Dua Cinta Satu Hati

Dua Cinta Satu Hati
Bab 80 : Daddy Girls Out


__ADS_3

Wira mengayuh sepedah mengikuti instruksi Luna.


"Abis ini kemana tuan putri?"


Luna tersenyum kecut "Royal Junction, di depan kita taro sepedahnya... kita bakalan lanjut pake MRT selanjutnya..."


"Kamu hafal betul disini... Sering kesini ya?" Tanya Wira penasaran.


"Ini yang ketiga kalinya. Pertama pas training kedua sama Adira dan sekarang dibawa Mahessa..." Jawab Luna datar.


"Wow..." Pekik Wira bangga pasalnya Luna menjadi lebih mandiri dari sebelumnya.


Sepanjang jalan Wira selalu bertanya kepada putrinya. Sebagai rasa syukurnya akhirnya bisa kembali dipertemukan dan berbincang banyak dengan putri kesayangannya. Sebenarnya Wira baru saja bertemu dengannya tengah tahun kemarin saat Hari Raya. Namun entah mengapa perasaannya mengatakan dia sudah sangat lama tidak bertemu putrinya.


"Jadi, kamu jadian dengan Adira sudah berapa lama... Papa ingat kemarin kamu masih membawa Diaz." Ujar Wira spontan saat tengah duduk di kereta.


"Oh iya.. Aku sedikit lupa apa saja yang papa tahu tentang aku dan Diaz?"


Luna tidak ingat apapun lagi tentang kehidupan dulu. Hanya karena Adira menghamilinya dia memutus semua komunikasi dengan siapapun. Jadi memory masa yang telah dia lalui hanya sedikit yang Luna ingat dan semua mengenai Adira dan kedua buah hati mereka. Wira menatap putrinya lekat. Apa jadinya jika dia menceritakan segalanya. Mungkin saat ini anaknya akan kembali koma.


"Kamu membawa dia saat hari raya kemarin? Waktu kita di waterboom itu Diaz yang bayarin semua.. Kamu bahkan menempel padanya 4 hari 3 malam.. Papa sampai berselisih dengan mama."


"Mama sangat menyukainya... Semua orang di keluarga kita sangat menyukainya..."


Luna menganga. "WTF! Aku selain saat ini adalah kehidupan kedua kalinya setelah 8 tahun lamanya apa mungkin aku beneran amnesia? otak gue ko ngelag gini..."


"Aku ko ga inget sama sekali!!"


Luna tertegun lama sampai akhirnya Wira mengejutkannya.


"Luna... Apa kamu baik-baik saja?" Wira semakin khawatir saat ini.


"Yeah.. Semuanya mendorong aku pada kebathilan.. Dia terlalu tahu bagaimana menyenangkan hati orang..." Luna mengulum senyumnya. Hatinya merasa sesak jika harus kembali mengingat kisah pilu cintanya.


"Apa sampai detik ini aku masih mencintainya? Kenapa sangat sulit menghilangkan namanya dikepalaku!!" Luna menghapus bulir bening di pelupuk matanya.


"Apa yang telah terjadi belakangan ini nak? Sepertinya kamu dalam keadaan kurang baik?"


"Entah lah pah... Mungkin aku terjatuh dan memory di otak aku sedikit berantakan. Aku tidak jelas mengingat apa yang terjadi belakangan." Jawab Luna cengengesan.


Wira segera merangkul anaknya erat. "Maafkan papa Luna.. Papa tidak menjagamu dengan baik.." Lirih Wira mengatakannya membuat air mata Luna semakin deras mengalir.


"Ayok pah kita turun..." Luna menyeka air matanya.


Wira mengikuti putrinya dan menghapus bulir beningnya.


"Kau harus ingat sayang, jika dia jodohmu sekeras apa kalian dipisahkan maka kalian akan segera dipertemukan kembali..."


Luna terpaku dengan ucapan papanya. Dia tidak tahu itu ditunjukan bagi siapa.


"Segala cara telah aku coba untuk mempertahankan segalanya. Tapi Luna tidak mampu jika harus melawan restu.."


Kini Wira terpaku sulit berucap bahkan sulit bergerak ucapan lirih Luna terasa sangat pilu di telinganya. Kejadian dua bulan lalu kembali terlintas di kepalanya saat dia menggendong putri tercintanya setelah pingsan karena ulah kejahatan Wijaya memisahkan anaknya dengan lelaki yang dicintainya yang tak lain adalah keturunan Wijaya sendiri!


"Wijaya aku akan kembalikan kesakitan putriku kepadamu berkali lipat namun tidak saat ini!!" Kebencian Wira bertambah terhadap mantan sahabatnya itu.


Disaat menunggu papanya tengah menjalankan kewajibannya Luna mengecek ponselnya. Ada beberapa pesan masuk.


[Sandra : Non, Gue udah sampe... Gue kepikiran elu... Baek2 aja kan lu? Jangan lupa makan.... Kabarin gue terus!!]


[Reply : Thanks banget supportnya... Maaf gue repotin... Sejauh ini gue baik2 aja...]


[Adira : Sayaaaaaaang... Masih senang2 ya? Aku dilupain *emot sedih* Jangan lupa makan ya sayang...]


[ Reply : Maaf sayaaang baru liat hp... hehe abis keliling sepedahan... Sayang boleh ga aku beli eypun?]


[Mahessa : Aku jemput jam 5 di Ritz-Carlton...]


[Reply : Oke]

__ADS_1


Tak berapa lama Adira menelpon. Luna terkekeh "Mas Dira nih spesialis mening nelpon ketibang bales chat.."


"Halo mas..."


"Kamu dimana?"


"Di area Royal duduk-duduk tadi cape sepedahan..."


"Sepedahan dimana?"


"Disneyland..."


"Owh... Apa ga sepi sendirian..."


"Sepi laaaah... Mas masih disana..." Lirih Luna.


"Tunggu sebentar ya sayang... Doakan papa cepat sadar..." Ujar Dira lemah.


"Iya mas..." Luna mencoba menahan tangis.


"Kamu mau beli eypun ya??" Adira mengalihkan pembicaraan dia merasa Luna menjadi sendu.


"Iya yang.. Boleh aku pakai uang di ATM yang sayang kasih?" Tanya Luna hati-hati.


"Tentu saja pakai untuk membeli apapun yang kamu inginkan sayaang..."


"Makasi yang..."


"Makasi doang..." Rutuk Adira manja.


Luna tersenyum dia tengah membayangkan ekspresi wajah Adira. "Nanti aku kasih apapun yang mas mau saat mas pulang..."


"Aku lapaaar sayang... Aku mau masakan kamu..." Lirih Adira.


Luna terdiam, ini sungguh menyesakkan. Sepertinya bagi Luna dan Adira ini bukan sekedar 8 bulan kebersamaan mereka. Mereka memang seperti telah merasakan hidup selama 8 tahun lamanya dan kedepannya akan lebih sulit bagi mereka.


"Hehehe tapi kalo kita udah serumah aku milih makan kamu yang..."


Luna tersipu namun segera berusaha mematikan sambungan. Pasalnya papanya tengah menuju tempatnya.


"Mas aku beli makan dulu ya... Nanti aku telpon lagi.. Aku lapar.." Rengek Luna manja.


"Baiklah sayaaang... Jangan cape-cape ya nyonya Adira.."


Luna menutup mulutnya. "Love you so much Adira..."


"Love you too Naluna... mmmuuuaaach..." Adira merasa dadanya sedikit sesak.


"Aku sangat merindukanmu Luna..." Batin Adira.


Entah mengapa akhir-akhir ini hatinya tidak tenang mengenai Luna. Setelah Bagas mengecek CCTV apartemen tidak ada yang salah sama sekali. Berharap semua yang terjadi di RG tidak akan pernah melibatkan pujaan hatinya.


Luna memutuskan sambungannya tepat saat Wira terduduk disampingnya.


"Loh kamu abis nelpon siapa..."


"Mas Dira..." Lirih Luna sendu.


"Jadi mau cerita sama papa? Papa juga pengen tau dong siapa lelaki yang membuat putriku jatuh cinta dengannya..." Tanya Wira penuh semangat.


Luna melirik jam tangannya. Sudah pukul empat waktu setempat.


"Pah, kita beli ponsel dulu ya..."


"Buat siapa? Hari ini kamu royal sekali menghamburkan uang..." Ujar Wira mendelik.


"Namanya juga orang kaya baru..." Jawab Luna asal.


Papanya terdiam melihat Luna bangkit terlebih dahulu dan berjalan menuju kedepan.

__ADS_1


"Orang kaya baru? Luna sungguh konyol!"


"Aku menjadi penasaran apa reaksinya ketika tahu dia lebih kaya dari Mahessa atau kedua lelaki lainnya. Putriku satu ini semakin membuatku cepat tua!" Batin Wira tertekan.


* * * * *


Sesampainya di Apple Store Luna bergegas mencari perangkat terbaru kemudian dia membeli iP5, iP4+ dan MacBook. Wira tercengang dengan tindakan Luna.


"Kamu mau jualan?" Tanya Wira.


"Enggak... Ini iP4+ buat papa... Jangan sampai mama tahu ini aku yang belikan.. Bilang aja menang lotre..." Ujar Luna datar.


"Papa ga butuh nak..."


"Ponsel ini berserak dirumahku! Aku ingin mencuci kembali otak Luna rasanya!!" Wira gemas sendiri dengan tingkah putri kesayangannya.


"Aku butuh untuk menghubungimu... Emang papa ga mau telpon aku?"


"Lunaa..."


"Aku belikan eypun karena pengoprasiannya gampang dengan tampilan yang sederhana ga perlu ribet nyari menu. Apalagi papa udah tua bakalan sulit mengajarinya kan...." Ujar Luna panjang lebar sekalian memberi tahu Wira fungsi-fungsi aplikasi yang ada di ponsel.


"Ini nomor ponsel papa.... Sengaja memakai kode negara S... Hanya bisa aku yang mengisi data dan pulsa. Gausah sok-sokan isi..."


"Iya dorooo...." Wira pasrah dengan ocehan Luna.


"Mirip persis omelan Liliana.. Aku ikuti saja deh kemauan putriku.." Batin Wira.


"Makasi banyak sayaaang..." Wira merangkul Luna kini dengan terisak.


"Ayok..." Luna kembali menarik lengan Wira.


"Kemana lagi?"


"Belanja baju papa..."


"Ini kan udah?" Memperlihatkan paper bag dari yang Luna berikan di barber shop.


"Kuraaaang...." Jawab Luna datar memasuki salah satu store fashion kenamaan bergambar orang dengan stik golf.


"Persis Lilianaaaa... Boros sekali dalam hal belanja!!!" Rutuk Wira dalam hati.


Sekitar setengah jam sudah mereka berbelanja keperluan ayahnya berikut dengan kopernya.


"Super sekali anak papa kalau ngabisin uang..." Dengus Wira.


"Jangan terlalu boros lah sayaang.. Papa kan tidak pernah mengajarkan anak papa untuk berfoya-foya membeli sesuatu yang nilainya akan menurun dimasa depan..."


"Ini baju lah papa... Papa akan gunakan setiap hari, setiap papa keluar pergi-pergi atau bekerja... Atau sekedar self reward misalnya..." Rutuk Luna kesal.


"Papa tidak punya baju banyak kan??" Tanya Luna.


"Hehehe dirumah masih ada sayaaang... Selama masih bisa dipakai bersih dan sopan sudah cukup..." Ujar Wira.


Luna menggeleng kepala. "Ayo pah kembali ke hotel Mahessa tengah menjemput kita..."


"Kamu belum ada cerita tentang pacarmu..."


"Next time... Papa akan ikut aku ke kota B setelah ini."


"Benarkah???"


"Iya..."


Terpancar raut wajah bahagia dari Wira Kusuma. "Terima kasih Tuhan..."


Selama ini akses dia mendekati putrinya terkendala di kota B. Selain demi kenyamanan putrinya dia tidak memberikan security guide seperti yang sering dia lakukan di kota S. Lagi pula dengan kenakalan Luna semua security guide akan pasrah dan di kota B bersih dari musuh-musuhnya.


* * * * * * * * * *

__ADS_1


__ADS_2