
"Lun! Heii..."Hapsari berteriak disamping Luna
Keduanya telah berada di kosan Luna. Dia termangu sesaat saat harus membuka pintu.
"Bukannya buka pintu malah ngelamun..." Rutuknya kesal.
"Hahaha..." Luna cengengesan.
Dia menarik nafas panjangnya dan menghembuskan perlahan. Setelah mengucap salam masih ada sisa rasa sesak di dada Luna. Namun segera dia tepis.
"Maafkan ibu Nena..." Luna kembali ingin menangis pilu saat ini.
"Hei non... Lu gapapa?"
"Ko akhir-akhir ini elu terlihat lebih suram." Tanya Hapsari menyadari perubahan sikap rekannya yang biasa lasak.
"Ah enggak ko..." Luna menjawab sekenanya.
"Lu ada masalah ama Adira?"
"Apa karna rumor itu?"
"Aku juga mendengar Adira keluar dari kosan yang di tempatinya bersama Bram."
"Apa mereka bertengkar?"
Hapsari terus meneror dengan pertanyaan yang tidak ingin Luna jawab.
"Aku baik-baik saja dengan Adira."
"Kami justru makin mesra..."
Luna berujar dengan sombong di sambut cibiran candaan temannya. Mereka tertawa bersama.
"Masalah Bram aku lupa, Adira juga ga pernah bahas sama sekali."
"Eh, lu kan nanya tempat ini terus.."
"Mau lanjutin nempatin kamar ini ga? Biar aku ke atas tanya mba penjaganya..." Luna spontan memberi Hapsari ide.
Pasal tempat ini sering Luna gunakan berbuat maksiat semoga tidak berpengaruh apa-apa terhadapnya. Lagian Luna pikir Hapsari ibadahnya bagus semoga membersihkan hawa jahat disini juga.
"Maafkan aku mba..." Batin Luna saat tersadar kamarnya sudah menjadi saksi bisu kebejatannya.
"BENER BEUD!!!"
"Buru tanyain.. Apa perlu kita berdua?" Dia langsung sangat berantusias.
"Yuk..."
Tanpa pikir panjang mereka langsung menemui mba penjaga dan tanpa bertele-tele proses pengalihan hak pakai telah sah berlangsung.
"Lah gue juga pindahan dong!!" Serunya.
"Lu sempet ga beresin sekarang biar sekalian minta tolong mas Dira masalah transport." Luna kembali memberinya saran.
"Boleeeeeh!! Mengingat barang gue cuma dikit banget..."
Luna mengangguk kemudian mba Hapsari pamit setelah beres shalat magrib. Luna tengah sendirian saat ini.
[Mas... Udah ada transportnya?]
Ting
[Ada.. Asal bukan mindahin lemari aja!]
"Hahaha... Rencana aku ga bakalan bawa semua barangku ini. Di Aston sana udah lengkep juga. Biarlah dipake ama Hapsari saja."
[Aku sendirian yang.. Hapsari balek kosan beresin barangnya dia mau pndh kesini.]
Tok... Tok... Tok...
__ADS_1
Luna terperanjat, dia menajamkan pendengarannya kemudian mendekati pintu.
"Maaas!!"
"Ko udah nyampe sini lagi?" Luna menghambur memeluknya.
Adira mencium pucuk kepalanya mesra.
"Aku ga bisa jauh dari kamu..." Jawab Adira menatap penuh kelembutan. Luna begitu melted saat ini.
Semua barang telah dipacking kedalam kardus. Sedangkan baju-bajunya sudah berada di dalam koper besar.
"Perabot ga usah lah ya... Nanti aku beliin lagi yang baru..." Ujar Adira mendekap tubuh Luna.
Luna membalikan badannya dia segera memiringkan wajahnya dan mereka bertautan mesra. Luna tidak ingin melepaskannya dia sedang tergila-gila dengan kekasihnya.
"Kita angkut kebawah sekarang ya..." Tanya Luna melepaskan tautan keduanya.
"Kamu tunggu disini aja ya, aku yang turunin." Adira beranjak mengambil dus yang berukuran sedang berisi beberapa aksesoris kamar dan komik-komiknya.
"Maaf ya sayang..." Luna melayangkan senyuman manisnya.
Semua barang Luna telah dia keluarkan semuanya. Akhirnya mereka dibantu oleh mba penjaganya. Luna pamit seraya meminta maaf dan ungkapan terima kasih. Luna tak lupa memberinya sesuatu sebagai cenderamata.
"Loh mobil siapa ini mas?" Luna curiga dengan Adira.
"Minjem..." Jawab Adira datar.
Antara terkejut dan tidak, namun yang Luna sedihkan adalah sampai saat ini kekasihnya tidak mau memberitahukan pasal identitasnya. Seolah Luna tidak perlu tahu dan tidak penting untuk di bicarakan.
Mereka menaruh barang Luna di Aston, di bantu oleh Bagas. Luna sedikit curiga sepertinya dia pernah bertemu dengan Bagas. Namun Luna tidak ingat dengan jelas. Dulu dia tidak begitu tahu menahu pasal asisten atau sekertaris suaminya. Baginya kepercayaan adalah pondasi utama dalam menjalin rumah tangga. Setelahnya membantu Hapsari dengan memindahkan barang miliknya.
"Mobil siapa ini say?" Tanyanya kepo.
"Minjem katanya..." Jawab Luna datar.
"Lu ga nanya?" Tanya lagi.
"Emang apa AR? Ardi Bakri?" Jawab Luna asal.
"ADIRA RENALD KAN LAKI LO!"
"Ya tuhan selera Adira payah banget sumpah!!" Rutuk Hapsari emosi.
Luna terbahak, sejujurnya dia sudah menyangka bisa jadi AR adalah milik kakaknya Arnetha Renald jika kekasihnya bilang minjem. Karena di kehidupan sebelumnya mobil dia hanya Audi dan BMW.
Setelah selesai semuanya Luna berpamitan pada Hapsari, kemudian Adira tetap membawa Luna ke apartemennya di Park Avenue.
* * * * *
Hari ini sesuai jadwal kunjungan dokter Luna akan melakukan pemasangan kontrasepsi. Luna sudah bilang pada Adira hari ini lembur pulang bareng Sandra dan tinggal di Aston. Syukurlah Adira tidak banyak bertanya atau melarang berbeda saat dulu dia akan sangat keras hati untuk mengijinkan kekasihnya pergi sendiri.
"Aku pulang duluan ya San.." Luna pamit dengan Sandra. Luna menunggu satu jam setelah bel pulang berbunyi.
"Eh kate lembur?!" Pekik Sandra mungkin merasa tertipu.
Luna berbisik dan mendekat. "Aku kan kemarin bilang ada jadwal kontrol dengan dokter waktu itu."
Lalu dia melihat ekspresi wajah Sandra berubah. "Perlu aku temani?" Jawab Sandra.
Luna menggeleng "Aku ga mau repotin kamu terus. Lagian pasti agak lama."
"Yang paling penting kalau mas Dira tanya aku kemana bilang aja aku bareng kamu ya..." Luna memohon pada Sandra.
"Katanya ga mau repotin. Ini jauh lebih merepotkan! Membantumu dalam kebohongan!!!"
"Besok gajian aku traktir ngopi Sturbuk!"
"Hmm pegi sana!" Sungutnya kembali pedas.
"Mamaciii Sandrakuuh." Luna memeluknya.
__ADS_1
"LEPAAAS." Sandra berusaha melepaskan diri kini dia sangat kesal.
Sesampainya di klinik Luna langsung mendaftar dan menunggu di ruangan.
"Nomor 4? Seharusnya aku daftar via telpon biar dapat antrian pertama. Bego banget ya!" Sambil menunggu nomor antrian. Luna sibuk mempromosikan jualannya. Luna membuat status siapa yang minat maka bisa join group.
"Nyonya Luna." Panggilan dari perawat membuatnya menghentikan aktifitasnya.
"Ya." Seraya masuk dalam ruang praktek.
"Selamat malam dok."
"Malam nyonya, silahkan duduk!" Dokter menyuruhknya duduk dan memeriksa berkas rekam medis.
"Nyonya Mahessa, jadwal kontrol USG dan pemasangan kontrasepsi." Dokter membaca keterangan medis.
"Betul." Luna menjawab mantap.
"Loh, tuan Mahessa tidak ikut?"
"I-itu dia ada urusan keluar kota.." Luna menjawab penuh kepalsuan.
Luna gugup menjelaskannya mau bagaimanapun disini dia adalah Ny. Mahessa namun sejatinya dia bukan siapa-siapa, Luna juga tidak tahu keberadaannya sekarang dimana.
"Mari baring disini." Perawat mmempersilahkanya untuk naik ke tempat pemeriksaan.
"Kapan terakhir darah keluar?" Tanya dokter selagi melakukan USG.
"Ehmm hari jumat kemarin dok." Jelasnya.
"Ada langsung berhubungan?"
Deg!
"Ehmm sudah dok." Luna menjawab lirih menahan malu.
"Oh, ok tidak masalah selama darah sudah berhenti keluar. Jangan melakakukan hubungan saat sedang menstruasi ya." Terang dokter.
Luna mengangguk pelan wajahnya memerah merasa diarinya semakin lihai dalam kebohongan.
"Bersih, rahim nyonya sudah ok sudah tidak ada darah tersisa. Mau dilanjut dengan pemasangan IUD?"
Luna sangat gugup. "Apa itu sakit dok?" Tanyanya
"Sedikit, cara kerja IUD yaitu menghalangi masuknya sper** tuan dengan dilakukan pemasangan alat berbentuk T seperti ini yang ditanam di rahim nyonya." Doktek memperlihatkan jenisnya.
Luna sedikit terbelalak. Pasalnya selama menikah dengan Adira, dia melarangnya melakukan pemasangan kontrasepsi. Dia bilang nanti akan tidak nyaman saat bberhubungan
"Tenang saja, jika anda sudah berhubungan rasanya tidak begitu sakit."
"Berhubungan saja tidak merasa sakit padahal durasi yang lumayan panjang sedangkan pemasangan IUD ini hanya berlangsung kurang dari tiga menit." Dokter menjelaskan dengan tersenyum.
Seakan tau apa yang menjadi kegundahan Luna dokter menjelaskan secara terbuka seperti itu. Sungguh memalukan! Prosesnya cepat, betul seperti yang diungkapkan dokter sakitnya hanya sebentar hanya saja sedikit membuat aku berdarah.
"Sudah selesai. Ga sakit kan?" Dokter tersenyum.
Luna mengangguk pelan. Sambil memperbaiki celananya.
"IUD yang dipakai bertahan dalam jangka waktu lima tahun. Meski begitu, nyonya tetap harus kontrol tiap bulan atau minimal tiga bulan sekali. Untuk memastikan posisinya tidak bergeser." Jelas dokter.
"Baik dok, apa ada pantangan?" Tanyanya kembali.
"Dirasakan selama satu minggu ini dulu ya nyonya. Jika flek pendarahan masih berlanjut maka segera periksakan. Jika terasa sakit diarea perut bagian bawah atau rahim juga langsung periksakan jangan tunggu nanti ya."
"Oh iya kebanyakan pasien saya juga mengalami sedikitnya pergeseran posisi, untuk mengantisipasinya cobalah untuk tidak melakukan aktifitas yang berat, berdiri terlalu lama atau olahraga yang berat. Semoga ini bisa membantu."
Penjelasan dokter sangat mendetail, beruntung sekali bisa bertemu dengan dokter seperti ini. Sudah ramah, ilmu yang diberikan sangat mudah dipahami. Luna segera pamit undur diri. Setelah menjabat tangan dan berterima kasih berulang kali.
"Baru gajian tapi sudah banyak pengeluaran. Huhuhu" Luna meratapi nasib karena pemasangan kontrasepsi ini kebilang menghabiskan uang juga.
* * * * * * * * * *
__ADS_1