Dua Cinta Satu Hati

Dua Cinta Satu Hati
Bab 61 : Egois


__ADS_3

Luna berpamitan dengan kedua temannya yang masih menunggu taksi. Sebelumnya tidak di duga Adira menghubunginya dan mengatakan dia akan menjemputnya disini. Luna segera memasuki mobil, dan menyambut pujaan hati. Penampilannya harus selalu paripurna di depan calon suaminya.


Setelah duduk Luna lebih dulu mencium pipi kekasihnya.


"Mas ko keliatan pucat!"


"Sayang sakit?" Tanyaku panik setelah menyadarinya.


"Enggak ko yang, cuma kecapean aja. Ada kamu aku jadi bersemangat lagi." Jawabnya seraya mencium bibir Luna saat ini.


Luna merangkulkan tangan di leher prianya, mereka bertautan melepas kerinduan setelah dua hari tidak saling berkomunikasi.


"Istriku wangi sekali."


"Semakin ingin....."


Adira berbisik tepat di telinga Luna dan menyesap bahu polos Luna, setelah sebelumnya tangan Adira terampil membuka kancing-kancing kemeja wanitanya. Luna membelai wajah tampan Adira.


"Sayang udah makan?" Tanya Luna kemudian.


"Sepertinya dia memang sakit badannya terasa hangat, bahkan suaranya terdengar lemah."


"Aku merasa bersalah tidak menemaninya kemarin."


Namun sejurus kemudian Luna merasa kecewa, Adira tidak pernah jujur tentang kondisinya.


"Sudah sayang." Adira mencium jemari lentik Luna yang kini wangi semerbak.


Luna meminta Adira menunggunya, dia mampir menuju grocery mart, membeli beberapa makanan. Selama perjalanan menuju kamar Adira terus merangkul tubuh Luna.


"Mas badannya anget loh."


"Aku bikinin susu jahe ya?"


Luna membalikan badan dan menatap lekat bayi besarnya, dia mencium bibir Adira agar prianya menurut kali ini.


"Aku cuma pengen kamu yang." Lirih Adira sendu.


Luna terharu dengan Adira, dia tersenyum kemudian bercanda dengan menyeret kekasihnya menuju kamar. Dengan telaten Luna mengurusi prianya. Luna menyiapkan handuk untuk mendinginkan tubuh Adira yang panas.


"Maaf yang, aku tidak perhatiin kamu kemaren." Lirih Luna mengusap wajahnya dengan handuk dan meletakannya di kening.


Adira memegang tangan Luna menjatuhkan badannya dalam dekapan wanitanya.


"Sekarang aku sudah baikan, ada kamu disini aku akan pulih kembali." Ujarnya.


"Aku buatkan susu jahe dulu ya sayang." Luna mengecup kening kekasihnya seraya bangkit menuju dapur.


Luna segera kembali ke kamar dan melihat prianya telah tertidur. Tidak tega membangunkannya namun sayang sekali dengan susu jahe yang dia buat. Luna mendekatkan wajahnya. "Maaf sayang, aku terlalu egois kali ini."


Luna mengecup keningnya. Lalu otaknya mulai memancarkan cahaya lampu pijar!


"Apakah aku berani seperti di komik-komik itu meminumkan minumannya dengan mulutku?"


Ini kali pertama, Luna mencoba sedikit dan mulai memberikannya kepada Adira. Bukannya berhasil dia malah terbangun dan menyemburkannya.


"Apa yang kamu lakuin yang?" Dia terkejut dengan tingkah konyol Luna.


"Percayalah gaes mening ga usah praktekin apa yang ada di komik belum tentu bisa di aplikasikan di dunia nyata! Di komik emang dunia halu penuh tipu-tipu hahaha." Rutuk Luna dalam hati.


"Maaf bangunin kamu." Luna tersipu malu.


Adira mencubit hidung Luna gemas, dia menerima susu jahe yang di buatkan Luna dan menenggaknya hingga tandas.


"Pelan-pelan mas itu kan panas."


"Makasi sayang." Dia menyerahkan gelasnya kembali.


Luna tersenyum mengambilnya dan kembali ke dapur, setelah membereskan semuanya Luna membersihkan diri dan mengganti baju. Luna kembali ke kamar menemani bayi besarnya yang tengah sakit.


Pagi harinya Luna terbangun lebih dulu seperti biasa.

__ADS_1


"Aneh perasaan tadi malam mas Dira masih berpakaian lengkap, ko pas bangun bertelanjang dada?" Luna bergegas memasuki kamar mandi.


"Aaaaaaa......" Ada banyak tanda kissmark di tubuhnya.


"Apa mungkin mas Dira ngelakuin pas aku tidur?"


"Tapi aku merasa area bawahku tidak sakit seperti biasanya"


Setelah selesai semuanya Luna membuatkan Adira sarapan.


"Mas semalam ngusilin aku ya?"


"Enggak tuh aku kan tidur." Adira menjulurkan lidah.


Luna merubah raut wajahnya menjadi masam membuat Adira terkekeh.


"Maaf ya sayang tubuhmu wangi sekali, aku tidak tahan. Aku ga ngusilin ko." Jelasnya.


"Kita ke klinik ya, sekalian minta surat keterangan sakit."


"Mas kemarin bohong kan?"


"Sebenernya ga masuk kantor kan?"


Luna merasa kecewa, akhir-akhir ini Adira selalu terciduk membohonginya.


"Maaf sayang aku ga mau bikin kamu khawatir."


"Kalo mas kenapa-kenapa gimana?"


"Seneng banget nyembunyiin sesuatu dari aku."


"Bahkan hal kecil seperti ini aja mas ga pernah mau jujur?"


"Maafkan aku sayang, aku janji aku akan selalu mengatakan yang sejujurnya sama kamu." Adira menggenggam erat tangan Luna meyakinkan.


"Mas kita sudah mau menikah loh!"


"Jika mas masih tidak ingin terbuka denganku untuk apa kita berjanji menua bersama?" Lirih Luna kecewa.


"Maafkan aku sayang, aku janji ini yang terakhir kali aku mengabaikanmu."


"Aku hanya tidak ingin kamu khawatir."


"Karena bagiku cuma kamu yang menjadi obatku."


"Secape apa aku, selelah apa aku menghadapi semuanya hanya dengan bersamamu dan melihat senyummu semua itu menghilang berganti dengan kebahagiaan."


Luna menatap nanar kearah prianya yang membuatnya berkaca sepagi ini.


"Sayang kita cuti yuk." Adira mencium jemari Luna.


Luna menganggukan kepalanya perlahan berusaha tersenyum "Aku kabari Sandra dulu."


"Mas jadi ke klinik?" Tanya Luna saat mengambil ponselnya.


"Ga usah aku udah baikan."


"Semalam aku dikasih obat mujarab."


Luna tersipu mendengar penuturan kekasihnya. Dia menatap prianya berjalan menuju ruang kerja kemudian kembali lagi menenteng laptopnya dan sibuk dengan pekerjaannya.


"Mas ngapain?"


Luna mendekati Adira dan duduk di pangkuannya menghadap layar laptop.


"Membuat aplikasi system." Jawabnya datar.


"Apa EPS bakalan pake system baru?"


"Bukan, ini untuk usaha komersil ku sendiri."

__ADS_1


LUna hanya mengangguk mengiyakan tanpa bertanya lebih jauh lagi.


"Jadi mas udah punya bisnis sendiri ya." Luna berbalik badan dan mencium pipi pria tampannya.


Adira menghentikan ketikan jemarinya, dia menatap lekat kekasihnya. Gerakan simple seperti itu saja sudah membuat Adira tergoda. Sungguh imannya yang lemah!


Keduanya terdiam, sama-sama tengah berdebar menatap lekat satu sama lain. Wajah Adira semakin dekat, satu tangannya kembali menarik tengkuk leher wanitanya dan menciumi bibir Luna yang belum dia poles dengan lipstiknya. Keduanya mencari kenyamanan dalam ciuman panas mereka yang sudah saling bertukar saliva dan menyesap satu sama lain.


Semua gerakan itu sudah cukup membangkitkan gairah keduanya.


"Kita belum pernah melakukan diatas meja yang..." Bisik Adira menarik tali tipis dress tidur Luna.


"Astaga dragon!"


"Siapa yang bisa ngalahin kecabulan laki gue!!!"


Rintihan seksi dari mulut keduanya menggema di ruang makan mereka. Adira benar-benar melakukannya di atas meja makan mereka. Bahkan saat ini Adira menggendong Luna tanpa melepaskan miliknya berjalan menuju kamar mereka. Sensasi luar biasa bagi keduanya yang baru kali ini melakukannya.


"Aku tidak tahu lagi Adira sangaaat sangaaat jago buat aku puas berkali-kali!!" Rutuk Luna menikmati service yang di lakukan Adira padanya saat ini.


Luna telah selesai membersihkan diri, Adira masih berkutat dengan pekerjaannya.


"Mas mandi gih..."


"Kita ambil photoshoot yuk sekalian cari model undangan gimana?"


"Bentar ya sayang aku selesaikan sebentar lagi.. Nanggung soalnya." Dia melirik Luna sekilas dan kembali larut dengan laptopnya.


Luna mengerti dia mencium pipinya dan bergegas merias diri. Luna menyambar ponselnya yang sedari tadi berbunyi notifikasi pesan masuk.


"Sandra dan bu Lidya selebihnya pesanan onlineku."


[Lagi enak-enak lu ya ama Dira! Kerjaan lu ga ada yang urgent kan?]


[Mas Dira sakit. Aku merawatnya, ternyata kmrn dia ga masuk. Malam td dia demam.]


Ting


[Dah kek suami istri ya lu tapi blm sah! Knp dia sakit? Apa udah mulai demam panggung?]


Ting


[Doain yg bener kek! Kerjaanku udh beres plg schedule delivery buat hari ini lu ksh ke hapsari, ada di folder biasa. Inget bsk sama minggu kita ke sebrang jgn submit lembur.]


Ting


[Ok nyonya adira yg terhormat]


Luna tersenyum, kemudian sekitar dua puluh menit Luna dikamar dia segera keluar.


"Maaaas ko blm mandi jugaaa...." Rutuk Luna kesal.


"Eh iya sayaaang bentar lagi." Adira terkejut, kali ini ada beberapa lembaran kertas yang sedang dia kerjakan.


"Itu apa lagi mas? Perasaan dulu mas ga pernah mau bawa kerjaan pulang?" Tanya Luna penasaran mendekatinya.


"Iya ini ada form yang harus di verifikasi gitu sebelum pelaksanaan pekerjaan... Bentar lagi ya sayaang." Dia mengacak rambut Luna berharap wanitanya mengerti.


Luna melihat logo besar di ujung tiap lembaran itu.


"Ternyata mas Dira telah mengambil alih perusahannya."


Luna masih ingat nama perusahaan keluarga Adira, yang menjadi kekecewaannya adalah sampai detik ini pria di hadapannya masih tidak mau mengakuinya.


"Mas..."


"Hmm..."


Emosi Luna sudah di ujung tanduk, dia mengabaikan Adira dan kembali memasuki kamar dengan membanting pintu dengan keras.


Braaaaak!

__ADS_1


"Duh nyonya Adira kalo lagi bad mood aku jadi ga tenang idup." Adira merapihkan berkas pekerjaannya.


* * * * * * * * * *


__ADS_2