Dua Cinta Satu Hati

Dua Cinta Satu Hati
Bab 108 : Good Liar!!


__ADS_3

Luna terdiam, selain masih terengah karena lelah. Saat ini waktu telah menunjukan pukul 3 dini hari. Keduanya masih bertahan dengan membukakan mata mereka. Bahkan baru selesai dari olahraga malam yang disinyalir bisa menyehatkan jiwa raga mereka tapi penuh dengan dosa.


"Maafkan aku mas..."


"Aku sendiri sebenarnya sama seperti mas dengan papa."


"Memiliki masalah pribadi dan baru selesai kemarin saat dia datang mengunjungi ku."


"Jadi alasan kamu tidak mengabariku selama 4 hari penuh?!"


Luna mengangguk pasrah, hatinya sungguh sakit. Dia berbohong dan mencatut nama papanya.


"Maafkan aku mas..." Batin Luna semakin merasa bersalah.


Selama 4 hari itu, Luna mendalami peran sebagai istri kontrak Mahessa yang sah. Baik secara urusan domestik rumah tangga bahkan urusan ranjang Luna bersikap profesional.


Dia sendiri melanggar perjanjian diawal dengan merelakan tubuhnya. Hanya saja entah mengapa Luna merasa heran. Jika dia berjauhan sedikit saja dari prianya. Dia seperti memiliki kepribadian ganda dengan seolah lupa status bersama kekasihnya.


Alasan dia akhirnya menerima dan mencoba profesional dalam statusnya menjadi istri Mahessa.


"Luna..."


"Apa aku tidak di restui oleh keluarga mu?!"


DEG!!!


Luna semakin terpaku sulit berkata-kata. Wajahnya bahkan semakin pucat saat ini.


"Apa yang harus aku katakan?!"


"Seingat ku, mama menyetujuinya bukan?!"


"Papa juga telah mengetahui hubungan ku dengannya."


"Hanya saja papa tahu keadaanku saat ini."


"Tapi dia tidak serta merta melarang aku bersamanya saat itu?!"


Luna terus sibuk dalam pikirannya yang justru membuat Adira berpikir negatif dan merasa diamnya Luna berarti kemungkinan besar memang dia tidak di restui oleh keluarga besar Luna.


"Kejadian di RG kemarin bisa jadi itu adalah peringatan awal!!"


"Apa mungkin mereka tahu apa yang sudah kami lakukan sejauh ini?"


"Termasuk saat sekarang ini aku masih melakukan hal hina ini dengan Luna?!"


Adira merasa frustasi akan hubungannya dengan Luna yang belum juga menemukan titik terang.


"Aku akhirnya mengerti, kenapa kamu ngotot buat nunda pernikahan kita."


Adira berubah sendu, menatap langit-langit kamar dan memejamkan matanya erat kembali tidak ingin menyelesaikan masalah hanya berusaha memendam luka dan dia mencoba yang terbaik kedepannya.


"Maaas..."


Luna bangkit dan menatap kekasihnya yang pura-pura memejamkan matanya untuk tidur.


"Aku ingin menikah dengan mas."


"Aku yakin kita bisa meyakinkan mereka."


"Jadi aku mohon..."


"Bukankah satu tahun waktu yang sebentar saja?!"


"Selama kita masih tetap selalu bersama seperti ini."


"Tidak masalah bukan?!"


Luna tidak menyangka, justru Adira lah yang memberikannya ide tentang alasan yang sangat bagus mengenai pengunduran pernikahan mereka.


Tetapi Luna telah bertekad dia akan mendesak Mahessa menceraikannya setelah apa yang Luna inginkan dia dapatkan walaupun belum genap satu tahun.

__ADS_1


Adira membuka mata perlahan. Dia menatap Luna yang terlihat selalu cantik dimatanya. Adira memainkan rambut kekasihnya dan mencium ujungnya.


"Sejujurnya aku tidak mau seperti ini lagi Luna."


"Jika bukan karena iman ku yang lemah oleh godaan setan dan hawa nafsu ku."


"Mungkin kita tidak akan terjerumus dalam lubang dosa ini."


"Apa kamu senang dengan semua ini?!"


"Sejujurnya aku tidak suka."


"Hidupku juga tidak tenang!"


"Alasan aku selalu memutuskan mu sebelumnya."


"Aku menghindari perzinahan ini dan mengejar restu keluarga besarku untuk meminang mu!"


DEEEGGG!!!


Luna meneteskan air matanya, semua kata-kata kejujuran kekasihnya benar-benar seperti menguliti daging dari tulangnya. Apa yang di katakan kekasihnya benar adanya.


"Aku minta maaf mas."


"Aku membuat kamu berlumur dosa..."


"Sayaaang..."


Adira beringsut membuat dirinya duduk dan mendekap kekasihnya erat penuh kasih sayang.


"Aku yang tidak tahu diri."


"Aku juga lah yang merusak mu."


"Jika aku sudah menjadi suami mu, maka aku sangat ikhlas seluruh dosa mu aku yang tanggung!!"


Luna semakin terisak dalam dekapan kekasihnya.


"Aku tidak ingin kehilangan Adira apapun yang terjadi!!!"


Luna bertekad dia tidak ingin melepaskan kekasihnya dan mulai menyusun rencana kedepannya menghadapi Mahessa dan tentu saja mulai berhadapan dengan keluarga besarnya.


"Udah ya, ga usah nangis lagi."


"Kamu kan janji sayang!" Adira melonggarkan pelukan menyapu lembut wajah Luna yang tengah basah oleh air matanya.


"Mas..."


"Boleh ga kita maen lagi sampai pagi?!"


Otak Luna memang tidak beres! Dia tidak pernah kapok akan dosanya. Hanya karena dia benar-benar mencintai kekasihnya. Dengan memberikan tubuhnya dia merasa semua ini bukti bahwa Luna sangat mencintai pria di hadapannya.


"Besok kamu kerja sayang!"


"Kalo aku sih mau aja, senang malah!"


"Kalo besok kamu ga kuat jalan gimana?!"


"Mas ga mauuu ya...." Luna mulai merengek sebal beberapa waktu ini prianya jauh lebih jual mahal dari sebelumnya.


Adira terkekeh dia perlahan menjatuhkan tubuh Luna dan kembali menyibak selimutnya.


"Sayang..."


"Aku selalu mengeluarkan di dalam apa tidak masalah?!"


"Aku sudah pasang kb sayang!"


"Pantaas!!"


"Pantas apa?!"

__ADS_1


"Sedikit membuat adik juniarku ....."


Adira menyeringai sengaja membuat Luna penasaran.


"Emang kenapa yang?!"


"Ga enak ya?!"


Luna merasa tidak nyaman dengan omongan Adira barusan. Baginya berhubungan badan itu harusnya sama-sama puas. Jika dia merasa tidak seperti biasa dia harus segera konsultasi kembali dengan dokter.


"Masih sangaat... sangaat enak sayaang!"


"Cuma sering bikin adik ku terkejut sejenak!"


"CABUUL!!!"


Luna merinding mendengar bisikan Adira tepat di depan telinganya.


* * * * *


"Maaas..."


Luna meraba paha Adira. Mereka tengah melakukan sarapan pagi.


"Iya sayang..."


Adira menyesap bibir Luna yang masih saja menggodanya.


"Akhirnya Luna ku kembali lagi liar seperti dulu!" Batin Adira terkekeh dengan perubahan sikap Luna saat ini.


"Mass... Aku pengen!!"


"Astaga!!" Adira tertawa dengan wajah penuh hasrat calon istrinya.


Luna sendiri terbiasa melayani Mahessa sehabis sarapan, mungkin menjadi terbiasa dia juga tidak mengerti.


"Bentar aja ya mas..." Luna telah bersimpuh dan menarik gesper ikat pinggang kekasihnya.


"Uughh sayaang..." Adira meremas rambut panjang Luna yang masih basah.


Luna menyeringai bahagoa prianya mulai bergairah dan menikmati pelayanannya.


"Aarghh!!"


"Mass lagi teruss!!!"


Racauan Luna membuat darah Adira terus memanas. Mereka masih melanjutkan aksi panasnya. Lima menit kemudian mereka berdua mencapai puncaknya bersamaan.


"Mandi gih, dah setengah delapan loh!" Ejek Adira tidak menyangka wanitanya benar-benar seperti haus akan dirinya.


"Aarh!!"


"Aku sungguh malas bekerja rasanya..."


Luna masih betah di dalam dekapan dan pangkuan kekasihnya yang kini sama-sama dalam keadaan polos tanpa satu helai benang.


"Tumbeen banget!" Ejek Adira kemudian tertawa.


"Loh, harusnya mas bilang..."


"Ya udah sayang ga usah kerja biar aku aja..." Goda Luna.


"Bukannya dulu aku pernah bilang, terus istriku ngotot pengen jadi wanita mandiri dan tangguh!"


"Sekarang berubah pikiran lagi kah?!"


Adira menggigit dagu Luna.


"Aargh!!"


Luna melepaskan diri dari gigitan vampir kekasihnya.

__ADS_1


"Mas, aku cinta mati sama kamu Adira Renald!!" Bisik Luna di depan wajah kekasihnya sebelum akhirnya dia beranjak kembali membersihkan diri dengan kilatnya.


* * * * * * * * * *


__ADS_2