Dua Cinta Satu Hati

Dua Cinta Satu Hati
Bab 48 : Masa Indah Bersama


__ADS_3

Sebelum menuju hotel mereka sepakat melakukan kewajiban beribadah terlebih dahulu di area Royal Junction. Selama berbelanja Adira selalu menekuk wajahnya namun tidak sedikit pun mengeluh hanya saja saat di area Royal Junction Adira mengeluh dengan paper bag yang semakin banyak Luna kumpulkan.


Akhirnya dia membeli sebuah koper berukuran sangat besar. Luna terbahak dan setelahnya menjanjikan sesuatu yang pastinya membuatnya bersemangat kembali. Luna tidak mmenyangka Adira telah memesan sebuah kamar di salah satu hotel ternama di negara ini.


Setibanya di kamar hotel Luna takjub untuk pertama kalinya dia berlarian kesana kemari. Dia tidak peduli dengan pendapat kekasihnya, terkadang dia lelah untuk berpura-pura di depan Adira akan sifatnya yang bobrok seperti ini.


Adira memasukan dua koper bawaan mereka dan menutup pintunya. Tak lama terdengar suara kekehan melihat tingkah Luna yang tengah meloncat diatas kasur. Prianya berdiri di samping pilar yang memisahkan ruang depan dan kamar dengan bersila tangan. Luna melemparkan bantal ke wajahnya.


"Seneng banget ya kamu!" Adira menangkap bantalnya kemudian berjalan cepat ke arah Luna.


Mereka telibat aksi kejar mengejar di dalam kamar ukuran presiden suites.


"Awas kamu ya... Kalo ke tangkap jangan harap bisa lepas!" Goda Adira.


"Aaaaa takuuut... Hahahaha"


Setelah puas berlarian mereka terbaring di kasur dengan napas yang masing tersenggal. Kedua netra mereka saling tatap. Luna mengungkapkan bahwa ia tengah bahagia sekarang.


Adira tersenyum meraih tangan kekasihnya dan menciumnya. Ditengah keromantisan selalu ada kenistaan didalamnya.


Kruuuuuuuuk


Mereka tahu mereka sudah sangat lelah hampir seharian diluar dan saat ini mereka belum makan malam.


"Aku mandi duluan ya."


Luna bergegas ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Dia mengenakan mini dress model off shoulder. Luna menata rambutnya bergelombang agar terlihat berbeda.


Dia juga mencoba merias wajahnya berbeda dari biasanya. Riasannya kini sedikit terlihat bold dengan bibir yang dia poles dengan warna merah sedikit menyala.


Adira keluar dari kamar mandi tengah mengenakan bajunya. Setelah selesai dia mendekati kekasihnya.


"Kamu sangat cantik, aku jadi ga pengen keluar." Adira merangkul tubuh ramping dan seksi kekasihnya. Dia juga menciumi penuh hasrat.


"Wangimu menggoda sekali sayang..."


Bisa-bisanya Adira justru tengah tergoda dengan tampilan dan wangi kekasihnya.


"Jangaaan dulu yang... Aku lapaaaaaaar." Rengek Luna menghentikan jamahan kekasihnya.


"Ayok..." Ucap Adira menghentikan aksinya.


Luna tersenyum bersyukur kekasihnya bisa dia kendalikan kemudian merapihkankan kembali baju yang sempat tersibak oleh ulah beruang liarnya.


* * * * *


Pukul tujuh malam mereka sudah sampai di sebuah restoran ternama. Adira mengatakan dia ingin makan disini.


"Mas mahal ga sih disini? Kita kan belum gajian? Belum lagi bayar hotel gimana coba?" Bisik Luna pada Adira.


Prianya hanya terkekeh kemudian mengacak rambutnya dan mengecup pipinya mesra.


"Ihh mas ni!" Wajah Luna memerah tersipu malu.


"Tenang sayang kamu cukup nikmatin aja ya, aku yang bayar semua." Bisiknya ditelinga Luna dan dengan sengaja menggigitnya.


"Maaas...." Rintih Luna tubuhnya meremang seketika.


Mereka sibuk membaca menu makanan, Luna terdiam sejenak. Dia menatap wakah kekasihnya saat ini yang masih sibuk dengan buku menunya.


"Aku tidak ingat dulu kami pernah dinner mewah seperti ini."


Dulu dia juga hidup bergelimang harta, tapi sialnya aku tidak ingat saat ini. Namun seketika Luna terbersit kembali wajah mantan pacarnya.


"Jika di depanku saat ini Diaz, dia akan dengan lantang mengucap semua menu favorit ku tanpa perlu melihat buku menu"


Luna mengulumkan senyumnya miris.


"Sayang kamu mau pesan apa?" Tanya Adira membuyarkan lamunan Luna.


"Oh... Sirloin steak extra saus blackpaper with mushroom." Ucap Luna pada pelayan.


"Minumnya?" Adira kembali bertanya.


"Wine..." Spontan Luna mengucapkannya. Dia juga ingin tahu respon prianya saat ini.


Adira menatap Luna tajam dengan apa yang Luna ucapkan.


"We gonna try dear?" Tanya Luna menggoda, Adira justru tersenyum simpul manis sekali.


"Okay... Whatever you want!" Ucapan Adira kini yang membuat Luna membulatkan matanya.


Akhirnya mereka sepakat memesan wine dengan kadar alkohol rendah.


"Abis ini jalan ya yang..." Tanya Luna pada kekasihnya.


"Oke nyonya Renald"


Adira meraih jemari Luna dan menciumnya. Luna mengatupkan bibirnya erat. Dia sungguh terharu. Tidak lama kemudian makanan telah di hidang. Mereka segera menyantap tanpa basa-basi.


"Aku toilet bentar ya." Jawab Luna seraya bangkit.


Adira mengangguk menyetujui namun kemudian menarik lenganku perlahan.


"Jangan lama-lama sayang..." Rengeknya.


Luna terkekeh dibuatnya setelah mengangguk mengiyakan Luna bergegas menuju toilet yang berada dibelakang area makan cukup jauh dari tempatnya saat ini.


Luna berencana touch up pokoknya harus cantik paripurna didepan kekasihnya. Sesaat setelah belok di lorong tangannya ditarik seseorang. Wanginya sangat familiar seminggu terakhir ini. Luna terkejut dengan keberadaan lelaki ini. Dia menarik Luna menuju kamar mandi VIP. Disana tubuhnya didorong sampai batas dinding.


"Mahessa!!" Pekik Luna.

__ADS_1


"Hai cutie..."


"Aku tidak menyangka menemukanmu disini. Bahkan disaat kamu bersama priamu!!" Sungut Mahessa emosim


"Mmmmmm...."


Pria itu mencium paksa Luna. Mengunci kedua tangannya diatas kepala wanitanya bdan melahap apa yang bisa dia lahap.


"Aaaah...." Luna melenguh seksi di telinga Mahessa.


Sentuhannya sungguh sangat agresif.


"Mahessaa aku mohon jangan seperti ini... Kamu sudah berjan... Mmmmm" Belum selesai mengutarakan inginnya dia kembali menyesep bibir Luna dalam dan bermain disana.


"AKU SANGAT CEMBURU CUTIE!!!!" Nafas mereka memburu kedua netranya saling menatap tajam. Namun kemudian pandangannya menyelidik seluruh tubuh Luna dari atas hingga bawah.


"Kamu sungguh sangat menggoda sayang...." Lirih Mahessa dia kembali menyapu belahan dada wanitanya yang terekspos menggugah hasratnya.


"Mahessa aku mohoon..." Rintih Luna memelas.


"Aku menginginkanmu sayang...." Mahessa membalikkan tubuh Luna membelakanginya dengan cepat.


"Maafkan aku sayaaang... Aku sungguh terbakar api cemburu!!" Lirihnya.


"Seharusnya aku tidak ke belakang!!" Sungut Luna.


"Aku harus membersihkan diri... Dia akan curiga jika aku terlalu lama..." Luna kembali membalikan badannya dan menatap Mahesa memelas kepadanya.


"Baiklah cutie..."


"Jangan berbuat yang diluar batasan lagi dengannya sayaaang... Seharusnya kejadian kemarin bisa membuat kamu jera bukan?!" Protesnya.


Luna mengangguk dan tersenyum, Luna bangkit dan segera mencuci muka kembali memoles dirinya menutupi kebohongannya ini. Mahessa memperhatikannya.


"Kamu sangat cantik sayang..."


Mahessa kembali merangkul wanitanya dan menyesap kulih bahu menggoda wanitanya.


"Mahessa baumu akan sangat menempel ditubuhku!!" Luna mendorongnya lemah dia hanya terkekeh.


Terakhir Luna menyemprot parfumnya agar menghilangkan bau Mahessa yang menempel ditubuhnya.


"Mahessa aku keluar terlebih dahulu okay..."


Mahessa menarik kembali tangan wanitanya. "Aku tidak rela kamu dengannya."


"Please... Akhir bulan nanti kita bertemu." Untuk kesekian kalinya Luna memelas dihadapan kekasih gelapnya.


Dengan terpaksa Mahessa melepaskan Luna.


"Kamu lama banget!"


"Kamu bahkan menyemprot parfummu lagi?"


Luna sungguh gelisah saat ini. "Lah kenapa? Ceweknya cantik harusnya seneng dong!"


"Nanti banyak mata yang akan memperhatikan dan mengagumimu aku ga suka!" Jawabnya ketus.


Luna tersipu dengan pernyataan kekasihnya. "Baru aku sadari kami memakai baju senada."


Kali ini Adira tengah mengenakan kemeja panjang hitam dan kaos putih. Lengannya dia gulung sampai dekat sikut. Celana senada chinnos hitam dan sepatu adidas putihnya membuat dia sangat perfect dimata Luna.


"Setelah ini aku harus membelikannya tindik dan kalung panjang." Luna tertawa dalam hati melupakan apa yang sudah terjadi sebelumnya.


"Kita minta billnya yang?" Tanya Luna menatap kekasihnya.


"Udah.."


"Barusan aku bayar pas kamu ke toilet.


"Yuk keluar sekarang sebelum kemalaman." Adira bangkit mengulurkan tangannya mengajak kekasihnya keluar.


Luna semakin tersipu seraya menyambut tangan kekasihnya bangkit dan keluar dengan menggandeng lengannya mesra.


"Kita ke store bawah dulu yuks yang, aku ingin beli minum sama cemilan sebelum kesana."


"Teruss, kita pake MRT aja ya, taksi mah udah biasa." Imbuh Luna kemudian.


"Baiklah sayaang." Adira mencubit hidung Luna mesra.


Mereka tengah berada di pintu masuk Luna segera mengambil troli besar. Bukan karena ingin belanja banyak tapi...


"Yaaang...." Panggil Luna pada Adira yang tengah membaca selembaran iklan property.


"Iya..."


"Dorooong ya.. Aku mau naik."


"Hah?"


Ekspresi Adira terlihat kebingungan dengan permintaan aneh kekasihnya.


Luna memang tidak pernah berbelanja dengan Adira selama ini, dulu tiap kali ia meminta diantar belanja prianya selalu menolak. Karena dia sejenis kulkas dua pintu hal seperti itu tentu tidak ada dalam kamusnya.


"Tapi emang tingkah gue malu-maluin sih... Terakhir aku berbelanja bulanan dengan Hapsari dia mengomel tidak mau lagi berbelanja denganku."


"Ayoooo yang... Pleaseeee..." Rengek Luna lagi.


"Ya udah naik, aku dorong sekarang." Adira beranjak mendekati kekasihnya.


"Aku seperti sedang mengajak bocah rekreasi." Lirihnya.

__ADS_1


Luna hanya terkekeh. Tidak menyangka dia akan menyetujuinya. Luna memang senang melakukan ini bukan tanpa sebab. Kakaknya selalu melakukannya. Bahkan jika Luna sendiri dia akan membuat troli ini menjadi skateboard.


Luna tengah di ujung troli dan berdiri. Adira mulai mendorong dan dia menunjukan ekspresi malu. Namun tak berapa lama dia sama absurdnya. Adira mempercepat laju troli sehingga tak terkendali entah di sengaja atau bukan troli terlepas dari tangannya lalu menabrak dinding.


Bruuuuuuk!


"LUNA!" Pekik Adira khawatir.


Luna terjatuh beserta trolynya.


"Kamu gapapa sayaang?" Dia membantu Luna berdiri, memperhatikannya dari atas sampai bawah dia periksa semua.


"Lecet ga yang? Sakit dimananya?" Dia masih mengkhawatirkan kekasihnya.


"Mas sengaja yaaaaa!! sekarang giliran mas yang berdiri disini aku dorong!"


"Astaga Lunaaaaa.... Jika kamu mau maenan bombom car ayok kita ke play ground." Rutuknya.


Luna terkekeh. "Ayok lah yaaaaaaang...." Bujuk Luna lagi.


"Beruntung aku sayang banget ama kamu Luna!! Kalo ga ogah banget!!" Umpatnya.


"Hahahahaha...." Luna hanya menertawakannya.


Adira telah berdiri di ujung troli kemudian tanpa aba-aba Luna mendorongnya kencang.


"Nalunaaaaaaaaa........" Pekik Adira.


Dia lompat dari troli sekali lagi Luna menubruk salah satu stand makanan.


"Astaga Naluna...."


Adira terbahak. "Sudah puas?" Tanyanya kemudian menghampiri kekasihnyan


"Aku haus nyari aqua dimana..." Rengek Luna.


"Bilang dari tadi dong yang...."


"Lama-lama aku gotong badan kamu yang.. Ga kuat aku!" Imbuhnya seraya menghampiri area fresh and cool.


"Kenapa aku harus di gotong?" Tanya Luna polos.


Adira hanya menggelengkan kepalanya dan membayar minumannya. Luna mengedarkan pandangannya seketika mataku berbinar sesaat melihat toko aksesoris.


"Mas kesana yuuuuuk..." Luna menarik tangan kekasihnya.


"Di toko ini aku harus mencari tindik magnet. Terniat sekaliih nalunaaaa!!!" Batin Luna semangat.


"Voilaaaaaaaa.... Ketemuuuu!!" Seru Luna segera mendatangi prianya.


"Kamu nyari apa emang?"


"Kalau mau anting-anting ayok ke toko jewelry di royal."


"Ini bukan untukku tapi buat mas."


"Loh buat apa? Aku kan cowok yang." Adira memeluk Luna tanpa sungkan.


"Mau yaaaaa..."


"Aku suka sekali karakter Bad Boy. Sayang kan my Bad Boy!"


"Padahal sih hanya karena ingin melihat dia seperti karakter di salah satu komik Favorit!" Pekik Luna dalam hati.


"Mas tunggu diluar ya."


"Ya udah, cepet ya sepertinya bakal ujan."


Lunanmengangguk cepat. Tadi tidak sengaja dia juga melihat gelang couple khas pasangan abg. Walau sudah bukan abg tapi Luna juga ingin merasakan keuwuan seperti ini.


"Semoga mas Dira mau pakai." Batin Luna seraya membayar semua barang belanjaannya.


Luna menghampiri prianya yang tengah menunggu di sebelah toko.


"Sini sayaaaang!"


Luna sedang mencoba memakainya aksesoris untuk prianya.


"Tadaaaaaaaaa..."


"Dia benar, benar, benaaaaar gantengnya ga sopan banget!!!!"


Saking senangnya Luna dengan tampilan Adira saat ini dia merangkulkan tangannya di bahu prianya dan menggigit bibir kekasihnya.


"Kamu seksi dan menggoda sekali yang..." Bisik Luna tak tahu malu.


Adira terkejut dengan apa yang Luna lakukan terlihat dia tersipu kemudian tersenyum. Luna tersadar segera melepaskannya. Wajahnya kini memerah.


"Nalunaaaa!!! kamu murahan sekali!" Rutuk Luna dalam hati.


"Aku baru tahu ternyata seleramu seperti ini." Giliran Adira menggoda Luna seraya meraup pipi dan menggigit bibirnya.


"Aku sungguh ingin menggotongmu saat ini juga membawamu ke hotel!!" Ujarnya serius.


"Jangaaaaaaaaaaaaan!!!"


Luna tertawa seraya melepaskan pelukan kemudian berlari menjauh berharap dia mengejarnya.


"Awas kamu yaaaaa...." Setengah berteriak Adira mengejar Luna.


* * * * * * * * * *

__ADS_1


__ADS_2