milik suaminya.
"Benarkah?!"
"Wanita penggoda!!"
Mahessa mengumpat dan membenamkan wajah Luna ke area miliknya.
"Aaarrrghh!!" Lenguh Mahessa kini mengikat rambut panjang Luna dengan tangannya agar tidak menggangu.
"Seumur hidupku hanya kamu yang berani melakukan ini cutie!!" Rutuk Mahessa menikmati permainannya.
Luna menatap wajah Mahessa nakal.
"Aku sudah terlanjur kotor dan hina. Aku juga tidak menampik menikmatinya. Walau permainan Mahessa tidak seliar dan seahli mas Dira tapi kekuatannya cukup membuat aku sangat puas. Terlebih semua ini halal!"
* * * * *
Mahessa tengah mengeringkan rambut wanita tercintanya dengan senyuman bahagianya. Semenjak mengenal Luna bahkan setelah dia merasakan nikmatnya bercinta perasaan bahagianya naik pesat. Jika dulu dia menjalani hidup dengan angkuh dan membosankan kini dia siap merubahnya bersama wanita pujaannya.
"Terima kasih sayang..." Mahessa mematikan hairdryer dan mengecup pucuk kepala Luna.
"Kau harus memberiku kompensasi yang besar." Pinta Luna manja.
"Anything for you..."
"Kamu tidak boleh melakukannya denga wanita lain!!" Seru Luna.
"Apa bisa berlaku sebaliknya?" Ejek Mahessa.
"Tidak!" Jawab Luna mantap.
"Apa kamu belajar egois?!"
"Ingat di perjanjiannya kamu tidak berhak mengatur urusan pribadiku!!"
"Kamu bahkan telah melanggar aturan telah menyentuhku."
"Tapi kamu menikmatinya juga!" Mahessa tidak mau kalah.
Bruuukkk!
Luna memukul wajah Mahessa dengan bantal.
"Aku tergila-gila padamu sayang..." Mahessa menatap serius ke arah Luna.
"Hanya kamu wanita yang bisa aku sentuh..." Ujarnya kemudian.
"Baguslah..." Luna melingkarkan tangan di leher prianya.
"Aku lapaaaaar...." Rengek Luna.
"Hahaha..." Mahessa terbahak dan segera menghubungi asistennya.
"FARELL!!"
"Apa kamu beli makan di Dubai?!"
"Saya sudah di lift tuan..."
"Baguslah."
"Kamu ni!"
"Jangan terlalu keras dengan asistenmu dia kabur baru tau rasa..." Rutuk Luna menasehati.
"Dia tidak akan pernah berani kabur dariku.." Mahessa duduk dan mengangkat wanitanya dalam pangkuannya.
"Tapi denganku kamu sangat lembut..." Pancing Luna.
"Tentu saja kamu bosku!!" Mahessa menyesap bibir Luna kembali dan meremas bagian kesukaannya.
Ting... Tong...
"Masuk..." Teriak Luna dari dalam.
__ADS_1
"Maaf tuan dan nona saya terlam...."
"Bat..."
Farell buru-buru masuk namun dia mendapati majikannya tengah berciuman mesra di atas sofa.
Luna mendorong perlahan tubuh Mahessa dengan tersipu malu beranjak dari pangkuan suaminya.
"Maaf nona saya lancang..."
"Tidak masalah..."
"Terima kasih ya sudah mau repot membawakan aku makan."
"Ini sudah kewajiban saya nona.."
Farell menghampiri tuannya dan memberikan satu paper bag berisikan satu set pakaian kerja tuannya.
"Sini aku bantu..." Tawar Luna pada Mahessa.
Mahessa sulit berkata dia merasa ingin meledak saking bahagianya.
* * * * *
"Ini kali pertama tuan mengundur jadwal rapat di saat sedang krisis."
Angela mengawali perghibahannya dengan Farell sesaat setelah rapat selesai dan bosnya dengan kecepatan super meninggalkan ruangan.
"Iya dan aku baru tahu alasannya adalah......." Farell menatap Angela dengan mimik sulit di tebak.
Buug!
Angela memukul bahu rekannya dengan beberapa tumpuk berkas. Namun kemudian dia seolah berhasil mendapatkan jawaban dari telepati yang Farell ingin sampaikan barusan.
"Jangan bilang seperti sebelum pernikahan mereka??!!" Pekik Angela antusias.
Tidak ada yang lebih menyenangkan dari kedua orang ini dengan membicarakan bos angkuhnya.
"TENTU SAJA!"
"Kau tau aku datang mengantar makan siang dan mereka tengah berciuman mesra."
"Tuan hanya mengenakan handuk dan nona juga hanya mengenakan kimono seksinya duduk di pangkuan tuan kita."
"Bahkan di dada dan leher tuan penuh dengan kissmark."
"Aku yakin saat ini dia pasti sedang kembali meminta jatahnya..." Ujar Farell menggebu.
"HAHAHAHAHA."
"BENARKAAAH?"
"AAAAAHH MALU RASANYA..." Pekik Angela yang bisa-bisanya membayangkan tubuh polos tuannya saat ini.
"Tapi nona Luna ini hebat ya.. Tuan kan philophobia dan mysophobia ya?" Angela seperti tengah berpikir.
"YUPS!!" Farell menjawab mantap.
"Kamu ingat dulu saat tuan Lee memberinya wanita di sebuah penjamuan?"
"Baru satu menit mereka berdekatan tuan menghindar dan menuju toilet untuk muntah." Ujar Farell berbicara tanpa filter.
"Hanya nona Luna yang bisa tuan dekati bahkan......" Farell mengangkat kedua alis dan matanya.
Keduanya terbahak mengomentari tingkah bucin bosnya saat ini mereka terus membicarakan tuannya dengan bebas selagi tuan mereka tidak ada dan dalam suasana hati bahagia.
Di mansion Aston Luna tengah menerima sambungan video call dengan papanya.
"Berani sekali papa pergi tanpa pamit!!" Rutuk Luna pada papanya di video call.
"Salahmu malah melakukan hal mesum sepagi itu dengan suamimu!!"
"Katanya benci tapi..." Ejek Wira.
"APAAAAA!!"
"PAPA MASUK RUMAH TANPA MEMBUNYIKAN BEL?!!!"
Luna memaki menahan malu.
"Pintumu tidak terkunci!!" Ujar Wira berbohong.
"Sudahlah aku dan dia wajar kan sudah sah dan halal!!"
"Papa dimana? Apa bersama mama?"
"Tidak papa di Aussie ada beberapa pekerjaan yang harus papa selesaikan..."
"Ingat kamu harus jaga diri baik-baik."
"Papa sudah menaruh beberapa orang papa disana jika kamu mengalami kesulitan mereka akan membantu dan memberitahukannya pada papa."
"Aku tidak mau!!"
"Bawa kembali mereka!!"
"Aku tidak ingin di kekang!!"
"Bahkan Mahessa juga tidak pernah aku ijinkan mencampuri urusanku.."
"Lunaaaa...." Wira kini memohon.
"TIYDAK!!"
"PAPA MASIH INGIN MELIHATKU?!"
"Baiklah!"
"Papa akan tarik mereka kembali... Huhuhu"
"Ingat selalu hubungi papa!!"
"Iya bawel!!"
"Ingat rahasiakan semua dari mama!!"
"Dan jika aku tahu papa mengintai ku, papa tidak perlu lagi bertemu dengan Luna!!"
"Jika sampai mama tahu sendiri habis sudah kita berdua."
"Papa berusaha dong biar mama tidak tahu!!"
"Anak siapa sih kamu ini!!" Rutuk Wira putus asa.
"Sudah ya pah sepertinya ada tamu!"
"Nanti aku telpon lagi..."
"Jaga diri baik-baik Luna!!"
"Iya..."
Tuuut!
Ting... Tong...
"Tunggu sebentar...." Luna setengah berlari dan membuka pintu depan.
Ceklek!
"Cutiee...."
"Aku merindukanmu..." Mahessa menghambur memeluk wanita pujaan hatinya.
Luna tersenyum malu atas tingkah Mahessa yang bisa juga bersikap sangat manja.
"Jam segini sudah pulang?"
"Kirain bakalan malam banget." Luna melonggarkan pelukan kemudian keduanya masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Aku tidak sanggup berjauhan denganmu..."
"Gombal!!"
Mahessa masih memeluk erat istrinya kemudian kembali menciumi bibir manis Luna dan merebahkannya di sofa.
"Apa kamu lapar?"
"Aku siapin kamu makanan ya?" Luna bertanya menatap lelakinya.
"Aku hanya ingin memakanmu." Jawaban manja Mahessa membuat Luna geli mendengarnya.
Mahessa kembali menyibak pakaiannya dan pakaian istrinya. Dia sudah sangat tidak sabar kembali menikmati tubuh istrinya yang bisa membuat dia merasa berada di surganya dunia.
"Mandi dulu ya sayaaang..." Elak Luna.
Prianya sudah sangat berhasrat dia langsung meraup dua gundukan favoritnya dengan rakusnya.
"Mahessa kita lakukan di kamar ya... Oouugghhh..." Luna meremas bahu lelakinya.
"Aaargghh..."
"Sakiiiit jangan di gigit!!!" Jerit Luna mencoba mendorong wajah Mahessa dari bukit miliknya.
Mahessa mengakhiri aksinya namun segera menggotong Luna ke kamarnya.
"Aaarghh... Sakit Mahessaa!!!"
Keduanya malah meneruskan permainan hingga pukul 9 malam. Mahessa begitu kelelahan dia tertidur pulas saat ini. Luna terbangun oleh suara dering ponselnya. Dia berusaha berjalan dengan tertatih keluar kamar mengambil ponselnya.
"Mas Dira..." Perasaan gelisah menjalar di hati wanita yang sebelumnya telah merasakan kepuasan.
"Halo mas..." Luna menjawab panggilannya kemudian menuju kamar mandi dan menguncinya.
"Sayaaang kamu masih marah?!" Ujar lelaki di sebrang sana masih sedikit terdengar lesu.
"Maaf aku tidak mengabari mas..."
"Aku hari ini pulang ke kota B."
"Ini aku di mansion."
"Selain sibuk dengan paket olshopku aku juga merasa mabuk perjalanan..."
Luna menitikan air mata karena tengah berbohong.
"Jangan kecapean sayang..."
"Nanti aku carikan seseorang untuk membantumu ya..."
"Tidak perlu..."
"Sudah semua kok, besok aku akan di bantu Sandra pergi ke ekspedisi."
"Mas..."
"Kenapa diam?"
"Mas sehat-sehat saja kan?"
"Kapan mas pulang..."
"Aku rindu..."
Luna akhirnya terisak karena tidak bisa menahannya. Bukan karena benar rindu, tapi karena dia tengah berbohong.
"Mungkin dua hari lagi."
"Papa sudah pulih dan sudah pulang ke rumah."
"Aku jadi bisa lebih tenang..."
"Aku juga sangat merindukanmu sayang."
"Aku sangat sangat merindukanmu..."
"Berjauhan dengan mu selama ini sungguh menyiksa ku!"
"Kita kan baru seminggu ga ketemu..." Luna mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Seneng denger papa mas sudah baikan."
"Mas sudah keluar rs juga kan?!"
"Iya baru tadi siang, makanya aku baru ngabarin kamu."
"Mas janji kan ga akan bohong lagi soal keadaan mas?!"
"Iya sayaang..."
"Maafin aku ya..."
"Ya udah, kamu istirahat gih!"
"Dah malem..."
"Mas juga istirahat ya..."
Kemudian sambungan terputus, tiba-tiba Luna teringat sesuatu.
"CCTV!!"
Luna baru menyadarinya, dia bergegas menuju kamar dan membangunkan Mahessa.
"Mahessaaa!!!"
"Bangun!!!"
"Mmmm...." Mahessa menarik Luna dalam dekapannya namun tidak berniat untuk membuka matanya.
"Kamu sudah memanipulasi CCTV ini kan?"
"Adira tidak akan bisa mengetahuinya bukan?!" Luna mencerca langsung tanpa peduli apa Mahessa tidur atau pura-pura tidur.
Mahessa membuka matanya sempurna.
"Lebih bagus jika dia tahu hubungan kita bukan?!"
"MAHESSA!!!!" Luna tersulut emosi.
"Kamu kan berjanji...." Lirih Luna kini kembali terisak.
Mahessa bangun dari tidurnya dan mengusap lembut kedua mata Luna yang tengah basah.
"Kamu tidak perlu khawatir semua telah aku perhitungkan."
"Terima kasih..."
"Apa dia menghubungimu..."
Luna mengangguk perlahan dan menunduk. Mahessa mengangkat dagu wanitanya dan menyesap bibirnya.
"Kenapa semua ini membuat aku candu...."
Luna mendorong lemah "Sudah ya aku cape!!"
Luna mencoba kembali keluar kamar dan ingin membersihkan diri namun lagi-lagi Mahessa menarik tangannya.
"Kamu jangan harap bisa lepas dari genggaman aku sayang."
Bruuuukk!
"Mahessaaa...." Rintih Luna dia tidak bisa mengelak dari gerakan kilat Mahessa yang kini tengah kembali mengungkung tubuhnya.
"Aku pikir mas Dira satu-satunya beruang liar yang aku kenal sangat mesum."
"Namun ternyata aku salah..."
"Mahessa rajanya!!"
__ADS_1
* * * * * * * * * *