
Di tengah kegiatan mengemas barang jualan onlinenya, Luna memulai untuk segera menceritakan apa yang telah terjadi dengannya akhir-akhir ini.
"San..."
"Mo cerita apa?" Dia mendelik sekilas dengan masih menyibukkan diri merapihkan paket Luna.
"Gue mau minta tolong nanti sabtu ama minggu lo ikut gue ke Negara S ya."
"Gue sih mau banget apalagi free..."
"Cuma kok ya ga enak perasaan gue tuh!"
"Ada apa?"
"Mahessa membayarku untuk membantunya berbohong, menjadi pacar pura-puranya dua hari aja." Luna berucap dengan berhati-hati semoga dia tidak salah berucap.
"APAAA!!" Pekik Sandra terkejut menghentikan aktifitasnya.
"Gue butuh lo buat alasan biar mas Dira ijinin aku pergi berdua saja denganmu."
"Boleh ya San please...." Luna memelas dengan sungguh-sungguh.
"Bangsat lu! Haish..." Umpat Sandra frustasi.
"Gue yang denger aja merasa ngeri kenapa lu santai gitu aja sih?"
"Emang dibayar berapa sampai nekat ngibuli calon suamimu?!" Sandra menatap serius kearah sahabatnya.
"O ne Billion.." Luna mengucap dengan terbata dan lirih.
"SETAN!!"
"Dia melakukan persugihan dimana?!" Mata Sandra membulat sempurna.
Luna mengusap wajahnya kasar, sama frustasinya namun Luna tidak bisa menghindar. Mahessa sangat kejam dia memiliki video tidak senonoh dengannya. Bisa saja dia menyebarkannya merusak reputasi Luna yang aslinya memang sudah rusak juga.
"Luna..." Lirih Sandra.
"Aku tidak punya jalan lain San." Luna mulai berkaca.
"Jika kamu tidak bisa maka tidak perlu dipaksakan aku hanya..." Luna tercekat tidak bisa lagi berucap.
Sandra mendekap Luna erat. "Kamu sudah aku anggap seperti saudaraku sendiri."
"Aku akan membantumu."
"Terima kasih San...'
"Aku tanpamu bagai butiran serbuk rinso sekali kucek!"
"BASI!!" Dia mendengus kesal, Luna mengulumkan senyuman kearahnya mengusap kedua pelupuk matanya.
"Aku yakin kamu diancam bukan?" Tanyanya seperti tengah penasaran.
Luna terdiam, bagaimanapun kelakuannya memang sungguh di luar batasan. Jika ingin menyahkan lagi-lagi semua ini tidak sepenuhnya salah Mahessa. Dia sama-sama menikmatinya, Luna bahkan tidak menolak perlakuan Mahessa yang sudah menciumnya beberapa kali bahkan telah menyentuh area sensitif miliknya.
"Jika ingat itu, aku merasa diriku sungguh hina!" Batin Luna menyesali kembali.
"Kamu tahu..."
"Di saat aku tengah mengandung saat itu dan Adira memutuskan hubungan."
"Aku tidak ingin kembali padanya."
"Aku ingin menarik diriku dari kisah percintaan setelah aku menggugurkan kandungan."
"Aku tidak ingin berhubungan kembali dengannya."
"Namun siapa menyangka Adira berubah drastis setelah tahu aku mengandung bahkan setelah tahu aku aborsi!"
Keadaan berubah sendu, Luna tidak kuasa menahan air matanya "Apa mungkin Tuhan menjawab doaku dengan menghadirkan Mahessa untuk menggantikan Adira?!"
"Sialnya perlakuan Adira saat ini justru membuat aku kembali terjerat."
"Jika harus memilih aku tentu memilih bersama Adira..."
"Aku tahu diri dengan diri ku yang hina ini..."
"Terlebih tubuh ku sudah di nikmati oleh Adira cuma-cuma."
"Dan pria itu saat ini menepati janjinya menikahi ku."
Luna tercekat, ada beberapa potongan memori yang muncul membuat kepalanya dilanda kesakitan luar biasa, sama seperti di tusuk ribuan jarum dalam waktu bersamaan.
"Lunaaaa..." Pekik Sandra terkejut menopang tubuh Luna yang lemah.
"I'm okay..." Lirih Luna.
"Istirahatin aja dulu yuk.. Aku mengerti, kamu sudah sangat kuat sejauh ini!"
"Jangan memaksakannya lagi.."
Sandra mengandengku menuju kamar dan membantuku merebahkan diri di ranjang. Sandra berlalu sejenak dan mengantarkan segelas air hangat untuk Luna.
"Terima kasih..."
"Kamu terlihat seperti ibuku."
Keduanya telah merebahkan diri bersama, namun mereka tidak bisa terpejam, keduanya masih ada yang mengganjal di hati masing-masing.
"Apa Adira sering tidur disini?"
"Ehmm..."
"Ayolah sis, kapan lu tobat?!" Ujar Sandra geram.
"Lu ibadah terus maksiat jalan. MUNAFIK!!" Umpat Sandra tanpa basa-basi.
Ucapannya sungguh menusuk jantung Luna sangat dalam. Namun Luna sungguh menyukai teman sejenis dia. Dia akan mengutuknya habis-habisan. Namun di depan orang-orang dia akan membela Luna tanpa pandang bulu!
__ADS_1
"Makanya aku menyanggupi kita menikah bulan depan!!" Ujar Luna.
Sandra bangkit dari tidurnya kemudian menaruh bantal diatas wajah Luna dengan menekan sedikit kemudian melepaskannya.
"LU MAU MARRIAGE TAPI MASIH BISA MIKIR BATUIN MAHESA JADI PACAR DIA?!"
"Hebat banget lu sis!"
"Asli.. Lu tuh keknya emang play girl gak sih?!"
Sandra meluapkan kekesalannya. Luna terdiam tidak bisa berpikir banyak sebelum otaknya konslet lagi!
"Aku tidak tahu San..."
"Kamu tahu permasalahan ku dengan Bram saja masih abu-abu."
"Aku benar-benar tidak bisa mengingat banyak!!"
"Sometime aku berpikir aku memang seperti seorang B*tch dibanding play girl terlalu cupu untuk ku saat ini!"
"Luna.. Aku seperti ini hanya takut."
"Takut semua ini membuat kamu terluka."
"Takut kamu terjebak dari permainan Mahessa yang belum jelas asal usulnya."
"Eh tapi.. Apa kamu tidak mencurigai asal usul Adira juga?"
"Haish..."
"Sebelum dengan silsilah mereka harusnya aku juga curiga dengan silsilahmu!"
"Aku baru mengenalmu satu tahun ini tapi aku juga belum tahu apa-apa tentangmu tapi kepedulianku sungguh diluar batas!"
Luna tersenyum lemah. "Silsilahku?"
"Aku berasal dari keluarga biasa saja apa yang perlu aku bicarakan."
Luna terpaku sejenak "Tunggu... Aku seperti melupakan bagian tertentu!!"
"Kita tidur yuk..."
"Hari itu masih lama bukan?"
"Kita bisa membahasnya lain kali." Sandra membalikan badannya dan terdiam menandakan dia telah tertidur duluan.
Luna menatap jam di dinding, sudah menunjukan tengah malam inginnya Luna tertidur namun kepalanya seperti akan pecah saat ini. Luna beranjak dari tempat tidur mengambil ponselnya berlalu menuju balkon. Tidak lama ponselnya berdering.
"Apa kamu mengawasiku hingga selarut ini?"
"Hahaha.. Aku benci kamu mengetahuinya."
"Aku jadi tidak bisa mengelabuimu untuk menggombal."
"Pft.. Kamu menggombal ga cocok!!"
"Mengapa berbincang dengannya sangat nyaman?"
"Oh jika selingkuh itu tidak menyenangkan mungkin tidak akan ada orang yang melakukannya." Ejek Luna pada diri sendiri dalam hati.
"I miss you cutie..." Suara beratnya membawa Luna ke kejadian tempo hari saat dia melakukan aksi bejadnya!
"Jangan terlalu memperhatikanku, carilah pelampiasan lain." Ujar Luna dingin.
"Tidak ada orang yang bisa mengalihkan perhatianku selain kamu."
"Bahkan asisten pribadiku juga tidak, padahal semua pekerjaanku dia yang bantu tidak ada sedetikpun ingin menghubungi bagaimana keadaannya disana."
Penuturan Mahessa membuat Luna terbahak melupakan sejenak sesak di dada barusan.
"Terima kasih Mahessa.." Lirih Luna.
"Aku tidak suka melihatmu menangis." Ucapannya membuat Luna tersipu.
Hati kecil Luna ingin rasanya yang sedang menghubunginya adalah kekasihnya, namun nyatanya justru selingkuhannya.
Pagi harinya kami terbangun dan mulai mempersiapkan diri, Luna juga sudah membuatkan bekal untuk kekasihnya.
"Yang laki berusaha menafkahi yang perempuan berusaha melayani!"
"Kalian couple belum jadi tapi tingkahnya ngalahin yang udah jadi pasangan halal!" Sepagi ini sungut Sandra selalu pedas bagai bon cabe level pedes mampus.
"Kamu ga cape ya merutuki ku sepanjang waktu?"
Tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi Luna segera menuju pintu dan membukakannya.
"Mas..." Senyum Luna mengembang.
"Apa ini mas?"
Luna menatap nanar kekasih yang tengah membawakannya satu buket mawar besar, Luna terharu dan menghabur memeluk prianya. Aroma segar yag menguar di hidung Luna membuatnya tidak ingin melepaskan pelukan prianya.
"Sepertinya kamu suka buket bunga yang aku berikan waktu itu."
"Jadi mulai sekarang aku akan membelikan ratuku bunga setiap paginya."
Luna terenyuh, dia tidak membalas karena dia tidak punya kata lagi yang bisa mendeskripsikan keadaannya saat ini.
"Makasi mas..."
"Masuk yuk!"
"Aku dah siapin sarapan sama bekal buat maksi."
"Wes jan!"
"Pagi buta aku harus siapin mental dengan kelakuan kalian." Pekik Sandra.
Keduanya tidak menghiraukan ocehan Sandra, Luna mencari wadah besar untuk menaruh bunganya.
__ADS_1
"Kalau ga mau panas kamu boleh tutup mata atau anggap kami ga ada!" Ujar Adira dingin.
Luna terkekeh sedang Sandra hanya mampu mendengus kesal.
* * * * *
Akhir tahun ini mereka disibukkan dengan laporan fisikal tahunan, mereka menjadi super sibuk. Luna sendiri merasa kepalanya akan pecah.
"Aku tidak boleh mengeluh... Menjadi kaya tidak hanya bermimpi saja!! Ingat bagaimana dulu aku merengek meminta kerja kembali. Aku bersyukur tuhan masih mengabulkan permintaanku." Luna selalu memotivasi dirinya saat dia benar-benar dalam kondisi drop.
Ting!
[Sayaaaang...]
Sebuah pesan masuk dari kekasihnya.
[Ya sayaaaang... Kenapa?]
Ting!
[Pulang! Ini udah jam brp aku nunggu di depan udah 15mnt!!!!]
Luna terperanjat, dia bergegas pamit dan menemui kekasihnya.
"San gue balik duluan ya.." Pamit Luna pada Sandra yang masih sibuk dengan komputernya.
"Tumben lu! Emang udah beres semua?" Tanyanya menghentikan langkah Luna.
"Tentu saja.... BELUM! HAHAHA" Luna berlari kecil meninggalkannya dan pamit dengan Hapsari didepan.
Luna bergegas meninggalkan loker setelah sebelumnya touch up tipis-tipis. Luna segera masuk ke dalam mobil dan bersikap manja agar tidak terjadi prahara!
"Maaf sayaaang tadi aku merapihkan meja terlebih dahulu."
"Mmmmm mas ini masih di depan kantor." Luna mendorong tubuh prianya yang tiba-tiba menciumnya.
"Ini hukuman udah bikin aku nunggu dua puluh menit." Jawabnya dingin.
"Mau kemana sayang?" Tanyanya kemudian.
"Ke ekspedisi dulu ya..."
"Aku sudah diteror orang-orang."
"Siap nyonya."
Adira mencium kembali bibir merah kesukaannya. Setelah lima belas menit di perjalanan, kini keduanya tengah berada di pelataran mansionnya.
"Dua hari berjualan jastip untungnya sama dengan lembur sebulan."
Luna bersyukur bisnis kecil-kecilannya ini menguntungkannya.
"Aku butuh mobil yang lebih besar sepertinya."
"Tau gini bawa SUV tadi lupa banget!!"
Adira menggerutu saat tumpukan paket Luna melebihi kapasitas bagasi mobilnya.
"Mas punya mobil lainnya?" Tanya Luna penasaran.
"Oh itu, iya.. Mobil milik kakak perempuan ku." Jawabnya terbata.
Luna tersenyum mengiyakan, setelah selesai dengan urusan olshopnya Luna mengajak kekasihnya makan malam.
"Mas makan di luar yuk?"
"Oke sayang..."
Keduanya telah sampai ditempat tujuan, mereka memilih resto dengan suasana seperti ala-ala kampung dengan masakan khas kampung juga. Mereka memilih tempat di gajebo yang terletak masuk lagi dari area resto utama. Kesannya lebih romantis terlebih sepi dari pengunjung lainnya.
"Sayaang, bagaimana kalau kita cari WO buat wedding kita bulan depan?"
"Kamu udah telpon orang rumah? Atau aku yang harus telpon mama mu?"
Pertanyaan serius Adira sontak membuat Luna terdiam. Dia tidak percaya keseriusan Adira pada hubungannya saat ini. Luna mulai berkaca tenggorokannya tercekat sulit berkata.
"Kenapa ga dijawab yang?"
"Jangan bilang kamu mau menunda pernikahan kita lagi?"
Adira mendekatkan wajahnya, membelai pipi Luna perlahan. Terlihat jakunnya naik dan turun, hanya Naluna yang membuatnya berhasrat dimanapun mereka berada. Luna memeluknya segera dengan erat.
"Aku tidak menyangka bisa sampai di tahap ini mas..."
"Aku tidak percaya mas benar-benar serius dengan pernikahan kita setelah sebelumnya mas bilang untuk aku bersabar menunggu keluarga mas merestui diriku."
Deg!
"Jangan nangis sayang..."
"Maafkan aku..."
"Aku sudah tidak bisa lagi jauh darimu, kita juga masih terus melakukan dosa dengan terus berhubungan layaknya suami istri."
"Kita tidak bisa menghindarinya karena kita sudah terbiasa..."
"Bukan kah begitu sayang?"
Adira menyapu bulir bening di kedua netra kekasihnya, wajahnya semakin ia dekatkan dan memiringkanya. Menyesap perlahan bibir yang sudah sangat menggodanya. Keduanya bertautan mesra, Adira bahkan merebahkan kekasihnya di lantai gajebo. Dia lupa mereka berada di tempat umum.
"Harusnya kita tidak kesini sayang..." Ucap Adira menahan hasratnya.
"Dasar c a b u l!" Ejek Luna memperbaiki tampilannya.
Sejenak Luna berpikir, setelah dia dihidupkan kembali sepertinya Adira bukan orang yang membosankan seperti yang ia ingat. Kekasihnya itu juga tidak selalu mengajaknya di angkringan saja, dia bahkan sudah mulai menampakan jati dirinya bahwa dia orang berada.
"Apa perjalanan waktu yang aku alami berbeda dengan di komik yang lain? Mereka akan diberi keahlian khusus bahkan ingatannya dikembalikan, serta memiliki kemampuan membaca pikiran. Lah gue? Ingatan beneran hilang boro-boro bisa punya keahlian khusus. Nyesatin iya!!!"
* * * * * * * * * *
__ADS_1