
"Papaa..." Luna terkejut.
Dia berdiri mematung begitu pula ayahnya. Dia tidak menyangka akan melihat kembali putri kesayangannya. Namun kali ini putrinya sedang berulah.
"Naluna... Apa yang tengah kamu lakukan sayang!!" Batin Wira.
"Luna.... Kamu Naluna Maharani?" Tanya ayahnya polos.
"Bukan! Aku Hyuna Kim..." Jawab Luna ketus.
Mahessa dan Wira terkekeh dengan jawaban Luna.
"Kesayangan papa akhirnya bertemu lagi!! Perasaan kamu makin cantik sayang?!" Wira tidak bisa menyembunyikan perasaan harunya. Dia mendekati Luna dan mengacak rambutnya.
"STOP IT!" Luna menghardik.
Mahessa memperhatikan keduanya "Sepertinya keduanya sangat akrab. Di berkas tambahan profil Luna papa nya hanya orang biasa dengan pekerjaan sebagai montir. Mereka diisukan bercerai." Batin Mahesaa.
"Kamu selalu seperti itu Luna.." Ujar Wira sendu.
Menyadari kondisi tidak begitu baik Mahessa mencairkan suasana.
"Maaf om.. Saya tidak sopan membawa anda dengan tergesa tanpa penjelasan terlebih dahulu.." Ujar Mahessa menjadi penengah.
"Oh ya kamu siapa?" Tanya Wira menatap dingin kearahnya. Untuk pertama kalinya Mahessa merasa seperti di tekan.
"Ah saya lupa... Perkenalkan nama saya Mahessa Adyatama calon suami Luna atau calon menantu anda." Mahessa mengulurkan tangannya.
"APAAAA???" Wira terkejut dengan penuturan lelaki yang tiba-tiba bilang dia menantunya.
"Benarkah itu Luna? Kamu akan menikah? Kenapa mamamu tidak bilang apa-apa sama papa?" Wira menatap Luna yang masih acuh padanya.
"Aku akan menjelaskannya...." Lirihnya.
"Ada apa ini?" Tanya Wira panik.
"Tidak apa-apa om... Hanya saja memang mendadak. Akad dan resepsi akan dilangsungkan besok......"
Belum sempat Mahessa menjelaskan lebih lanjut tangannya di tarik oleh Luna dan menjauh.
"Lunaaa..." Pekik Mahessa.
"We need to talk!" Ujar Luna ketus seraya menyilangkan tangan didada.
"Apa maksudmu dengan membawa papaku kesini? Kita sudah menikah di catatan sipil kan? tidak perlu dia kesini! Bukan kah kita hanya akan mengadakan resepsi agar orang tau kita menikah?" Cerca Luna.
"Luna, dengar ya... Kita memang sudah terdaftar di catatan sipil negara ini namun kita juga perlu menikah secara agama. Ayahmu adalah wali sah mu!"
"HAHAHAHA..." Luna mulai menggila.
"Kita hanya nikah kontrak Mahessa tak perlu secara agama juga..."
"Terus kamu pikir orang tuaku bego? Dengan sangat mudah mereka akan tahu kita hanya berpura-pura tanpa akad semua hanya selembar kertas saja."
"MAHESSA!!!!" Emosi Luna mencuat.
Semakin sulit dengan adanya ikatan secara agama bagaimana hubungannya dengan Adira kedepannya. Dia berniat akan melakukan nikah siri dengan Adira dan akan terus bersama Adira walaupun status sipil dia adalah istri Mahessa. Selama bukan menikah secara agama dia masih bisa mengusahakannya. Namun sekarang....
"Terkadang kehidupan itu sangat kejam... Kita diajarkan bermimpi setinggi langit... Namun dipatahkan oleh kenyataan..." Rutuk Luna dalam hati.
"AKU TIDAK MAU!" Tolak Luna tegas.
"Aku tahu pikiranmu Luna... Kamu akan melakukan pernikahan siri dengan Adira... JANGAN HARAP!!!" Batin Mahessa dia kemudian menyeringai.
"Baiklah... Apa kamu tidak ingin bertemu dengan Adira mu lagi?" Sejujurnya Mahessa membenci menggunakan kelemahan Luna.
"Ya Tuhan.... Aku tahu dosaku melimpah ruah... Aku berusaha bertaubat aku akan menikah dengan Adira kenapa sekarang aku ditentang keras?" Batin Luna menjerit.
Wira menyadari anaknya dalam keadaan tidak baik dia segera menghampirinya.
"Apa yang kamu lakukan pada anakku?!" Hardik Wira merangkul Luna.
Mahessa terkejut. "Apa yang sebaiknya aku lakukan...." Batin Mahessa.
__ADS_1
Luna menghapus buliran air mata yang masih tersisa.
"Aku tidak apa-apa... Mahessa bolehkah aku berbincang dengan papa? Kamu ingin semua berjalan lancar bukan?" Luna menatap Mahessa.
"Baiklah... Jika kamu butuh apa-apa kamu tinggal bilang Farell dia akan disini." Jawab Mahessa melemah.
"Tidak perlu... Ini urusan ayah dan anak saja tidak perlu ada orang lain yang ikut campur... Aku berjanji tidak akan melakukan hal bodoh."
"Tapi.... Kamu harus berjanji menjauh darinya... Kamu sentuh dia seujung rambutnya maka aku mati..." Bisik Luna lirih di telinga Mahessa.
"Luna sebegitunya kamu mencintai dia belum tentu dia mencintaimu sebegininya......" Lirih Mahessa menatap Luna.
"Aku tahu dia sangat mencintaiku..." Luna membalas tatapan nyalang pada Mahessa
"Maaf om, sepertinya Luna akan menjelaskan semuanya. Saya permisi dulu nanti saya akan jemput kembali... Maaf saya kurang sopan melayani anda." Ujar Mahessa sopan.
Wira hanya mengangguk seraya memperhatikan penampilan Mahessa. "Ajaib sekali anakku ini. Bisa berhubungan dengannya. Apa Luna mengingat tentang Huateng?"
Melihat mertuanya memperhatikannya tajam Mahessa sedikit gelisah. "Sepertinya papa Luna bukan orang biasa. Tatapan matanya seolah mengintimidasiku!" Batin Mahessa gusar kemudian dia menyuruh Farell kembali bersamanya.
Setelah kepergian Mahessa dan Farell keduanya kembali ke meja mereka.
"Kita duduk pah..." Lirih Luna.
"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Wira khawatir.
"Siapa dia?" Tanya Wira kembali.
Luna memanggil pelayan dan memesan minuman.
"Dia adalah orang yang tidak sengaja bertemu denganku dan menolongku.. Kini aku diminta menolongnya." Jawab Luna datar.
Wira menatap putrinya bingung.
"Luna.." Wira ingin memastikaan keadaan putrinya.
"Aku akan menikah..." Ucapan Luna membuat Wira terpaku kemudian memekik kesal.
"Kenapa terburu-buru..." Selidik Wira tidak menyangka tindakan putrinya sejauh ini.
"Apa kamu dipaksa olehnya! Lihat bagaimana papa akan menghukumnya." Wira bangkit dari tempat duduknya.
Luna langsung bereaksi dengan hal serupa. "Kenapa papaku bersikap seperti ini?" Pikirnya.
"Ini keputusanku.. Aku akan menikah sah tapi sejujurnya ini hanya pernikahan kontrak saja." Jawab Luna datar.
Wira semakin terkejut dengan penuturan anaknya. Dia menatap anak gadis kesayangannya kedua netranya berembun. Dia tidak menampik bahwa dia sangat merindukan anaknya tersebut. 10 tahun dia terpisah walau selalu memperhatikan dari jauh namun perasaan tersiksa tanpa bisa memeluknya atau melindunginya langsung dari bahaya.
"Maafkan papa Lunaa..." Lirihnya seraya menitikan air mata.
"Maaf untuk apa?" Ujar Luna ketus.
Walau sikapnya terasa dingin tapi hatinya sakit. Ayahnya adalah cinta pertamanya. Namun disaat paling dia butuhkan ayahnya mengkhianati keluarganya yang dia bilang sangat dia sayangi.
"Dasar pembohong!!" Batinnya kala itu.
"Untuk segalanya... Papa tidak bisa menjadi ayah yang baik untukmu...." Wira tertunduk.
Tak terasa buliran itu kembali menetes dikedua pipi Luna.
"Mahessa sungguh mengerikan. Dia bahkan bisa membawa papa kesini dalam waktu yang singkat. Tanpa perlu aku beritahu keberadaannya." Batinnya.
"Sudahlah pah... Semua sudah berlalu... Tidak perlu kita bahas... Saat ini perlu papa ketahui aku akan menikah kontrak dengan Mahessa. Ingat untuk tidak memberitahu siapapun statusku ini termasuk mama!!" Ujar Luna penuh penekanan.
"Kenapa Luna? Buat apa?" Wira kembali penasaran dengan tindakan gegabah putrinya.
"Uang dan kekuasaan..." Jawab Luna singkat setelah menenggak Greentea Latte kesukaannya.
"LUNAAA!!!" Wira tidak tahan untuk tidak mengeluarkan emosinya.
"Papa tidak pernah mengajarimu merendahkan diri seperti ini!!!"
"Sejak kapan papa peduli dengan keadaanku?" Hardik Luna.
__ADS_1
"Apa papa lupa apa yang sudah papa lakukan pada keluaga papa sendiri? Jangan SOK MENGAJARIKU!!!" Rutuk Luna.
Wira terdiam. Luna benar tidak semestinya dia mengajari Luna tentang merendahkan diri. Dialah yang telah memberi contoh buruk dalam keluarganya. Wira frustasi dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Tapi papa tidak ridha Luna... Papa tidak akan meridhai anak kesayangan papa disakiti bahkan dimanfaatkan oleh orang lain." Lirihnya dengan air mata penyesalan.
Seandainya dulu dia tidak melakukan kesalahan itu mungkin kali ini keluarganya adalah keluarga paling bahagia di dunia ini. Dia juga bisa melindungi anak-anaknya. Terlebih Luna... Dia anak terakhir kesayangan Wira Kusuma.
"Sudah terlambat pah... Biarlah semua berjalan sesuai rencanaku.. Papa tidak seharusnya merusaknya..." Jawab Luna berusaha menutupi segala luka.
"Lunaaa... Papa harus bagaimana sekarang?"
"Menikahkanku tentu saja..."
"Apa kamu mencintainya?"
"Tentu saja tidak..."
"Apa dia mencintaimu..."
"Seharusnya tidak..." Namun Luna terhenti dia membohongi Wira. Dia tahu Mahessa mencintainya makanya dia memaksakan pernikahan ini agar dia memiliki Luna.
"Lunaaa...." Wira mencoba menggenggam tangannya namun segera Luna tepis.
"Aku menikah dengannya karena uang dan kekuasaan hanya dia yang cocok. Dan dia mau menikahiku agar mendapat saham. Semua saling menguntungkan."
Wira kembali terkejut tidak menyangka anaknya berpikir sejauh ini.
"Luna papa akan berbicara dengannya..." Kini Wira bersiap pergi.
Luna menarik tangan Wira dan menghentikan langkahnya "Tidak perlu... Papa tidak tahu betapa mengerikannya dia... Dia bahkan bisa membawa papa dalam waktu yang singkat ke negara S ini... Bagaimana papa memiliki pasport dalam waktu seminggu?"
"Anakku yang polos ini senang sekali membuatku sakit kepala!! Sepertinya dia masih kehilangan ingatannya." Rutuk Wira dalam hati.
"Apa? Ini negara S??? Bukan negara kita? Papa pikir ini di ibu kota... Tapi papa memang dibawa menaiki pesawat sih..." Ujar Wira berbohong.
"Hadeeeeh...." Dengus Luna.
"Papa kaget... Papa dikunjungi beberapa orang dengan seragam hitam rapi.. Papa sebenarnya terbiasa didatangi debt collector tapi yang ini lain... Papa saja merinding dibuatnya." Wira menceritakan dengan nada biasanya saat mereka selalu mengobrol sebelum negara api menyerang yaitu berlebihan!
"Aku sudah menduga... Papa tinggal dimana?" Tanya Luna.
Sejujurnya mungkin dia rindu. Rindu bercengkerama dengan papanya. Di kehidupan dulu papa menikahkannya dengan Adira tanpa ada sepatah kata yang terucap darinya. Hanya deraian air mata bahwa anaknya telah menikah semua. Akupun tidak ingin banyak berbincang mengingat aku tengah hamil aku tidak ingin mereka tahu kehamilanku. Setelah sebelumnya mama mengusirku dari rumah dan menyuruh Adira menikahiku bulan berikutnya.
Setelah hidup dengan Adira dia bersyukur bisa merasakan apa itu kasih sayang seorang ayah kepada gadis kecilnya lewat Adira. Adira sosok ayah yang sangat mencintai putrinya bahkan dia bisa mengacuhkan istrinya tetapi sangat perhatian dengan anaknya.
"Huh..." Luna mengingat kembali kehidupannya dulu.
"Sejujurnya papa tinggal dua blok dibelakang rumah mama. Hehe" Jawab Wira cengengesan.
"Apa?" Luna terkejut pasalnya dia memang tidak pernah ingin tahu lagi tentang papanya.
"Apa papa tinggal bersamanya?" Tak tahan Luna ingin menggosip.
"Siapa?" Papanya bingung.
"Siapa lagi kalo bukan cewek selingkuhan papa!!" Luna menjawab dengan kesal.
Luna menyesap minumannya dan menghembuskan nafas kasar.
"Lunaa... Satu hal yang kamu tidak pernah ketahui... Yang selalu kami sembunyikan sejak lama. Karena saat itu kamu masih kecil kami takut mempengaruhi mentalmu." Jawab Wira lemah.
"Apa? Semua yang tengah papa lakukan sudah cukup menyakiti mentalku. Dan saat ini masih banyak lagi misteri di kehidupanmu? Aku sungguh tidak peduli!!" Rutuk Luna kesal.
"Maafkan papa Luna.."
"Mamamu benar betapa sulitnya menjalani kehidupan menjadi seorang Naluna Maharani. Yang selalu memulai dari awal saat kejang di otaknya menyerang."
Wira merutuki dirinya dalam hati pasalnya, karena dirinya lah Luna menderita dari sewaktu dia kecil sampai saat ini.
"Maafkan papa Luna..." Wira menangis kembali di hadapan Luna. Membuat wanita itu kembali merasakan kepedihan hidupnya.
* * * * * * * * * *
__ADS_1