Dua Cinta Satu Hati

Dua Cinta Satu Hati
Bab 85 : Your Wedding Not Mine!


__ADS_3

Pagi hari di kediaman Beverly Hills,


"DIMANA MAHESSA?"


"Kenapa dia tidak ada dikamarnya?!"


Nyonya Sesillia membuat keributan dengan jeritan yang mengema di penjuru kastil.


"Maaf nyonya..."


"Semalam saya terakhir melihat tuan muda mengantar makan malam untuk nona Luna." Ujar pelayan dengan nada gemetar.


"BOCAH NAKAL!!!"


"APA DIA TIDAK TAHU SEHARUSNYA DIA TIDAK BOLEH BERTEMU DENGAN ISTRINYA DULU!!!" Rutuk Sesillia segera berlalu menuju kamar Luna.


Luna terbangun, dia mencoba merentangkan tangannya namun matanya kini terbuka sepenuhnya.


"Sepertinya aku memeluk sesuatu??!" Luna membalikkan badan.


"AAAAAAAAAAA...." Luna berteriak dan beringsut mundur.


Mahessa terbangun dia membuka matanya, kemudian tersenyum.


"Pagi sayang..."


"Aku tidak menyangka akan ada hari dimana terbangun dari tidurku dan orang pertama yang aku lihat adalah kamu!" Ujar Mahessa dengan senyuman manisnya.


Luna menarik selimutnya dan menutupi badannya yang hanya mengenakan kain tipis.


"Apa yang telah kamu lalukan?!"


"Sesuai perjanjian kamu tidak boleh menyentuh ku!"


"Aku tidak menyentuh mu!"


"Jika kamu mau bukti kamu bisa cek CCTV."


"Lagian semalam kamu kan yang cabul sama aku Luna!!"


"WHAT?!!" Luna membulatkan kedua bola matanya.


Sebelum mereka melanjutkan perbincangan panas pintu depan diketuk dengan kerasnya.


TOK... TOK... TOK...


Mahessa beranjak dari tempat tidur dan berniat membukakan pintu. Luna secepat kilat menuju kamar mandi.


"Mami!!!"


"Aaaaaw sakit mam!"


"ANAK DURHAKA!!!"


"APA KAMU SUDAH TIDUR DENGAN LUNA TADI MALAM HAH?!" Rutuk Sesillia dengan menjewer telinga Mahessa.


"Aku anak baik-baik!"


"Aku tidak melakukan apapun!"


"Kami hanya berbincang dengan segelas wine dan tertidur setelahnya!"


"Bukannya mami sangat tau bagaimana sifat anakmu yang menjungjung tinggi kehormatan seorang wanita?" Imbuh Mahessa membela diri.


"Huh..." Sesillia membuang nafas kasar.


"Dimana Luna?"


"Tengah mandi."


"Kamu bersiaplah saat ini."


"Sebentar lagi kita sarapan kemudian menuju pulau N!"


"Baik mam!"


"Aku beritahukan Luna terlebih dahulu..."


"Oke."


* * * * *


Kini mereka tengah makan bersama di ruang makan beranggotakan pihak Mahessa dengan kedua orang tuanya sedangkan dari pihak Luna hanya dia dan ayahnya saja. Sebelum semua berkumpul Adyatama tengah berbincang banyak hal bersama Wira.


"Tidak kusangka ternyata Naluna adalah anak dari Wira Kusuma. Salah satu anak pendiri Kota L dan merupakan lima keluarga rahasia di benua Asia... Wira merupakan pemilik seluruh lahan Distrik S mantan mafia nomor satu di Asia dan Istrinya Liliana adalah anak kedua dari Founder Emperor. Perusahaan pelopor dan terbesar nomor satu di Negara ini."


"Mahessa ternyata sangat jeli dalam memilih pasangan. Aku pikir Luna dari kalangan biasa saja. Namun semua itu tentu memiliki resiko tersendiri." Adyatama menatap lekat kedekatan Luna dan papanya. Dia baru saja mengetahui silsilah keluarganya saat berbincang dengan Wira pagi tadi.


"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Wira.


"Hmm..." Jawab Luna datar.


Kini mereka tengah dalam perjalanan menuju Pulau N tempat dimana acara pernikahannya berlangsung.


"Berapa kekayaan Mahessa ini?" Wira mencoba memecah kesunyian.


"Dia merupakan orang terkaya kedua di negara ini." Jawab Luna polos.


"Owh belum nomor satu." Wira mengejek konyol.


"Sungguh hebat putriku ini bisa menggaet pria kaya." Wira sedang memprovokasinya.


"Jangan membual!!!" Hardik Luna.


"Jadi?" Wira menatap Luna dengan perasaan yang tak menentu.


"Jadi apa?"


Luna balik bertanya, sejujurnya hatinya tengah gelisah kali ini. Dia berusaha untuk menepis semua perasaan yang membebaninya saat ini.


"Apa yang akan kamu lakukan setelah pernikahan ini?"


"Bagaimana dengan priamu yang lain?"


"Uhuuukk!" Luna merasa Wira beranggapan dirinya play girls.


"Maksud papa apa?!" Hardik Luna kesal namun kemudian dia menatap nanar keluar.


"Aku tidak tahu..."


"Semua ini diluar kendaliku..."


"Aku tidak pernah bermimpi menjerat mereka dalam hidup ku!"


"Jika kamu bilang tidak ingin maka papa akan menghentikannya!" Ujar Wira dingin.


Luna terpaku dengan jawaban dingin dan tegas dari papanya. Namun dia tidak menjawabnya dia kembali mengalihkan pandangannya ke depan.


"Aku tidak ingat apa yang telah terjadi kemarin..." Batinnya.

__ADS_1


Wira saat ini sudah lelah dengan berpura-pura. Dia akan memperlihatkan wajah asli dirinya dan keluarga besar mereka. Wira Kusuma merupakan Founder XK Corporate dan juga co-founder Emperor. Luna sendiri tidak mengetahui karena gangguan kinerja otaknya sedari kecil. Bagi Wira menghentikan pernikahan palsu putrinya saat ini semudah membalikan telapak tangan. Hanya saja dia juga mempunyai tujuan lain, selama putrinya yang meminta dia akan kabulkan. Luna adalah kelemahan terbesarnya, karena dirinya lah Luna semenderita seperti sekarang.


Di dalam ruang ganti Luna menatap ponselnya lekat, dia sungguh gelisah terus memikirkan kekasih hatinya. Sebentar lagi statusnya akan menjadi istri sah pria lain.


"Maaf aku ijin sebentar..."


Luna pamit pada perias untuk menjawab dering ponselnya yang menunjukan nama Mr. A.


"Halo mas..." Lirih Luna menjawab setenang mungkin.


"Halo sayang..."


"Sudah bangun?"


"Sudah sarapan?"


Rentetan pertanyaan kekasihnya menggema di telinga Luna, walau dengan nada yang lemah pria itu berusaha untuk menutupi keadaannya.


"Mas sakit?"


Luna menyadari suara prianya tidak seperti biasanya.


"Aku hanya kecapean sepertinya..."


Luna kembali di dera rasa bersalah mendalam, karena dirinya Adira seapes sekarang.


"Aku harus apa mas?" Luna mulai menitikan air matanya.


"Aku ingin mendekapmu sayang..."


"Aku ingin makan masakanmu..."


"Mendengar suara ocehan mu..."


"Aku ingin segera menikahimu..."


Bagai di hantam benda keras hati Luna mendengarnya, dirinya akan menikah dengan orang lain. Jika di banding rasa sakit yang Adira torehkan padanya, Luna jauh lebih jahat memperlakukan kekasihnya kelak.


"Sayaaaang..."


"Kamu menangis ya?!"


Luna mengusap air matanya mencoba tegar "Mas tidak menepati janji untuk jaga kesehatan mas kan?"


"Aku hukum nanti!!"


"Apa hukumannya di ranjang?"


Adira mencoba mengganti suasana sendu mereka.


"Maaaas..." Luna tertawa kecil.


"Aku mau pergi jalan-jalan kembali. Boleh kan?"


"Kali ini kamu berencana kemana?"


"Pulau N..."


"Pulau N?"


"Aku pernah dengar namun tidak sembarang orang bisa masuk kesana sepertinya."


"Memang disana ada apa?"


"Aku tidak tahu..."


"Makanya aku ingin tahu... Boleh kan?"


"Aku sangat lemah jika yang meminta adalah istriku..."


Luna menutup mulutnya. "Maaf mas..."


"Kenapa harus minta maaf sayang?"


"Bagiku keinginanmu dan kebahagianmu adalah kebahagiaanku juga."


"Jangan pernah minta maaf untuk sesuatu yang bukan merupakan sebuah kesalahan!!!"


Semua perkataan Adira membuncah hati Luna, wanita itu semakin terisak pilu. Hari ini dia akan mengkhianati cintanya, sedangkan prianya sangat mempercayainya.


"Sayaaaaang..."


"Aku menangis karena terharu..."


Luna sudah tidak bisa berkata.


"Jangan kecapean ya sayang."


"Aku mau mandi dulu ya."


"Aku baru sampai rumah, semalaman aku di RS!"


Hati Luna seolah diremas kencang bertubi-tubi. "I love you so much Adira Renald..."


"Percayalah walaupun raga kita tidak bersama saat ini namun hatiku tau dia milik siapa."


"Kamu cewek gombal!!"


"Wajar bukan jika aku benar-benar tersihir dan jatuh hati berlebih padamu sayang!"


"Bisa-bisanya aku seorang cowok kalah menggombal dari seorang cewek."


Luna tersenyum dan tertawa lirih, Adira pandai mengatur moodnya.


"Sayang istirahat ya, jangan lupa makan!"


"Aku disini baik-baik saja..."


"Baiklah nyonya Adira..."


"Miss you so much Luna..."


Luna sudah tidak sanggup lagi mendengar suara prianya, dia menutup sepihak tubuhnya terjatuh di lantai dan terisak.


"Nona?!"


"I'm okay..."


"Aku cuci muka sebentar ya..."


Luna bangkit dari tempatnya menuju kamar mandi, dia menatap bayangan dirinya di cermin.


"I'm born to be queen!"


"Semua cobaan ini hanya remahan biskuit saja Luna!!"


"Fighting!!"


Luna menyemangati dirinya sendiri kemudian bergegas merapikan dan merias diri.

__ADS_1


* * * * *


Tepat pukul 11 siang ini di ballroom area convention hall pulau N telah di sulap menjadi ruangan yang sangat indah dengan berjejer kursi untuk para tamu undangan. Dengan dekorasi bunga mawar putih dimana-mana. Di tengah ruangan tersedia meja dengan kursi untuk di lakukan proses ijab kabul. Setelah berbagai susunan acara yang telah dilewati. Tiba waktunya mempelai wanita memasuki ruangan.


"Apa kamu siap sayang?" Tanya Wira.


Luna mengangguk pasrah dengan senyum tipisnya.


"Kamu sangat cantik princess!"


"Thank you..."


Luna mengapit erat lengan ayahnya dengan senyuman yang terus mengembang.


"Maafkan papa tidak bisa membantu apa-apa Luna." Lirih Wira.


Kedua netranya berembun, seharusnya ini adalah peristiwa yang membahagiakan namun nyatanya ini hanyalah sebuah transaksi semata. Ayah mana yang tidak teriris hatinya melihat putri kesayangannya menjadi alat transaksi sesuatu yang tidak dia ketahui.


Mempelai wanita memasuki pintu ballroom megah itu terbuka lebar. Di ujung sisi berlawanan telah berdiri sosok laki-laki yang sedang gelisah tak menentu. Ketika dia melihat wanitanya berdiri di ujung sana mengngenakan gaun pengantin yang indah sedang merangkul ayahnya. Matanya berkaca, perasaan bahagia menjalar di hatinya sulit dia kendalikan.


"Lihat pah!!!"


"Apa kamu pikir semua ini hanya settingan belaka?"


"Putra kita menangis melihat wanita di sebrang sana yang sebentar lagi menjadi istrinya."


"Oh, sungguh tak pernah aku sangka akan melewati kejadian ini!"


"Aku otw jadi omaa..."


Sesillia mengusap ujung pelupuk matanya yang juga meneteskan air mata kebahagiaan.


Adyatama tersenyum bahagia. "Semoga ini semua memang bukan settingan."


Luna berjalan beriringan dengan Wira, disambut dengan alunan biola yang membuat semua tersentuh dan terharu merasakan kebahagian yang sama dengan kedua mempelai.


"Kamu sangat cantik Luna..." Mahessa mengusap cepat pelupuk matanya.


"APA? TUAN MUDA MENANGIS?" Pekik Farell dalam hati.


"Terima kasih..." Jawab Luna.


Keduanya tengah terduduk di depan pemuka agama. Setelah beberapa kata sambutan terucap kini Wira di persilahkan mengucap ijab.


"Ehm!!"


"Sebelum saya Wira Kusuma papa dari Naluna Maharani mengucap ijab kepada ananda Mahessa."


"Ijinkan saya meyakinkan kembali bahwasannya kamu benar-benar pilihan terbaik!"


Sontak semua tamu undangan yang hadir terkejut, begitu pula dengan Mahessa dan Luna keduanya tengah gelisah.


"Apa yang akan papa lakukan?"


Luna merasa gelisah luar biasa, tangannya dingin wajahnya pucat. Wira menatap putrinya sejenak, Luna menunduk sejenak.


"Ananda Mahessa, sebelum kamu aku nikahkan dengan putri kesayanganku!"


"Putri tercinta kami Naluna Maharani..."


"Putri kebanggaan kami!"


"Putri yang selalu kami jaga sedari dia masih di dalam perut ibunya!


"Putri yang menjadi bekal kami di akherat kelak."


Wira terdiam beberapa saat menahan diri untuk tidak menjatuhkan air mata penyesalannya.


"Mau kah kamu berjanji..."


"Menjaganya sepenuh hati seperti kami menjaga dia!!"


"Mengasihinya sebagaimana kami memberi dia limpahan kasih sayang selama ini!"


"Seandainya dia melakukan kesalahan maka bimbinglah dia penuh kelembutan..."


"Jika dia tidak lagi bisa menyenangkanmu..."


"Maka kembalikanlah dia kepada kami utuh sebagaimana kami memberikannya kepadamu saat ini dalam keadaan paling cantik di sepanjang usianya!!"


Luna menatap tajam ayahnya, air matanya telah berjatuhan. Semua kalimat yang di ucapkan ayahnya adalah kalimat terindah yang tidak pernah dia dengar sebelumnya. Luna sungguh bahagia mendengarnya.


"Mengapa papa mengatakannya di pernikahan pura-pura ku!"


"Dulu saat menikahi Adira kamu tidak pernah mengucapkan apapun?!!"


Wira menatap Luna pilu, dia menyesal tidak menjaga putrinya lebih baik selama ini.


"Maafkan papa Luna..."


"Papa harap semua ultimatum ini bisa membuat Mahessa menjagamu!"


Mahessa terdiam dengan perkataan mertuanya, dia tersenyum haru. kali ini.


"Saya Mahessa Adyatama berani bersumpah dengan nama Tuhan."


"Berjanji akan selalu mencintai Naluna Maharani disisa hidup saya!"


"Akan selalu menjaganya dan membimbingnya penuh kelembutan!"


"Dan aku juga berani bersumpah hanya dia wanitaku satu-satunya."


Apa yang di katakan Mahessa membuat ruangan hening seketika. Dengan suara lantang dan penuh keyakinan Mahessa mengucapkannya. Semua orang yang mendengarnya seolah tidak percaya seorang Mahessa raja bisnis di Negara S bisa melunak seperti itu. Luna menatap Mahessa dengan keterkejutannya dengan janji yang pria itu ucapkan di hadapan ayahnya.


"Apa yang tengah dia rencanakan?!" Batin Luna merasa semakin khawatir.


Wira melengkungkan senyumnya, dia tidak percaya semua pria yang mengenal Luna akan tunduk pada putrinya itu.


"Baikalah, saya pegang janji mu Mahessa."


Wira mengulurkan tangannya kemudiam Mahessa menjabat tangan mertuanya.


“Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Ananda Mahessa Adyatama bin Adyatama dengan anak saya yang bernama Naluna Maharani binti Wira Kusuma dengan maskawinnya berupa uang senilai seratus ribu USD."


"Tunai!!!”


"Saya terima nikahnya dan kawinnya Naluna Maharani binti Wira Kusuma dengan mas kawinnya tersebut tunai."


"SAH?"


"SAH!!!"


Jantung Luna seolah di tusuk pisau yang sanagt tajam, ar matanya terjatuh dengan sendirinya.


"Maafkan aku mas..."


Di waktu yang bersamaan di kota K, Adira terjatuh dari tangga.


BRUUUUK!!

__ADS_1


"ADIRAAAAA....." Pekik Arnetha.


* * * * * * * * * * * *


__ADS_2