
Hari ini Adira tidak masuk kantor, badannya sudah tidak bisa diajak kompromi. Dia lupa mengabari Luna karena semalaman dia demam dan lemas.
Ting.
[Mas, ko ga keliatan di kantor?]
Sebuah pesan singkat pagi ini dari Luna membuat Adira bersemangat walau masih terlihat lemah. Entah mengapa dia tidak ingin jujur tentang keadaannya. Adira takut kekasihnya khawatir dan kemudian mengetahui saat ini juga perihal masalahnya.
"Aku sedang tidak ingin bertengkar dengannya. Urusan pekerjaanku sudah cukup rumit akhir-akhir ini."
Adira terpaksa membohonginya bahwa dia sedang ada urusan di luar, beruntungnya Luna percaya begitu saja.
"Maafkan aku sayang..."
Memang berbohong itu tidak dianjurkan, sekali berbohong maka akan terbiasa terus membohonginya. Adira tidak pernah selingkuh dengan orang ketiga tapi dia tidak bisa jujur dengan keadaannya saat ini. Selalu saja di hantui rasa takut kehilangan Luna.
"Jika berbohong membuat Luna tetap di sisiku, aku memilih berbohong!"
Adira mengusap kasar wajahnya, dia sangat takut kehilangan Luna. Dia sangat mencintai wanita itu, namun Adira merasa bahwa Luna tidak benar-benar mencintainya.
[Mas, aku mau pergi kesalon dengan sandra dan hapsari ya. Love you mmmuuaach]
Adira tersipu membaca kalimat terakhirnya. "Dia adalah moodbooster terbaikku!"
Adira mengulumkan senyuman namun masih belum bisa membalas dengan panjang walau sejujurnya dia ingin membalas sangat mencintainya. Namun lagi-lagi kekhawatirannya Luna mengetahui kondisinya mengurungkan niatnya. Tidak ada lagi balasan lanjutan darinya.
Luna memang satu-satunya wanitaku yang sangat memperhatikan penampilannya. Dulu Adira tidak begitu memperhatikan. Seingatnya dia akan pergi kesalon dua kali dalam sebulan bahkan bisa lebih.
"Entah apa saja yang dia lakukan disana. Dia akan menghabiskan waktu minimal tiga jam dan setelah kembalinya dari salon, kecantikannya berkali-kali lipat dari biasa dan harum tubuhnya membuat aku semakin menginginkannya."
"Uang gajinya selalu habis tak bersisa. Gaya hidupnya memang sungguh di atas rata-rata!"
Adira kembali mengingat masa-masa mereka baru pertama kali jadian.
Dulu sekali dia pernah emosi ketika tau Luna membeli tas dengan menggunakan uang untuk membayar sewa kamarnya kemudian dia merengek tidak punya uang dengan alasan khilaf!
"Gimana ini mas aku mau bayar kosan?" Rengeknya
"Kamu kasih aja tasnya ke ibu kos. Terus bilang tas itu seharga uang sewa!" Jawab Adira ketus.
"Maaaaaaas!" Pekiknya memukul bahu Adira berulang kali.
Adira terkekeh mengingatnya, dia juga yang membantu Luna membayar uang sewa.
Luna pandai memikat siapapun yang melihatnya. Adira selalu cemas akan hal ini. Di kantor yang menyukainya bukan hanya dia. Dia justru mengenalnya dari temannya yang sedang PDKT dengan Luna. Suatu hari dia mengajaknya ke area kosan untuk menemani temannya bermain PS dengan mereka.
Adira jatuh cinta pada pandangan pertama saat berjumpa dia justru baru keluar dari kamar mandi dengan gaya toplessnya.
Adiralah yang pertama kali memberinya pesan singkat di aplikasi chat EPS. Beruntungnya dia disambut oleh Luna dan memiliki nomor ponselnya. Tak berapa lama dia memberanikan diri mengajaknya menonton untuk pertama kalinya.
"Apakah aku menikung temanku?"
"Tentu saja HAHAHA!"
Adira berterima kasih karena Rio tidak buru-buru menembaknya. Dia juga PDKT terlalu lebay! Adira sering mendengar sendiri dari Luna bahwa dia risih dengan Rio.
Satu lagi yang tidak di duga Adira sama sekali adalah Bram! Dia yang Adira pikir tidak menyukai Luna karena telah memiliki kekasih terlebih dulu ternyata di gosipkan menyukai Luna setelah kepulangannya mudik bulan kemarin.
Bahkan keduanya pernah hampir baku hantam setelah kedatangan Luna dari mudiknya. Bram selalu memperingati Adira agar menjauhi Luna karena dia telah memiliki seorang kekasih yang sangat di cintainya. Setelahnya rumor beredar dia putus dengan Andin karena diam-diam menyukai Luna!
"Aku paling membenci kemunafikan!!"
Adira akan membuktikan pada semua orang Luna hanya akan mencintainya dan menjadi milik dia seorang.
__ADS_1
* * * * *
Walau keadaannya masih lemah Adira memaksakan diri menjemput ratunya. Dia sangat rindu dengan kekasihnya, dua hari tidak menjamah kekasihnya rasanya hidupnya hampa.
Luna telah menunggu dengan segera dia memasuki mobil dan mencium pipi Adira membuat Adira meminta lebih. Dia menekan tubuh Luna hingga ujung pintu. Adira menyesap bibir merona kekasihnya memainkan lidahnya di dalam sana.
"Rasanya selalu manis sepertinya dia selalu memakan permen strawberry.
"Aku sangat kecanduan dengannya!!"
Keduanya bertautan cukup lama melepaskan kerinduan, Adira sudah tidak sabar menjamah tubuh kekasihnya yang kini tengah semerbak menggoda hasratnya.
Luna yang menyadari prianya tidak enak badan kini memanjakannya dengan terus memberikan perhatian bahkan menyiapkan keperluan medisnya. Adira hanya butuh pelukan untuk mengisi daya hidup dan cintanya. Adira sangat sangat manja dengan Luna seperti seorang anak bocah!
"Sejak kapan Luna tahu aku suka susu jahe?"
"Apa karena kejadian waktu itu?"
Adira diam-diam memperhatikan kekasihnya, rasanya dia seperti sudah berumah tangga dengannya sangat lama. Luna terlihat tidak pernah canggung ataupun bingung apa yang harus dia lakukan. Dia begitu luwes melakukan setiap pekerjaan rumah tangga. Bahkan masakan yang dia hidangkan semuanya masakan kesukaan Adira dirumah, rasanya hampir 100% mirip buatan mama.
"Apa bisa sekebetulan itu? Sepertinya aku tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya."
"Aku bahkan tidak pernah memberitahukannya apa makanan kesukaanku atau apa yang aku inginkan." Batin Adira mencurigai sesuatu.
Semenjak Adira mengetahui kehamilan Luna, bahkan sampai wanitanya nekat menggugurkan kandungannya dia merasa seperti dejavu.
"Sepertinya aku sudah hidup lama dengannya."
"Rasa takut kehilangannya semakin kuat."
Luna membaringkan Adira ditempat tidur. Menyelimutinya dan sibuk dengan wadah kecil yang di isi air kemudian dia menggunakan handuk kecil untuk membasuh wajah kekasihnya dan menaruhnya di dahi. Sungguh pemandangan indah bagi Adira, dia semakin mencintai Luna. Adira memegang tangan kekasihnya dan tersenyum.
"Beginikah rasanya berumah tangga? Ada seseorang yang siap melayanimu di kala sakit, tempat menghilangkan segala penat kehidupan dunia."
Adira menariknya dalam dekapan "Luna aku sangat mencintaimu. Aku tidak ingin kehilanganmu." Lirihnya.
Tiba-tiba Luna melakukan hal aneh dan konyol lagi. "Aku tidak tahu dia ini meniru dari mana kekonyolannya itu."
Adira tengah menyemburkan sedikit susu jahe yang kekasihnya minumkan padanya melalui mulutnya.
"Bukan karena takut joroknya tapi aku tengah tertidur dia paksa aku minum!"
"Dasar Luna ga konyol ga seru!"
Mungkin karena limited edition Adira menyukai Luna. Adira tertidur kembali dan terbangun di samping tubuh Luna yang harum semerbak, Adira menelan salivanya. Dia menyentuh tiap inci tubuh kekasihnya.
"Jika aku tidak sakit aku akan membawa mu terbang ke angkasa Luna!"
Adira sungguh tengah berhasrat sialnya tubuhnya terlalu lemah saat ini.
"Yang salah siapa ini yang?"
"Kamu yang menggodaku apa imanku yang sedikit." Gumam Adira menatap kecantikan calon istrinya.
"Aarhh!" Luna melenguh lirih namun matanya masih terpejam.
Adira kembali menyeringai dan meneruskan aksi diam-diamnya.
"Mentang-mentang abis nyalon."
"Dari atas sampai bawah tidak ada cela sedikitpun."
"Ah Luna, beruntungnya aku mendapatkan mu sayang!"
__ADS_1
"Terima kasih..."
* * * * *
Seperti biasa pagi hari keduanya akan sarapan dan Luna tengan merasa tertarik dengan apa yang Adira lakukan di depan laptopnya. Kali ini Adira sedang membuat system komersil untuk game onlinenya. Adira terkejut Luna tertarik dengan pemograman.
"Istriku emang bukan main kalau soal pekerjaan apa aja diembat!"
Hanya sebuah kecupan membuat tubuh Adira bergetar.
"Sialan, Adira imanmu sungguh lemah!"
Adira kembali tersulut ingin menjamah tubuh calon kekasihnya.
"Otak gesrekku dipenuhi aura mesum jadinya!"
Adira membelai lembut pipi halus kekasihnya, menyesap bibirnya dan mendorong tubuhnya di atas meja. Ide gilanya kembali mencuat kepermukaan.
"Kita lakukan di atas meja yuk yang...." Rayu Adira dengan tetap menggerayangi tubuh indah kekasihnya yang hanya berbalutkan lingerie tipisnya.
Luna memekik memerah dan malu-malu namun mau!
"Aku sungguh menyukai ekspresimu sayang." Adira meraba paha mulus Luna dan menarik g-stringnya dalam satu tarikan dan melemparnya.
Raut wajah pasrah Luna sungguh membuat darah Adira memanas.
"Apa kamu kecanduan denganku juga sayang?" Goda Adira di tengah pergumulan mereka.
"Tenang aja yang, aku akan berusaha keras terus memuaskanmu...." Bisik Adira saat Luna mengerang menuju puncaknya.
"Aaahh mas!"
"Mesum banget sih pikirannya!!!!"
Adira menghentikan gerakannya menikmati cengkraman milik Luna pada miliknya yang sungguh tidak terkatakan lagi rasa nikmatnya! Adira merasakan dia juga akan menyusul Luna menuju puncak permainannya. Keduanya menyudahi aksi panas mereka.
Adira kembali berkutat dengan berkas RG. Dia menerima informasi saham RG di lini property tiba-tiba mengalami pembelian sporadis dari akun tidak dikenal. Bahkan sekarang Adira mendapatkan laporan defisit dari beberapa anak perusahan RG di kota K di bagian pengolahan sawit.
"Kepalaku mengeluarkan banyak asap penyesalan menerima pekerjaan ini!!"
Luna telah selesai membersihkan diri. Dia meminta Adira segera mandi dan pergi mengambil foto shoot kemarin. Namun Adira masih tanggung dengan pekerjaannya. Dia hanya mengiyakan dan kembali tenggelam dalam pekerjaannya. Dua puluh menit kemudian dia mengomel karena Adira tak kunjung mandi.
"Baiklah ini akan lebih sulit. Aku akan menurutinya sebelum dia memporak porandakan segalanya!!"
Tiga puluh menit kemudian mereka tengah berada di pelataran butik. Sepanjang jalan dia hanya terdiam.
"Biasa seperti bebek sekarang terdiam rasanya ada yang salah?"
"Apa aku melakukan kesalahan?"
"Masalah RG membuatku stres sekarang!"
"Aku tidak fokus dengan apa yang Luna inginkan."
Adira pikir dengan mencumbunya berharap wanitanya memaafkan kesalahannya yang dia sendiri tidak tahu salahnya di sebelah mananya?
"Aku ahli bahasa pemograman sistem tapi untuk mentranslate bahasa tubuh Luna aku tidak paham sama sekali!"
Luna mengatakan sesuatu yang membuat detak jantungku berdetak lebih kencang bahkan sempat lupa bagaimana organ itu berfungsi.
"Apa mas menikahiku hanya untuk kebutuhan fisiologi mas saja ya?" Lirihnya.
"Apa dimatanya aku seperti itu?" Batin Adira menyesali apa yang telah terjadi.
__ADS_1
Ini lah akibat dari tidak jujurnya kondisi Adira saat ini. Adira berharap wanitanya mengerti namun Luna kembali tidak mempermasalahkannya. Adira kurang nyaman sejujurnya.
* * * * * * * * * *