
Luna merasa sangat sial, kali ini dia menyeret pemeran pria lainnya dalam kehidupannya kali ini.
"Aku ini baru bisa selingkuh dengan baik sekarang."
Luna bergegas memasuki kantor selagi tidak ada yang memperhatikannya saat ini.
Bruk!
"Ups Sorry..." Luna menundukan pandangannya merasa hari ini dia begitu sial.
"Buru-buru amat non?!"
"Bram?"
Luna mendongak dan tersenyum ke arah pria yang di tubruknya. Si pria tersenyum menyambut dengan senang.
"Kalau gitu aku duluan ya..." Luna ingat dia sudah dirumorkan negatif dengan Bram. Dia tidak ingin memiliki masalah lainnya lagi.
"Luna..." Lirih Bram merasa tidak enak hati.
"Haiss!"
"Aku hanya tidak ingin nama baik mu dan Adira buruk setelah ini."
Bram terdiam, dia mengerti maksud dari Luna.
"Kapan-kapan kita hang out bareng?"
Luna hanya mengangguk mengiyakan dan bergegas munuju ruangannya.
Setelah berada di ruangannya, Luna melayangkan pikirannya. Di kehidupannya kali ini semua hal tidak bisa dia tebak mengingat dia mengubah alurnya. Dia bahkan tidak menyangka Bram ternyata menyukainya. Dulu yang dia tahu dia mengenal Adira karena diajak Rio yang merupakan teman Adira berkunjung ke tempat tinggal mereka.
"Bram ini sejujurnya good looking."
"Saat itu aku juga mengetahui dia lebih dulu kedapatan berpacaran lebih dulu ketibang aku sama mas Dira."
"Ah sudah lah!!"
Luna mendengus kasar, dia kembali merutuki tingkahnya dengan Mahessa yang sudah di luar batas. Mereka bahkan telah berciuman berapa kali selama Adira tidak ada.
"Woy!"
"Lu kalo mau bunuh diri kayak gitu ampe lebaran monyet ga akan kelar. Mati kagak bego iya!"
Makian Sandra menyadarkan Luna dari tingkahnya yang memukul kepalanya pelan di meja.
"BA to the COT! BACOT!!"
"Eh lu udah menangguhkan eypunku beberapa hari ini!"
"Dan rahasiamu masih aman di dalam genggamanku itu gimana sis?!" Ujar Sandra mendelik.
"Dih matre banget!"
"Makanya punya cowok tajir biar ada yang diporotin!!"
Sejujurnya Luna ingat dan mencoba membelikan taruhannya menggunakan uang milik kekasihnya yang baru kemarin dia dapat. Hanya saja dia tidak berani, jika dia tahu alasan menggunakan uang untuk menutup mulut Sandra sungguh dia tengah mengantarkan nyawa pada Raja Neraka.
"Iya nanti sore aku beliin..." Lirih Luna kemudian membuat Sandra terbelalak senang.
"SERIOUSLY?!"
Tingkah Sandra kali ini menyerupai Sinchan yang menggelayut manja ke arah Luna.
"Iya sabar ya sis..."
"Semua butuh proses mengingat harganya sama dengan gajiku saat ini!"
"Kan gue dah bilang minta sama mas bojomu itu."
"Harga eypun ini seharga gorengan bakwan buat dia mah!!"
"Iya lah iya...." Luna menanggapi datar dia masih berpikir jalan terbaik.
Ting!
Tiba-tiba terdengar notification di ponsel Luna. Luna segera menyambar ponselnya dan matanya membulat setelahnya.
[Sudah pulang cutiepie? Sudah bisa aku jemput?]
Luna melirik jam di tangan masih jam lima kurang seperempat.
[Terniat sekali anda jemput jam segini belum pulang lah!! Jemput jam 6 ya.. Pas lagi sepi. Jauh-jauh dari gate. Ga boleh pake mobil mewah!]
Ting...
[Haha aku dari Harbour jadi aku bisa pastiin biar kamu ga nunggu lama. Permintaan yg terakhir aku usahakan.]
Ting
[Oke]
Tiba-tiba ada masuk lagi notifikasi pesan singkat dari Mr. A
__ADS_1
Ting
[Sudah pulang yang?]
Luna mengatupkan bibirnya, keningnya berkerut dia juga tengah berkeringat dingin.
"Orang bilang selingkuh itu menyenangkan mengapa aku pikir ini musibah!!!"
Luna sungguh tidak mempunyai pengalaman berselingkuh!
Luna kembali mengetuk kepala di meja. Untungnya semua karyawan tengah pulang. Saat ini sudah pukul setengah enam. Hapsari juga langsung pamit pulang ada urusan dengan adeknya. Bu Lidya jangan ditanya. Telat semenit aja anaknya bakal neror abis-abisan. Hanya tinggal Sandra yang satu spesies dengan Luna yang sangat menggilai kerja.
"Lu butuh palu noh sana minta OB!" Saran Sandra.
"Anjeng lah!" Sarkas Luna.
"Heh non jangan cuma kerjaan excelmu yang kau filter! Omongan lu juga!!"
"Idih ngeGAS!" Rutuk Lun.
"Elu yang ngegas ANJENG!" Sungut Sandra memburu.
Luna menjulurkan lidahnya tidak mau kalah.
"Lu ko kek prustasi gitu.."
"Gue tau lu lagi nyembunyiin sesuatu nih mesti!"
"Jangan sok tau!"
"Apa yang gue ga tau dari lu?!"
"Dasar paparazzi!"
"Siapa yang anter lo tadi pagi!"
"Uuhuuuk!"
"Kenapa dia tanya pas aku lagi minum. Ga nanya pas aku baru dateng tadi pagi!" Rutuk Luna dalam hati.
"Taksi." Jawab Luna asal.
"Ada taksi jenis AUDI? Trus tadi malem pake Porsche lu bayar berape?" Sungutnya.
Luna terpaku dengan penuturan Sandra. "Kan sesungguhnya air tenang itu menghanyutkan!!"
"Untung gue yang tau tiba laki lo? Lu mo bilang apa?" Ancamnya.
"Ah bangk* lu!! Gue tebak itu Mahessa?"
Luna mengangguk lemah.
"Lu tau ajab orang yang serakah ga?!" Goda Sandra.
"Ih lu mah gitu!!" Rengek Luna.
Perkataan kecaman Sandra sukses membuat bulu kunduk Luna berdiri. Tiba-tiba dering ponsel memecah kesuramannya. Luna menatap layar yang bertuliskan Mr.A dia segera mengangkat telponnya.
"Halo mas."
"Lembur lagi? Sampe ga sempet bales.. Read doang!" Tanya prianya ketus.
"Maaf sayang aku sedang ada urusan dengan bagian produksi."
"Bentar lagi aku pulang."
"Aku boleh ga pergi dengan Sandra. Mau hang out." Tanya Luna hati-hati.
"Seneng ya kamu jauh dari aku jalan terus ama temennya!!" Rutuk Adira di sebrang sana.
"Mas ni seneng ya kalau aku dijauhi teman-teman." Rengek Luna tak mau kalah.
"Ga masalah kamu punya aku!!" Jawab prianya dingin dan datar.
Glek!
"Pleasee ya.."
"Aku juga kan kalau ada mas selalu mencurahkan segenap jiwa raga dan hidupku padamu." Rayu Luna paripurna.
"Huek!" tiba-tiba Luna ingin muntah dengan kata-katanya sendiri. Dia juga melihat Sandra memberikan ekspresi yang sama. "Kurang sefrekuensi apa lagi aku sama dia tuh!"
"Ya sudah lah..."
"Jangan pulang larut."
"Jangan makan sembarangan!"
Akhirnya Adira luluh juga dengan permintaan Luna, ini sebuah prestasi bagi Luna. Pasalnya prianya itu jarang sekali bisa menghargai keinginannya.
"Yuhuuu!!" Luna spontan bersorak.
"Sebegitu senangnya!"
__ADS_1
"Ya udah kalo gitu aku mau cari makan." Ujar prianya kemudian.
"Hati-hati sayang... Aku jaga hatiku disini kamu jaga matamu disana." Ucap Luna penuh kegombalan.
"Huuuuueeeeek..." Sandra sudah tidak tahan dia berpura-pura muntah langsung didekat sahabatnya.
Dari sebrang sana juga terdengar suara kekehan prianya.
"Kamu tuh yang jaga mata sama hati!!"
"Ya udah ya..." Adira menutup sambungan telponnya.
"Fiuuh.." Luna menghela nafas lega.
Prok... Prok... Prok...
"Gila sih elu emang play girl sejati!" Sorak Sandra.
Luna hanya tersenyum mengoda tidak lama kemudian ponselnya kembali berdering kali ini inisial Mr. M
"Halo..."
"Cutiepie aku sudah di depan kantormu."
"Otw!"
Luna langsung menutupnya dan segera pamit pulang duluan pada Sandra, dia hanya melambaikan tangan seraya memajukan bibirnya.
***
Luna mengedarkan ke sekeliling gate, sebelum ia keluar pintu gate dia pastikan posisi Mahessa dimana. Luna juga pastikan bahwa tidak ada sesiapa pun mengikutinya.
"Mana dia ni?"
"Ga ada BMW, Porsche dan Audinya?" Gumam Luna tengah berpikir keras.
Jantungnya sungguh berdebar, dia bersama pria lain di kawasan kantor apa tidak sedang bunuh diri.
Tiba-tiba dari belakang melintas Pajero Sport hitam mengkilat berhenti tepat di samping Luna.
"Ayok..."
Suara pria yang sudah tidak asing lagi ditelinganya terdengar dengan menurunkan kaca jendelanya.
"Orang kaya mah bebas ya, pamer mobil dari jenis apa juga ada!" Kenorakan Luna mulai terpancar.
Luna segera memasuki mobil dan menyuruh Mahessa segera melajukan mobilnya.
"Apa ini bukan mobil mewah ya?" Luna kembali mempermasalahkan dan memberikan ekspresi cemberutnya.
"Oh maaf ya aku hanya sempat membeli mobil ini sore tadi." Jawab Mahessa terkekeh.
Luna menganga denga ucapan polos pria di sebelahnya.
"Sumpahnya! Dia beli mobil kayak aku beli gorengan."
"Sandra berpikir mas Dira membeli eypun seperti membeli gorengan, jika dia tau Mahessa membeli mobil seperti membeli gorengan apa dia akan pingsan?!" Luna terkekeh.
"Kamu ko senyam senyum gitu?" Tanyanya seraya menatap Luna bahagia.
"Kepooo!" Luna mengedarkan pandangan keluar jendela.
"Anyway mau kemana dulu? Makan?" Tanyanya kemudian.
"Ehmm aku mau ke Plaza Hill boleh? Mo beli eypun." Luna berucap dengan manja.
Mahessa menarik tangan Luna tersenyum dan mencium tangan Luna tanpa rasa canggung. Luna menelan salivanya, dia juga tidak menolak atau melarangnya.
"Eypun? I-Phone?" Mahessa mencoba mencerna.
"Hehe..." Luna tersipu malu semakin membuat Mahessa gemas sendiri dengan tingkah wanitanya.
"Kita karaoke on the road yuks?" Ajak Luna tak tahu malu segera menyalakan music player kembali menghubungkan dengan iPodnya.
"Aku ga suka suasana hening kek dikuburan!" Ujar Luna kemudian memilih lagu.
"Oh ya? Anything for you cutie..." Mahessa menggigit jemarinya, tangannya dia tahan di jendela pemandangan indah bagi Luna.
"Mari kita bernyanyi tanpa perlu tahu arti!!"
Luna memekik dan menggoda Mahessa untuk ikut tidak waras bersama. Mahessa terkekeh malu namun sungguh membuat hatinya merasa hangat atas tingkah Luna yang natural di hadapannya.
"Luna, bagaimana caranya agar aku mendapatkanmu."
"Agar kamu lebih memilih diriku di banding pacar brengsekmu itu!
"Why so serious? Come on girls... Come on boys
Come on come on get your crayon crayon! Come on girls come on boys... Come on come on get your crayon crayon!!"
"Pada dasarnya sepuluh persen diriku terdiri dari kepura-puraan sisanya kenistaan." Batin Luna bersikap bodo amat.
* * * * * * * * * *
__ADS_1