
"Mari makaaaan..." Seru Luna kepada semua personil.
"Pelan-pelan Luna tidak ada yang berebut denganmu." Jawab Mahessa khawatir.
"Mahessa, Luna kalau liat makanan memang seperti binatang buas ga kena makan seminggu!" Ujar Sandra menyuap beefnya.
Menu yang dipesan adalah hotpot kesukaan Luna semua porsi mereka pesan dengan ditambah beberapa kudapan kesukaan keduanya.
"Siriik tanda tak mampu!" Balas Luna pada Sandra dengan menjulurkan lidahnya.
Mahessa tersenyum melihat tingkah mereka berdua. Mahessa merasa baru kali ini bertemu dengan seseorang yang apa adanya dan tulus.
"Farell ga usah kaku makan saja sepuasnya disini aku yang bayar!" Ucap Luna lagi dengan songongnya.
"Belagu lu!"
"Abis ini gue bakalan minta bonus dari kebiadabanmu berbelanja tadi..." Rutuk Sandra.
"No problemo...." Jawab Luna mantap.
"Terima kasih nona Luna."
"Kalau begitu saya tidak akan sungkan..." Farell tersenyum seraya bergabung dengan leluasa.
Seperti kebiasaan Luna yang makan seperti anak kecil lagi-lagi dikomentari pedas oleh Sandra.
"Lu cantik sikit kalo makan tuh!"
"Ga malu apa?"
"Tampang doang ples akhlaq mines..." Geram Sandra.
Luna menjawab dengan juluran lidah dan menampilkan jari tengahnya.
Sementara itu Mahessa terus memperhatikan Luna dan selalu tersenyum bahkan menggelengkan kepalanya sesekali.
"Luna, kamu sungguh menggemaskan!"
"Apa adanya tidak pernah ingin dibuat-buat."
"Kamu adalah satu dibanding satu juta wanita yang sempurna dengan akhlaq minus yang justru menjadi nilai plus untuk ku!!" Batin Mahessa ingin rasanya tertawa namun menjaga wibawa.
"Wah cheese cake ini enaaaak sekali!!"
Setelah memakan satu suapan kudapan favorit Luna, dia sangat senang.
"Kamu suka cheese cake ya?" Tanya Mahessa.
"Yups! Setelah ini aku akan bungkus banyaaaak..."
"Ih malu-maluin kayak ga ada yang jual aja di Kota B?" Hardik Sandra.
"Ini memang ga ada yang jual cuy."
"Lu coba nih!" Luna menyuap paksa Sandra.
"Lu nih!"
"Eh iya enaaaaaaaak..."
Luna menyuap paksa kudapan itu di mulut Sandra dan kini mereka berdua berbinar.
"Kan selera gue mah high class!!!" Sombong Luna.
"Cih!"
"Iye deh Luna cantik selera lu mah teratas dan terdepan kek yamaha..." Sindir Sandra.
"Iya dooong..."
"Lu kan suka juga ama gue kan?"
Makanya lu jomblo!" Goda Luna.
"Ih amit-amit jabang babu!!"
"Sejak kapan gue suka ama lu?!" Hardik Sandra.
Tiba-tiba kenistaan Luna meningkat pesat.
"Sejak hari itu..."
"Saat kita berduaan dimansion ku..."
:Kita bahkan tidur bersama..."
"Kau merangkul ku dengan sangat erat.."
"Apa kamu melupakannya begitu saja?"
Luna berucap dengan sedikit berlebihan bahkan sangat di buat-buat menjijikan.
Mahessa berhenti menatap mereka dengan tatapan dingin. Farell yang mengetahui hal ini tak berhenti berkeringat.
"Nona Luna memang ajaib bisa membuat mood bosku naik turun!" Batin Farell.
"NALUNAAAAA ANJEEENG!!!" Pekik Sandra seraya bergidig.
"HAHAHAHAHAHAHA....." Luna terbahak puas.
Mahessa yang tidak menyukai situasi ini segera melonggarkan dasi.
"Bahkan aku cemburu dengan seorang wanita!'
"Walau aku tahu dia bercanda tetapi rasanya aku terbakar." Rutuk Mahessa dalam hati.
Setelah semua selesai dengan makan sore yang kepagian. Mahessa membuka percakapan.
"Setelah ini kita ke tempatku ya Luna.'
"Harus segera bersiap."
"Acara diadakan jam 8 sampai selesai." Ujar Mahessa.
"Okay..."
"Aku boleh minta membawa Sandra juga kan?" Tanya Luna hati-hati.
"Boleh..."
"Farell siapkan gaun tambahan untuk Sandra." Titah Mahessa.
__ADS_1
"Baik tuan." Jawab Farell.
"Ssttt kenapa gue juga ikut..." Setengah berbisik Sandra bertanya pada Luna.
"Biar gue tenang." Jawab Luna lirih.
"Lu tenang gue tertekan!!"
"Pinter lu ye!" Rutuk Sandra.
Mereka bersuara lirih agar Mahessa tidak tersinggung.
"Sudah selesai? Bisa kita pergi sekarang?" Sambung Mahessa kembali.
Pada akhirnya Mahessa yang membayar billnya dan mereka bergegas menuju kediaman Mahessa yang berada di kawasan Beverly Hill. Luna dan Sandra terbelalak saat mereka memasuki kawasan kediaman yang memiliki luas kurang lebih lima hektar dengan bangunan seperti istana kerajaan.
"Apakah gue lagi berkunjung ke studio Walt Disney?" Lirih Sandra sesaat setelah turun dari mobil yang menurunkan mereka di area lobby pintu masuk.
"May be...." Jawab Luna datar.
"Silahkan masuk nona Luna dan nona Sandra." Farell menginstruksikan pelayan depan gerbang menyambut kedatangan tuannya dan kedua tamu kehormatan.
"WOW!"
"YOU KNOW?"
"I'M REALLY FEEL LIKE PRINCESS!" Pekik Sandra namun lirih ditelinga Luna.
Luna hanya terdiam. Baginya entah mengapa ada perasaan kurang nyaman berada disini saat ini.
"Mari Luna."
Mahessa mendekati dan berbisik ke depan Luna.
"Mulai dari sekarang perjanjian kontrak kerja berlaku."
"Jadi aku rasa kamu sudah bisa bersikap selayaknya pacarku.'
"Semua mata akan melihat kita."
Deg!
Luna terpaku sejenak dan bersikap biasa walau hatinya bergejolak hebat.
"Mari sayang." Luna menyambut uluran tangan Mahessa.
Ketiga orang yang mendengar perkataan Luna membulat semuanya. Luna memang pandai berakting, dia bahkan terlihat natural. Sandra merasa gugup, begitu pula Farell. Sedangkan Mahessa betapa bahagianya dia mendengar kata Sayang yang di lontarkan Luna saat ini.
"Selamat malam tuan dan nyonya..." Sapa seluruh pelayan di kastil dengan ramah dan serentak seperti paduan suara.
"Farell bawa Sandra ke kamarnya." Titah Mahessa.
Dari sini aura tuan besar mulai terasa, tekanan udara yang di rasa semakin rendah membuat siapa saja yang mendengar suara Mahessa seperti teriakan mencekam.
"Baik tuan. Mari nona..." Farell menunjukan jalan seraya menyuruh beberapa pelayan mengambil beberapa koper milik keduanya. Sebelum terlambat Luna sudah mencegah terlebih dahulu.
"Tidak!!"
"Sandra akan satu kamar denganku."
"Bolehkan sayang..." Luna menggelayut manja ditangan Mahessa dan merengek berharap prianya menyetujui keinginannya. Mahessa semakin gelisah akan perlakuan seperti pacar sungguhan.
Sandra terkejut dengan mimik yang sulit dijelaskan dia tak bisa mempercayai saat ini memiliki teman yang bakat aktingnya luar biasa.
"Farell bawa mereka dalam satu ruangan."
"Terima kasih sayang..." Luna tersenyum penuh kepalsuan.
Dia sendiri sudah jijik dengan tingkahnya kali ini. Beberapa kali dia menjerit dalam hati meminta maaf kepada sang pujaan hati. Dia sudah sangat bodoh menerima pekerjaan ini. Mahessa mendekati wajahnya seperti akan menciumnya. Luna sedikit menghindar, Mahessa menyadarinya kemudian dia berbisik ditelinganya. Jika orang lain yang melihat dari sudut pandang yang pas maka mereka akan melihat jika Mahessa mencium Luna.
"Sama-sama sayang..." Lirih Mahessa lembut seraya membelai pipi Luna.
Deg!
"Astaga!"
"Apa yang tengah Mahessa lakukan di depan umum" Batin Luna berteriak.
"Saat ini kenapa aku sulit sekali bergerak aku seperti tersihir!" Imbuhnya kemudian.
"Ya sudah kamu bersihkan diri dan istirahat sebentar nanti ada orang yang akan membantumu merias diri." Ujar Mahessa kembali ke posisi semula. Luna hanya mengangguk, dia masih terlihat syok.
"Nanti aku tunggu di bawah ya sayaang..." Mahessa kembali menggoda Luna namun wanitanya justru tengah gelisah luar biasa.
Saat ini di dalam kamar yang disiapkan untuk Luna dan Sandra. Mereka berdua seperti sangat tertekan.
"Anjay Luna..."
"Demi apa gue kek masuk serial telenovela..." Ujar Sandra sembari mengelus dadanya terduduk di kursi.
Ukuran kamar ini dua kali lebih besar dari ukuran mansionnya. Dengan model tempat tidur seperti di kerajaan dengan tirai di keempat sisinya. Sungguh terpancar kemewahan yang haqiqi.
"Gue ga enak perasaan..."
"Huhuhu" Lirih Luna.
"Udah ga jaman nyesel!!"
"Lu udah gue peringatin dari dulu pas awal lu ditolong dia di RS!"
"Tapi emang nyatanya lu mah bego banget!"
"Disodorin duid banyak langsung bilang khilaf!"
"Atau jangan-jangan lu suka ama dia kan?"
Luna tidak menjawab dia menatap lurus kedepan. Membuka jendela kamar membuat semilir angin menghembuskan rambutnya yang kini ia urai.
"Aku harus telpon mas Dira." Gumamnya.
"Nomor yang anda tuju tidak dapat menerima panggilan ini........"
Deg!
Perasaan tak nyaman membuncah hatinya. Selama ini ponsel Adira tidak pernah sampai tidak aktif. Tadi sesaat di resto Luna mengecek ponselnya siapa tau Adira menghubunginya. Namun ternyata tak ada satu pesan masuk di ponselnya.
"Kemana dia?"
"Apa dia sangat sibuk dengan pekerjaannya sampai lupa cas handphone?"
"Kenapa Lun?" Tanya Sandra yang kini mendekati sahabatnya itu.
__ADS_1
"Nomor mas Dira ga aktif." Lirih Luna menatap kosong kedepan.
"Mungkin lupa cas?"
"Aku sangat mengkhawatirkannya."
"Berdoa saja semoga dia baik-baik saja."
Luna mengangguk dia hanya bisa berdoa dalam hati semoga semua aman terkendali.
"Gua mo berendam."
"Lu mau duluan apa gimana?" Tanya Luna.
"Gua kamar mandi kecil aja gua kan males banget ketemu aer." Jawab Sandra asal.
Luna hanya tersenyum menanggapinya. Seraya bergegas menuju kamar mandi masing-masing. Di dalam kamar mandi Luna membenamkan diri dalam rendaman air hangat dengan aroma mawar yang semerbak menyeruak indra penciumannya.
"Kenapa nomornya masih tidak aktif!"
Luna membawa ponselnya, dia masih berusaha menghubungi calon suaminya itu. Namun nihil!
"Semoga kamu baik-baik aja mas." Luna segera bergegas setelah mendapati ketukan pintu dari Sandra.
"Woi!"
"Lu mandi apa tidur udah sejam ini..."
"Kamu gapapa?"
"Cepetan MUA nya udah dateng."
"Okay aku datang bentar lagi."
Luna menatap dirinya di pantulan cermin besar, ada perasaan sakit menyelinap dalam hatinya. Dia mengatur nafasnya dan kembali keluar seolah tidak terjadi perang dingin dalam batinnya.
"Permisi nona, saya ditugaskan tuan muda untuk merias anda." Sapa perias ramah.
"Maaf merepotkan..." Jawab Luna
"Ini gaun yang dipilihkan tuan untuk anda dan yang sebelah ini untuk teman anda." Pelayan memperlihatkannya.
"Nih San lu pake yang ini." Luna mengambil seraya menyerahkan pada Sandra.
"Semoga muat..." Lirih Sandra.
Luna sedikit terkekeh dengan jawaban polos Sandra. Keduanya tengah memakai gaun yang diberikan semua size sangat pas di badan mereka.
"San, bantuin naikin resleting." Pinta Luna.
"Eh apa nih? Astaga!!" Sandra menutup mulutnya tidak percaya.
"Adira bangsat!!"
"Lu mo kesini aja main dulu..."
"Wanita durjana kau!"
"Kukira kau tobat!!"
Rentetan kata sarkas temannya menghina diri Luna tidak di indahkan wanita itu. Dia merasa memang sudah hina, tidak perlu di sembunyikan lagi. Seluruh tanda kissmark kekasihnya masih cukup membekas dibeberapa tempat untungnya tertutupi oleh gaunnya.
"Lu sering maen lagi ama Dira?"
"Aih tentu saja iya, lu dah serumah ama dia!!"
"Sis, kurang-kurangilah berbuat dosa."
"Lu emang bakalan nikah ama dia tapi semua itu ga bawa keberkahan buat idup lo."
"Beruntung banget tuhan masih mengasihani lo sampe detik ini!"
Sandra menyayangi Luna, dia melakukan hal ini tentu saja agar Luna terhindar dari terus berbuat dosa.
Luna masih tetap terdiam, tidak ada kata yang masuk di pikirannya. Dia memainkan liontin pemberian kekasihnya.
"Lo kenapa?" Akhirnya Sandra menyadari sikap aneh temannya.
"Gue belum bisa hubungin mas Dira....." Lirih Luna suram.
"Kirain mikirin dosa lo!!"
"Lagian disaat sekarang bukannya lebih bagus dia tidak bisa menghubungi lo?"
"Tiba dia tau lo lagi ngapain?"
Luna menundukan wajahnya, memang benar apa yang di ucapkan sahabatnya. Namun pikiran Luna menuju perkataan Mahessa yang akan membuat prianya sibuk. Apakah ini?
"How beautiful I'm..." Lirih Luna di hadapan kaca besar.
"Anda memang sangat cantik nona."
"Tidak perlu riasan mencolok kecantikan anda sudah terpancar."
Puji perias yang membantu merias Luna saat ini. Luna tersenyum dan mengucap terima kasihnya.
"Oh I'm so different, Is it me?" Sandra tidak percaya dengan penampilannya kini.
Sandra menggunakan gaun berwarna maroon dengan model halter dan memanjang semata kaki. Riasan simple dengan tatanan rambut half updo terlihat sangat cocok dan manis untuknya. Sedangkan Luna sendiri memakai gaun mermaid berwarna hitam tanpa lengan. Sesuai dengan yang dia sukai. Mengekspose sebagian kulit punggungnya dan memperlihatkan belahan dada yang menawan. Riasan Natural dengan anting-anting panjang serta tatanan rambut yang dibuat low updo yang membutnya semakin terlihat seksi dengan leher jenjangnya. Saat sedang mengagumi satu sama lain terdengar bunyi ketukan dari pintu. Seorang pelayan membukakan pintunya.
"Mohon maaf nona apakah telah selesai?"
"Tuan sudah menunggu dibawah."
"Okay..."
Farell tengah menjemput kedua cinderella yang kini sudah siap seenuhnya. Terdengar lirih dari mulut Farell memuji kecantikan Luna.
"Anda terlihat sangat cantik nona Luna."
"Terima kasih Farell."
"Sstt..."
"Kalo lu kayak gini malah bikin dia tambah suka ga sih?" Bisik Sandra pada Luna.
"Lain kali aku akan berpenampilan seperti ini dengan mas Dira untuk foto prewed."
"Misi Hyuna Kim mau lewat..." Imbuh Luna songong.
"Aih cewek bodoh ni..."
__ADS_1
"Ntar kalo ada apa-apa nangis tau rasa!!" Geram Sandra.
* * * * * * * * * *