Dua Cinta Satu Hati

Dua Cinta Satu Hati
Bab 44 : Selingkuh


__ADS_3

Setelah menempuh waktu selama 30 menit dari wilayah perkantoran hingga saat ini mereka telah berada di pelataran parkir Plaza Hill. Luna bergegas keluar dari mobil dan menuju Apple Store di lantai 2.


"Gue aja belum beli eypun tapi dermawan beliin orang..." Gumamnya lirih.


"Kenapa beli yang 4+? Bukannya sudah rilis baru iP5." Ujar Mahessa mendekatinya.


"Bukan untukku..." Luna menatap pria disampingnya.


Mereka benar-benar terlihat seperti sepasang kekasih.


"Oh iya aku ingat pasal kamu mabuk hari itu?!" Mahessa kini mengejeknya dengan mencubit hidungnya.


"Silahkan diperiksa kembali semuanya berfungsi dan ini kartu garansinya." Pelayan toko kembali memeriksa kelengkapan ponsel membuyarkan kemesraan keduanya.


Luna mengangguk lemah dia memberikan kartu debit miliknya. Tapi dia terkejut penjaga toko mengatakan bahwa tidak perlu.


"Sudah dibayar oleh pacarnya mba." Dia tersenyum menunjuk Mahessa.


"APAAAA?!" Luna terkejut refleks melihat Mahessa yang saat ini menuju sudut lain.


"Kenapa bayarin sih!" Sungut Luna kesal menghampiri Mahessa.


"Enggak lah, aku membalas budi atas sarapan tadi pagi." Ujarnya datar.


"Wow... Besok aku masakin aja lagi lumayan sehari tujuh juta." Pekik Luna tak percaya dengan penuturan biasa pria di sebelahnya.


"Bagi dia beli mobil kayak beli gorengan."


"Apa lagi cuma beli HP kek gini kek beli permen gopean!!"


"Boleh... Aku malah sangat senang bisa terus memakan sarapan buatanmu." Mahessa menggoda Luna dengan memegang dagunya.


"Makasi loh Mahessa, tapi beneran ini aku balikin uangnya ke kamu ya?"


"Soalnya HPnya bukan buat aku pakai tapi buat orang lain." Luna masih merasa tidak nyaman.


"Kita kemana lagi ini? Kamu ga lapar? Kita mencari resto untuk makan malam gimana?" Mahessa mengalihkan pembicaraan dan mengajak Luna mencari makan malam.


"Kamu mau makan apa Luna?" Tanya Mahessa lagi.


"Hotpot yuk..." Luna menggelayut manja dilengan Mahessa.


Tanpa ragu bahkan terkesan saat ini Luna milik Mahessa, Mahessa seolah seperti di beri jalan oleh wanitanya dia mencium kening Luna lembut dengan perasaan yang membuncah.


"Untuk pertama kalinya aku memperlakukan wanita di depan umum seperti ini."


"The one and only you Naluna!!"


Mahessa menggenggam erat jemari Luna, mendadak Luna gelisah. "Ya tuhan apa yang tengah aku lakukan! Semoga tidak ada orang yang mengenaliku disini saat ini."


Mereka menuju tempat makan di area lantai paling atas. Menuju salah satu resto hotpot favorit Luna dengan Sandra dan Hapsari tentu saja. Mereka tengah masuk di dalam resto yang lumayan penuh. Beruntung masih tersisa satu kursi di pojok pas untuk keduanya. Seperti biasa Mahessa mempersilahkan Luna duduk kemudian menyusul duduk didepannya. Mereka langsung memesan apa yang akan dimakan dan pelayan menyuruh menunggu.


"Sepertinya kamu sering kesini?" Tanya Mahessa membuka obrolan.


"Iya aku suka hotpot." Jawab Luna datar.


Luna memeriksa ponsel apa kekasihnya mengirimkan pesan singkat atau tidak dan ternyata tidak ada satupun. Luna terdiam seketika dan Mahessa menyadarinya.


"Apa kamu merasa bersalah kepadanya? Tanya Mahessa.


"Kamu ni banyak tanya deh!!" Rutuk Luna kesal.


"Boleh kan aku lebih mengenalmu cutiepie?!"


Luna terpaku melihatnya.


"Selama aku bersama mas Dira sepertinya dia selalu acuh pasal hidupku. Aku berkeyakinan tidak ingin mengorek masa lalu dia agar tidak kecewa atas ekspektasi berlebihanku. Makanya aku seperti membiarkan semuanya mengalir begitu saja. Namun nyatanya sepertinya aku juga ingin sekali diperdulikan tentang apa yang aku sukai apa yang tidak bagaimana keluargaku dan lain sebagainya."


"Ini tidak berlaku dengan mas Dira aku menjadi sepertinya, aku pun tidak perduli dengan kehidupannya." Batin Luna kembali di dera perasaan miris atas hubungan yang dia bangun dengan kekasihnya masa itu.


"Cutiepie are you okay?" Mahessa kembali membuyarkan lamunan Luna.


"Dia bilang cutiepie kok seksi banget sih!!" Rutuk Luna dalam hati.


"Belum saatnya..." Luna menjawab apa yang dia inginkan.


"Oh iya yang ini aku bayar ya..."


"Aku sungguh tidak nyaman, ini bukan untuk ku masalahnya!


"Hahaha kamu sungguh sangat gigih..."


"Lalu bagaimana dengan kesepakatan kita? Maukah kamu membantuku?! Aku sudah menolongmu kamu harusnya bisa menolongku kan?" Ujarnya kembali menekankan.


"Aku pikirkan nanti okay? Aku tidak bisa membohongi Adira jika harus kesana tanpanya." Luns mencari alasan.


"Kamu tidak perlu khawatir aku pastikan dia tidak akan mencurigai kita." Dia menggenggam tangan Luna menatapnya lekat.


Luna sungguh tidak tahu harus bagaimana lagi. Akhirnya mereka menyelesaikan makan malam dengan menghabiskan waktu selama 30 menit. Luna segera meminta Mahessa membawanya pulang. Jika terlalu lama Luna sangat takut ketahuan oleh pacarnya.


* * * * *


"Terima kasih Mahessa... Aku pulang dulu!" Luna menatapnya seraya tersenyum.


"Aku boleh mampir ditempatmu sebentar?" Pintanya.


"Tidak!"


"Seminggu ini aku sudah pastikan rekaman CCTV akan aku manipulasi.. Please?!" Lirihnya sangat dekat membuat tubuh Luna meremang.


"Baiklah... Sebentar lagi dia akan menghubungiku." Entah apa yang merasuki Luna saat ini dia benar-benar tidak bisa menolak hadirnya Mahessa!


Setelah berada di rumah Mahessa mendekap wanitanya. Menjelajah setiap inci tubuh Luna.


"Mahessaa..." Luna melenguh pelan.


Dia membopong Luna menuju sofa. Membuka jasnya dan mengendurkan ikatan dasinya.


"Dia sungguh tampan... Ah sial Naluna!!!" Rutuk Luna dalam hati.


Mahessa kembali menyesap bibirnya perlahan kemudian menuntut. Dia mengunci kedua tangan Luna diatas kepala dengan satu tangannya. Tangan yang lain menyentuh bagian tubuh Luna yang tidak boleh tersentuh. Dia menyentuh kulit halus Luna dengan perlahan, jakunnya sudah naik dan turun, bahkan juniornya sudah kesakitan di bawah sana.


"Sialan, Luna selalu membuat darahku memanas hebat!!"


Luna menatap sayu ke arah Mahessa, dia menggelengkan kepalanya "Jangan Mahessa... Pleasee..."


Dengan suara yang tengah menahan hasratnya Luna justru seperti tengah menggoda pria di depannya. Mahessa kembali dengan membuka kancing kemeja Luna yang membuat dia bisa melihat jelas belahan indah di depan matanya.


"Aarrgh!" Luna membenci suara erangannya keluar begitu saja tanpa dia inginkan.


Mahessa tengah mengesap dada Luna, membuat keduanya dipenuhi gairah yang tidak semestinya.


"Sudaah ya..." Luna memelas meminta di lepaskan. Dia tidak bisa menjamin apa yang akan terjadi berikutnya. Mengingat tubuh Luna memang telah kotor.


Mahessa melepaskan Luna setelah memberikan tanda cintanya disana. Mahessa tersenyum dan menyeka bibir basahnya dengan jemarinya. Luna terengah sungguh pemandangan menggoda bagi Mahessa.


"Kamu sangat berbahaya untuk ku Luna!"


"Aku bahkan rela menjadi selingkuhanmu saat ini."


"Hanya karena aku sudah terjerat oleh mu!"


Entah mengapa perkataan tulus Mahessa kali ini membuat Luna menjatuhkan air matanya saat ini juga.


"I Love you cutiee..."


Luna menggelengkan kepalanya perlahan. "Kita sudahi hubungan ini ya..."


"Kamu tidak perlu merendahkan dirimu sendiri."


"Hubungan kita tidak akan pernah berhasil..."


"Hati ku sudah menjadi milik orang lain..."


Mahessa mengeratkan kepalan tangannya, matanya berubah nyalang dan dingin penuh dengan aura kebencian terpancar saat melihatnya. Luna beringsut mundur.


"Bagaimana jika aku lebih baik dari Adira?"


"Apa kamu tidak mempertimbangkan diriku?"


"Apa benar sampai saat ini kamu tidak memiliki perasaan apapun denganku?!"

__ADS_1


"Setelah apa yang kita perbuat sejauh ini HAH?!"


"Apa kamu memang senang melakukan hal ini dengan siapa saja?!!"


Perkataan Mahessa benar-benr mengoyak perasaan Luna, dia tidak sanggup berada semakin lama dengan Mahessa. Dia terlihat seperti mantan kekasihnya, dia akan dengan mudah terjerat oleh pesonanya. Jika di banding dengan Adira yang dingin dan tidak bisa memahaminya. Mahessa sudah lolos membuat Luna nyaman sejauh ini.


"Aku ingin mengakhirinya karena memang aku sangat tidak bisa mengontrol hatiku untuk tidak jatuh hati pada mu!"


"Aku minta maaf Mahessa..."


"Bolehkah kamu pulang sekarang. Aku sangat lelah aku ingin istirahat."


"Luna, kita sudah begini!"


"Jangan sampai aku memaksamu!!"


Luna membulatkan netranya gelisah, belum sempat menghindar Mahessa kembali merebahkan tubuh Luna di sofa dan kembali mencium bibir Luna dengan kasar. Luna mencoba berontak, namun kekuatannya tidak sebanding dengan pria diatas tubuhnya. Mahessa bahkan tengah melakukan gerakan dibawah sana sama seperti yang sering dilakukan Adira pada Luna jika hasratnya tengah memuncak.


"Aargh!!"


"Lepaas kan akuu Mahessaaa aku mohooon!!!"


Luna tengah berlinang air matanya, tangisnya seolah percuma karena Mahessa telah gelap mata.


"Aku akan menghentikannya asal kamu menyetujui menjadi pasanganku akhir bulan ini?!" Mahessa terus melakukan pergerakan dan berbisik di telinga Luna


Tangannya turun perlahan mencoba membuka celana denim wanitanya.


"JANGAAAN!!"


"OKAAY!"


"Aku setujuu... Lepaskan aku..."


"Aku mohooonn..."


Luna semakin terisak pilu dan lemah. Mahessa membenci dirinya sendiri saat ini. Dia tidak menyangka akan melakukan hal hina ini.


"Jika saja kamu bisa menjawab lebih cepat di awal aku tidak perlu seperti ini padamu Luna." Kali ini ucapannya terdengar seperti menahan emosi yang dalam.


Mahessa meletakkan satu lembar cek. "Kita sudah sepakat Luna. Tidak ada pembatalan kecuali kamu mau rekaman CCTV ini aku berikan pada kekasihmu!"


"Kau brengsek!!" Lirih Luna menahan amarahnya.


Mahessa kembali mendekati tubuh Luna yang masih terbaring lemah "Kamu yang memulainya Luna!"


"Seminggu kedepan, aku akan menggantikan Adira menjadi kekasihmu."


"Mengantar jemput dirimu!"


"Aku tidak ingin penolakan kecuali Adira akan mengetahui perselingkuhan kita saat ini!!"


Luna semakin terisak pilu, hati Mahessa perih namun dia tidak punya pilihan.


"Good night cutie..."


"I love you..."


Mahessa kembali mencium bibir Luna, dia tidak ingin melepaskan wanitanya saat ini. Setelah puas dia mengusap lembut kedua netra Luna yang tengah sembab kemudian beranjak dan mengambil jasnya berlalu dari apartemen Luna.


Praaaaaaaang!


"Aaaaaaaaaa....."


Luna menjerit dan membanting vas bunga miliknya hingga berserak. Kondisinya sangat menyedihkan sampai dering ponselnya menghentikan semuanya.


"Halo mas.." Sapanya manja.


"Ko ga ada ngabarin... Gitu kan keasikan hang out ya.." Rengek kekasihnya membuat Luna semakin tersiksa.


"Aku baru saja pulang."


"Ini lagi rebahan baru mau telpon mas eh udah keduluan."


"Kemana aja tadi?"


"Anterin Sandra ke Plaza Hill."


"Ngapain emangnya?"


Terdengar suara kekehan di sebrang, Luna menundukan wajahnya.


"Kamu ga beli juga?" Goda Adira.


"Duid dari mana..." Lirih Luna.


"Loh, aku kan udah kasih kamu black card!"


"Kamu taro dimana?!"


"Eh itu..."


"Sayaang, aku kasih padamu berarti aku ingin kamu menggunakannya."


"Tapi aku kan..."


"Sayang, kamu tuh kebanyakan mikir deh!"


"Kamu istriku, calon ibu dari generasiku..."


"Tentu saja semua itu milikmu..."


Luna kembali menumpahkan air matanya, Adiranya tengah membuat gebrakan luar biasa dari yang terakhir kali Luna ingat. Jika seperti ini Luna tentu dilanda kebimbangan.


"Sayangg?"


"Kamu nangis?"


Terdengar kekhawatiran di setiap ucapan kekasihnya.


"Aku sungguh terharu, aku ga mau loh di anggap cewek matre."


"Hahaha!"


Adira terbahak dengan penuturan Luna.


"Mas..."


"Iya sayang..."


"Aku rindu..."


Adira tengah merona di sebrang sana, hanya Luna yang membuat dia memiliki perasaan luar biasa seperti ini. Sulit dijelaskan dengan kata dan sulit di sentuh.


"Aku juga sayang, aku sangat merindukanmu..."


"Cepat pulang..." Luna masih terdengar sendu membuat Adira memiliki perasaan lain.


"Iya sayang, Jumat malam aku pulang."


"Sabtu kita jalan-jalan ke Negara S mau?"


Luna membulatkan matanya tidak percaya.


"Si kulkas ngajak aku jalan-jalan?"


"Jangan-jangan besok lebaran monyet!!"


"Sayaaang ko diem?"


"MAUUUUU!!"


Adira terkekeh, dia merasakan kebahagian harinya selalu berkaitan dengan Luna. Dia sungguh bersyukur dia memilikinya.


* * * * *


Luna membuka pintu depan, telihat sosok yang tampan dengan wangi yang memikat membuat luna kembali mengambil jalan kesesatan.


"Pagi cutiee..."


"Hari ini kita makan di luar ya..."

__ADS_1


"Okay, tapi sebelumnya...."


Mahessa mendorong tubuh Luna di dinding, dan pria itu kembali mencuri ciuman dengan luna sepagi buta ini.


"Kamu sungguh candu sekali Luna!!!" Keluh Mahessa.


Dia benar-benar frustasi semenjak bersama dengan Luna, pikirannya hanya di penuhi hal mesum dengan wanita itu.


Luna menautkan alisnya dan terkekeh, "Yuk..."


"Mau coba sarapan di pujasera bawah ga?" Goda Luna, dia berasumsi Mahessa akan menolak karena tempat itu terlalu umum dan biasa saja.


"Boleh!"


Mahessa mencium kedua jemari Luna mesra membuat Luna membulatkan matanya tidak percaya.


"Please hati ga usah baper!!!" Rutuk Luna dalam hati.


Keduanya sudah berada di pujasera tempat dimana sarapan favorit Luna berada.


"Kamu mau pesan apa?" Tanya Luna kemudian.


"Samain aja deh ini kali pertama aku kesini aku tidak tau jadinya." Ucapnya datar.


"Okay..."


Setelah memesan dua porsi bubur ayam kesukaan Luna dia kembali menemui pria yang akan menjadi kekasih gelapnya seminggu kedepan.


"Apa kamu benar-benar tidak punya pacar?"


"Iya..."


"Bohong!"


Mahessa terkekeh "Aku memiliki gejala yang aneh jika mendekati seorang wanita."


"Hanya kamu yang bisa aku sentuh."


Luna membulatkan matanya tidak percaya, dia sudah sering membaca Novel dewasa yang menceritakan para CEO dengan gangguan abnormal mereka terhadap wanita. Hanya saja terjadi dengan dirinya Luna ingin rasanya membaut sukuran besar-besaran.


"Kamu lucu deh, semua pria itu ga akan menahan godaan."


"Ehmm, coba lihat mba cantik di arah jam dua sana itu..."


"Kamu pasti akan tertarik dengan sekali lihat."


"Aku aja yang cewek suka lihat dia good looking begitu!!"


Mahessa melihat sekilas yang dimaksud oleh wanitanya.


"Heh, dari sini saja aku sudah yakin tidak akan mau dengannya."


"Aku sudah bilang, the one and only."


"Just you..."


"Jika tidak percaya kamu bisa bertemu dengan dokter pribadiku dia akan menjelaskannya padamu!!"


Luna merinding mendengar ucapan datar dan dingin pria di hadapannya. Mahessa yang melihatnyatersenyum menarik jemari Luna dan menciumnya.


"You're my first love cutie...'


DEG!!


* * * * *


Luna menghampiri Sandra yang selalu menjadi karyawan teladan. "San, nih!"


"Ssstt ga boleh berisik." Bisik Luna serius kearah sahabatnya.


"Apaan nih??" Dia segera menghentikan aktifitasnya. Kemudian meraih paper bag kecil yang Luna berikan.


"OH MY GOD DEMI APA!" Pekik Sandra.


Luna segera menutup mulutnya dengan satu tangan.


"Gue bilang jangan berisik ih!!!"


"Sumpah demi apa? Lu beneran abis ngepet semalem??" Tanyanya kemudian ga ada akhlaq.


"Ngepet pala lu!"


"Teruuuuuuusss... Lu jual diri sama Mahessa?"


Bug!!


Luna memukul bahu temannya spontan, walau sejujurnya bisa jadi Luna benar-benar tengah menjual dirinya pada pria yang tidak sengaja membantunya kala itu.


"Tubuh gue cuma milik Adira seorang!"


"Idih! Lo ko mau sih di nikmatin Dira sebelum waktunya."


"Issh udah lah mau kagak kalau kagak dengan senang hati gue yang pake!"


"Gue aja belum punya!"


"Eits! Barang yang sudah di kasih pamali jika diminta balek!!" Sandra mengambil kembali miliknya.


"Terus tadi sok-sokan!"


"Makasi Lunakuuuu sayaaaang." Sandra merangkul Luna.


"Cerita doooong. Dia sekarang kembali ke mode kepo!"


"Nanti!"


Hari ini hari terakhir Mahessa menjadi kekasih gelap Luna, suara bel pintu tengah bersahutan.


"Sebentar..."


Luna membuka pintu, dia sudah terbiasa melihat senyuman manis yang membuatnya terbius sejenak.


"Yok!"


Lengan Luna ditahan oleh prianya. Luna menyadari prianya meminta jatah ciuman. Setiap pagi dan saat pulang kerja mereka selalu bertautan hingga bibir Luna kebas. Setelah Mahessa puas dia melepaskan wanitanya dan menarik lengannya turun.


"Aku sungguh tidak bisa bertahan jika terus seperti ini."


"Untung ini hari terakhirnya."


"Jika di hadapkan aku harus memilih..."


"Aku yakin tidak bisa!"


Di dalam mobil Luna mengeluarkan kotak bekal dan menyerahkannya pada Mahessa. Mahessa tertegun wajahnya merona kali ini.


"Hari ini aku masak. Aku bawain kamu bekal. Kita makan disini atau dimana?"


"Kenapa ga di atas sayang?"


"Ehmm... Wanginya menggugah selera seperti orang yang memasaknya."


"Masakanmu memang paling juara."


Mahessa segera membuka kotak bekal dan menyukainya. Luna hanya melebarkan senyumnya atas pujian berlebihan prianya.


"Jadi makan dim..." Belum selesai berbicara Mahessa mencium bibir Luna


"Bisakah kamu tidak menciumiku terus menerus!!" Luna merajuk.


"Tidak! Ciumanmu moodbooster aku seharian." Jawabnya datar kembali keposisinya semula.


"Ini masih pukul setengah tujuh, aku ajak kamu ke Paragon Hill mau?" Dia menawari sebuah tempat.


"Paragon Hill? Kawasan elite itu? Mo ngapain? Beli sturbuk?" Tanya Luna polos membuat prianya terkekeh.


"Bukan, itu tempat aku tinggal sayang." Dia melajukan mobilnya.


"Oh. Jauh enggak?"


"Sekitar dua puluh menit saja."

__ADS_1


"Ya udah deh."


* * * * * * * * * *


__ADS_2