
Silau matahari pagi yang menyelinap di balik tirai jendela kamar Luna membangunkan dari tidur lelapnya. Dia merasakan ada seseorang yang tengah merangkulnya.
"Mahessa?" Luna menatap pria di sampingnya
"Eh tunggu!!"
"Aaaaa!"
"Ughh.."
Mahessa terbangun oleh suara nyaring Luna.
"Kamu kenapa?"
"Kenapa?!!"
"Apa yang kamu lakukan semalam!!"
"Bukankah di perjanjiannya bilang kamu tidak akan menyentuh tubuhku!!"
Luna mencaci maki pria yang telah menjadi suami sahnya.
"Aku tidak melakukan apapun."
"Kamu menangis dalam dekapan ku dan tertidur."
"Jika pun terlanjur terjadi sesuatu bukankah wajar?"
"Kita suami dan istri!!"
Buuuk!!
Luna memukul wajah Mahessa dengan bantal.
"Jangan mengambil kesempitan dalam kesempatan!!"
"Kebalik sayang!!!" Kekeh Mahessa.
"Apa kamu tidak bekerja?!"
Luna bangun dari ranjangnya dan bersiap membersihkan diri.
"Eh btw papa dimana?" Luna mencari ayahnya di setiap sudut rumahnya.
Mahessa menceritakan semuanya pada Luna setelah mereka selesai dengan membersihkan diri masing-masing. Luna memasak sarapan untuk mereka, suaminya begitu lahap menikmatinya.
"Terima kasih istriku." Goda Mahessa menyelesaikan sarapan paginya dengan sangat cepat.
"Hmmm...." Luna menyuap dan melahap suapan terakhirnya.
Setelah selesai Luna merapikan peralatan makan mereka di dapur. Mahessa menelan salivanya, wanitanya memakai dress tipis di hadapannya. Mahessa menghembuskan nafasnya kasar, dia bangkit dari duduknya dan mencoba merangkul tubuh Luna dari belakang. Awalnya Luna terkejut dengan menghentikan aktifitas menggosok piringnya, tapi kemudian dia membiarkan Mahessa memeluknya. Mahessa mengulumkan senyumnya dia menciumi tengkuk leher dan bahu istrinya lembut membuat Luna merasa terkena arus pendek listrik di tubuhnya saat ini.
"Kamu senang sekali memakai baju seksi begini!"
"Kamu di larang memakainya di depan orang lain selain aku!"
"Kamu tidak berhak melarang urusan pribadiku bukan?" Hardik Luna.
Dia telah selesai mencuci piring dan berbalik arah merangkulkan tangan di leher prianya dan menyesap bibir seksi Mahessa untuk menguji iman suaminya. Mahessa yang justru sangat senang dengan inisiatif istrinya menikmati rasa manis dari susu coklat yang masih menempel di bibir Luna membuat pria itu semakin mendorong tubuh istrinya. Keduanya bertautan dengan mesra bahkan telah bertukar saliva penuh gairah.
Mahessa menurunkan tali dress tipis Luna perlahan, ciuman bibirnya turun menyesap leher wanitanya kuat.
Mahessa semakin tidak bisa menahan diri untuk terus melakukan gerakan lainnya. Dia meremas perlahan salah satu bukit Luna dengan satu tangannya. Satu tangan yang lain masih bertahan mengusap lembut teratur tengkuk leher dan punggung mulus Luna bergantian.
"Aarhhh!" Luna terus melenguh menikmati sentuhan pria halalnya.
Mahessa tidak tahan dengan racauan istrinya, dia menggendong istrinya ala bridal memasuki kamar.
Bruk!
Luna beringsut mundur setelah di jatuhkan di atas ranjangnya, melihat tatapan nyalang prianya yang mengisyaratkan menginginkannya Luna mengatupkan bibirnya bimbang. Di perjanjiannya dia tidak ingin Mahessa menyentuhnya karena tubuhnya hanya boleh dinikmati oleh Adira seorang. Tetapi di bombardir dengan sentuhan sensualitas prianya dia juga sama menginginkannya.
"Kamu sungguh lucknut NALUNA!!!" Luna merutuki dirinya sendiri.
__ADS_1
"Cutie..."
Tanpa Luna sadari Mahessa telah mengungkungnya dalam dekapannya dengan suara berat menahan hasratnya.
"Bukankah aku pasangan halal mu sayang?!"
Mahessa terus meyakinkan istrinya, Luna masih membuang wajahnya saat ini. Mahessa menyeringai, dia kembali menciumi dan menyentuh area sensitif istrinya.
"Maafkan aku mas..." Sesal Luna pada kekasihnya.
Mahessa terus menyerang pertahanan terakhir Luna, akhirnya Luna tidak tahan untuk tidak menikmatinya. Mahessa mengangkat sudut bibirnya dan tersenyum penuh kemenangan.
"Akhirnya kamu benar-benar menjadi milik ku sayang!!"
Luna mulai menunjukan wajah kepribadian gandanya.
"Apa benar?"
"Apa kamu bisa memuaskan ku seperti Adira selalu bisa membuat ku puas?!"
Mahessa menghentikan gerakannya, darahnya mendidih saat ini. Dia sungguh membenci jika harus membayangkan tubuh indah istrinya ini telah di nikmati lebih dulu oleh pria brengsek itu.
"Kamu sungguh pandai memprovokasi sayang!!"
"Kamu ingat baik-baik ya!!"
"Setelah itu kamu katakan siapa yang jauh lebih memuaskan mu!!!"
Sraakk!!
Luna menjerit terkejut saat tangan kekar Mahessa merobek baju tidurnya, Mahessa menikmati pemandangan indah di depan matanya. Dengan menggerakan lidah di depan bibirnya menunjukan betapa dia sangat menginginkannya. Mahessa semakin menelan salivanya, dia menunduk dan mulai bermain di bawah sana.
"Aarggh!!"
Tubuh Luna menggelinjang hebat, dia telah mengeluarkan pelepasan pertamanya.
"Mahessaaa!!!!"
"Panggil namaku lagi sayang!!!"
"Fu*ck me please!!"
"MAHESSAAA!!!"
Mahessa semakin tersenyum bahagia, dia mendekati wajah frustasi isrtinya.
"Kamu yang memintanya okay?!"
"Jadi aku tidak melanggar perjanjiannya sama sekali!!"
"FU*CK!!!" Umpat Luna kasar kemudian dia menjerit kencang saat Mahessa mulai mencoba menembus pusat tubuhnya.
"SHH*IT!!" Mahessa juga mengumpat saat dirinya masih kesulitan menjejal batas akhir seorang wanita dan pria.
"SHH*IT!! Bukannya dia sering melakukannya dengan pacarnya?!!"
"Mengapa sesulit ini?!"
"Jangan-jangan gue yang bodoh tidak tahu caranya?!"
"SHH*IT!!"
Mahessa terlihat panik, dia terus mengumpat kasar dirinya dalam hati yang dia sembunyikan dari wanitanya. Dia belum bisa menembus batas pertahanan istrinya yang kini sudah meracau menginginkannya. Dia sungguh merutuki keahliannya yang nol besar soal aksi di ranjang.
"Arrghh SIALAAN!!"
Peluh Mahessa telah bercucuran.
"Kamu sengaja kan Luna?!!"
"Tidak membiarkan ku memasuki milik mu?!"
Mahessa sungguh sangat kesal dia menghentikan gerakannya menatap nyalang istrinya yang kini tengah menutup mulutnya menahan tawa.
__ADS_1
"Pfftt!!"
"SHUT UP!!!" Umpat Mahessa kesal kembali mencobanya.
Luna menjerit kembali, sudah separuh jalan Mahessa tidak peduli dia terus mendorong miliknya hingga Luna mencakar bahunya. Lenguhan seksi dan jeritan keduanya bersamaan saat akhirnya Mahessa bisa melepas keperjakaannya saat ini.
"Oh cutie!!"
Mahessa sungguh baru pertama kali merasakan kenikmatan dari berhubungan badan yang sah dengan istrinya sendiri. Wanita yanga sangat dia cintai yang satu-satunya bisa dia sentuh hingga tanpa batas ini.
"OH SHH*IT!!!"
Mahessa tidak mungkin ingin keluar saat ini juga dia baru saja masuk, dia sungguh tidak punya muka jika itu terjadi. Dia segera melakukan gerakan maju dan mundur secara teratur.
Racauan kasarnya keluar dari mulutnya mengiringi betapa nikmatnya mencapai surganya dunia saat ini bersama wanita yang dia cintai. Menatap wajah kekasihnya yang mengerjapkan mata dan melenguh membuat dia menyesap bibir wanitanya dengan kasar sampai akhirnya dia mengeluarkan pelepasan pertamanya.
"Sayang you're!!!" Mahessa tidak mampu berkata apa-apa.
Luna tengah mengatur nafasnya, dia juga keluar untuk kedua kalinya berbarengan dengan prianya. Mahessa belum ingin selesai dia kembali mengunci tubuh istrinya dan mengulang apa yang membuatnya candu luar biasa dengan surganya dunia!
"Aahh sayangg..." Luna kembali melenguh.
Keduanya kembali mendapatkan gairah mereka dan melanjutkan pada ronde berikutnya. Tanpa mereka sadari bahwa tuan Wira telah berada di mansion mereka dan kini memasang wajah merah padam mendengar apa yang tidak ingin mereka dengar.
"Tuan...." Sapa Bobby mencoba menenangkan raut wajah tuannya yang sedang kesal.
"Haish bocah sialan!!!"
"Kita berangkat saja sekarang!!"
"Nanti sesampainya di Aussie aku hubungi dia."
"Baik tuan..."
Bobby bernafas lega tengah merasa malu dengan suara lenguhan keduanya.
"Akhirnya pergi juga!!!"
"Aku seperti tengah mendengar suara video mesum rasanya!!"
"Sungguh menyedihkan..." Rutuk Bobby menutup pintu depan mansion Luna.
Satu jam lamanya keduanya berolahraga pagi bersama.
"Thanks cutie..." Mahessa mencium kening wanitanya.
Luna hanya melengkungkan senyumnya, selain dia lelah dia juga kembali di dera perasaan bersalah pada kekasihnya.
"Aku tidak menyangka aku memberikan tubuhku begitu saja padanya."
"Walau sebenarnya ini sah dan halal namun saat ini aku baru menyadari aku benar-benar telah mengkhianati mas Dira." Batin Luna menangis.
"Kamu sedang berpikir apa?"
"Menyesal?"
Mahessa menyadari tingkah Luna yang tiba-tiba menjadi diam.
"Kamu sangat enak Luna."
Mahessa mengusap lembut wajah cantik istrinya.
"Wajar jika Adira benar-benar tidak ingin melepaskanmu!!"
Rasa sakit mendera di hati Mahessa saat ini. Luna menelan salivanya, dia tidak tahan untuk tidak menitikan air matanya. Mahessa mengusapnya lembut tanpa kata.
"So?"
"Kamu lebih puas dengan aku atau dia?!"
Luna hanya membuang wajahnya, dia beringsut keluar dari pelukan suaminya bergegas membersihkan dirinya. Mahessa menatap kepergian istrinya pilu.
* * * * * * * * * *
__ADS_1