
"Udah kenyang nangisnya..." Adira melonggarkan pelukannya. Dia menatap wanitanya dan kembali menciumnya.
"Mau jalan-jalan kemana?" Tanyanya lagi kemudian.
"Kemana ya enaknya... Kehatimu gitu..." Gombal Luna.
"Haha!!" Adira tertawa menarik tubuh Luna menuntunnya dan kini Luna duduk dalam pangkuan Adira.
"Ayok sayang... Kamu bilang kamu mau ke hatiku?" Adira melakukan gerakan sensualitas pada wanitanya.
"Maas..." Luna mengusap wajah prianya dengan jari lentiknya.
"Aku sangat mencintaimu mas... Aku bahkan telah memberikan seluruhnya untukmu... Tubuhku, hatiku... Semua kepunyaanmu..."
"Kau sungguh pandai menggombal Luna!!"
"Selalu saja membuat aku merasa jatuh cinta untuk kesekian kalinya."
"Aku juga sangat mencintai mu Luna. Aku minta maaf sayang..."
"Aku akan segera menikahimu!!"
"DEG!!"
"Mas... Jalan kita masih panjang... Kita masih belum kenal satu sama lain... Ga perlu buru-buru..."
"Tapi hubungan kita sudah sangat jauh Luna... Aku sangat takut!!"
Luna tersenyum mengecup bibir kekasihnya lembut. "Kita pergi sekarang?"
"Kemana?" Adira membelai punggung Luna dan mencoba menarik lengan bajunya lebih kebawah.
Luna mulai tersulut hasratnya. "Astaga!! Selemah ini imen gue!! Sadaaar Naluna!!!"
"Aku ingin membeli ponsel... Tapi aku belum punya uang..."
"Mas mau ga temenin liatin harganya dulu aja... Minggu depan gajian aku beli deh..."
Luna menampilkan gigi rapinya malu.
"Dari kemarin aku tawarin kamu hp baru nolak mulu!!"
"Benarkah?!" Luna menautkan alisnya. Sejujurnya dia tidak ingat.
Tidak berapa lama ponselnya berdering, Luna menyambar ponselnya kemudian matanya terbelalak saat mengetahui siapa disana.
"Sandra mampus gue!!" Gumamnya lirih.
Adira terkekeh dengan ekspresi Luna. Sudah bukan rahasia lagi pertemanan Luna dan Sandra bahkan bisa di katakan bagai saudara. Namun mereka memiliki bahasa yang kasar sering kali membuat Adira selalu memperingati Luna akan tingkah lakunya.
"Iya San..."
"HEH BOCAH!! Lu enak bener cuti di hari Jumat yang cerah ini!!!"
"Ngapain sih Lu?!"
"Bareng si Kulkas Idup kan lu... Makin lengket aja ku lihat kalian!!"
"Syirik tanda tak mampu!!" Rutuk Luna balik.
"Heh! Deadline lu apa aja?!"
"Ini nih bagian ini gue mesti gimana? Lubang mana lubang... Ingin rasanya aku mengulang dari awal saja."
__ADS_1
"Ehm... Aku lupa, mungkin kamu bisa cek di data komputerku..."
"BAGUS LU YA!!!"
"BEBAN ANJENG!!"
"Lu jahat bener ama gue..." Luna sangat sensitif saat ini.
"Idih lu kek baru pertama kali hidup bareng gue!!"
"Mana password komputer sama file mu... Aku coba dulu."
"Hapsari juga sibuk ada beberapa barang yang tidak diantar tepat waktunya"
"Jangan-jangan barang gue."
"Mana gue tahu, lu yang punya barang lu yang punya jadwal ko lu ga tau?!"
Luna membenamkan dirinya di dada bidang prianya yang tengah memainkan game onlinenya walapun tengah memangku Luna.
"Coba buka aja ya... Gue jelasin entar..."
"Kirim password sekarang juga!!"
"Makasi San, gue janji traktir ngopi.."
"Ye lah!!"
"Jangan macem-macem sama si kulkas inget yang ketiga setan!!"
"Iya..."
Luna menutup ponselnya, dia segera mengetikan sederetan angka yang mungkin menjadi password komputernya.
"Mas Dira!!"
"Mas..." Tanya Luna kemudian.
"Hmm..." Jawabnya tengah fokus dengan war nya.
"Mulai deh kalo udah maen game online!!"
"Mas bisa ga ngebuka komputer aku terus ganti passwordnya.. Sama di dokumen gitu juga.." Ucap Luna hati-hati.
"Lah emang kenapa?"
"Aku mendadak lupa.."
"Kok bisa?!"
Dengan wajah datar dan masih fokus dengan permainannya membuat Luna sedikit kesal. Dia mendengus kasar akhirnya Adira menyadarinya.
"Bisa sayang nanti kalo dah masuk aku remote dari tempatku..."
"Benarkah?!"
"Makasi sayang..."
Luna mencium pipi Adira mesra.
"Sayang godain aku terus niscaya aku akan menyantapmu sekarang juga!"
"Mas ini!!"
__ADS_1
"Mas bisa ga ga terus minta jatah setiap waktu ke aku..."
"Aku juga ingin seperti itu Luna... Tapi kamu juga penyebab aku mesum terus!!"
" Lihat nih!"
"Aaaaa...."
Luna berteriak terkejut Adira menarik kerah sabrinanya yang langsung mengekspos bukit indah miliknya.
"Kamu juga make baju kurang bahan terus!!"
"Kucing mana yang bisa nolak di tawarin ikan!!"
Dengan ekspresi datar Adira tidak mau kalah, dia tidak ingin disalahkan begitu saja.
"W H A T?!!!" Luna memekik tidak percaya.
"Ayok yang! Kita pergi sekarang ya..."
"Tar keburu panas..."
"Okay nyonya..."
"Ganti bajunya sana. Pake jaket sama celana panjang gih, biar ga nyengat..."
"Iya sayang..."
Sepuluh menit kemudian keduanya telah keluar kosan Luna dan sesuai kesepakatan mereka menuju sebuah mall besar di kota B yang menyediakan semua fasilitas dari mulai fashion hingga aksesoris gadget bahkan bioskop sekalipun ada disana.
* * * * *
Luna dan Adira telah berada di salah satu mall besar ternama yaitu Plaza Hill. Dengan konsep yang megah luar biasa seperti bangunan Konstantinopel yang bergaya seperti di benua eropa sana. Fasilitas yang mengusung All in One itu menjadikannya sebagai pusat perbelanjaan terbaik di kota ini.
Luna tengah merapihkan dirinya kembali, dia menunggu prianya memarkirkan motornya dan menaruh jaket keduanya di dalam jok. Luna ingin mencoba untuk menggandeng tangan kekasihnya pasalnya selama ini Adira mana pernah mau bergandengan tangan. Mereka akan masing-masing jalan sendiri seperti bukan orang yang tengah berpacaran.
"Ayok mas..." Luna menggelayut manja di lengan Adira yang telah menghampirinya.
Adira membiarkannya, tanpa menolak seperti yang Luna ingat terakhir kalinya mereka berkencan sebagai kekasih bukan sebagai sepasang suami istri di ibu kota.
"Ko bengong gitu?!" Tanya Adira memegang dagu Luna.
"Mas salah minum obat apa?" Ejek Luna.
"Apa sih yang!!" Adira tertawa dengan tingkah Luna.
Sambil berjalan meninggalkan area parkir dan memasuki mall.
"Mas ko mau gandeng tangan aku?" Tanya Luna memastikan bahwa yang disampingnya adalah pacar sekaligus suami yang dia nikahi selama 8 tahun lamanya.
"Lah?! Kemarin kamu protes aku selalu ninggalin kamu... Sekarang aku berubah kamu protes juga kah?"
Adira mengacak rambut Luna gemas, sejujurnya dia ingin mencium bibir merah segar natural milik kekasihnya yang selalu menjadi candu baginya.
"PUJA KERANG AJAIB!!"
"FIX JIWANYA TERTUKAR DENGAN ARTIS DRAMA KOREA YANG BANYAK BACOT BUAYANYA!!"
Pikiran Luna merasa bahagia sekaligus was-was. Dia takut bahwa yang menyadari mereka tengah mengulang waktu bukan hanya dirinya. Melainkan pria di sampingnya ini terlihat mencurigakan saat ini. Sesungguhnya Adira sendiri tidak seperti Luna yang tengah mengulang waktu dengan misi memperbaiki takdirnya. Tapi anehnya hari ini sedari awal dia bangun dia merasakan dejavu pada dirinya.
Perasaan aneh juga menjalar saat Luna bertingkah tidak seperti biasanya. Luna sendiri lupa sejujurnya jika di banding Adira, Lunalah yang terlalu agresif selama mereka berhubungan. Adira sudah sangat menahan sekuat tenaga untuk tidak menjamah Luna. Namun Luna sendiri setiap kali mereka berduaan di rumahnya selalu mengenakan pakaian seksi yang mengundang hasrat siapapun yang melihatnya. Bahkan walau hanya berciuman dengan sangat lihai Luna juga bergerilya dengan tangannya menyentuh titik-titik kelemahan kekasihnya.
* * * * * * * * * *
__ADS_1