Dua Cinta Satu Hati

Dua Cinta Satu Hati
Bab 118 : Kejutan lanjutan


__ADS_3

Di saat tengah bercengkrama hangat, terdengar kegaduhan yang berasal dari luar area resto.


Braak!


Pintu resto terbuka paksa, kemudian berjalan beberapa orang yang di balik pria berjas serba hitam dan kacamata dengan earphone di telinga membuat semua orang yang tengah asik dengan hidangan mereka membulatkan matanya hingga akan keluar.


Tuan Surya berdiri, beberapa anak buahnya mendekati tamu tak di undang. Luna yang mengetahui siapa di balik semua adegan menegangkan ini berdiri dan bergumam.


"Papa!"


Keluarga Kusuma Tan berjalan mendekati putrinya, beberapa anak buah Wira telah menghadang siapa saja yang menghalangi jalan tuannya.


"Papa?!" Pekik lirih menghentikan sikap arogan keluarganya.


Debar jantung Adira dan seluruh keluarga besarnya berdetak tidak karuan. Secepat ini mereka akan bertemu langsung di waktu yang tidak di persiapkan dengan baik.


"Mama!!"


"What are you doing here?!!"


"Hai sweety!!"


"I missed you already!!"


Luna menelan salivanya, papanya bersikap berbeda dari terakhir dia bertemu. Keringat dingin Luna mulai bermunculan di sekujur tubuhnya.


"Apa ini sikap mu menyambut keluarga mu Luna?!" Ujar Nyonya Tan dingin.


Siapapun yang mendengar mereka berucap tiba-tiba merasakan udara di sekitaran turun drastis. Mereka seperti di bawa ke sebuah ruang hampa udara. Terasa tercekat sulit bernafas.


"Maaf kelancangan kami, saya tidak menyambut dengan baik kedatangan anda." Tuan Surya mendekat mencairkan suasana.


"Ngomong-ngomong tidak sopan barusan anak buah ku sedikit emosional di depan dan membuat kekacauan."


"Kami akan memberikan konpensasi yang sesuai."


"PAPA!!" Luna merasa malu atas tindakan agresif papanya.


"Tidak apa Luna..."


"Mohon maaf kami memang menutup area resort hari ini dan besok karena Luna memiliki acara yang tidak ingin di ganggu."


"Kebetulan saya juga datang untuk inspeksi lapangan."


"Wow!!"


"Luna siapa kamu sampai tuan Renald menyetujui menutup area resortnya dua hari hanya karena kamu mengadakan acara disini?!" Tuan Wira menatap tajam Luna.


"Cih!"


Luna kembali menuju kursi dimana prianya masih terdiam sempurna di kursinya. Dia mengajak Adira berdiri dan menggelayut manja di lengan prianya.


"Aku calon menantu keluarga Renald tentu saja."


"Bukan begitu pa?!" Luna menatap tuan Surya dengan senyuman. Tuan Surya tersenyum balik dan menunduk.


"Whaat?!" Tuan Wira terpaku tidak percaya atas kepercayaan diri putrinya.


"Pah!!" Nyonya Tan menyudahi diskusi yang tidak berarti ini.


"Ontyyyy!!"


"Lulaaa?!"


Luna tersentak sesaat keluarga besarnya benar-benar berada di depannya saat ini.


Bruug!!


"I miss you so badly!!!" Lula menghambur memeluk tante kecilnya.


"Me too!!" Luna memeluk balik dengan eratnya.


"Kak Lina, mba Rena?!"


"Long time no see you dear!!" Sapa ramah Renata.


"I'm so glad to see you still glowing until now my little sis!!" Ejek Kalina kakak kedua Luna mengapit lengan ibunya.


"Bang*ke!" Umpat Luna membuat semua yang mendengar sungguh tercerahkan.


"Lunaaa!!" Sargah tuan Wira.


"Biarin aja pah, dia mah emang gitu."

__ADS_1


"Kalo dia balas sopan berarti dia lagi sakit!!"


Luna mengacungkan jari tengahnya pada siblingnya yang akrab di panggil Lina.


"Kamu tidak merindukan kami kah?!" Tanya Nyonya Tan berkaca.


"Mamaa!!"


Luna mendekat dan menghambur memeluk mamanya. Tanpa di duga Luna langsung terisak penuh haru. Setelah apa yang terjadi sebelumnya di kehidupan yang keduanya. Dia membohongi keluarganya pasal keadaannya.


Kalina dan Renata bergabung memeluk mereka. Lula mendekat memeluk tuan Wira atau opanya. Semua merasa terharu dengan kejadian di depan mereka. Namun debar jantung Sandra masih berpacu dengan cepatnya. Dia masih teringat kejadian seminggu yang lalu.


"Beningnya keluarga Luna cuy!!" Lirih Rio pada Daniel.


"Yoai!!"


"Tapi gue ampe gemeter liat bapaknya!!"


"Liat bang Dira ampe sekarang wajahnya pucat gaes!!"


"Jangan-jangaaan!!"


"Ssuutt!!" Sandra mengingatkan keduanya agar tidak mengacau.


"Ma... Pa... Semuanya..."


"Kenalin pacar Luna atau calon suami Luna!"


"Adira Renald!!"


Luna kembali berlari kecil menuju tempat kekasihnya. Keluarga besar Adira tengah harap-harap cemas di meja belakang.


"Not bad, but I still recomend "Him" !!" Umpat Lula.


Luna memasang muka permusuhan dengan keponakannya.


Adira mendekat memperkenalkan dirinya.


"Om... Tante... Kak..."


"Adira..."


Adira menundukan tubuhnya di depan keluarga besar Luna. Semuanya tampak terkejut, yang biasa orang lakukan saat perkenalan adalah dengan bersalaman. Tetapi Adira langsung menundukan tubuhnya. Membuat orang yang tidak tahu pasti tengah mengira status keluarga Luna jauh di atas keluarga Adira. Mereka juga berpikir mungkin demi mendapat kesan baik Adira melakukan tindakan yang jauh lebih sopan di banding biasa.


"Jangan sungkan nak Dira, gimana kabar kamu?!"


"Ah tante bisa aja, kabar Dira baik tante." Adira tersipu saat sedikit di sanjung nyonya Tan.


"WHAAAT?!"


"Kalian sudah pernah ketemu?!" Luna menunjuk keduanya bergantian dengan wajah penuh tanda tanya. Adira mulai gelisah, dia tahu arah pembicaraan mereka mulai kedepannya akan dirasa berat dan membahayakan dirinya bahkan hubungannya dengan Luna kedepan.


"Tentu saja, bukan kah tiga bulan yang lalu kamu sendiri yang mengenalkannya pada mama!"


Keluarga Luna bersikap sebiasa mungkin, walau sejujurnya hati mereka bergejolak hebat akan situasi mereka saat ini.


"Oo oowh hehe!!"


"Kamu lupa?!"


Nyonya Tan menyelidik putri kesayangannya.


"Wow cheesecake, kebetulan aku hungry!!" Lula menatap kudapan kesukaan Luna dan mengambilnya.


"Woy!!"


"It's mine!!!"


Luna merebut kembali kudapan yang di berikan kekasihnya. Sontak semuanya kembali di buat tercengang. Hanya karena hal sepele itu.


"Pelit amat sih kan onty bisa ambil lagi..." Lula memang tidak ingin mengalah membuat tantenya kesal.


"NO!!" Luna mengambil paksa saat Lula akan menyuapnya.


"Kekasih ku memberikannya untuk ku!!"


"Berarti ini MILIK KU!!"


"Sayaaang... Aku ambil kan lagi yang baru ya..." Bujuk Adira.


"NO!!"


"Apa sayang ku mulai senang berbagi dengan wanita lain."

__ADS_1


"Hey aku keponakan mu!!!"


"Kenal dia aja baru!!" Hardik Lula.


"Lulaa!" Panggil ibunya.


Tik!


Tuan Wira menjentikan jarinya dan asistennya mengerti.


"Lulaa, opa berikan yang banyak ya. Uncle Bobby sedang membawakannya."


"Jangan ganggu onty mu ya!!"


"Dih!!!"


"Opaa pilih kasih!!"


"Harusnya tuh aku yang merupakan kasta tertinggi di keluarga!"


"Aku anak pertama, cucu pertama dan cicit pertama!!"


"Tapi kenapa masih onty yang bergelar kasta tertinggi!!!"


Lula sungguh kesal, semua orang akan mengedepankan Luna dalam hal apapun.


"Kamu mau nyingkirin aku... Ngaca tsaaaay!!" Luna menunjuk kening keponakan tersayangnya kemudian mengibas rambut panjangnya dengan sombongnya.


"Sayaaang, ini kan cuma kue aku kasih kamu yang baru. Atau aku bikinin sendiri gimana?!"


"Masa berantem ama sodara sendiri."


Luna mengerucutkan bibirnya kesal. Adira sungguh gemas dia menahan tawanya dengan memperbaiki anak rambut Luna.


"Om, ko mau sih sama onty dia urakan begitu!!"


"Aih beneran minta baku hantaam!!"


"Wuueeek!!"


"Omaaaa!!!"


Lula berlari dan berlindung di balik tubuh Nyonya Tan.


"Maaf kegaduhan keluarga kami yang begini lah jika mereka bertemu."


"Omaa aku lapaaaar!!" Rengek Lula kemudian.


"Oh maaf kan saya tidak sopan menyambut tamu kehormatan."


Prok!


Tuan Surya menyuruh para pelayan memperbaharui posisi meja makan dan kursi dan segrra menyiapkan hidangan bagi tamu kehormatan mereka.


"Yang satu jentik jari, yang satu tepuk tangan!"


"Demi apapun beruntung banget gue ada dalam situasi sekarang."


Rio dan Daniel masih saling berbisik saat mereka beringsut mundur untuk melakukan re-layout meja makan mereka.


"Maaf saya tidak langsung memperkenalkan diri."


"Nama saya Julia ibu Adira. Suami saya Surya papa Adira dan ini anak tetua kami Arnetha dan suaminya Damar."


Nyonya Julian mendekati keluarga Luna.


"Oh maaf, kami juga terlalu sibuk dengan ulah Luna."


"Luna terlalu di manja jadi..."


"Aah itu tidak apa, kami mengerti..."


"Saya Liliana, suami saya Wira dan ini kedua kakak Luna Renata ibu dari Lula dan Alfy dan Kalina yang masih belum memiliki momongan."


"Senang bisa saling mengenal."


"Woy Alfy lu ikut juga ga sungkem ama onty!"


"Ngapain?!"


"Sorry onty lagi war nanggung!!!"


Semua terkekeh dengan jawaban polos salah satu keponakan Luna. Meja telah selesai di perbaharui dan kesemuanya telah menempati kursi masing-masing. Keluarga Luna berhadapan dengan Luna dan keluarga Renald, teman Luna berada di samping Luna.

__ADS_1


"Jadi apa tujuan mama dan semuanya kesini?!"


* * * * * * * * * *


__ADS_2