
Namanya Naluna Maharanni, dia baru saja menginjak usia 20 tahun ini. Setelah lulus Sarjana Akuntansinya dengan nekat dia meminta ijin pada keluarga besarnya untuk menerima tawaran bekerja di luar kota. Tepatnya di kota B bersebelahan dengan Negara S. Keluarga besar Luna tinggal di wilayah Distrik S, Kota S. Sebenarnya alasan utama dia memilih keluar kota di banding tempat asal dia tinggal karena dia ingin menghindar dari mantan pacar yang selalu mengganggunya.
Pria yang barusan mengganggu pagi harinya adalah Adira Renald. Usia mereka terpaut dua tahun, Adira dua tahun lebih tua dari Luna. Mereka berdua bekerja di kantor yang sama hanya beda divisi saja.
EPSCorp tempat pertama kali mereka mengenal dan akhirnya memutuskan menjalin hubungan percintaan. Sayangnya gaya pacaran mereka terlalu bablas karena tanpa adanya pengawasan dari orang tua.
Adira sendiri berasal dari kota K, karena konflik dengan ayahnya dia memutuskan keluar dari keluarga besar Renald dan hidup mandiri meniti kariernya di kota B ini. Dia sungguh beruntung karena keras kepalanya dia akhirnya bertemu dengan wanita yang mampu menggetarkan hatinya.
Adira yang berkarakter cuek dan dingin itu mendapatkan julukan si kulkas hidup. Hanya karena sebuah taruhan dengan kedua teman terdekat Luna selama di EPSCorp dia berani mendekati Adira, namun siapa sangka Adira sendiri yang terpikat oleh Luna dan buru-buru menjadikannya pacar. Membuat Luna menang taruhan.
Siapa yang tidak tertarik dengan kecantikan seorang Naluna Maharani? Bahkan Adira sendiri bersaing dengan kedua temannya untuk mendapatkan sambutan Luna. Sungguh beruntung Luna ternyata memilihnya. Sayangnya dalam waktu 5 bulan mereka berstatus pacaran, Luna dan Adira telah melakukan hubungan badan tanpa ikatan pernikahan.
Luna yang selalu merasa takut dirinya hamil meminta Adira untuk memakai pengaman saat berhubungan badan
tetapi sialnya Adira selalu menolak dan meyakinkan wanitanya bahwa semua aman dalam kendalinya, karena dia akan mengeluarkan benihnya di luar. Luna yang percaya begitu saja dinyatakan hamil setelah 3 bulan sejak mereka sering berhubungan.
Luna berencana menggugurkan kandungan namun Adira menolak justru bertanggung jawab dan menikahinya segera. Dengan aib yang luar biasa mencoreng nama baik kedua keluarga besar membuat Luna harus menerima kenyataan kehidupan kedepannya tidak semudah seperti sebelumnya.
Dia memutus seluruh komunikasi dengan kerabat, sahabat bahkan dia tidak berani melamar bekerja kembali.
Beruntungnya Adira Renald berasal dari keluarga terkaya di kota K. Dia selalu dimanjakan oleh keluarganya, walau papanya terlihat keras namun nyatanya Adira masih di beri kesempatan mengelola perusahaan sawit milik Renald Group.
Satu rahasia besar lagi yang selalu keluarga besar Luna dan suaminya tutupi dari Luna adalah status kebangsawanan Luna dan penyakit gangguan hilang ingatan partial yang di alaminya semenjak dia kecil dan di perparah saat dia mengalami kecelakaan laka lantas satu tahun sebelum dia memutuskan meninggalkan kota S dan memilih Kota B untuk menata hidupnya kembali.
Selama beberapa bulan sekali ingatan Luna akan kacau dia akan kembali mengingat masa lalunya. Disaat itu dia
ingat pada siapa hatinya berpihak, namun beberapa saat kemudian dia kembali tidak ingat. Alasan dia selalu bertengkar dengan Adira saat mereka telah menikah bahkan di karunia dua buah hati yang hanya berjarak satu tahun lebih itu karena Luna selingkuh dan kembali menjalin hubungan dengan mantan pacarnya Diaz Wijaya.
Pria itu merupakan pewaris dari keluarga Wijaya pemilik Huateng Group yang beroperasikan di Negara S. Setiap kali ingatannya pulih dia akan lantang memilih bercerai. Namun saat ingatannya kembali hilang dia memohon untuk tidak di tinggalkan oleh suaminya.
Adira sudah sangat bersabar selama ini, karena rasa cintanya yang begitu besar untuk istrinya dia terus
bertahan terlebih kedua buah hatinya yang masih sangat membutuhkan ibunya.
* * * * *
Setelah menutup saluran telponnya dengan mantan suaminya di kehidupan yang lalu Luna menatap nanar ponsel jadulnya. Dia segera menyambar kalender di atas nakas sebelah ranjangnya.
"2012?"
"Oh *******! Apa ini nyata? Atau aku sedang bermimpi dalam sebuah mimpi?"
"Aaawww..." Luna mencubit dirinya sendiri kemudian merasakan perih setelahnya.
"It's true!!"
"Ah come on!!"
"Harusnya kayak di komik itu di kasih sistem kehidupan pas reinkarnasi!! Ini kagak ada..."
"Terus gue mulai dari mana??!!"
"Gue juga ga inget hari ini bulan ini tahun ini gue ngapain?!"
"Kerjaan gue apa?!!"
"HUAAAA!!"
__ADS_1
Luna mengacak rambutnya frustasi, dia ingat dia belum meminta ijin pada bosnya bu Lidya yang merupakan supervisor di tempat dia bekerja. Dia menarik dan menghembuskan nafas perlahan kemudian mulai mencari nama atasannya di kontak ponselnya dan mengirim via SMS.
"Gue harus beli eypun!!"
Tring!
[ Okay Luna, Semua deadline mu udah di hand over Sandra? ]
"ASTOGE!! MANA GUE TAUUUU!! HUHU"
"SANDRAAAA..."
Luna kembali mencari nama Sandra di daftar kontak kemudian menghubungi teman terbaiknya saat di kota B.
"Halo San..."
"Apaan sih gue masih di bis..."
"Tumben lu telpon jam segini? Gue kesiangan gilaaa!!"
Luna sungguh terharu bisa kembali mendengar teman partner in crime nya selama bekerja di EPS.
"WOY!!" Sungut Sandra kemudian menyadarkan lamunan Luna.
"Gue cuti.. Gue minta tolong please... Bantuin deadline gue ya..."
"Anjeng lo!!"
"Ini Jumat NYET!!"
"Iya gue tahu ini jumat..." Sejujurnya Luna tidak ingat ada apa memangnya dengan hari Jumat.
Tuuutt!!
"MAMPUS GUE!!"
"AAARRGGHHH!!"
Luna membenamkan dirinya dalam bantal dan berteriak kencang.
Luna telah selesai dengan mandi paginya, dia keluar dari kamar mandi dengan menggosok rambut basahnya. Sayup terdengar suara ketukan pintu. Dia terdiam sejenak memastikan indra pendengarannya dan memastikan bahwa kamarnya yang tengah menerima tamu.
"Who is there?"
"Jangan-jangan mba jaga kosan?"
"Gue belum bayar uang sewa..."
"Gue punya duid apa kagak aja gue ga tahu!! Huhuu"
Tok... Tok... Tok...
Suaranya semakin nyaring terdengar, Luna tidak sempat berpikir dan tentu saja tidak sempat memakai baju lebih dulu. Luna membuka pintu, menyembunyikan badannya di balik pintu dan ia terkejut saat wajah tampan yang dia cintai selama 8 tahun itu berada di depan matanya.
"M-Mas Dira..." Pekik Luna tidak percaya.
"Kok mas kesini?" Luna mengatupkan bibirnya gelisah.
__ADS_1
"Kenapa memangnya? Kok kamu lihat aku kayak lihat setan!!" Gerutu Adira kesal.
"Hehehe..." Luna malah cengengesan sekarang.
"Ga di suruh masuk nih?!"
"Oh iya..." Dengan enggan Luna membuka pintu lebar untuk prianya.
Dia masih menyandar di dinding tidak bergerak tidak seperti biasanya.
"Kenapa cewek ku tiba-tiba aneh gini sih?!"
"Biasanya dia bakalan langsung nemplok kek bunglon."
Adira menatap lekat wanitanya, di tatap intens oleh prianya Luna menyalah artikannya dengan tatapan mesum.
"Si beruang mesum ini mesti lagi mikir yang enggak-enggak!"
"Baru gue sadarin dia ini dari awal gue kenal emang otaknya gesrek banget!!"
"Sebelas dua belas ama gue!!"
Luna merutuki dalam hati sikap pria mesum di depannya. Adira beranjak mendekati Luna dengan menyeringai penuh makna.
"Mm-Mas mau ngapain?" Luna beringsut mundur.
"Kamu hari ini aneh banget sayang..."
"Kamu sakit?"
Adira semakin mengungkung tubuh wanitanya di dinding.
"I-iya aku masuk angin..." Luna berbohong berharap prianya melepaskannya.
Luna menyilang kedua tangannya di depan tubuhnya.
"Kamu ngapain kayak gitu?"
"A-aku..." Luna gelisah dan kembali mengatupkan bibirnya rapat.
"Hahaha... Kamu ini aneh banget sih..."
"Bukannya aku udah lihat seluruh tubuh kamu?"
"Bahkan aku sudah ngerasainnya."
"Apa kamu mau pura-pura lupa sekarang?"
"Atau...."
"Atau apa?" Luna menautkan alisnya.
"Atau mau aku ingatkan lagi gimana aku sudah tahu kamu luar dan dalam!!"
Adira berbisik di belakang telinga Luna, tangannya kini merangkul pinggang ramping Luna.
"Oh my goodness!! Help me... Baru juga terlahir kembali masa iya bikin dosa lagi?!!"
__ADS_1
* * * * * * * * * *