
"Sebelumnya 4 tahun yang lalu aku memang keluar dari rumah besar Renald."
"Jalan pikiran kolot papa tidak sejalan dengan keinginanku yang bebas."
"Itu lah alasan aku berkuliah di ibu kota dan mengambil jurusan yang aku inginkan. Bukan seperti yang papa inginkan."
"Aku sangat menyukai segala hal mengenai system komputerisasi."
"Sampai terakhir kelulusanku aku masih di tuntut pulang dan mengambil alih perusahaan."
"Tapi aku tidak mau."
"Siapa yang mau hidupnya di stir oleh aturan kuno seperti mereka?!"
"Aku tidak suka berbisnis di jalan yang sama dengan mereka. Mengembangkan lahan sawit, mengolahnya dan menjualnya."
"Bahkan saat ini merambah bisnis property dan parawisata yang sedang di kembangkan saat ini."
"Ini bukan passion ku!"
Luna terdiam menatap haru kekasihnya, dia baru mengetahui sisi lain dari kekasihnyam
"Selama itu finansialku di cabut dan di bekukan oleh papa."
"Aku hanya mengandalkan pemberian mama dan kakakku dulu."
"Sampai akhirnya aku bekerja di EPS dan bertemu denganmu."
"Keuanganku masih di bekukan saat itu."
"Aku benar-benar hanya mempunyai motorku sendiri."
"Sejujurnya di villa kakakku ada beberapa mobil lainnya. Tapi aku tidak mau menggunakannya."
"Aku ingin menunjukan pada papaku aku bisa hidup mandiri. Aku bisa hidup sederhana seperti ini."
"Tapi pada akhirnya aku tidak bisa..."
"Kenapa?" Kini Luna mengeluarkan pertanyaan penasarannya.
"Karena kamu..."
Adira menatap lekat kekasihnya.
"Me? Why?"
"Papa kemari berkunjung sehari sebelum dia melakukan perawatan medis si Negara S. Dia kembali mendesakku, kali ini dia tahu kelemahanku."
"Apa mas mau bilang aku kelemahanmu?" Luna menunjuk dirinya sendiri dengan berkaca-kaca tidak percaya.
"Ya..."
"Aku di restui menikahimu dengan syarat menjadi penerus RG jika tidak mereka akan melakukan sesuatu padamu..." Lirih Adira tak mampu lagi menahan air matanya.
Luna menghambur memeluk kekasihnya.
"Maafkan aku mas...."
"Kamu tidak perlu minta maaf sayang."
"Aku yang sudah memperlakukanmu dengan buruk." Adira mencium pucuk kepala kekasihnya.
Setidaknya salah satu beban di hatinya sedikit berkurang.
"Aku juga di paksa keluar dari EPS."
"Sialnya aku menjabat di saat perusahaan mengalami krisis..."
DEG!!
Luna merasakan ini adalah ulah Mahessa yang membuatnya nekat melindungi kekasihnya dengan menikah secara terpaksa.
"Seminggu kemarin RG mengalami krisis internal bahkan indeks saham yang merosot tajam. Kami hampir bangkrut...."
"Papa masuk ICU, mama pingsan atas apa yang terjadi mendadak ini. Dan...."
"Aku yang sibuk mempertahankan bisnis keluarga ikut drop..."
"Setelah semua normal aku justru kembali di uji."
"Aku mendapati kekasihku berubah saat ini..."
Bagai di sambar petir saat ini juga semua perkataan Adira menghujam tepat di jantungnya. Luna seolah lupa caranya bernafas. Kepalanya berasa tertusuk ribuan jarum dia kembali pingsan.
* * * * *
Luna mengerjapkan matanya, dia menatap kesekeliling.
"Mas..."
"Kamu sudah sadar?!"
__ADS_1
"Kamu menakuti ku...." Ujar Adira sendu.
"Mas janji tidak akan pergi lagi dariku kan?" Luna memeluk erat Adira.
Adira bingung dengan ucapan Luna.
"Aku minta maaf mas."
"Bagaimana jika aku membohongimu dan..."
"Apa mas masih mau dengan ku?!"
Adira menatap kekasihnya lembut.
"Aku mau kamu!!"
"Apapun yang telah terjadi."
"Asalkan bukan dengan berselingkuh."
"Aku akan mentolerirnya..."
DEG!!
Jantung Luna kembali seperti di remas kencang. Adira tiba-tiba memeluk erat Luna dan menyesap bibirnya kuat. Dirinya sungguh tengah sangat merindukan kekasih hatinya saat ini.
"Seminggu tidak menyentuhnya aku sungguh ingin saat ini juga!!" Tangan Adira menyelusup dalam kaos tipis Luna.
Luna yang menyadari kekasihnya telah tersulutkan hasratnya segera mengalihkannya.
"Mas aku lapar..." Rengek Luna.
Adira menghentikannya dan terkekeh. "Kamu mau makan?"
"Barusan kan kita baru makan siang?!"
"Kamu lapa lagi?!"
"Apa mau di rumah aja?!"
Luna semakin gelisah, sebenarnya dia hanya mengalihkan keinginan kekasihnya menjamah tubuhnya yang masih memiliki bekas tanda cinta dari suaminya.
"Pengen nonton bioskop juga..."
"Udah lama..."
"Aku kangen pengen pacaran sama mas!!"
"Aku ga mau kalau aku hanya jadi pemuas ranjang mas!!" Sungut Luna meyakinkan.
"Maafkan aku..."
Padahal Adira bertekad dirinya lebih menahan hasratnya. Tapi nyatanya tubuh Luna memang memiliki daya tarik tersendiri. Membuatnya terus berpikiran nista.
"Mau ke One Mall?"
"Kamu suka kan hotpot disana?!"
"Mauuu..." Luna menggelayut manja di leher kekasihnya.
"Aku mandi dulu ya." Luna beranjak buru-buru ke kamar mandi dia harus sebisanya menghapus tanda cinta di tubuhnya.
Setelah kepergian Luna, Adira menatap ponsel Luna yang berdering.
"Mr. M?"
Ingin rasanya Adira menjawabnya namun dia urungkan. Bagi dia salah satu komitmen lainnya adalah privasi. Luna tidak pernah menyentuh ponselnya dia akan bersikap sama.
Adira menyelidik setiap sudut ruangan. "Entah mengapa aku seperti asing seperti ini..."
Luna telah menyelesaikan mandi dan memoles dirinya. Keduanya bergegas menuju tempat yang di janjikan. Di dalam mobil Luna menceritakan apa yang dia lakukan di Negara S saat kekasihnya memintanya bercerita.
"Jadi Sandra kapok?" Adira terkekeh.
"Semoga tidak!!"
"Aku sedang membuat badan usaha gitu mas."
"Aku membutuhkannya" Ujar Luna hati-hati.
"Oh ya?!"
"Ya udah nanti aku bantu..."
"Sudah berjalan!!"
Luna segera menghardik dan menjelaskan.
"Ada investor besar yang mendukungku..." Luna berbicara hati-hati.
"Benarkah?"
__ADS_1
"Apa dia Mr. M?"
Luna membulatkan matanya dengan pernyataan datar kekasihnya.
"Dari mana dia tahu nama itu??!!"
"Calm down Luna!!"
"Kok mas tahu?"
"Tadi dia menelponmu..."
"Oh ya?" Luna tengah berkeringat.
"Ya aku lupa bilang..."
"Aku tidak menjawabnya kamu bisa menghubunginya sekarang..." Ujar Adira menatap wanitanya biasa.
"Oke makasi mas udah bagi tau nanti saja aku menghubunginya."
"Dia memang investor yang memberi aku suntikan dana..."
"Kamu kenal dia dari mana?"
"Tidak sengaja saat aku berbelanja di Negara S."
"Dia tertarik karena aku selalu berbelanja dalam jumlah besar."
Adira terdiam perkataan papanya kembali terngiang bahwa Luna sebenarnya bangsawan Negara S.
"Oh ok tidak masalah..." Adira tersenyum manis ke arah wanitanya.
Luna terpaku dengan respon biasa Adira. Hatinya yang justru tengah merasa sakit. "Maafkan aku mas... Aku mengkhianatimu..."
Setelah selesai dengan semua permintaan Luna keduanya kembali pulang.
"Aku antar kamu ke mansion?"
"Atau mau ikut denganku mampir ke PA?" Adira menatap Luna sekilas.
"Terserah mas..."
"PA ya..."
"Ada sesuatu yang harus aku kerjakan juga..."
"Jika kamu mau..." Adira kembali mengemudikan mobilnya menuju PA, Luna merasa prianya menjadi lebih kaku dari biasanya.
Setibanya di apartemen kekasihnya Luna tertidur saking lelahnya. Adira tersenyum menatap kekasihnya. "Kamu sangat cantik sayang, aku baru menyadari kamu mengganti gaya rambut mu!"
Adira mengecup lembut bibir Luna hingga wanita itu terbangun. Bukannya mendorong Luna malah membalas tautan mereka dengan membelitkan lidahnya.
Luna merindukan bibir Adira yang terbiasa di bibirnya. Adira semakin mendorong tubuh kekasihnya kembali tersulutkan hasratnya.
"Aaahh..." Lenguh Luna.
Seperti tengah di beri obat perangsang darah Adira memanas mendengar kembali lenguhan calon istrinya itu kemudian tanpa pikir panjang mendudukan Luna di pangkuannya. Luna yang lupa akan tanda di tubuhnya membiarkan kekasihnya bergrilnya dengan tangannya.
"Aaarrrgghhh...." Adira tengah memasukkan senjatanya dalam inti Luna saat sebelumnya memainkan dengan jarinya.
Luna terus mendorong tubuhnya hingga tidak ada jarak lagi diantara mereka. Sensasi bermain di ruang sempit seperti mobil milik kekasihnya ini membuatnya semakin menggila.
Adira meremas dan menyesap kedua bukit indah miliknya. Beruntungnya tempat itu tanpa penerangan beberapa kissmark yang sudah ada sebelumnya tidak terlihat jelas atau memang akal sehat Adira sudah tidak mempedulikannya.
"Mass..."
"Oohhh aku mau keluaaar..."
"Boleh aku keluarin di dalam sayang? Ooogghhh"
Tanpa mencabutnya Adira mendorong kuat semakin dalam. Luna terkulai lemas dalam dekapan Adira. Adira sama tengah terengah dengan posisi masih terbenam dalam milik kekasihnya.
"Mau lagi sayang?"
"Kita ganti gaya pakai ya yang?!"
Adira menarik miliknya kemudian mengganti posisi dengan cepat. Kini mereka berada di kursi belakang.
"Aaaahhh... Ahhh... Ahhhh" Jeritan Luna terus menggema selama Adira melakukannya mobil mereka bergoyang hebat. Keduanya kembali mencapai puncaknya bersamaan.
"Kamu memang energi kehidupanku sayaang..." Adira mencium bahu Luna kemudian dia terkejut.
"Apa ini sayang?" Adira baru menyadari di dalam gelapnya mobil dan hanya mendapat sedikit penerangan di area basement Adira menyentuh tato kecil milik calon istrinya.
Luna membalikan badannya dan mencium pria perkasanya kembali karena dia masih menginginkan bermain dengan prianya. "Itu namamu sayang."
"Artinya tubuh ku milikmu sayang..."
Adira terdiam sejanak kemudian menyesap kembali bibir Luna saking terharunya. Dia kembali membuat Luna menjerit memenuhi mobilnya. Luna merasakan kepuasan bertubi-tubi dari permainan Adira dengan gaya beragamnya.
Berkali-kali Luna mengeluarkan pelepasannya dia benar-benar lemas saat ini. Mereka keluar setelah 30 menit melakukan olahraga dadakan di basement bawah. Beruntung sekali area otu tengah sepi penghuni. Luna di gendong oleh Adira dengan gaya bridal memasuki rumahnya. Luna membenamkan wajahnya dalam pelukan menahan malu.
__ADS_1
* * * * * * * * * *