Dua Cinta Satu Hati

Dua Cinta Satu Hati
Bab 91 : A Serendipity!


__ADS_3

"Papa lapar tidak?" Luna beranjak dari kursi menuju dapur.


Menghilangkan sejenak rasa sesak yang terus menderanya.


"Ya lumayan."


"Bagaimana kalau kita makan di luar sekalian jalan-jalan."


"Papa yang traktir."


Wira ingin memutus kebohongannya, semakin lama akan semakin menyakitkan putrinya. Mungkin saat ini lah waktu yang tepat.


"Apa?"


Luna membalikan badannya dan merubah raut mukanya menahan tawanya.


Luna mengulumkan senyumnya.


"Okey."


"Kalau gitu aku pesan taksi dulu!"


"Tidak perlu!"


"Ada orang papa di bawah."


"Papa yang menyetir."


"Sudah lama bukan kamu tidak melihat papa menyetir?!"


Luna terdiam seketika, dia tahu bahwa semua yang terjadi di hidupnya tidak ada yang jelas!


Mau dari kisah cintanya bahkan kali ini menyangkut keluarga bbesarnya


"Mama yang akan menjelaskannya okay?"


Wira menyadari bahwa Luna akan mengintimidasinya. Hanya satu hal yang Luna ingin pastikan.


"Apa perceraian kalian juga rekayasa?!"


Wira terkejut dengan penuturan spontan anaknya tentang satu hal itu. Dia menelan salivanya yang kering dia baru kemarin mencuci otak Luna kembali dan kini dia akan mengakuinya.


"Maafkan papa Luna..."


"Papa tidak pernah bercerai dengan mama..." Lirih Wira menundukan pandangan.


"Oke!"


"Bagus kalo begitu..."


"Ayok.. Luna lapar!!!"


"Apa?!"


"Kamu tidak marah?" Wira bergegas mendekati anaknya.


"Untuk apa?" Jawab Luna datar.


"Bukannya bagus keluarga ku utuh dan baik-baik saja?!"


Wira terharu dengan respon Luna, dia kembali memeluk anak bungsu kesayangannya dengan sangat erat.


"Le paaas pa h!"


"Lu na ga na faaas!"


"Maaf sayaang!"


"Papa terlalu bahagia!!"


Wira segera menghubungi Bobby asisten pribadinya yang layaknya seorang ninja.


"Iya tuan mobil anda sudah siap di depan."


"Bobby carikan aku hunian di daerah sini."


"Baik tuan..."


"Mengapa aku merasa tidak aneh dengan tingkah papa."


"Sepertinya hal ini sudah biasa..."


"Kemarin aku sok-sokan beliin dia ponsel sungguh memalukan!!" Luna mengejek dirinya.


Kini mulut Luna menganga pasalnya di hadapannya telah terparkir royal royce limited edition terbaru di depan matanya.


"Mobil siapa ini pah?!" Luna menganga norak.


"Punya mama mu tentu saja!"


"Aku pikir papa memeras Mahessa?"


"Mahessa?"


"Dia juga belum tentu memilikinya!"


"Ini edisi terbatas."


"Mama mu yang menyuruh membelinya..." Raut wajah Wira di buat seolah terpaksa membelinya.


"Aku tahu kamu sedang berbohong pah!!" Rutuk Luna.


"Nona... Senang sekali melihat anda sehat kembali." Bobby mengulurkan tangannya.


"Emang aku pernah sakit?" Tanya Luna asal.


"Tentu saja!!"


"Kamu lupa siapa keluargamu jika bukan karena sakit karena apa?" Kini Wira semakin terbuka.


Bobby tersenyum ke arah Luna kemudian membukakan pintu untuk tuannya. Di dalam mobil Luna semakin takjub dia berasa jadi Cinderella kesiangan.


"Maaf Luna..."


"Ternyata terus berpura-pura melelahkan.."


"Papa sudah tidak sanggup!!"


"Papa sungguh menjijikan!!" Ejek Luna.

__ADS_1


"Jika ada yang menindasmu maka papa pastikan dia tidak akan hidup tenang!!"


"Kamu sekarang tahu kan dimana posisimu?!"


"Hmm...." Luna menjawab acuh.


"Kamu tidak kaget?!" Tanya Wira yang justru lebih heran.


"Entahlah sepertinya ini sesuatu yang biasa saja bagiku!"


"Aku tahu kalian memang tidak biasa saja dalam segi materi."


"Rumah mama adalah yang paling besar di Distrik S, rumah kakak Kalina juga berada di kawasan hunian elite bahkan mas Fadhly bekerja di US sedangkan crazy rich sister aku satu lagi ga usah di tanya bagaimana hidupnya yang bergelimang harta."


"Mas Wisnu juga bukannya sekarang sudah pindah ke Negara KR?"


"Aku mudik rasanya auto jadi sultan!"


"Hanya saja itu kalian!!"


"Sedangkan aku?"


"Aku tetap aja hitungannya kaum missqueen..."


"Aku masih mengandalkan pemberian kalian!!"


Wira terbahak dengan penuturan Luna. Jika dia tau seluruh asetnya atas nama putri bungsunya sungguh dia ingin tahu reaksi putrinya yang selalu merasa menjadi kaum miskin.


"Kemana kita princess?"


"Jemput temanku..."


"No way!" Tolak Wira tegas.


"Why?!"


"Papa memang sudah terbuka denganmu."


"Papa harus mengembalikan ingatanmu tapi orang luar tidak boleh mengetahui siapa kamu!"


"Ini sebagai bentuk security sistem untukmu."


"Setelah orang tau kamu siapa"


"Keluarga kita siapa."


"Maka semua mata orang yang berkepentingan akan bergejolak."


"Mereka akan memanfaatkan untuk mendapatkan uang."


"Kamu sudah menjadi korban penculikan 2 kali dan papa tidak ingin terulang lagi!!"


"Itu alasan utama kenapa papa merahasiakan identitas kita."


"Termasuk mencuci ingatan kamu Luna."


"Hanya agar kamu tidak memiliki beban mental."


"Wow!" Luna semakin terbelalak. Dia kembali sibuk dengan alam pikirannya.


"Ternyata aku selain mengalami perjalanan waktu."


"Aku ternyata adalah seorang sultan!"


"Jadi sangat wajar jika lingkaran kehidupanku bertemu dengan cogan nan sultan."


Toh aku juga berdarah biru."


"Mungkin ini yang namanya jaringan bluetooth!!"


"Luna bodoh pernyataan macam apa ini!!"


"Tetapi aku tertarik dengan pernyataan papa tentang hilang ingatan!!"


"Jika di pikir betul, aku memang tidak ingat jelas tentang kehidupanku saat ini."


"Ingatanku di tahun ini selain pindah ke EPS dan hamil karena ulah Adira selebihnya aku lupa!!"


"Di masa lalu juga aku hanya mengingat sedikit..."


"Papa jarang bahkan tidak pernah ada di rumah semenjak aku berusia 13 tahun."


"Tapi aku bisa ingat jelas masa kecilku yang sangat aku senangi."


"Aku juga bisa ingat hubunganku dengan Diaz 4 tahun ke belakang semua kenangan manis aku dengannya."


"Hanya saja mengingat saat aku pulang lebaran ini sama sekali tidak ada memory lagi!!"


"Dulu karena fokus dengan kehamilan di luar nikahku. Aku mengenyampingkan banyak hal."


"Aku ingat mama mengusirku saat melihat perut buncitku dan aku mengaku hamil!"


"Pernikahanku juga tidak di ekspose bahkan setelah menikah aku dan mas Dira menjauh dan tinggal di ibu kota."


"Mama mulai menghentikan semua finansialku."


"Tidak peduli lagi padaku..."


"Aarrghh..."


Luna merasakan kembali sakit di kepalanya dia mencengkram erat kepalanya.


"LUNAA!!"


Wira menghentikan mobilnya.


"Are you okay?"


"Iya..."


"I'm okay."


"Di depan belok kiri ya pah.."


Sesampainya di Laguna Luna bergegas memilih tempat. Saat memasuki kawasan ingatannya kembali memutar beberapa slideshow kejadian dia dan Adira.


"Ternyata mas Dira sering mengajak ku kencan keluar!"


Luna kembali menatap jajaran cottage penginapan. "Aku ingat sebelum aku hamil, aku staycation disini dan kami..."

__ADS_1


Luna mengingat bagaimana mereka menghabiskan waktu yang bergairah disini.


"Sungguh bodohnya aku!!"


"Aku ingat saat itu tahu sedang dalam masa subur namun melakukan dengan santai bahkan tanpa mencegahnya terus mengeluarkan di dalam!"


Luna terasa sesak dia sungguh bodoh dan tidak tahu batasan.


"Luna..." Sapa Wira khawatir.


"Iya pah..."


"Kamu baik-baik saja?!"


"Iya..."


"Luna, kamu harus segera pulang..."


"Papa beritahu sekarang, kamu tengah mengalami amnesia yang perlu terapi berkelanjutan."


Keduanya telah duduk sedari awal masuk, hanya saja Luna terus mengingat yang sudah dia lewati sampai akhirnya ayahnya membuyarkan lamunannya. Kali ini tuan Wira selalu memojokan Luna dengan permasalahan yang berat.


"Pah, mungkin amnesia ini menguntungkanku..."


"Aku tidak mengingat apa saja lukaku yang lalu..."


"Biarlah seperti ini, aku juga sudah menjadi istri Mahessa."


"Ada sesuatu yang sedang aku kejar."


"Aku ingin berusaha sendiri pah."


"Aku ingin tahu batas kemampuanku!"


Wira menghebuskan nafas kasar dia sudah menyangka putrinya yang terakhir ini sangat special. Keras kepala serta ketangguhan anak kesayangannya ini memang tidak ada yang menandinginya.


"Kita kesampingkan dulu ambisi mu sayang!"


"Ini menyangkut nyawa mu!!"


"Mama meminta papa membujuk mu pulang lebih cepat lebih baik."


"Saat kesehatan mu sudah di pastikan, kamu bebas melakukan apapun yang kamu mau!"


"Aku sudah besar pah."


"Aku akan belajar menjaga diri mulai sekarang!"


"Aku baik-baik saja pah!"


"Aku sudah tau rasanya mati."


"Aku akan mencoba menghargai setiap waktu di hidupku mulai saat ini..."


Wira menekan dadanya sesak saat mendengar kata pernah mati dari mulut putrinya.


"PAH!!" Luna terkejut mendekati ayahnya.


Masih jelas di ingatan Wira bagaimana dia dengan cepat membawa Luna dari gedung terbengkalai yang dalam waktu 2 menit meledak seketika.


"Luna mengalami koma dua kali dalam hidupnya."


"Tuhan, ijinkan aku menukar sisa hidupku untuk putri kesayanganku."


Wira terisak dalam pelukan Luna, Luna tidak tahu apa yang ada di pikiran ayahnya hanya saja dia sama lelahnya dan ikut terisak.


"Sudah ya pah."


"Luna ingin memperbaiki hidup Luna."


"Luna akan membuang Naluna Maharani yang lemah dan mengganti dengan Naluna Maharani yang kuat."


Wira mengangguk cepat. "Tentu sayang!!"


"Apa yang ingin kamu lakukan maka lakukanlah. Jika kamu butuh bantuan maka katakan saja sayang..."


"Satu hal lagi!"


"Kamu tidak miskin!!"


"Papa yang akan menjamin seluruhnya finansial mu sayang.."


"Tiydak!"


"Aku sudah punya Mahessa, akan sangat di sayangkan jika tidak memanfaatkannya sebagaimana dia memanfaatkan ku!"


"Tujuan aku mau bekerja sama dengannya tentu karena uangnya!"


Wira terbahak kemudian mengusap lembut punggung Luna.


"Jika Mahessa berani mengecewakanku papa pastikan ET akan menjadi milikmu sepenuhnya.."


"Thank you papa..."


"Ngeri juga papaku ini!!"


"Jangan-jangan papa orang terkaya no satu di Negara S. Dia bisa menggulingkan perusahaan terbesar no.2 di Negara S sungguh di luar ekspektasi ku." Luna membatin dia justru sangat khawatir setelah tahu kenyataannya dia siapa segalanya akan canggung rasanya.


"Kamu sering kesini ya?" Wira mengalihkan pembicaraan seriusnya.


"Sering banget enggak, cuma aku suka kesini sama mas Dira."


"Owh..."


"Wajar lah... Ini kawasan pengembangan RG. Adira Renald adalah pewaris seluruh aset Renald Group bukan?"


"Itu dia..."


"Sampai sekarang dia tidak mau mengakui bahwa dirinya CEO RG!"


"Emang kenapa kalo dia CEO?!"


"Bukannya bagus kan?!"


"Hah?!" Wira terkejut.


"Aku akan menggunakan alasan ini untuk membohongi status pernikahanku dengan Mahessa."


"Serendipity!" Luna tersenyum penuh makna.

__ADS_1


"APAAA?!" Wira semakin tidak habis pikir dengan jalan pikiran mereka para anak muda yang di saling menyerang satu sama lain. Aih, bukankah dia juga sama saja dulu!!


* * * * * * * * * *


__ADS_2