Dua Cinta Satu Hati

Dua Cinta Satu Hati
Bab 90 : Sebuah Kisah Klasik


__ADS_3

Luna segera menghapus bulir air matanya dan bergegas kembali memasuki rumah. Terlihat Wira tengah menunggunya di sofa.


"Luna, maafkan papa..."


"Kehidupanmu begitu menyedihkan, kamu selalu mengeluarkan air mata selama ini."


"Apa yang harus papa lakukan sayang?"


Wira merasa sangat gagal menjadi seorang ayah yang baik untuk Luna. Banyak hal yang dia sembunyikan bahkan dia sendiri menciptakan kebohongan untuk putri kesayangannya.


"Luna.."


"Iya pah."


"Bukankah kamu berjanji kamu akan menceritakan hubunganmu dengan Adira."


Wira ingin mendengar langsung dari putrinya akan percintaannya yang lain. Luna menghirup udara perlahan, duduk di dekat papanya kemudian merebahkan kepalanya di pangkuan ayahnya. Sepertinya ini kali pertama Luna kembali dekat dengan papanya. Dia sangat bersyukur bisa memperbaiki hubungannya dengan lelaki yang dulu sangat Luna hormati dan kagumi.


"Aku mengenalnya semenjak bekerja di EPS."


"Aku baru berpacaran sekitar 8 bulan saat ini."


"Tapi, aku merasa sudah sangat lama dengannya..."


Luna kembali menampilkan slideshow kehidupan 8 tahun yang pernah dia lewati.


"Kamu benar-benar mencintainya?"


Pertanyaan papanya membuat Luna termenung sejenak. Wira terus mengusap lembut rambut putrinya.


"Aku tidak tahu..."


"Adakalanya aku sangat mencintainya, tapi di lain waktu aku sangat ingin berpisah dengannya."


"Bisakah kamu melepaskan dia?!"


Wira mencoba menyarankan Luna untuk mempermudah hidup putrinya kelak.


"TIDAK!!"


"Aku tidak ingin kehilangan dia!!"


Dengan cepat Luna merespon bangkit dari pangkuan ayahnya.


"Kamu sudah memiliki suami saat ini."


Wira menatap sendu putrinya.


"Mahessa hanya suami di atas kertasku!!"


"Apa kamu beneran ga tertarik dengan Mahessa?"


Luna diam dan berpikir, dia memang mudah sekali jatuh cinta namun untuk kehilangan Adira dia belum siap.


"Apa yang sudah Adira lakukan sehingga kamu tidak bisa melepaskannya?"


"Sedangkan kamu bisa melepaskan Diaz begitu saja."


"Berarti kamu juga dengan mudah bisa lepas dari Adira!"


Luna mengatur kembali nafas dan debaran jantungnya.


"Aku hanya hidup 6 tahun dengan Diaz!"


"Tetapi aku sudah melewati 8 tahun bahkan memiliki 2 orang anak dari Adira!"


"Aku bahkan terlibat pernikahan dengan Mahessa karena melindungi keluarga Renald!"


Luna menekan dadanya kuat. Jika dia melepaskan Adira lantas apa yang tengah dia perjuangkan dan perbaiki dengan Adira akan sia-sia.


"Jika aku tidak menikah dengan Adira, bagaimana aku bertemu dengan Nena dan Rashaad buah hati ku!"


Luna terus bermonolog dalam pikirannya. Sampai gerakan tangan ayahnya membuyarkan lamunannya.


"Mereka tidak bisa disamakan pah."


"Adira dan Diaz memiliki kelebihan dan kekurangan tersendir."


"Sedangkan Mahessa aku baru bertemu dengannya satu bulan dan dia bisa menikahi ku karena menjebak ku!"

__ADS_1


"Semua kisah ini complicated untuk ku. Aku tidak bisa menjelaskan detail sama papa.. Aku minta maaf.."


Wira membelai lembut rambut putrinya, kini Luna berbaring di pangkuan ayahnya kembali.


"Diaz adalah pria asing pertama yang mengenalkan ku untuk jatuh cinta."


"Pria yang selalu menoreh luka yang tidak berdarah."


"Pria yang tidak bisa aku hapus namanya dari hati dan pikiran ku!"


"Membencinya bahkan tidak cukup membuat aku melupakannya."


"Diaz sungguh lelaki terbaik yang pernah aku temui. Dia paling tahu bagaimana memperlakukan aku dan membuatku sangat jatuh cinta dengannya."


"Dia memanjakanku dari segi apapun, sebagaimana keluargaku memanjakanku."


"Dia tidak pernah perhitungan denganku. Dia akan berusaha mewujudkan apapun yang aku inginkan."


"Dia tidak pernah mengeluh dengan tingkah anehku.."


Luna semakin menahan rasa sesak di dadanya. Setidaknya dulu kehidupannya sangat menyenangkan bersama lelaki pertamanya. Wira juga ikut merasakan sesak sebagaimana dia tahu sebulan yang lalu apa yang telah terjadi dengan anaknya.


"Diaz adalah pacar dan cinta pertamaku, begitu pula sebaliknya."


"Sebelum akhirnya negara api menyerang. Dia membawa ku ke kediaman besarnya bermaksud untuk melanjutkan ke jenjang lebih serius. Namun aku di tolak keras oleh ayahnya."


"Keluarga Wijaya tidak menyukaiku"


"Aku seolah tidak akan pernah pantas untuk anak mereka."


"APAAAA!!" Wira terkejut.


"Aku tidak menyangka Luna telah bertemu dengan Wijaya sebelumnya!"


Wira sontak terkejut hingga membulatkan matanya.


"Keluarganya tidak menyukai ku, tapi keluarga ku sangat mendukungnya!"


"Dia pandai memikat bukan?!"


Luna semakin terisak.


"Aku sadar aku tidak seharusnya melawan sebuah restu."


"Tapi pria itu tidak pernah memberiku ruang untuk bernafas."


"Dia selalu menghantui ku sepanjang waktu!"


"Alasan aku terdampar di Kota B ini hanya karena aku menghindarinya..."


"Selama ini aku membiarkan Luna memikul bebannya sendiri. Aku sudah jadi ayah yang gagal!!" Wira menyesali perbuatannya, dia mengusap pelupuk matanya.


"Dan disini aku bertemu Adira."


"Aku tidak menyangka aku bisa kembali jatuh cinta pada lelaki lain."


"Seolah dia bisa menyembuhkan luka, tapi selama bersama aku baru sadari aku selalu membandingkan perlakuan Diaz dengan Adira."


"Mereka bagai bumi dan mars!"


"Diaz makhluk yang paling tau membuat wanita jatuh cinta."


"Dia akan menyapamu setiap pagi, siang, dan malam. Tidak peduli dengan pesan singkat atau datang langsung. Diaz akan selalu menghantuimu sepanjang waktu!"


"Dia akan mengingat apa yang aku sukai apa yang tidak. Dia tahu makanan dan minuman favorite ku. Dia akan menyiapkannya, dia akan memberikanku fasilitas kelas atas. Dia tidak akan membiarkan aku di sentuh oleh siapapun."


"Aku adalah maha karya yang harus di jaga sepenuh hatinya. Dia bahkan menunduk memakaikan aku sepatu, sendal, bahkan mengikat tali sepatuku. Membawakan tas ku dan menyerahkan dompetnya seutuhnya padaku."


"Dia membelikan aku sebuah apartement dan mobil impianku mazda RX8 yang aku asal sebut namun dia wujudkan semuanya!!!!"


"Aku benci ternyata aku masih mengingatnya!!"


Luna tengah meraung menangisi segalanya. Wira merangkul anaknya ikut menangis.


"Sedahyat ini Diaz mencintai Luna. Aku menyesal mengatakan aku tidak menyetujui dia bersanding dengan Luna sebelumnya."


"Sampai Diaz nekat melakukan hal diluar batasan hanya demi kami merestui keduanya!"


"Ternyata Luna hanya melupakan kejadian sebulan yang lalu. Apa jadinya jika dia tahu, Diaz terluka karenanya."

__ADS_1


Wira terus berpikir dalam dirinya. Ingin rasanya dia juga berterus terang namun kondisi Luna belum bisa di pastikan. Bulan depan harusnya jadwal kontrol EEG dan CT Scan kondisi tubuh LLun.


"Sabar sayang..."


"Jika dia jodohmu papa yakin kalian akan bersama." Wira mencoba menghibur.


"Dia tidak akan pernah menjadi jodohku." Lirih Luna.


"Kenapa?"


"Aku sudah bilang aku dan dia memiliki jurang pembatas yang dalam...."


"Luna..."


"Papa minta maaf, papa tidak bisa memberitahukan padamu pasal kenyataan keluarga kita."


"Namun papa pastikan semua ini mamamu akan menjelaskannya."


Wira menyeringai canggung karena dia tidak sanggup jika harus jujur di hadapan Luna yang emosian.


"Maksud papa?" Luna menatap penuh kecurigaan pada Wira.


"Lanjut part dua!!"


"Kamu belum menceritakan bagian Adira.. Hahaha!" Wira mengalihkan pembicaraan dengan tertawa yang di paksakan.


"Jika Diaz bisa jadi idaman para wanita karena kelembutannya."


"Lain hal dengan Adira!"


"Dia adalah kutub utara!"


"Adira orang yang dingin, dia sulit sekali di taklukan. Dia tidak peduli dan lain sebagainya. Kaku, cuek, egois semaunya!"


"Lantas kamu mau dengannya?!" Wira mengejek putrinya.


"Bukankah semakin sulit di taklukan semakin menantang?" Kini Luna yang menyeringai.


"Hadeeeeh!"


"Buktinya Adira tengah bertekuk lutut di hadapanku sekarang!!"


"HAHAHA!!"


Seketika Luna berubah sendu "Aku mengenalnya pah, walaupun dia cuek. Sejujurnya dia sangat peduli denganku."


"Dia memiliki motto talk less do more!"


"Dia tidak suka membebani pikiran pasangannya."


"Pedulinya padaku sangat luar biasa."


Luna kembali mengingat bagaimana kehidupan satu bulan ini dia habiskan dengan penuh kemesraan bersama kekasihnya itu sebelum kembali negara api menyerangnya saat ini.


"Jika bukan karena restu keluarganya aku harusnya menikah dengannya bulan depan."


"APAAAA?!"


Wira menelan salivanya, kenapa anaknya selalu mudah menerima pernikahan dengan beberapa pria?!


"Ya..."


"Wajarlah... Ratu tidak bisa di sandingkan dengan rakyat biasa..."


"Itu hanya tindakan sadar diri" Lirih Wira.


"Maksud papa?" Luna mendengar gumaman ayahnya.


"Oh tidaak..." Wira salah tingkah.


"Berarti hanya Adyatama yang merestui kamu bukan?" Wira menggoda Luna.


"Tapi aku tidak suka cara Mahessa mendapatkanku."


"Dia memperalatku, dia tahu kelemahanku... "


"Aku membencinya!"


Dalam hati Wira dia sungguh tidak tahu harus seperti apa saat ini.

__ADS_1


* * * * * * * * * *


__ADS_2