Dua Cinta Satu Hati

Dua Cinta Satu Hati
Bab 60 : Sulitnya Mengakui!


__ADS_3

Luna terbangun oleh suara alarm di ponselnya dia segera mematikannya. Luna perhatikan Adira masih tertidur pulas dengan memeluk tubuhnya. Luna merasa sangat lengket, karena semalaman mereka melakukan kegiatan percintaan yang menguras seluruh tenaga yang menghasilkan peluh tak terkira.


"Apa mas Dira tahu aku memakai KB ya?"


"Dia terus mengeluarkan di dalam rahim ku."


"Apa kamu menginginkan aku kembali hamil mas?"


Luna menatap wajah teduh dan kelelahan mantan suaminya di kehidupan yang lalu dan mencium bibirnya sekilas. Luna ingin bergegas membersihkan diri namun niatnya terhenti saat menatap ponsel kekasihnya tergeletak di atas nakas. Selama ini prinsip hubungan Luna tidak pernah ingin menjangkau benda privasi masing-masing. Adira sendiri tidak pernah menyentuh barang pribadinya. Ponselnya sekali pun, dia bilang jika sudah percaya untuk apa curiga.


Luna mengambilnya, dia menatap layar dan mencoba menekan angka yang mungkin menjadi passwordnya. Luna mencoba dengan tanggal lahir pria itu.


"SALAAH!" Rutuk Luna dalam hati.


"Aduh sisa dua kali lagi!"


Luna mencoba menggunakan hari jadi mereka.


"Salah lagi!!"


"Apaan sih ini sisa satu kali lagi..." Luna memperhatikan Adira takut ketahuan.


Tiba-tiba Luna iseng dengan tanggal lahirnya, matanya terbelalak dengan mulut menganga tidak percaya. Hari kelahirannya menjadi sandi ponsel kekasihnya. Jika gambar lockscreennya hanya background biasa maka saat tampilan homescreen terpampang nyata wallpaper yang dia gunakan adalah potret Luna yang tengah memakai gaun pengantin malam tadi.


"Aku terharu, mungkin benar mas Dira memang mencintaiku namun sifatnya ini sulit sekali ditebak bahkan dia berada di jajaran human limited edition!"


"Mari kita stalking apa aja yang ada disini."


Luna mulai membuka daftar panggilan.


"Cih! Namaku hanya Lunaku!"


Luna menyeringai dia menatap nakal kekasihnya dan mengganti namanya dengan sebutan My Wife ditambah emot hati. Luna kembali berselancar menyelidik daftar panggilan masuk.


"Bagas?"


"Mas Bagas pemilik mansionku?"


"Buat apa telponin terus?"


"Apa mas Dira lupa bayar?"


"Tunggu, aku tidak ingat siapa asisten khusus mas Dira dulu."


"Ahh sudah lah!"


Luna tertarik dengan banyaknya panggilan atas nama Sister yang mendominasi hampir setiap waktu. Ada rasa tidak nyaman di dalam diri Luna.


"Gue dah tau nih kalo stalking pasti abisnya jadi ga enak perasaan!!"


Ingin membuka aplikasi chat namun ada beberapa pesan masuk jika Luna membukanya ia takut ketahuan ia tengah menguntit! Akhirnya Luna membuka gallery ingin tahu apa masih belum ada fotonya. Di saat Luna membukanya ia tersenyum lebar, karena semuanya telah dipenuhi fotonya. Bahkan dia memotret Luna tengah tertidur hanya berbalut selimut.


"Mesum!" Rutuk Luna.


Dia menyimpan kembali ponsel kekasihnya, berbalik badan bersiap membangunkan kekasihnya karena hari semakin siang.


"Sayaaang... Bangun yuk!" Luna menciumi wajah prianya bertubi-tubi.


"Ah sudahlah aku bangun duluan aja."


Karena tidak mendapat respon dari prianya Luna lebih dulu terbangun dan membersihkan diri.


Saat ini mereka telah rapi dan menyantap sarapan yang Luna buat sebelumnya. Luna memperhatikan Adira yang memakannya dengan khidmat tanpa menjedanya. "Beruangku kelaparan sepertinya!"


Luna tersipu mengingat lima belas menit sebelumnya pria itu merengek dengan alasan Luna tidak disampingnya saat terbangun, bahkan merajuk karena tidak merangkulnya saat dia keluar kamar menyambutnya. "Dia sungguh seperti bocah!"


* * * * *


Di Negara S kantor pusat Eternal Trade.


"Farell ada kabar dari HK?" Tanya Mahessa mengawali pagi ini.


"Belum ada tuan."


"Situasi disana saat ini telah stabil."


"Mengenai dalang peretas system saya rasa itu ulah orang iseng saja."


"Sejauh ini tidak berpengaruh terhadap nilai saham." Jawab Farell menjelaskan.


"Baguslah."


Keduanya berlalu menuju ruang kerja Mahessa di kantor pusat E.T Negara S.


"Lalu bagaimana mengenai apa yang saya suruh kamu kerjakan tentang Luna? Surat perjanjian kotrak sudah siap?" Lanjut Mahessa.


"Draft telah selesai, tuan bisa mengecek kembali saya sudah kirimkan tadi pagi."


"Tapi, mengenai orang tua nona Luna?" Farell menghentikan ucapannya.


Mahessa menatap Farell serius. "Ada apa?"


"Sesuai data yang diberikan bahwa dia tinggal di Distrik S."

__ADS_1


"Aku telah menyuruh Fero menjemput tuan Wira di kediamannya. Namun alamat itu kosong!" Farell mengucapkan dengan hati-hati.


"APAA!!" Pekik Mahessa dan berdiri panik.


Di saat keduanya berpikir ponsel Farell berdering. Dia meminta ijin menjawab dan segera undur diri. Tidak berapa lama Farell kembali menemui tuannya dengan senyum penuh artinya.


"Tuan.."


"Apa ada kabar baik?" Jawab Mahessa cemas.


"Iya tuan, kami menemukan ayah nona Luna.."


"Bagus!!"


"Segera menjemputnya. Jangan membuat tindakan yang mencurigakan atau berlebihan."


"Hari jumat dia harus telah sampai disini."


"Mengenai dokumen yang diperlukan kamu urus dari sekarang!"


"Oh iya siapkan dana khusus, kita akan membuat keluarga Renald sibuk minggu depan."


Rentetan titah Mahessa untuk Farell segera dia keluarkan. Dia sudah tidak sabar menunggu akhir pekan ini.


"Baik tuan. Saya undur diri." Farell menunduk dan beranjak keluar dari ruang Presiden Direktur itu.


"Pergilah." Mahessa segera membuka ponselnya memperhatikan wallpaper yang dia pasang selama mengenal Luna.


"Cutie, aku sangat merindukanmu."


* * * * *


Dua hari kemudian.


EPS sedang mempersiapkan laporan fiskal tahunan. Mereka yang tengah mempersiapkannya sungguh sangat sibuk termasuk divisi Luna. Sudah dua hari Luna lembur hingga pulang larut. Karena hal ini juga keduanya jarang sekali bertemu, bahkan Luna kembali berada di mansion miliknya.


[Mas, aku mau pergi kesalon dengan sandra dan hapsari ya. Love you mmuuaach]


Sudah beberapa minggu Luna melewatkan jadwal ke salon. Saat ini badannya sudah remuk rasanya. Luna berencana memanjakan diri setelah dua hari membabi buta dengan pekerjaan.


Ting


[Okey.]


"Udah gitu doang?" Luna menganga melihat balasan Adira yang seperti orang malas.


"Mentang-mentang ga dikasih jatah balik lagi kek es batu!" Rutuk Luna kesal.


Sudah dua hari ini juga hubungan mereka renggang, tadi siang dia mendapati kursi Adira kosong. Bahkan sekedar mengabari via chat sudah jarang. Dia juga tidak menemukan Adira di kantor hari ini.


Luna menghampiri Sandra, mereka pergi bertiga bersama menuju salon langganan mereka. Mereka memesan taksi langganan.


"Mau kemana kita ladies...."


"Biasa, Beauty salon and spa.." Jawab Hapsari.


"Ok kita let's go..." Timpal pak Amir.


Walau telah berusia kepala empat tapi jiwanya masih anak muda. Sangat nyaman bila menggunakan jasa transportasi dia. Sepanjang jalan dia akan mengoceh dari hal yang berguna sampai yang tidak penting. Jika taksi lain kita akan memberi tambahan uang tips. Maka dengan pak Amir sebaliknya akan di potong diskon. Itulah alasan utama kenapa jadi langganan.


"Muka lo masam gitu kan dah mo marriage?" Tanya Sandra.


"Beneran lu marriage bulan depan?" Timpal Hapsari terkejut.


Luna hanya mengangguk dan memalingkan wajah melihat pemandangan jalan.


"Wah non Luna mau melepas masa lajang?!" Pekik pak Amir menoleh kebelakang.


"Selamat ya non.. Saya doain lancar segalanya. Kalau lagi cekcok mah itu biasa. Biasanya sebelum hari H itu rintangan dan cobaan emang tiba-tiba datang."


"Siap-siap aja... Tapi jangan jadi kekhawatiran yang berlebihan. Kalau emang jodoh mah semua juga akan terlewati begitu saja... Yakin berdoa terus minta sama Allah dimudahkan segalanya."


Luna malah diberi ekstra wejangan perjalanan kali ini. Luna hanya menanggapi dengan senyuman setiap kata yang pak Amir ucapkan tak lupa ucapan mengamini dan terima kasih Luna lontarkan. Entah mengapa perasaan tidak enak muncul begitu saja. Mereka telah sampai di tempat tujuan dengan menempuh waktu sekitar dua puluh menit. Sesuai kesepakatan sebelumnya dengan yang lain Luna yang membayar, hari ini Luna memberi tips lebih untuk pak Amir.


"Non banyak bener..." Pak Amir terkejut dengan jumlah yang Luna berikan.


Luna sengaja membuat mereka sedikit menjauh baru membayar.


"Tidak masalah pak..."


"Rezeki itu pamali ditolak!"


"Jangan lupa doain urusanku lancar ya salam buat keluarga dirumah." Luna berucap seraya pamit dan melambaikan tangan.


Sandra dan Hapsari telah memesan terapis, mereka langsung diarahkan menuju area spa. Selama di ruang ganti mereka menatap Luna dengan penuh keheranan.


"Lu beneran lagi cekcok?" Tanya Hapsari hati-hati.


Luna menatapnya sayu, Luna seperti tengah merasakan kekhawatiran yang berlebihan.


"Enggak ko kami baik-baik saja."


"Hanya kecapean dan urusan pekerjaan yang menumpuk." Luna menjawab asal.

__ADS_1


"Lu kalo ada apa-apa tuh bilang."


"Siapa tau kita bisa kasih solusi buat lu."


"Apalagi ini bentaran lagi dah mau nikah."


Hapsari menghampiri dan merangkul bahu Luna "Udah sampe mana persiapannya?"


"Rencana minggu ini aku bakalan hunting sama Sandra." Luna menatap Sandra kali ini, dia hanya mendelik.


"Ya udah yuk... Takut keburu malem banget!" Hapsari kemudian berlalu lebih dulu.


Sandra yang sedari tadi diam sekarang membuka suara dan mendekati Luna.


"Mahessa?" Ucapnya singkat.


"Maksudmu?" Luna semakin gelisah.


"Apa karena hadirnya Mahessa?"


"Bukannya besok kamu akan berperan menjadi pacarnya?"


Luna terdiam sejenak, dia sendiri tidak mengerti perasaannya saat ini.


"Lebih menuju perasaan takut salah memilih."


"Tapi jika kamu memang merasa kurang yakin dengan Adira."


"Bisa jadi itu juga pertanda bahwa kamu sebenarnya belum siap dengan semua ini bukan?"


"Aku bukan ingin menakutimu."


"Pernikahan bukan sebuah permainan."


"Jika dirasa tidak sanggup memainkannya maka tidak perlu memaksakannya."


"Dari awal kalian menjalin hubungan, yang aku lihat kamu tidak pernah menunjukan mencintainya!"


"Yang aku tidak menyangka adalah kamu bodoh memberikan tubuhmu cuma-cuma padanya!!"


"Entah mengapa aku sangat yakin kamu tidak mencintai Adira kan Luna?"


Luna terpaku tidak bisa menjawab setiap perkataan Sandra. Antara benar dan tidak dia tidak mengerti dirinya sendiri saat ini. Sandra merangkul Luna erat, Luna tak kuasa menahan air matanya.


* * * * *


"Adira, kakak sudah berulang kali bilang kapan kamu akan fokus hanya di Renald group?!"


"Kamu tidak bisa begini terus." Suara Arnetha sudah naik beberapa oktaf.


"Aku tahu!"


"Aku sudah membuat surat resign..."


"Sejauh ini aku sudah berusaha menyelesaikan setiap laporan yang kalian mau!" Adira menyanggah.


"Bukan itu intinya!"


"Sampai kapan kamu akan memporsir dirimu sendiri atas situasi yang sebenarnya bisa kamu atasi dengan sangat mudah ini?"


"Aku heran denganmu, sampai kapan kamu akan terus menutupi silsilahmu pada Luna?"


"Hubungan macam apa yang sedang kamu bina?"


"Masing-masing dari kalian tidak pernah jujur dengan silsilah kalian."


"Aku yang melihatnya geram sendiri!!"


"Kayak gitu kamu sok minta cepat menikahinya?"


"Kamu benar mencintainya atau hanya sekedar hasrat semata?"


Arnetha sudah tidak bisa lagi membendung kekecewaannya terhadap adiknya saat ini. Setelah mengenal Luna kehidupan Adira berubah drastis menurutnya. "Apa yang sudah dilakukan Luna pada adikku?"


"Aku mencintainya kak." Lirih Adira lemah.


"Jika kamu mencintainya, kapan kamu akan jujur mengenai identitas mu?"


"Jangan membuatnya mengetahui lebih dulu dari orang lain!"


"Apa kamu tau perasaan dikecewakan orang tersayang?" Ancam Arnetha.


Adira tidak bisa lagi menjawab pertanyaan kakaknya yang sangat menusuk baginya. Dia memutuskan panggilan sepihak. Dia merasa frustasi dua hari ini, sudah dua hari dia sangat sibuk dengan urusan RG belum lagi laporan akhir tahun yang harus dia kerjakan juga di EPS. Dua hari ini juga untuk pertama kalinya dia mengabaikan Luna, terlebih Luna juga sibuk dengan urusannya membuat Adira sedikit bernafas lega untuk tidak selalu mencari alasan saat menghadapi pertanyaan Luna pasal pekerjaan tambahannya.


Hari ini tubuh Adira drop. Dia tidak memberitahukan Luna pasal sakitnya, Adira berpikir takut merepotkan Luna. Saat ini beruntungnya dia memiliki asisten. Bagas menghubungi dokter pribadi mereka dan memberikan perawatan medis di rumah. Menurut dokter Adira memang terlalu memporsir dirinya hingga kelelahan. Alasan mengapa kakaknya memaki dia di telpon.


Dia memeriksa ponselnya, Luna memberikannya sebuah pesan singkat pergi ke salon bersama temannya. Adira berniat untuk menjemputnya. Dia sudah sangat rindu dengan kekasih hatinya yang dua hari ini tidak terlihat batang hidungnya.


"Halo sayang..."


"Kamu masih di salon?"


"Aku menjemputmu kesana ya."

__ADS_1


Adira memutus sambungan dengan senyum yang dia kulum kemudian segera bangkit bergegeas menemui calon istrinya.


* * * * * * * * * *


__ADS_2